Chris Lie, Komikus Indonesia yang Sukses di Amerika Serikat

[ Senin, 15 Februari 2010 ]

Ilustrator Andalan Komik Transformers dan GI JOE

Komik Amerika sukses merebut pasar dunia. Nama-nama superhero ataupun karakter tokohnya dikenal oleh berbagai tingkat usia. Indonesia boleh bangga karena salah satu ilustratornya adalah salah satu putra bangsa. Siapa dia?

TRI MUJOKO BAYUAJI, Jakarta

Siapa yang tidak kenal karakter robot di film Transformers? Pada awal 2009, sekuel film peperangan antarrobot itu sukses meraup keuntungan ratusan juta dolar. Beberapa bulan kemudian, Hollywood merilis film GI JOE: sebuah film pertarungan tim elite AS dengan tim elite dari sindikat kejahatan internasional. Nah, Transformers dan GI JOE diadaptasi dari komik yang laris di dunia.

Jika bicara komik, tentu salah satu daya tarik pembaca adalah kualitas gambar. Siapa yang menyangka bahwa salah seorang ilustrator di antara sekian banyak edisi komik Transformers dan GI JOE adalah orang Indonesia.

Christiawan Lie, pria kelahiran Bandung 5 September 1974, adalah ilustrator komik Indonesia yang berhasil menembus persaingan komik-komik dunia.

GI JOE itu karya pertama saya,” kata Chris Lie -nama beken Christiawan Lie- saat ditemui Jawa Pos di Caravan Studio, bengkel komik yang dia dirikan pada 2008. Caravan Studio terletak di kompleks apartemen Mediterania Garden, Jakarta. Chris bersama tujuh orang stafnya bekerja setiap hari menyelesaikan sejumlah proyek komik dan ilustrasi untuk dipasarkan ke seluruh dunia. “Moto di sini adalah get income from comic. Kami tidak bekerja yang lain,” ujar suami Reni Setia Dharma itu.

Berangkat dari hobi, Chris termotivasi untuk menjadi ilustrator komik. Itu yang membuat Chris rela meninggalkan dunianya sebagai seorang arsitek. Padahal, saat lulus pada 1997 dari Institut Teknologi Bandung, Chris adalah salah seorang wisudawan terbaik yang meraih cum laude. “Saya bersama empat orang teman kemudian buat komik. Buatnya malam, siang kerja sebagai arsitek,” tutur Chris.

Komik yang pertama dibuat berjudul Katalis. Setelah itu, secara beruntun lahir komik berjudul Amoeba, Petualangan Ozzie, serta belasan buku lain yang dikenal di komunitas komik Bandung. Chris bersama empat temannya memasarkan sendiri komik-komik hasil jerih payah mereka. “Cetak sendiri, disalurkan ke Gramedia sendiri. Waktu itu sudah niat serius,” ujarnya.

Usaha mereka tidak sia-sia. Penerbit Mizan dan Elex Media Komputindo kemudian tertarik pada hasil karya mereka. Lima sekawan itu kemudian diminta untuk mengisi ilustrasi kisah-kisah nabi terbitan Mizan. Ada sekitar 40 judul yang dikerjakan. Untuk membantu pengerjaan ilustrasi, lantas jumlah staf ditambah, menjadi sebelas orang. “Kami waktu itu buat komik nabi, komik poster, banyak sampai nggak terhitung,” lanjutnya.

Kerja sama dengan Mizan dan Elex hanya berlangsung tiga tahun. Meski pekerjaan berlangsung lancar, penghasilan yang didapat ternyata tidak seimbang. “Kami memang bisa menggaji staf, namun kami ternyata tidak bisa menggaji diri sendiri,” kenangnya.

Kegalauan itu membuat kerja sama pembuatan komik tersebut berakhir. Chris bersama empat temannya sepakat mengambil jalan hidup masing-masing. Pria yang pernah mengenyam bangku sekolah di Solo, Jawa Tengah, itu akhirnya melanjutkan kerja arsitek. “Namun, saya masih ingin buat komik. Sambil kerja, saya nglamar beasiswa,” ujarnya.

Pada 2003, beasiswa yang ditunggu-tunggu itu tiba. Chris akhirnya mendapatkan beasiswa penuh dari Fullbright Scholarship untuk melanjutkan program master di Savannah College of Art and Design, Savannah, Amerika Serikat. Jurusan yang diambil adalah master di bidang sequential art. “Sederhananya, saya ambil jurusan komik,” tuturnya.

Beasiswa yang didapat adalah biaya kuliah penuh selama dua tahun. Pada pertengahan masa kuliah, kampus Savannah memberikan program kepada mahasiswanya untuk magang. Pilihannya, bisa magang di internal kampus atau di perusahaan. Chris memilih magang di perusahaan. Dia diterima magang pada November-Desember 2004 di Devil’s Due Publishing (DDP), Chicago.

“Boleh dibilang, saya beruntung bisa magang di DDP,” kenangnya. Sebab, tidak mudah mendapatkan akses magang di perusahaan komik. Untungnya, salah seorang kolega Chris bekerja di gedung yang ditempati DDP. “Untuk masuk ke situ, kita harus pakai akses kartu khusus,” katanya.

Chris ketika itu diajak masuk temannya yang kini berprofesi sebagai animator game tiga dimensi itu. “Kesempatan itulah yang saya gunakan untuk mengajukan aplikasi,” ujarnya. Aplikasi yang diajukan pada Juni 2004 tersebut akhirnya diterima lima bulan kemudian.

Magang di DDP adalah awal karir Chris. Mulanya, Chris sama dengan anak magang lain. Tidak dipercaya mengerjakan gambar. Dia hanya diminta untuk melakukan kerja-kerja layaknya seorang karyawan kantor. “Awalnya, kerja saya cuma fotokopi, antar dokumen. Kalaupun gambar, tidak pernah dipakai,” tuturnya.

Namun, keberuntungan tetap menaungi Chris. Perusahaan Hasbro, tempat GI JOE dan Transformers bernaung, memberikan tawaran kepada DDP untuk membuat proyek action figure. Mainan tokoh yang diminta adalah tiga tokoh GI JOE. “Saya diminta ikut. Eh, ternyata gambar saya yang dipilih,” tutur Chris, bangga.

Kenapa gambarnya yang terpilih waktu itu? Chris mengatakan, faktor dirinya berasal dari Asia adalah salah satu sebabnya. Hasbro saat itu ingin memproduksi mainan tokoh untuk segmen usia belasan tahun. Nah, ketika itu, demam komik Jepang tengah masuk ke AS. “Yang lain kan gambarnya orang Amrik semua. Kebetulan, gambar yang saya buat bergaya Amerika Jepang, jadinya pas dengan konsep market mereka,” jelasnya.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Chris. Tawaran itu datang pada hari Jumat. Selama hari libur, Chris kemudian bekerja siang malam untuk menggambar karakter tokoh-tokoh GI JOE dalam berbagai pose. Hasilnya, Chris mendapatkan kontrak untuk membuat action figure GI JOE selama lima wave (edisi, Red). “Saya buat sampai 2008. Untuk satu wave, biasanya lima tokoh diluncurkan,” ujarnya.

Setelah itu, tawaran demi tawaran datang kepada Chris. Menurut Chris, dirinya bersyukur tawaran itu datang saat dirinya masih mengenyam kuliah. Sebab, tanpa pengetahuan awal, biaya kuliah selalu membengkak tiap periode. Jadilah hasil kerjanya sebagai ilustrator dan desainer mainan menjadi penyambung pendidikan dan hidupnya di Amerika. “Banyak teman saya yang kerja sambilan sebagai waitress (pelayan toko), di rental video. Saya beruntung bisa kerja sambilan sesuai dengan kuliah,” katanya.

Chris kembali ke tanah air pada 2006. Ketika itu, Hasbro dan DDP sudah menjadi klien tetap Chris. Proyek mainan GI JOE berlanjut pada proyek ilustrasi sejumlah komik GI JOE dan Transformers. Di luar itu, salah satu hal yang membanggakan adalah karya orisinal milik Chris. Bersama dengan editor Mark Powers, dia berkolaborasi untuk menerbitkan komik baru berjudul Drafted.

“Ini karya orisinal karena ide cerita dari kami berdua sejak edisi perdana,” ujarnya. Mark Powers adalah editor serial komik X-Men, yang juga sudah diadaptasi dalam film layar lebar.

Drafted berkisah tentang pertarungan semua bangsa di dunia dengan alien (makhluk asing). Sederhananya, sekelompok alien dari bangsa A datang ke bumi untuk memberikan peringatan kepada manusia. Intinya, akan ada bangsa alien B yang akan menyerang bumi. Seluruh bangsa di dunia harus bersiap diri, dilatih oleh alien A untuk melawan alien B saat datang menginvasi. “Kecuali anak-anak, siapa pun harus berperang di sini. Kaya, miskin, muda, dan tua sekalipun,” ujar Chris, memberikan gambaran.

Edisi perdana Drafted ternyata mendapat respons positif. Chris yang juga memasukkan unsur Indonesia ke dalam komik itu membuat Drafted dalam dua season (rangkaian edisi, Red). Season pertama terbit sejak 2007, sedangkan season kedua terbit sejak Februari 2009. Yang menarik dari Drafted adalah karakternya yang diadaptasi dari dunia nyata. Contohnya, presiden AS Barack Obama yang juga beraksi dalam komik Drafted.

“Barack di sini adalah pengganti presiden AS yang meninggal di season I,” ujarnya sambil menunjukkan komik Drafted yang dimaksud. Jika komik populer di AS sudah diadaptasi di layar lebar, Drafted pun tinggal menunggu waktu. Menurut Chris, produser New Line Cinema membeli Drafted untuk diproduksi dalam film. “Memang belum ditayangkan karena komiknya juga baru,” jelasnya.

Beberapa ilustrasi lain yang pernah dibuat Chris adalah Ninja Tales, Voltron, dan Return of the Labyrinth. Yang paling fenomenal adalah Return of the Labyrinth. Diterbitkan oleh Tokyopop, komik itu adalah komik beraliran manga Jepang yang diproduksi di Amerika. Pada edisi awal terbit, Return of the Labyrinth sudah menduduki posisi keempat komik terlaris di Amerika, bersaing dengan komik Naruto yang langsung merajai tiga besar. “Saat ini, masih dikebut produksinya karena laris,” ujar Chris.

Kepada JawaPos Chris menunjukkan sketsa sementara edisi Return of the Labyrinth yang belum diterbitkan. Menurut dia, saat skenario lanjutan dari setiap komik datang, dirinya langsung membuat sketsa dari pensil. Sketsa pensil itulah yang dikirim ke AS untuk dimintakan tanggapan. Setelah ada persetujuan, sketsa pensil itu kemudian dilanjutkan dengan tinta. “Nanti dialognya yang membuat di sana (AS). Kami tinggal terima jadinya,” ujarnya.

Untuk membuat satu komik, Chris membutuhkan waktu enam hingga delapan bulan. Chris bertutur, ada kepuasan tersendiri saat komik yang dibuatnya terpampang di rak perbelanjaan buku. Apalagi komiknya diterbitkan di seluruh dunia. “Kalau orang senang baca komik saya, saya lebih senang lagi,” ujarnya, lantas tersenyum. (iro)

Sumber

One response to this post.

  1. salut (^.^)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,530 other followers

%d bloggers like this: