Ke Grasberg, Gunung Emas Papua, setelah 20 Tahun Dikelola PT Freeport (1)

Jumat, 16 Mei 2008,

Tambang Terbuka dengan Truk Monster Tinggal 6 Tahun Lagi
Tahun ini genap 20 tahun PT Freeport Indonesia mengelola tambang Grasberg di Timika, Papua. Salah satu lokasi tambang terbesar di Indonesia itu dikelola seperti “negara dalam negara”. Inilah laporan Jawa Pos yang baru pulang dari sana.

BERADA di ketinggian sekitar 1.871 meter di atas permukaan laut, kali pertama menginjakkan kaki di Bandara Moses Kilangin, Timika, udara terasa dingin. Bandara itu terkesan tak terawat. Ruang kedatangan ukuran 8 x 10 meter dihiasi loket-loket kayu yang sudah lapuk. Pembatas ruang kedatangan dengan landasan udara adalah kawat-kawat silang yang biasa digunakan di kebun binatang.

Beberapa ekspatriat terlihat bingung mencari troli untuk menaruh barang bawaan mereka. Jumlah troli yang tersedia di bandara yang dinamai sama dengan nama kuli barang Jacquez Dozy, geolog penemu Erstberg (lokasi tambang PT Freeport yang pertama), itu memang dalam hitungan jari. Apalagi mencari troli yang berfungsi baik, lebih sulit lagi.

Bandara yang, rencananya, segera diperbarui itu berada di mil 26. Hanya 10 menit perjalanan dari Hotel Sheraton, Timika, yang diresmikan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Joop Ave pada 1995.

Di hotel itu, PT Freeport memiliki satu ruangan khusus yang digunakan sebagai pusat informasi. Hotel tersebut berdekatan dengan Kuala Kencana, kota utama Freeport, yang kebutuhan penghuninya kebanyakan diimpor dari Australia.

Tempat-tempat penting di Timika memang disebut dengan ukuran mil, ukuran jarak yang lazim digunakan di AS. Jarak mil terendah adalah Pelabuhan Amamapere yang berada di mil 6, tempat kapal-kapal asing mengangkut jutaan ton emas dan tembaga sejak 1971.

Berdekatan dengan pelabuhan, PT Freeport Indonesia menempatkan empat pabrik pengeringan (dewatering plant) yang berfungsi mengeringkan konsentrat emas dan tembaga yang masih berbentuk seperti bubur.

Bubur itu dikirim dari pabrik pengolahan bijih di mil 74 dengan pipa sepanjang 110 kilometer. Saat dikirim, konsentrat memiliki kadar air 35 persen. Setelah kadar air di konsentrat bisa ditekan hingga tinggal 8-9 persen, konsentrat dikapalkan ke berbagai penjuru dunia. Termasuk ke PT Smelting di Gresik, salah satu pembeli utama konsentrat Freeport, dengan komposisi mencapai 27 persen.

Ketua MPR Amien Rais pernah menuding bahwa di pabrik pengeringan itu Freeport “bermain” dengan langsung mengapalkan konsentrat tersebut tanpa sepengetahuan negara. Tahun lalu DPRD Papua juga meminta Freeport melaporkan secara rinci dan periodik mengenai ekspor emas dan perak ke Amerika Serikat (AS) yang selama ini diduga tidak pernah dilaporkan.

“Padahal, aktivitas pengapalan ini dilakukan dengan sepengetahuan petugas kepabeanan. Kadar emas dalam konsentrat juga selalu diukur secara berkala oleh PT Sucofindo,” kata Binsar Panjaitan, superintendent dewatering plant.

Namun, Freeport memang memiliki permasalahan di sektor pengapalan itu. Dengan kedalaman hanya 6-8 meter, kapal-kapal besar sulit merapat di Amamapare. Perusahaan itu memiliki dua jenis kapal berkapasitas 3 ribu ton dan 8 ribu ton yang membawa konsentrat tersebut serta memindahkan ke kapal pembeli di laut lepas. Akibatnya, hanya 10 ribu ton konsentrat yang bisa diangkut kapal.

Pada mil 21, ada tempat reklamasi, yakni daerah tailing (disebut juga sirsat, pasir sisa tambang) yang mengalami proses vegetasi alami. Daerah itu digunakan Freeport untuk menunjukkan bahwa unsur-unsur dalam tailing tidak berbahaya. Problem sirsat adalah masalah kuantitasnya.

Untuk mengunjungi lokasi Grasberg yang berada di ketinggian 4.268 meter di atas permukaan laut itu, harus melewati beberapa pos pengawasan. Salah satu di antaranya mil 50 tempat check point.

Jangan berharap bisa masuk lokasi itu tanpa kartu pengunjung yang dikeluarkan Freeport. Namun, penjagaan ketat tersebut bisa ditembus para panner (pendulang-pendulang emas liar) di sekitar lokasi. Mereka diindikasikan main mata dengan aparat kepolisian yang bertugas di sana.

Untuk masuk ke tambang Grasberg, pengunjung juga harus mengenakan peralatan standar keamanan. Yaitu, helm, rompi penanda, kacamata pengaman, dan sepatu boot khusus untuk pertambangan.

Jalanan berkelok-kelok dan menanjak. Mobil dengan penggerak empat roda (4 wheel drive) merupakan prasyarat utama kendaraan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut. Sedikitnya tiga kelokan menunjukkan kemiringan lebih dari 45 derajat.

Setelah beberapa saat melewati mil 50, salah satu titik poin lain adalah terowongan Hanekam sepanjang 1.050 meter. Terowongan ini dibuat hanya satu arah, sehingga kendaraan yang lewat dari arah berlawanan harus bergantian. Keluar dari kegelapan di terowongan kendaraan melewati jembatan lima hari.

Diberi nama jembatan lima hari karena jembatan ini pernah rusak pada akhir 1990-an dan proses memperbaikinya membutuhkan waktu lima hari. Setengah jam perjalanan kemudian, kita tiba di Kota Tembagapura. Nama kawasan dengan ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut itu diberikan oleh mantan Presiden Soeharto.

Freeport memiliki berbagai fasilitas di sini. Mulai kantor, perumahan, fasilitas kota seperti pusat perbelanjaan, hiburan, dan semacamnya. Kondisi ini sedikit berbeda dengan Kota Timika yang terkesan semrawut.

Dengan desain kota yang minimalis, beberapa gerai yang lazim ditemukan di pusat keramaian ibu Kota Jakarta hadir di sana. Misalnya, Hero Supermarket, Salon Rudy Hadisuwarno, kantor Bank Mandiri dan Bank Niaga, serta food court yang menyediakan berbagai makanan siap saji.

Di areal food court tampak beberapa ibu muda berbincang santai ditemani kopi dan jajanan. Dari Tembagapura, perjalanan terus naik ke atas menuju pusat pengolahan bijih di mil 74. Di lokasi ini terdapat tempat pemisahan antara konsentrat yang berisi emas dan tembaga dengan batu-batuan tidak berharga.

Dari 209 ribu ton batu-batuan per hari yang diangkut dari Grasberg, hanya sekitar 6.000 ton yang memiliki kandungan emas dan tembaga. Sisanya, 200 ribu ton lebih, dibuang dalam bentuk sirsat (pasir sisa tambang) ke Sungai Otomona.

Data yang dimiliki Freeport, pada 2007 pada setiap 209 ribu ton bijih yang diolah, 0,82 persennya adalah tembaga yang per tonnya berisi 1,24 gram emas dan 3,53 gram perak. Dengan kata lain, konsentrat yang diperoleh per hari rata-rata 5,325 ton, terdiri atas tembaga 28,5 persen yang per tonnya berisi 40,8 gram emas dan 80,8 gram perak.

Naik ke Pegunungan Grasberg membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit dengan trem listrik. Dua trem tersedia dengan kapasitas 80 dan 100 orang untuk mengangkut pekerja pertambangan.

Udara tipis dan kabut menghiasi pemandangan Pegunungan Grasberg yang telah membentuk ceruk mirip belanga raksasa. Tampak lalu lalang haul truck Komatsu 930 atau Cat 797 mengangkut bebatuan besar untuk ditempatkan di pabrik pengolahan. Truk-truk monster dengan roda 6 ban berdiameter 5 meter itu lazim digunakan di pertambangan besar di dunia. Harga satu bannya saja mencapai USD 30 ribu (sekitar Rp 276 juta).

Selain tambang terbuka, Freeport menggunakan metode lain yang dikenal sebagai block caving. Di sini proses eksploitasi dilakukan dengan membuat terowongan untuk mendapatkan konsentrat yang diinginkan.

Diperkirakan pada 2014-2015 tambang terbuka Grasberg akan ditutup karena sudah tidak memiliki nilai ekonomis lagi. Sebagai ganti, metode block caving akan dipakai di gunung yang saat ditemukan kandungannya diperkirakan mencapai 2,5 miliar ton itu.

Papua memang termasuk wilayah yang memiliki sabuk mineral yang kaya. Negeri tetangga, Papua Nugini, misalnya, memiliki 115 titik kandungan mineral yang telah diidentifikasi. Dari jumlah tersebut, 15 perusahaan pertambangan beroperasi di Papua Nugini.

Kondisi tersebut jelas jauh berbeda dengan Papua. Sejak 1967, hanya Freeport yang beroperasi di pulau paling timur Indonesia itu. Sejak Erstberg hingga penemuan Grasberg pada 1988, perusahaan asal Amerika itu terus mengumpulkan pundi-pundi uangnya. Freeport kini tercatat sebagai salah satu produsen emas terbesar di dunia. (iwan ungsi)

Sumber JAWAPOS.com

About these ads

37 responses to this post.

  1. Kaya tapi Bodoh = Indonesia

    Itulah potret negeri tercinta yang tetep dan selalu akan kucinta, meski sering aku harus mengelus dada dengan semua informasi tentangnya. Semoga Esok kau lebih baik INDONESIAku

    Reply

  2. Posted by aldi on September 10, 2008 at 3:25 am

    YA ITULAH KITA SEBAGAI BANGSA YANG ORANG-ORANG DI DALAMNYA BODOH DAN MAKAN TAI TAPI HIDUP DEKAT DENGAN PENGUASA YANG BARU BERANGSUR DI PULIHKAN DARI KORUPSI, JANGANKAN WARGA BIASA ATAUPUN PEJABAT TUKANG PENGADILANNYA AJA KORUPTOR ITU YANG KETAHUAN DI IBUKOTA YANG NOTABENE BANYAK YANG NGAWASI APALAGI DI DAERAH-DAERAH MERAKA LEBIH SEMENA-MENA KAN. DASAR NEGARA TAI DAN BODOH

    Reply

  3. Posted by aldi on September 10, 2008 at 3:28 am

    alangka enak nya amerika ngeruk emas di negara orang untuk menstabikan mata uangnya negara bodoh indonesia sudah 63 tahun merdeka masih tidak bisa mengelola sendiri tapi nanti pasti pintar kalo ngelola barang yang sudah bekas seperti tambang bekas free port,,,

    Reply

  4. Posted by aldi on September 10, 2008 at 3:34 am

    KATANYA INDONESIA BANYAK ORANG PINTARNYA, TAPI MENGELOLA TAMBANG EMAS AJA NGGAK BISA MASAK NGENAKIN NEGARA ORANG AJA, APALAGI YANG NAMANYA GINANJAR YANG TULISANNYA FROFESSOR MAU MENANDATANGANI PERJANJIAN MEMBODOHI INDONESIA DENGAN TAMBANGNYA UNTUK DIKELOLA SELAMA 30 PULUH TAHUN, YANG PASTI DIA SUDAH MEMIKIRKAN JATAHNYA UNTUK KANTAONG PERUTNYA SENDIRI ANAK KECIL AJA NGERTI DENGAN OTAK CULASNYA

    Reply

  5. Posted by joko on October 24, 2008 at 8:42 am

    ya itulah indonesia yang pejabatnya pada korup, coba bayangkan seandainya indonesia benar2 bisa mengelola tambang emas papua dalam arti dikelola bangsa kita sendiri, hasilnya pasti lebih dari cukup untuk memakmurkan dan mensejahterakan bangsa indonesia. tapi sayangnya baik pemerintah dan orang2 didalamnya penuh dengan penghianat. jadilah rakyatnya kuli/buruh dinegaranya sendiri. setelah semua kekayaan alam kita habis dikeruk amerika baru sadar, atau mungkin pejabatnya malah ketawa2 ” yang penting anak dan cucuku sudah kaya” masa bodoh dengan orang lain. itulah penghinat yg penting perutnya gede.

    Reply

  6. Posted by joko on October 24, 2008 at 9:02 am

    saya pernah keliling seluruh papua, mulai timika,manokwari,jayapura,sarmi,merauke, wamena sampai pedalaman, betapa kayanya bumi papua, tak ayal dijuluki bumi mas, karena hasil bumi tambangnya sangat luar biasa, ibarat negara lain kekurangan negara kita malah kelebihan. padahal warga kita banyak yang pintar kalau cuma untuk mengurai batu diambil emas,perak dan tembaganya didesa saya banyak yang bisa begitu, kenapa selalu dimonopoli freeport amerika. intinya pejabatnya korup, “kalau tak kasihkan warga negara indonesia saya kan ngak dapat duit banyak” dasar bangsat ini orang.

    Reply

  7. Posted by joko on October 24, 2008 at 9:19 am

    kenapa freport tidak mau pergi dari papua? karena sudah terlanjur enak dan merasa papua khususnya timika itu menjadi negaranya. kita kalau mau masuk kesana sangat sulit padahal itu negara kita indonesia. hasil utama tambang freport itu uranium selain emas,perak dan tembaga. karena dimana kadar emas,perak dan tembaganya tinggi uraniumnya pasti tinggi. dan uranium itu sangat vital buat amerika. kalau freport sampai tutup banyak perusahaan amerika akan gulungtikar. tapi bodohnya indonesia kok maunya disetir amerika. intinya pejabat didalamnya bangsat.

    Reply

  8. Posted by bee9 on January 2, 2009 at 3:00 pm

    makanya pilih2 pejabat/partai yg jujur, bersih, , jgn golput aja nanti negara dirampok mlulu ,

    Reply

  9. Freeport seharusnya SGERA DIHENTIKAN…!!!!!!

    Reply

  10. Perlu adanya keberanian mengambil sikap tegas terhadap PTFI untuk transparansi hasil bersih yang di jual mereka pada pembelinya. interaksi antara penjual dan pembeli itu sendiri sudah merupakan lingkaran setan yang menguntungkan sebagian pihak saja. sebagian besar kita sudah tahu betul akan hal tsb. dan bagi praktisi instansi terkait pada bidang pertambangan hingga pengontrolan bahan mineral berharga tsb, hendaklah lebih memikirkan saudara kita yang masih banyak berada dibawah garis kemiskinan. berdasarkan fakta, prediksi saya, jika rakyat Indonesia tercinta mengerjakan sendiri hasil mineral berharga tersebut dari batuan hingga menjadi konsentrat berharga dengan cara yang paling sederhana menurut kondisi dan karakter lahan tambang, tingkat kesulitan dilapangan, sangat lah cukup untuk membantu kita dan sudara2 kita yang memang sangat memerlukan vaksin finansial yang cukup. semoga saja..Amiinn

    Reply

  11. Jadi…. posisikan kita sebagai masyarakat Papua.. didalam lumbung Emas, akses pendidikan, kesehatan, dan kemajuan lain sangat minim… AKU JADI MAKLUM BANGET KETIKA MEREKA INGIN LEPAS DARI HAL YG AMAT MENYAKITKAN INI

    Reply

  12. Posted by Wahyudi on May 19, 2009 at 8:43 am

    Mau katakan merdeka Indonesia,suda merdeka dari koloni. sejak tahun 1945 tgl 17 Agustus. dan sekarang kemerdekaan yang suda nyata itu kok lagi di jajah. wah kenapa bisa, katanya suda merdeka. berarti Indonesia belum merdeka mengapa demikian sebab di bidang Perindustrian saja kok masi di komandoi oleh Mr Bule . ha ha ha ha ha haaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. kalo begitu abang-abang besar yang biasa rajin MOU musti di kaji kemampuan SDM nya Indonesia sebelu MOU eksplotasi ……… Thanks

    Reply

    • Kalau ngomongin eksploitasi di Indonesia memang nggak bakal selesai, karna memang sudah menjadi adat dan kebiasaan penghuninya, dan hal itu bukan hal yang positif. Padahal Entah sadar atau tidak mereka sedang memiskinkan diri secara perlahan. Kebanyakan silau pada kenikmatan sesaat.

      Reply

  13. Posted by bambang gunawan on May 27, 2009 at 10:06 am

    Memang, apabila membicarakan pertambangan di Indonesia ngak akan ada habisnya. Saya berpikir kondisi pertambangan dengan freeport masih lebih baik dari pertambangan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri atau pertambangan rakyat. Segila-gilanya freeport masih ada yang diberikan kepada negara… , coba apbila pertambangan dilakukan olah rakyat indonesia sendiri, yaa… ampun…. ngak ada pemikirannya Liaaar…… liaarrr dan liaarrr…. semuanya kalau mengatasnamakan rakyat bangsa indonesia.. ..kayaknya boleh semaunya….. aja .. ngerriii banget.. mending .. dengan asing… semuanya dipikirin .. contoh dengan lapindo.. pertambangan oleh Bangsa kita sendiri… ?????????

    Reply

    • Thx komennya.
      Serba salah kalau membicarakan pertambangan memang, tapi jika berbicara baik buruknya, mana yang lebih banyak saya ‘agak’ setuju dengan komentar sampeyan.

      Reply

  14. Canada dan Australia nilai mata uangnya berkorelasi positif dengan nilai komoditas metal-Emas&Perak.

    Apa yang salah dengan negeri ini?
    Negeri dengan Gunung & Pulau dari Emas dan Tembaga, negeri dengan pulau dari Timah.
    Laut dengan kandungan hayati , carbon dan minyak

    Reply

  15. Posted by dodo on August 1, 2009 at 5:56 pm

    WAAHHHHHHH……

    Eamangg btuuuulllll…….knapa SDA kita yg mengolah
    kebanyakan para infestor asing…
    pa g’ ada masyarakat pribumi yg mampu mengolah
    hasil tambang yg melimpah ruah di negeri kita……

    Masyarakat negeri ini seperti terbodohi……
    ini kan udah jaman 2009…
    bukan lagi jaman era 45…jaman kolonial……

    Kapan lagi masyarakat di negeri ini bisa menikmati kekaya’annyaa di negeri sendiri…

    SAALAAM HANGAT DARI ANAK NEGERI YG MENCOBA MENGUBAH NASIB BANGSA DENGAN MENGOLAH HASIL TAMBANG DI NEGERI INI….

    Reply

    • Semangat sekali pak……………….Salam hangat juga dari anak negeri yang berusaha mengangkat martabat bangsa dengan promosi prestasi melalui KLIPING ini

      Reply

  16. Posted by Deo Patra Fedriko on December 16, 2009 at 3:32 am

    Alangkah enaknya kalau saya bisa bekerja di grasberg.

    By: Mahasiswa Politeknik UI, Prody Heavy Equipment.

    Reply

  17. Wajar Dong Kalo Papua Ingin Merdeka,,.!! Logika yg Simple..!!

    Reply

  18. Posted by caca on December 29, 2010 at 3:01 am

    harusnya indonesia negara terkaya, karena pemimpinnya aja yang rakus, tamak.

    Reply

  19. maju terus pt freeport…!!!supaya harga emang jadi stabil

    Reply

  20. truslah berjaya Pt freeport…!!!!
    karena bangsa indonesia cuman bisa berpikir tapi nggak ada hasil. jdnya hanya membrontak

    Reply

  21. Posted by aqiilah saania on May 20, 2011 at 4:17 am

    saya ingin tahu gambar gunung emas itu

    kenapa amerika menggambil hasil emas indonesia,krn ameria adalah nerang yg tidak baik

    Reply

  22. Posted by dianamelia on May 27, 2011 at 7:23 am

    kapan indonesia ini akan bangkit,, dan menyadari bahwa selama ini kita di bodoh2kan oleh org amerika,,

    seharusnya PT.freeport itu segera di ambil alih oleh indonesia,..

    ayo bangsa ku,, kita harus bisa bngkit n tunjukkan pada dunia,, kita bisa mndiri tanpa bntuan dri negara lain,, kita ni negara kaya,, kita seharusnya bisa mengolah kekayaan kita sndiri..!!!

    Reply

  23. Posted by rafael rhewa on December 19, 2011 at 6:19 pm

    negara indonesia terlalu banyak dr. dan profesor-nya, makanya profesor jangan hanya pintar di teori dong, pintar juga di lapangan,,,

    rugi ya,, banyak profesor tapi tidak bisa mengelolah sumber daya kita sendiri malah kita di bodokan lagi, untuk apa sih kita sekolah tinggi – tinggi kalau hasil akirnya kita tetap di bodokan…………..

    Reply

  24. kenapa bangsa kita terpengaruh sama uang AMERICA ITUU !!!!!
    andaikan saja kalo pertambangan emas itu milik PT sendiri pasti negri kita ga bakalan kaya giini ….”
    sekarang negri kita TERJAJAH PERLAHAN LAHAN >……

    Reply

  25. ihhhh…..papua nugini kok gak pakai baju sihhhhhh….gak malu yaaaaaa…..!

    Reply

  26. indonesia kaya alam.
    tapi miskin pengetahun..

    bodoh para pejabat, tamak kan harata ..

    Reply

  27. Posted by Marthen,L.Gobai on January 19, 2013 at 4:39 am

    BENAR

    Reply

  28. Posted by Marthen,L.Gobai on January 19, 2013 at 4:42 am

    THE ISLAND WEST PAPUA FOR WORLD

    Reply

  29. Posted by Marthen,L.Gobai on January 19, 2013 at 4:48 am

    FREEDOOM OF THE WEST PAPUA IS A FREEDOOM OF THE WORLD. THE ISLAND WEST PAPUA ARE HOPEST OF THE WORLD. MARTHEN,L.G, SAID.

    Reply

  30. Posted by Marthen,L.Gobai on January 19, 2013 at 4:55 am

    THE ISLAND WEST PAPUA,MUST TOBI THE FREEDOOM FOR END THE TIME OF THE ALL ACCORDINGTO THE ORDERST OF THE BIBLE/GOSPELINGS.

    Reply

  31. Posted by Marthen,L.Gobai on January 19, 2013 at 5:40 am

    SAYA TDK MAU BICARA BANYAK TENTANG MASALAH PAPAU INI, KARENA MASALAH PAPUA ADALAH *MASALAH DUNIA* BUKAN MASALAH ORANG PAPUA SAJA. WALAUPUN MUSUH-MUSUH MENGELILINGI AKU DI TANAH PAPUA, TETAPI AKU HARUS BERTEKUN UNTUK MENJAGA DAPUR DUNIA INI, YAKNI “PT. FI” YG BERUMUR 97 TH INI,WALAUPUN AKU TIDUR/MAKAN DI JALANAN/WC OLEH KARENA MUSUH-MUSUHKU YG MELINGKUPI DENGAN KUASA-KUASA YG BUKAN DARI ALLAH YANG MAHA BESAR….. AKU TETAP ORANG PAPUA….WALAUPUN KEKAYAANKU MEMBAWA PULANG SECARA MENHGELURU OLEH PENCURI DARI BERBAGAI PENJURU DARI DUNIA LAIN,KARENA ITU ADALAH *AMANAT* DARI ALLAH SENDIRI YANG PENTING # AKU PUNYA HARAPAN#…..INGAT!!!…PAPUA=DAPUR DUNIA…TAPI KETIKA SAYA MAU AMBIL GAM SEBUNGKUS DI TEMPAT SAMPAHPUN DISURU BELIH SEBESAR Rp. 1OOO,BAHKANPULA SAYA MENCARI Rp.1OOO,00 SAYA SELALU MENCUCI WC,MEMBERSIHKAN SAMPAH DALAM SEPANJANG SATU HARI. PADAHAL ALLAH BAPA MENEMPATKAN SAYA ITU DI MANA DI KATAKAN DAPUR DUNIA,ADALAH PEMELIHARA DARIPADA NYAWA DUNIA; KARENA TANPA MAKAN/MINUM PASTI LENYAPLAH SEGALA MAKLUK HIDUP…INGAT!!!…SALING MELENGKAPILAH AKAN SESAMA CIPTAAN ALLAH, KATANYA : MARTHEN,L.GOBAY,,,

    Reply

  32. Posted by fajar on February 6, 2013 at 1:17 pm

    kasihan

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,530 other followers

%d bloggers like this: