Puisi-Puisi D. Zawawi Imron

[ Minggu, 03 Januari 2010 ]

ODE BUAT GUS DUR

I

Aku tak tahu, kata apa yang pantas kami ucapkan

untuk melepaskan, setelah engkau bulat

menjadi arwah

Setiap daun kering pasti terlepas dari tangkai

bersama takdir Tuhan

Untuk itu kami resapi Al-Ghazali

bahwa tak ada yang lebih baik

daripada yang telah ditakdirkan Allah

Karena itu kami rela

mesti tak sepenuhnya mengerti

karena yang terindah adalah rahasia

II

Bendera dinaikkan setengah tiang

Tapi angin seakan enggan menyentuhnya

apalagi mengibarkannya

Biarkan bendera itu merenung

menafakkuri kehilangan ini

yang bukan sekadar kepergian

Bendera itu diam-diam meneteskan juga

air mata, yang didahului tetesan embun di ujung daunan

Semua membisikkan doa

seperti yang kucapkan setelah kau dikuburkan

Bendera itu seperti tak punya alasan

untuk berkibar, seperti kami yang tak punya alasan

untuk meragukan cintamu

kepada buruh pencangkul yang tak punya tanah

atau kepada nelayan yang tidak kebagian ikan

Cintamu akan terus merayap

ke seluruh penjuru angin

dan tak mengenal kata selesai

III

Di antara kami ada yang mengenalmu

sebagai pemain akrobat yang piawai

sehingga kami kadang bersedih

dan yang lain tersenyum

Yang kadang terluput kulihat

adalah kelebat mutiara

yang membias sangat sebentar

Hanya gerimis dan sesekali hujan

yang menangisi momentum-momentum yang hilang

padahal kami tahu

momentum tak kan kembali

dan tidak akan pernah kembali

IV

Matahari besok akan terbit

mengembangkan senyummu

lalu dilanjutkan

oleh bibir bayi-bayi yang baru lahir

Merekalah nanti yang akan bangkit

membetulkan arah sejarah

V

Selamat jalan, Gus Dur!

Selamat berjumpa dengan orang-orang suci

Selamat berkumpul dengan para pahlawan

Karena engkau sendiri

memang pahlawan

*) D. Zawawi Imron, penyair, tinggal di Sumenep, Madura

Sumber

About these ads

6 responses to this post.

  1. membaca puisi-puisi pak de, sungguh aku teringat kampung halaman yang sarat dengan kehidupan alami…………..

    Reply

  2. Posted by Mahmud hjr on May 22, 2012 at 3:53 am

    tetesan2 airmata tak kan bisa kita bendung

    Reply

  3. Posted by mukhtar on June 6, 2013 at 12:25 pm

    baca puisi pakde, jadi merinding

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,531 other followers

%d bloggers like this: