<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kliping &#187; Cerita</title>
	<atom:link href="http://icanxkecil.wordpress.com/category/cerita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://icanxkecil.wordpress.com</link>
	<description>Sekedar Belajar Menghargai</description>
	<lastBuildDate>Thu, 31 Dec 2009 15:03:51 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='icanxkecil.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/44d4224bd068812cd7cd66a5a71abe04?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kliping &#187; Cerita</title>
		<link>http://icanxkecil.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://icanxkecil.wordpress.com/osd.xml" title="Kliping" />
		<item>
		<title>PADMOSANTJOJO: SI TUKANG BONGKAR-PASANG OTAK</title>
		<link>http://icanxkecil.wordpress.com/2008/03/02/padmosantjojo-si-tukang-bongkar-pasang-otak/</link>
		<comments>http://icanxkecil.wordpress.com/2008/03/02/padmosantjojo-si-tukang-bongkar-pasang-otak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 23:11:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icanxkecil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://icanxkecil.wordpress.com/2008/03/02/padmosantjojo-si-tukang-bongkar-pasang-otak/</guid>
		<description><![CDATA[Melihat sosok tinggi besar dengan rambut gondrongnya, orang bisa salah mengira ia seniman. Siapa sangka dialah dokter bedah syaraf yang pernah menggemparkan dunia kedokteran dengan operasi kembar siam dempet kepala. Seunik penampilannya, unik pula pribadi dokter yang ogah menarik bayaran dari pasiennya itu.

Matahari belum terlalu tinggi, panasnya di tahun 1970-an pun belum semenyengat akhir-akhir ini. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icanxkecil.wordpress.com&blog=315130&post=122&subd=icanxkecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><font color="#ff3399" face="Times New Roman" size="3"><span><i>Melihat sosok tinggi besar dengan rambut gondrongnya, orang bisa salah mengira ia seniman. Siapa sangka dialah dokter bedah syaraf yang pernah menggemparkan dunia kedokteran dengan operasi kembar siam dempet kepala. Seunik penampilannya, unik pula pribadi dokter yang ogah menarik bayaran dari pasiennya itu.</i></span></font><span id="more-122"></span><span style="font-size:12pt;"></p>
<div></div>
<p></span><font face="Arial" size="2"><span>Matahari belum terlalu tinggi, panasnya di tahun 1970-an pun belum semenyengat akhir-akhir ini. Sebuah bus kota yang melaju kencang tiba-tiba berhenti di sudut Bundaran HI yang menuju arah Jln. Diponegoro, Jakarta Pusat. Satu penumpang pria sigap meloncat turun dan tergopoh-gopoh mengampiri lelaki bertubuh tinggi besar yang menanti di halte dekat sudut jalan.</p>
<div> &#8220;Dokter lupa sama saya, ya?&#8221; tanya si penumpang. &#8220;Dulu saya pernah lumpuh, lalu dioperasi Pak Dokter. Tapi belum sampai pulih, dokter sudah terbang ke Belanda. Lihat sekarang, tak cuma berjalan, lari pun saya bisa,&#8221; kenang Prof. dr. R.M. Padmosantjojo (62), ahli bedah syaraf dari RSUPN Cipto Mangunkusumo. Saat itu ia memilih naik bus umum karena sepulang dari Belanda tahun 1970 ia sempat tidak mendapat gaji selama setahun.</div>
<div> &#8220;Pengalaman seperti itu sering saya alami. Saya terharu &#8230;,&#8221; ujarnya sambil mengingat sejumlah pasien dari golongan bawah yang terkadang mengiriminya pisang, pepaya hasil kebun sendiri, atau kue jajanan sederhana sebagai tanda terima kasih. Ujud lain tercermin saat begitu banyak mantan pasien yang menjenguk usai ia menjalani bedah jantung koroner tahun 1980.</div>
<div> Awal tahun 1970-an, sepulang dari Belanda, dia satu-satunya ahli bedah syaraf yang aktif memenuhi panggilan di berbagai rumah sakit di wilayah RI. Tambahan lagi ia tidak memungut biaya operasi di berbagai RS pemerintah. Tidak heran bila jumlah pasien yang berhasil ditangani tidak terhitung jumlahnya.</div>
<div> Kini, menurut Padmo, ahli bedah syaraf sudah 64 orang. &#8220;Tentu mereka tidak bisa disamakan dengan saya yang suka kasih gratis. Idealisme saya mungkin saja dianggap aneh. Sudah tidak praktik, tidak terima duit, mana ada!&#8221; ujar dokter yang merasa bahagia bila berhasil menolong orang.</div>
<div> Alasannya, tak tega menagih. Ia sering menemui pasien yang kehabisan uang, malah ada pula yang terlilit utang, dalam masa pengobatan pascaoperasi. &#8220;Masa penyembuhan pasien bedah syaraf, apalagi tumor otak atau stroke berat, cukup lama. Setelah operasi masih butuh pengobatan lain yang tidak sedikit biayanya,&#8221; ujarnya sambil menyayangkan belum adanya kesadaran masyarakat ikut asuransi kesehatan.</div>
<div> Ahli bedah syaraf lulusan Rijksuniversiteit, Groningen, Belanda (1970) itu, beroleh gelar profesor setelah tahun 1987 berhasil memisahkan kembar siam dempet kepala (<i>craniopagus</i>), Yuliana &#8211; Yuliani (saat itu berusia dua     bulan 21 hari), asal Riau.</div>
<div> Hasil pembedahan ini sempat menggegerkan kalangan dunia kedokteran bedah internasional. &#8220;Soalnya, ada kasus sama di Jerman. Bayi kemudian dibawa ke AS, tapi malah meninggal karena pembedahan harus menunggu sampai usia 13 bulan.&#8221; Kasus di Afrika Selatan pun tak berhasil. Jadi, kalau membedah, ya, semenjak kecil sekalian.</div>
<div> Ketenarannya bertambah ketika stasiun televisi di Eropa dan Kanada menayangkan keberhasilannya. Hingga kini Padmo yang dipanggil Pak De oleh kedua anak kembar siam itu masih berhubungan. Ia pun tetap membantu biaya si kembar Ana dan Ani. &#8220;Mereka sudah SMP,&#8221; katanya bangga.</div>
<div> Padmo demikian dielu-elukan di negeri orang, tapi kenapa ia tetap pulang? &#8220;Aku cinta bangsaku,&#8221; katanya. Pernah diminta kembali ke universitasnya pun ia tidak mau. &#8220;Bangsaku membutuhkan tenagaku, apalagi saat itu keahlian ini masih langka&#8221;.</div>
<div>     <b>Cepat bertindak</b></div>
<div> Mengapa ia memilih bidang rumit ini? &#8220;Banyak tantangannya, &#8221; aku pria kelahiran Kediri, 26 Februari 1938 ini. Lulus dari Fakultas Kedokteran UI (FKUI) tahun 1963, ia memperdalam spesialisasi penyakit syaraf. Setelah beberapa tahun menjadi asisten Prof. Mahar Mardjono (ahli penyakit syaraf) dan ujian bedahnya berhasil dengan baik, ia disarankan mengambil keahlian bedah syaraf. &#8220;Karena ahlinya jarang, saya sedikit saingan. Selain itu, bekerjanya lebih leluasa.&#8221;</div>
<div> Alasan lain, &#8220;Agar penanganan kelainan syaraf bisa komplet dan tuntas,&#8221; tambahnya. Jadi, bisa disatu-atapkan karena dokter ahli syaraf dan dokter ahli bedah syaraf biasanya orang yang berbeda.</div>
<div> Menjadi tukang bongkar otak alias ahli bedah syaraf, menurut Padmo, sangat mengasyikkan meski mensyaratkan ketelitian ekstra. Sebelum membongkar, harus diketahui benar apa penyakit dan penyebabnya, serta tepat dalam mendiagnosis. Selain itu, ia harus menguasai peta otak, yang lebih rumit daripada peta dunia.</div>
<div>     Lalu, harus dipikirkan pula bagian mana yang perlu dibuka. &#8220;Otak tidak     boleh dibuka semuanya <i>blak</i>, nanti bisa enggak karuan,&#8221; katanya     mengingatkan fungsi luhur yang berpusat di otak.</div>
<div> &#8220;Saya bersyukur dianugerahi oleh Yang Mahakuasa ingatan yang kuat dan keterampilan mengatasi hal yang rumit ini,&#8221; tutur Padmo. Apa karena itu ia disebut dokter bertangan dingin? &#8220;Mungkin karena saya bisa cepat membuat analisis dan bertindak cepat.&#8221; Namun, Padmo tidak jumawa dengan tangan dinginnya itu.</div>
<div> Sebelum mencapai masa pensiun pada usia 70 tahun nanti, kini Prof. Padmo sudah mulai merintis penggantinya sebagai kepala bagian bedah syaraf. &#8220;Saya tidak mau seperti pemain wayang orang, sekali sampai tua terus berperan jadi Gatotkaca,&#8221; akunya sambil terus terang merasa belum menemukan yang pas. Satu syarat yang sulit terpenuhi adalah belum ada yang mau berdedikasi penuh. &#8220;Dulu saya bisa tiga hari tidak tidur dan tidak pulang karena belum puas dengan hasil kerja. Sekarang mana ada dokter yang begitu, karena mereka mesti cari duit!&#8221;</div>
<div>     <b>Indonesia perlu <i>medical council</i></b></div>
<div> Tentu saja Padmo prihatin dengan pendapat, dokter sekarang cenderung mencari uang. &#8220;Dokter adalah tenaga sosial dengan tugas kemanusiaan. Seharusnya dokter digaji cukup hingga bisa berdedikasi penuh. Dengan demikian, ia tidak perlu &#8216;nyeleweng&#8217; atau ditangisi di rumah karena asap dapurnya tidak <i>ngebul</i>.&#8221;</div>
<div>     Celakanya, di Indonesia  dokter punya <i>image</i> yang telanjur tinggi. Dokter dituntut berpenampilan OK, punya rumah dan mobil sendiri. &#8220;Coba apa kata orang kalau dokter setiap hari berdesakan di bus atau jalan kaki dengan pakaian kumal, apa Anda akan percaya padanya? Saya yang berambut gondrong pun pernah diprotes. Ada orang ingin bertemu saya, tapi enggak percaya kalau saya si dokter yang dimaksud. Pernah juga saya diusir, &#8216;Eh, mau cari siapa, Pak?&#8217; Ketika saya jelaskan bahwa saya dokter, mereka kaget.&#8221;</div>
<div> Guru besar FKUI ini mencoba membandingkan sistem penggajian di negara maju, misalnya Belanda. Penduduk harus mengikuti asuransi kesehatan, sehingga pengobatan yang mahal pun bisa dibantu. Perusahaan asuransilah yang kemudian menyusun peraturan standar gaji dokter berdasarkan kualifikasi, lamanya pendidikan, lamanya bekerja, tanggung jawab yang dipikul. Dengan standar gaji yang tinggi, dokter hanya memikirkan profesinya, tak perlu memikirkan dari mana ia mesti hidup. Dokter yang bergaji sudah bagus tapi masih &#8220;nyeleweng&#8221; tentu akan lebih mudah dituntut.</div>
<div>     Di negara maju urusan dokter dan rumah sakit ditangani oleh lembaga     independen yaitu <i>medical council</i>. Lembaga ini mengontrol kualitas dan perilaku para dokter dan RS demi perlindungan hak konsumen. Misalnya, menguji kemampuan dokter yang berusia 70 tahun, apakah masih bisa dipakai atau tidak.</div>
<div> Mereka juga menentukan peraturan dan daftar tarif yang jelas sesuai keahlian dokter. Alhasil, pasien bisa memperkirakan berapa dana yang diperlukan untuk pembedahan X, lalu menyiapkannya. Maka tak ada lagi dokter yang berkata, &#8220;Kalau enggak sanggup bayar, cari dokter lain saja!&#8221;</div>
<div>     Ini akan mencegah pelanggaran etika kedokteran. &#8220;Tak ada lagi dokter     yang mengutamakan kelompok tertentu,&#8221; tuturnya.</div>
<div> Sayang, dokter Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan gaji dari pemerintah. &#8220;Akhirnya muncul fenomena dokter praktik di sana-sini atau pasang tarif tinggi. Ini bisa dimengerti, kalau tidak, bagaimana mereka bisa hidup layak?&#8221;</div>
<div> Melihat kondisi itu, ia tidak pernah menuntut anak buah bekerja hanya berdasar lamanya jam kerja. &#8220;Yang utama, tanggung jawab atas tugas yang saya berikan harus selesai tepat pada waktunya dan rapi,&#8221; tutur suami Thea Tarek, yang dinikahinya 29 tahun lalu.</div>
<div>     <b>Jangan tergantung pada harta</b></div>
<div> Cukup mengherankan rasa pengertian bisa muncul dari diri Padmo yang mengaku selama ini selalu hidup cukup, yang antara lain berkat peninggalan orang tuanya. Anak ke-13 dari 17 bersaudara ini memang berasal dari keluarga mampu. Ayahnya pegawai tinggi jawatan kereta api zaman Belanda. &#8220;Zaman itu orang pribumi berpangkat tinggi dan punya bawahan orang Belanda, ya, seperti bapak saya itu,&#8221; ceritanya. Sebab, ayah dari ibunya keturunan Kasunanan dan Mangkunegaran.</div>
<div> Saat itu anak-anaknya diperbolehkan masuk sekolah Belanda (Europese Lagere School), SD khusus untuk orang Eropa. Dari situ boleh melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS) yang cuma ada di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Semarang. Orang pribumi paling cuma bisa sekolah &#8220;Ongko Loro&#8221;. Jadi dokter pun, bisanya dokter Jawa lulusan NIAS.</div>
<div> Tentang keluarga besarnya, ia bercerita, ayah-ibunya hidup disiplin. Contohnya, setiap anak dari yang paling tua sampai yang terkecil mempunyai tugas masing-masing sesuai umur. Malam sebelum tidur semua harus menyemir sepatu untuk persiapan esok. Pagi pukul 05.00, ibunya membangunkan semua anak untuk mengerjakan tugas masing-masing seperti menyapu, merapikan tempat tidur, dll. Yang menarik, saat terima rapor, semua rapor dibuka dan dijejerkan. Kalau ada angka yang kurang memuaskan hanya ditanya apa sebabnya, tapi tidak kena marah. Tiap liburan mereka boleh pilih ingin pergi ke mana, tinggal naik kereta api gratis.</div>
<div> Orang tuanya memang sangat mementingkan pendidikan yang tinggi bagi semua anaknya. &#8220;Bapak tidak pernah mengungkapkan bahwa ekonominya kuat. Pada anaknya, ia hanya menekankan, ilmu lebih penting daripada harta. Harta sekejap bisa sirna, tapi ilmu tidak. Jadi, jangan sekali-kali terikat pada harta. Petuah itu terus saya pegang hingga kini.&#8221;</div>
<div> Itukah yang menyebabkan kenapa Prof. Padmo tidak pernah praktik di luar? &#8220;Ya, karena saya pikir, hidup saya sudah cukup dan saya lebih baik konsentrasi ke pekerjaan saja. Apalagi sekarang saya sudah di atas 60 tahun, cari apa lagi?&#8221; tegasnya.</div>
<div>     <b>Nikmatnya keroncongan</b></div>
<div> &#8220;Cari apa lagi?&#8221; memang tidak mudah dijawab. Apalagi dengan menganut teori aktualisasi diri tokoh psikologi Maslow, setelah berkarya sebagai dokter selama 37 tahun, Prof. Padmosantjojo kini merasa, kebutuhan utama sudah tercapai. &#8220;Semua yang saya inginkan sudah tercapai. Saya tak perlu kerja mati-matian seperti dulu. Pangkat profesor sudah saya capai.&#8221;</div>
<div> Maka, sebagian pun dipakai untuk menikmati hidup lewat hobinya: melukis, menyanyi, bermain musik, dansa, membaca buku-buku sejarah, dan merawat tanaman.</div>
<div> Hobi melukis yang sudah terbit sejak kanak-kanak, mulai aktif ditekuninya lagi tahun 1997. &#8220;Saya cukup belajar sendiri dari berbagai buku melukis,&#8221; katanya sambil mengaku bisa tahan menggores cat minyak di lembar kanvas sampai pukul 01.00 pagi.</div>
<div> Tidak kalah getol hobi berdansa, seperti Tango, Waltz, Chachacha, Rumba, Quick Step, dll. Ini semua dipelajari saat ia di Belanda. &#8220;Di sana ahli bedah syaraf dianggap elite, jadi harus bisa mengikuti kehidupan kaum elite. Kebetulan istri saya orang Manado, jadi juga senang dansa,&#8221; tambahnya.</div>
<div> Menyinggung soal tanaman, ia memang pernah bercita-cita meneruskan ke Fakultas Pertanian, tapi kemudian masuk kedokteran karena keinginan sang ayah. Saat berkunjung ke luar negeri, ke negara mana pun, ia selalu menyempatkan diri mengunjungi Botanical Garden untuk mempelajari aneka macam tanaman. &#8220;Saya iri menyaksikan begitu pandainya orang Eropa mengatur tanaman. Masak kembang telekan di sebuah bekas istana di Swedia bisa disusun begitu indah, berwarna-warni? Kenapa kita <i>ndak</i> bisa?&#8221;</div>
<div> Kesenangan ini ia salurkan saat menata rumahnya yang tidak terkesan mewah di kawasan Kemang, Jakarta. Kebun belakangnya asri dengan pelbagai tanaman hias kesukaannya ditambah sumur &#8220;<i>jolotundo</i>&#8221; buatan sendiri     dengan ember digantung yang terus dialiri air, menambah adem suasana.</div>
<div> Selain ketiga hobi itu, ia juga penikmat musik Jawa, keroncong, serta klasik. Bila ada kesempatan, dua minggu sekali orkes keroncongnya main di fakultas dengan penonton para dokter. Sedangkan di rumahnya sebulan sekali ada acara kumpul-kumpul berlatih dan menikmati keroncong. Saat ia membedah pasien pun di kamar bedahnya selalu diiringi lagu langgam Jawa atau keroncong. &#8220;Dalam kenyataan, saat operasi berjalan saya <i>ndak</i>     mendengar musik itu. Begitu operasi berhasil, telinga serasa <i>plong</i>.     Musik mengalir, saya pun jadi rileks,&#8221; ujarnya.</div>
<div>     Kegemaran lainnya, ia betah menonton wayang kulit sampai <i>ngebyar</i> semalam suntuk. Dari sekian banyak tokoh pewayangan, justru Semar yang berpenampilan jelek yang menjadi idolanya. Alasannya, &#8220;Semar itu bijaksana, suka menolong, tidak pernah berbohong, tidak banyak bicara, tidak suka <i>umuk</i> (sok &#8211; <i>Red</i>) tapi selalu <i>eling</i> (tahu     diri),&#8221; tuturnya sambil tersenyum <i>nggleges</i> membayangkan idolanya     yang punya senjata andal kentut maut. Tak aneh bila kemudian ia memasang     entah  gambar atau patung Semar dalam berbagai ukuran di rumahnya.</div>
<div> Bagaimana dengan Napoleon, yang gambarnya tergantung di ruang kerjanya? &#8220;Kelebihan Napoleon adalah dalam soal konsisten dan betapa sistematis cara kerjanya.&#8221;</div>
<div> Sedikitnya penguasa Prancis itu mengilhaminya untuk menyusun buku prosedur baku untuk setiap penyakit yang perlu ditangani oleh ahli bedah syaraf. Dalam buku itu akan tercantum mulai dari cara memeriksa, cara mengoperasi, bagaimana menanganinya, apa saja yang dibutuhkan, serta diagnosisnya. &#8220;Ini untuk melengkapi yang ada sekarang yang cuma berisi gejala penyakit dan cara penanggulangannya, &#8221; katanya. Filosofi Padmo adalah mencari akar masalah penyakit, bukan hanya mengobati gejalanya. Saat menolong, apa saja yang dibutuhkan, dan selesai menolong, apa lagi yang bisa dilakukan.</div>
<div>     Toh Napoleon bukan idolanya, &#8220;Ia punya banyak kekurangan,&#8221; tutur     ayah satu putri, Mutiara, yang  psikolog.</div>
<div> Dokter yang tiap hari olahraga lari sejauh 3 &#8211; 5 km mengaku tidak punya tokoh idola lain dari mana pun. &#8220;Jagoan saya tetap bapaknya para punakawan, Semar,&#8221; tuturnya sambil tersenyum lebar. Wah, benar-benar Semar alias <i>eseme jembar</i> (senyumnya lebar)</div>
<p></span></font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/icanxkecil.wordpress.com/122/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/icanxkecil.wordpress.com/122/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/icanxkecil.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/icanxkecil.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/icanxkecil.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/icanxkecil.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/icanxkecil.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/icanxkecil.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/icanxkecil.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/icanxkecil.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/icanxkecil.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/icanxkecil.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icanxkecil.wordpress.com&blog=315130&post=122&subd=icanxkecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icanxkecil.wordpress.com/2008/03/02/padmosantjojo-si-tukang-bongkar-pasang-otak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf920b71b6ec0519a7a950146c1933f3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">icanxkecil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Suluk Kematian</title>
		<link>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/suluk-kematian/</link>
		<comments>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/suluk-kematian/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Aug 2006 20:18:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icanxkecil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/suluk-kematian/</guid>
		<description><![CDATA[Salman Rusydie Anwar  
ADALAH belum siang betul saat aku mendapati suasana gaduh penuh tangis kematian itu. Pagi masih buta. Anak-anak belum sepenuhnya terjaga dari tidurnya. Mereka masih bergelut dengan mimpi-mimpi indahnya. Tentang alam, tentang permainan, maupun tentang dunia yang disangkanya masih bisa bertahan dengan kemolekan yang dimilikinya. 
Namun, di pagi yang buta itu. Alam menegaskan keadaannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icanxkecil.wordpress.com&blog=315130&post=67&subd=icanxkecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Salman Rusydie Anwar  </p>
<p><strong>ADALAH </strong>belum siang betul saat aku mendapati suasana gaduh penuh tangis kematian itu. Pagi masih buta. Anak-anak belum sepenuhnya terjaga dari tidurnya. Mereka masih bergelut dengan mimpi-mimpi indahnya. Tentang alam, tentang permainan, maupun tentang dunia yang disangkanya masih bisa bertahan dengan kemolekan yang dimilikinya.<span id="more-67"></span> </p>
<p>Namun, di pagi yang buta itu. Alam menegaskan keadaannya sendiri. Sebagai sesuatu yang sepenuhnya tidak bisa disangka-sangka. Ia menunjukkan bahwa apa yang dimilikinya tetap berada dalam satu kendali Yang Maha tak Terduga. Alam bergeliat dalam satu irama yang asing. Membanting-bantingkan gedung, pohon, kerikil, daun yang gugur. Bahkan anak-anak yang belum sepenuhnya terjaga dari lelapnya.</p>
<p>Maka, jadilah suasana di pagi hari itu sebagai penegasan tentang apa yang sesungguhnya harus aku pahami. Aku masih mengenakan mantel tebalku. Dingin. Burung-burung di sebagian tempat masih merunduk lelah. Diam. Layaknya memberi waktu bagiku untuk menyaksikan tarian-tarian ajaib tangan Tuhan.</p>
<p>Tarian ajaib itu tak hanya menggiringku untuk tetap terpaku pada kenyataan maut yang bergentayangan dan memaksaku untuk berteriak, menangis. Penuh ketakutan. Namun sekaligus tarian-tarian maut itu mengocok perutku untuk terpingkal-pingkal tertawa. Karena bayangan kematian yang mengancam itu terlihat begitu lucu. Setidaknya untuk ditakuti.</p>
<p>Atas tarian ajaib tangan Tuhan. Atas guncangan yang melempar-lemparkan guguran dedaunan. Orang-orang melolong-lolong di sekitarku. Menumpahkan serak parau suara mereka ke dalam irama yang satu. Ketakutan. Kepanikan. Ancaman kematian, terus membuntuti gerak langkah mereka yang berlarian. Berhamburan. Sampai terlihat olehku di antara mereka. Ambruk. Bagai tumbangnya pepohonan. Darah berhambur ke arah-arah. Mulut mengerang. Matanya terpejam pasrah. Sebuah balok beton begitu angkuh menindihnya. Akhh&#8230;! Suaranya kini mulai melemah. Sebelum akhirnya ia beku. Direngkuh sunyi yang sesungguhnya.</p>
<p>Sementara orang-orang di sekitarnya terus mempercepat langkah. Tanpa sedikitpun menoleh dan memberinya ucapan selamat tinggal. Ia yang ambruk, telah menjadi bagian beton-beton yang patah. Yang terus dilalui oleh langkah yang panik. Yang tak boleh disentuh, kalau tidak ingin maut menyentuhnya. Semacam egoisme yang tak menemukan pilihan untuk tidak dilakukan. Aku pun terdiam. Entah menerima atau sebaliknya mengutuk. Tapi pagi itu, semuanya terjadi tanpa pertimbangan-pertimbangan yang bisa dilakukan. Semua orang mesti merasa perlu untuk hanya tahu apa yang bagi mereka sangat berharga. Hidup. Dan selamat di antara bayangan kematian yang sangat serius mengancam.</p>
<p>Aku, seperti terus dipaksa untuk terus tetap berdiri di atas bongkahan-bongkahan tubuh manusia. Tak kuhiraukan orang-orang yang tak sengaja menubruk tubuhku. Tanah yang kupijak kurasakan terus berderak-derak. Menderitkan suara kematian yang semakin jalang mengancam. Aku pun tak bisa berdoa jika hal itu hanya bisa kulakukan sendiri. Sementara orang-orang terus menjerit-jerit. Tak jelas melafalkan suara apa. Tapi, bukankah Tuhan tak perlu diberi penjelasan tentang apa yang kami semua harapkan. Ia tahu betul apa makna di balik histerisnya orang-orang. Aku tetap terdiam. Membiarkan maut mengancamku yang di mana saja dan kejadian apa saja tetap tak bisa kutolak. Tapi bagaimana dengan mereka?</p>
<p>Setelah semuanya terlihat begitu mencekam. Akhirnya malam pelan-pelan merayap. Aku pun memutuskan untuk pergi. Kususuri puing-puing yang ambruk itu. Aku terus berjalan ke arah timur. Aku, pada waktu itu, merasa harus menemui-Mu secepatnya. Setidaknya meminta-Mu penjelasan. Tentang atas dasar apa Kau lakukan semua ini. Aku tahu bahwa setelah perjanjian itu, Kau tak memperbolehkan aku untuk menemui-Mu. Apalagi bertanya tentang apa saja yang Kau lakukan. Kau memintaku untuk diam. Lebih tepatnya bersabar atas semua perbuatan-Mu yang tak sepenuhnya masuk di akalku.</p>
<p>Akh&#8230;, betapa Kau telah menjadikan aku layaknya seperti Musa. Yang tak boleh bertanya ketika sang Khidir menenggelamkan sebuah perahu milik si miskin. Ketika ia dengan dingin menggorok leher seorang bocah yang sedang asyik bermain. Atau bahkan ketika ia dengan susah payah memperbaiki sebuah rumah, di mana itu semua ia lakukan tanpa imbal jasa. Tanpa perhitungan apa-apa sampai Musa sendiri bergumam, ”Betapa bodohnya engkau atas semua perbuatan yang kau lakukan ini, Khidir”. Dan demi mendengar itu, si Khidir memutuskan untuk tidak lagi bersama Musa.</p>
<p>Tapi aku tahu bahwa Kau bukan si Khidir itu. Setidaknya Kau bukan bagian dari mereka. Bukan bagian dari siapa saja. Kau adalah pribadi yang bebas dari pengaruh siapa pun. Dan karena itu, aku terus mencari-Mu. Meminta penjelasan atas semua tindakan-Mu pada hari itu.</p>
<p>Engkau tahu sendiri. TindakanMu telah menjadi penyebab dari terjadinya beberapa kehilangan-kehilangan. Anak-anak itu. Lihatlah. Ia terlepas dari dekapan ibunya untuk pergi ke suatu alam yang tak memberinya kemungkinan untuk kembali. Lihat juga para orang-orang yang sudah tua renta itu. Ia telah kehilangan kesempatan menikmati sisa hidupnya bersama para cucu mereka yang tersayang.</p>
<p>”Kau hanya bisa mencercaKu dengan pertanyaan-pertanyaan konyolmu itu. Sementara Aku, harus terus berusaha menunjukkan betapa Aku masih memiliki kuasa atas hidup mereka. Setidaknya atas kecongkakan mereka yang ditujukan padaKu dari hari ke hari,” suaraMu kudengar menggelegar.</p>
<p>Aku mengangkat kepala. Berusaha membantah dengan cara menatapMu. ”Baiklah kalau memang itu alasanMu. Aku tak keberatan. Kau memang memiliki hak untuk melakukan itu semua. Sebab segalanya memang Engkaulah pengaturnya. Tapi aku sungguh menyesalkan, betapa Engkau tidak memilah-milah kepada siapa seharusnya kuasaMu mesti Kau tunjukkan”.</p>
<p>Aku tak mendengar lagi suaraMu selain suara deru angin yang menusuk-nusuk hidungku. Ada bau anyir darah yang tiba-tiba menyengat. Seperti terus mengobarkan aroma kematian yang seakan terus berseliweran di hadapanku. Malam semakin pekat. Burung-burung hantu terus mendesiskan suara-suara mistisnya di tengah-tengah rinai gerimis yang mulai turun secara tiba-tiba.</p>
<p>”Di mana, Kau?” tanyaku dengan setengah berteriak. ”Ayo keluarlah. Jangan bersembunyi dan kembali membuat teka-teki. Kau masih harus menjelaskan kepadaku tentang alasan dari semua perbuatanMu ini. Keluarlah dan tampakkan wujudMu”.</p>
<p>Angin berhembus semakin kencang. Tanah yang kupijak kembali bergoyang. ”Hei, hentikan perbuatanMu ini. Apa Kau tidak tahu apa akibat dari perbuatanMu ini!!”</p>
<p>Kau tetap tak memberiku jawaban. Selain tanah yang terus kelihatan hilang keseimbangan. Aku sendiri kini semakin ingin memburuMu. MempersoalkanMu dan segalanya seperti hendak kutumpahkan kepadaMu. Di tengah suaraku yang semakin tak jernih didengar. Aku terus berteriak-teriak. Memanggil-manggilMu dari segala arah. Kau tak jua semakin bergegas menemuiku. Sehingga karenanya aku semakin memanggilMu dengan penuh keberangan.</p>
<p>”Kau tak perlu berteriak-teriak seperti itu. Toh, kenyataannya Aku berada lebih dekat dari urat lehermu. Lagipula apa hakmu mencari-cari. Aku, sekadar untuk mengetahui alasanKu berbuat begitu pada tempatmu. Pada daerahmu. Kau seperti halnya dengan mereka juga. Semuanya berada di bawah kekuasaanKu. Jadi apapun yang Aku lakukan, sepenuhnya itu berada dalam hakKu. Dan kau, juga semuanya, hanya memiliki dua pilihan sikap terhadap tindakanKu. Bersabar, atau pergi saja ke mana kau suka.</p>
<p>Tapi yang harus kalian semua ingat adalah; bahwa itu semua, Aku lakukan semata-mata untuk mengetahui secara pasti apakah kalian masih menganggapKu ada atau tidak. Masih menjadikanKu sebagai satu-satunya jaminan atas segala urusan hidupmu atau malah sebaliknya, mengacuhkan.</p>
<p>Kalian semua, sedikitpun tidak memiliki hak untuk memberiKu ukuran-ukuran berupa apa saja atas kejadian ini. Apakah kemudian, kalau Aku porak porandakan kehidupan mereka lantas kau menganggapKu tidak lagi mengasihimu. Tidak lagi menyayangimu? Kalau memang benar demikian anggapanmu terhadapKu, maka ketahuilah bahwa itu semua adalah salah. Karena hal itu adalah ukuran-ukuranmu belaka yang hanya dipaksakan untuk mensifati kedirianKu atau lebih tepatnya menudingKu tak memiliki belas kasihan.</p>
<p>Ingat! Aku memiliki banyak cara yang tak terbatas untuk menunjukkan betapa Aku sangat berkuasa di samping Aku juga penyayang bagi semua. Tak terkecuali dengan apa yang menimpamu saat ini. Kau bisa juga beranggapan, bahwa bencana yang meluluhlantakkan daerahmu, ciptaan dan kepunyaanKu, yang telah menyebabkan orang-orang dekat yang kau cintai itu semuanya menghilang secara tiba-tiba sebagai cobaan kepedihan dan sebuah bencana malapetaka.</p>
<p>Tapi, pernahkah kau berpikir bahwa apa yang kau anggap sebagai bencana, berarti pula bernilai malapetaka bagiKu. Belum tentu demikian. Karena, walau bagaimanapun, kau tak memiliki kesanggupan untuk tahu dengan urusan dan rencana-rencanaKu. Kau hanya tahu meminta agar Aku mengasihimu, menyayangimu mulai sejak lahir sampai ajal memanggil. Dan kau hanya tahu bahwa wujud kasih sayangKu bisa kau terima selama ini memberikan rasa nikmat, rasa senang, rasa nyaman dan aman. Padahal, ukuran-ukuran seperti itu hanyalah semata kecenderunganmu mengikuti nafsu belaka.</p>
<p>Padahal, Aku memiliki banyak jalan untuk mewujudkan kasih sayangKu. Sekalipun itu dengan jalan yang menyakitkan hatimu. Tapi itulah Aku. Sekali lagi itulah Aku. Yang tidak bisa seenak rasamu dituntut memenuhi kenyamanan demi kenyamanan yang kau pinta. Aku mesti memberimu kasih sayang. Meski hal itu Aku wujudkan dalam bentuk guncangan demi guncangan yang melanda rumahmu itu. Tapi Aku tidak tahu apa kau bisa menemukan taburan kasih sayangKu?</p>
<p>Terhadap orang-orang yang telah dengan begitu tiba-tiba pergi dari kehidupanmu, kau tak perlu risau. Kepada mereka semua Aku hanya merasa kasihan sebab sudah terlalu lama mereka menanti-nanti kebahagiaan yang pernah dijanjikan para penguasamu. Daripada kebahagiaan yang mereka nanti-nanti itu tak kunjung datang. Kenapa tidak saja bergabung dengan orang-orangKu yang telah berbahagia. Karenanya Kupanggil mereka semua untuk secepat mungkin merasakan kebahagiaan yang telah lama mereka impikan. Jadi, kenapa kau mesti bersedih atas hal yang tidak sepenuhnya kau ketahui ini, hah&#8230;! Oh, iya. Apa kau masih bisa mengikuti jalan pikiranKu?” tanyaMu kemudian.</p>
<p>Tak ada yang bisa kuucapkan sebagai jawaban atas pertanyaanMu itu. Bahkan, sekalipun Kau mengulangi dan memaksaku menjawab pertanyaanMu. Aku tetap tidak bisa memberikan jawaban. Aku memilih untuk terdiam. Beku. Mencoba memahami apa yang baru saja Kau sebut sebagai jalan pikiran. Yah&#8230;, Jalan Pikiran-Mu.</p>
<p>Susah. Waktu membeku. Seperti aku. Di hadapanMu. Pada hari bencana itu.*** <strong>ADALAH </strong>belum siang betul saat aku mendapati suasana gaduh penuh tangis kematian itu. Pagi masih buta. Anak-anak belum sepenuhnya terjaga dari tidurnya. Mereka masih bergelut dengan mimpi-mimpi indahnya. Tentang alam, tentang permainan, maupun tentang dunia yang disangkanya masih bisa bertahan dengan kemolekan yang dimilikinya.</p>
<p>Namun, di pagi yang buta itu. Alam menegaskan keadaannya sendiri. Sebagai sesuatu yang sepenuhnya tidak bisa disangka-sangka. Ia menunjukkan bahwa apa yang dimilikinya tetap berada dalam satu kendali Yang Maha tak Terduga. Alam bergeliat dalam satu irama yang asing. Membanting-bantingkan gedung, pohon, kerikil, daun yang gugur. Bahkan anak-anak yang belum sepenuhnya terjaga dari lelapnya.</p>
<p>Maka, jadilah suasana di pagi hari itu sebagai penegasan tentang apa yang sesungguhnya harus aku pahami. Aku masih mengenakan mantel tebalku. Dingin. Burung-burung di sebagian tempat masih merunduk lelah. Diam. Layaknya memberi waktu bagiku untuk menyaksikan tarian-tarian ajaib tangan Tuhan.</p>
<p>Tarian ajaib itu tak hanya menggiringku untuk tetap terpaku pada kenyataan maut yang bergentayangan dan memaksaku untuk berteriak, menangis. Penuh ketakutan. Namun sekaligus tarian-tarian maut itu mengocok perutku untuk terpingkal-pingkal tertawa. Karena bayangan kematian yang mengancam itu terlihat begitu lucu. Setidaknya untuk ditakuti.</p>
<p>Atas tarian ajaib tangan Tuhan. Atas guncangan yang melempar-lemparkan guguran dedaunan. Orang-orang melolong-lolong di sekitarku. Menumpahkan serak parau suara mereka ke dalam irama yang satu. Ketakutan. Kepanikan. Ancaman kematian, terus membuntuti gerak langkah mereka yang berlarian. Berhamburan. Sampai terlihat olehku di antara mereka. Ambruk. Bagai tumbangnya pepohonan. Darah berhambur ke arah-arah. Mulut mengerang. Matanya terpejam pasrah. Sebuah balok beton begitu angkuh menindihnya. Akhh&#8230;! Suaranya kini mulai melemah. Sebelum akhirnya ia beku. Direngkuh sunyi yang sesungguhnya.</p>
<p>Sementara orang-orang di sekitarnya terus mempercepat langkah. Tanpa sedikitpun menoleh dan memberinya ucapan selamat tinggal. Ia yang ambruk, telah menjadi bagian beton-beton yang patah. Yang terus dilalui oleh langkah yang panik. Yang tak boleh disentuh, kalau tidak ingin maut menyentuhnya. Semacam egoisme yang tak menemukan pilihan untuk tidak dilakukan. Aku pun terdiam. Entah menerima atau sebaliknya mengutuk. Tapi pagi itu, semuanya terjadi tanpa pertimbangan-pertimbangan yang bisa dilakukan. Semua orang mesti merasa perlu untuk hanya tahu apa yang bagi mereka sangat berharga. Hidup. Dan selamat di antara bayangan kematian yang sangat serius mengancam.</p>
<p>Aku, seperti terus dipaksa untuk terus tetap berdiri di atas bongkahan-bongkahan tubuh manusia. Tak kuhiraukan orang-orang yang tak sengaja menubruk tubuhku. Tanah yang kupijak kurasakan terus berderak-derak. Menderitkan suara kematian yang semakin jalang mengancam. Aku pun tak bisa berdoa jika hal itu hanya bisa kulakukan sendiri. Sementara orang-orang terus menjerit-jerit. Tak jelas melafalkan suara apa. Tapi, bukankah Tuhan tak perlu diberi penjelasan tentang apa yang kami semua harapkan. Ia tahu betul apa makna di balik histerisnya orang-orang. Aku tetap terdiam. Membiarkan maut mengancamku yang di mana saja dan kejadian apa saja tetap tak bisa kutolak. Tapi bagaimana dengan mereka?</p>
<p>Setelah semuanya terlihat begitu mencekam. Akhirnya malam pelan-pelan merayap. Aku pun memutuskan untuk pergi. Kususuri puing-puing yang ambruk itu. Aku terus berjalan ke arah timur. Aku, pada waktu itu, merasa harus menemui-Mu secepatnya. Setidaknya meminta-Mu penjelasan. Tentang atas dasar apa Kau lakukan semua ini. Aku tahu bahwa setelah perjanjian itu, Kau tak memperbolehkan aku untuk menemui-Mu. Apalagi bertanya tentang apa saja yang Kau lakukan. Kau memintaku untuk diam. Lebih tepatnya bersabar atas semua perbuatan-Mu yang tak sepenuhnya masuk di akalku.</p>
<p>Akh&#8230;, betapa Kau telah menjadikan aku layaknya seperti Musa. Yang tak boleh bertanya ketika sang Khidir menenggelamkan sebuah perahu milik si miskin. Ketika ia dengan dingin menggorok leher seorang bocah yang sedang asyik bermain. Atau bahkan ketika ia dengan susah payah memperbaiki sebuah rumah, di mana itu semua ia lakukan tanpa imbal jasa. Tanpa perhitungan apa-apa sampai Musa sendiri bergumam, ”Betapa bodohnya engkau atas semua perbuatan yang kau lakukan ini, Khidir”. Dan demi mendengar itu, si Khidir memutuskan untuk tidak lagi bersama Musa.</p>
<p>Tapi aku tahu bahwa Kau bukan si Khidir itu. Setidaknya Kau bukan bagian dari mereka. Bukan bagian dari siapa saja. Kau adalah pribadi yang bebas dari pengaruh siapa pun. Dan karena itu, aku terus mencari-Mu. Meminta penjelasan atas semua tindakan-Mu pada hari itu.</p>
<p>Engkau tahu sendiri. TindakanMu telah menjadi penyebab dari terjadinya beberapa kehilangan-kehilangan. Anak-anak itu. Lihatlah. Ia terlepas dari dekapan ibunya untuk pergi ke suatu alam yang tak memberinya kemungkinan untuk kembali. Lihat juga para orang-orang yang sudah tua renta itu. Ia telah kehilangan kesempatan menikmati sisa hidupnya bersama para cucu mereka yang tersayang.</p>
<p>”Kau hanya bisa mencercaKu dengan pertanyaan-pertanyaan konyolmu itu. Sementara Aku, harus terus berusaha menunjukkan betapa Aku masih memiliki kuasa atas hidup mereka. Setidaknya atas kecongkakan mereka yang ditujukan padaKu dari hari ke hari,” suaraMu kudengar menggelegar.</p>
<p>Aku mengangkat kepala. Berusaha membantah dengan cara menatapMu. ”Baiklah kalau memang itu alasanMu. Aku tak keberatan. Kau memang memiliki hak untuk melakukan itu semua. Sebab segalanya memang Engkaulah pengaturnya. Tapi aku sungguh menyesalkan, betapa Engkau tidak memilah-milah kepada siapa seharusnya kuasaMu mesti Kau tunjukkan”.</p>
<p>Aku tak mendengar lagi suaraMu selain suara deru angin yang menusuk-nusuk hidungku. Ada bau anyir darah yang tiba-tiba menyengat. Seperti terus mengobarkan aroma kematian yang seakan terus berseliweran di hadapanku. Malam semakin pekat. Burung-burung hantu terus mendesiskan suara-suara mistisnya di tengah-tengah rinai gerimis yang mulai turun secara tiba-tiba.</p>
<p>”Di mana, Kau?” tanyaku dengan setengah berteriak. ”Ayo keluarlah. Jangan bersembunyi dan kembali membuat teka-teki. Kau masih harus menjelaskan kepadaku tentang alasan dari semua perbuatanMu ini. Keluarlah dan tampakkan wujudMu”.</p>
<p>Angin berhembus semakin kencang. Tanah yang kupijak kembali bergoyang. ”Hei, hentikan perbuatanMu ini. Apa Kau tidak tahu apa akibat dari perbuatanMu ini!!”</p>
<p>Kau tetap tak memberiku jawaban. Selain tanah yang terus kelihatan hilang keseimbangan. Aku sendiri kini semakin ingin memburuMu. MempersoalkanMu dan segalanya seperti hendak kutumpahkan kepadaMu. Di tengah suaraku yang semakin tak jernih didengar. Aku terus berteriak-teriak. Memanggil-manggilMu dari segala arah. Kau tak jua semakin bergegas menemuiku. Sehingga karenanya aku semakin memanggilMu dengan penuh keberangan.</p>
<p>”Kau tak perlu berteriak-teriak seperti itu. Toh, kenyataannya Aku berada lebih dekat dari urat lehermu. Lagipula apa hakmu mencari-cari. Aku, sekadar untuk mengetahui alasanKu berbuat begitu pada tempatmu. Pada daerahmu. Kau seperti halnya dengan mereka juga. Semuanya berada di bawah kekuasaanKu. Jadi apapun yang Aku lakukan, sepenuhnya itu berada dalam hakKu. Dan kau, juga semuanya, hanya memiliki dua pilihan sikap terhadap tindakanKu. Bersabar, atau pergi saja ke mana kau suka.</p>
<p>Tapi yang harus kalian semua ingat adalah; bahwa itu semua, Aku lakukan semata-mata untuk mengetahui secara pasti apakah kalian masih menganggapKu ada atau tidak. Masih menjadikanKu sebagai satu-satunya jaminan atas segala urusan hidupmu atau malah sebaliknya, mengacuhkan.</p>
<p>Kalian semua, sedikitpun tidak memiliki hak untuk memberiKu ukuran-ukuran berupa apa saja atas kejadian ini. Apakah kemudian, kalau Aku porak porandakan kehidupan mereka lantas kau menganggapKu tidak lagi mengasihimu. Tidak lagi menyayangimu? Kalau memang benar demikian anggapanmu terhadapKu, maka ketahuilah bahwa itu semua adalah salah. Karena hal itu adalah ukuran-ukuranmu belaka yang hanya dipaksakan untuk mensifati kedirianKu atau lebih tepatnya menudingKu tak memiliki belas kasihan.</p>
<p>Ingat! Aku memiliki banyak cara yang tak terbatas untuk menunjukkan betapa Aku sangat berkuasa di samping Aku juga penyayang bagi semua. Tak terkecuali dengan apa yang menimpamu saat ini. Kau bisa juga beranggapan, bahwa bencana yang meluluhlantakkan daerahmu, ciptaan dan kepunyaanKu, yang telah menyebabkan orang-orang dekat yang kau cintai itu semuanya menghilang secara tiba-tiba sebagai cobaan kepedihan dan sebuah bencana malapetaka.</p>
<p>Tapi, pernahkah kau berpikir bahwa apa yang kau anggap sebagai bencana, berarti pula bernilai malapetaka bagiKu. Belum tentu demikian. Karena, walau bagaimanapun, kau tak memiliki kesanggupan untuk tahu dengan urusan dan rencana-rencanaKu. Kau hanya tahu meminta agar Aku mengasihimu, menyayangimu mulai sejak lahir sampai ajal memanggil. Dan kau hanya tahu bahwa wujud kasih sayangKu bisa kau terima selama ini memberikan rasa nikmat, rasa senang, rasa nyaman dan aman. Padahal, ukuran-ukuran seperti itu hanyalah semata kecenderunganmu mengikuti nafsu belaka.</p>
<p>Padahal, Aku memiliki banyak jalan untuk mewujudkan kasih sayangKu. Sekalipun itu dengan jalan yang menyakitkan hatimu. Tapi itulah Aku. Sekali lagi itulah Aku. Yang tidak bisa seenak rasamu dituntut memenuhi kenyamanan demi kenyamanan yang kau pinta. Aku mesti memberimu kasih sayang. Meski hal itu Aku wujudkan dalam bentuk guncangan demi guncangan yang melanda rumahmu itu. Tapi Aku tidak tahu apa kau bisa menemukan taburan kasih sayangKu?</p>
<p>Terhadap orang-orang yang telah dengan begitu tiba-tiba pergi dari kehidupanmu, kau tak perlu risau. Kepada mereka semua Aku hanya merasa kasihan sebab sudah terlalu lama mereka menanti-nanti kebahagiaan yang pernah dijanjikan para penguasamu. Daripada kebahagiaan yang mereka nanti-nanti itu tak kunjung datang. Kenapa tidak saja bergabung dengan orang-orangKu yang telah berbahagia. Karenanya Kupanggil mereka semua untuk secepat mungkin merasakan kebahagiaan yang telah lama mereka impikan. Jadi, kenapa kau mesti bersedih atas hal yang tidak sepenuhnya kau ketahui ini, hah&#8230;! Oh, iya. Apa kau masih bisa mengikuti jalan pikiranKu?” tanyaMu kemudian.</p>
<p>Tak ada yang bisa kuucapkan sebagai jawaban atas pertanyaanMu itu. Bahkan, sekalipun Kau mengulangi dan memaksaku menjawab pertanyaanMu. Aku tetap tidak bisa memberikan jawaban. Aku memilih untuk terdiam. Beku. Mencoba memahami apa yang baru saja Kau sebut sebagai jalan pikiran. Yah&#8230;, Jalan Pikiran-Mu.</p>
<p>Susah. Waktu membeku. Seperti aku. Di hadapanMu. Pada hari bencana itu.*** v</p>
<p>Kedaulatan Rakyat,  Edisi 06/18/2006  </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/icanxkecil.wordpress.com/67/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/icanxkecil.wordpress.com/67/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/icanxkecil.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/icanxkecil.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/icanxkecil.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/icanxkecil.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/icanxkecil.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/icanxkecil.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/icanxkecil.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/icanxkecil.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/icanxkecil.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/icanxkecil.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icanxkecil.wordpress.com&blog=315130&post=67&subd=icanxkecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/suluk-kematian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf920b71b6ec0519a7a950146c1933f3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">icanxkecil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Putri Langit</title>
		<link>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/putri-langit/</link>
		<comments>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/putri-langit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Aug 2006 20:16:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icanxkecil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/putri-langit/</guid>
		<description><![CDATA[Gita Nuari  
Ada bulan di atas atap rumah ketika Putri Langit datang menemui Supria yang sedang tertidur di samping istrinya. &#8220;Untung kamu datang, Putri,&#8221; sambut Supria di dalam mimpinya. &#8221;Sudah lama aku menunggumu. Ke mana saja kamu, Putri. Aku gelisah sejak sore tadi,&#8221; lanjut Supria dengan hati yang teramat girang. &#8220;Aku menemui orang-orang yang dilanda gelisah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icanxkecil.wordpress.com&blog=315130&post=66&subd=icanxkecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Gita Nuari  </p>
<p>Ada bulan di atas atap rumah ketika Putri Langit datang menemui Supria yang sedang tertidur di samping istrinya. &#8220;Untung kamu datang, Putri,&#8221; sambut Supria di dalam mimpinya.<span id="more-66"></span> &#8221;Sudah lama aku menunggumu. Ke mana saja kamu, Putri. Aku gelisah sejak sore tadi,&#8221; lanjut Supria dengan hati yang teramat girang. &#8220;Aku menemui orang-orang yang dilanda gelisah seperti kamu. Mereka semua meminta aku untuk mengunjunginya,&#8221; sahut Putri Langit sesaat setelah turun dari langit dengan mengendarai selendang kabut. &#8220;Bukankah engkau pernah berucap, diriku akan lebih engkau perhatikan ketimbang yang lain. Bukan begitu Putri?&#8221; &#8220;Benar. Perhatianku kepadamu lebih daripada yang lainnya. Tapi tidakkah engkau mengutamakan energi berpikirmu untuk anak dan istri, juga orang-orang yang dekat denganmu?&#8221; &#8220;Justru itu Putri, aku jadi tersiksa. Aku merasa dikebiri oleh mereka. Aku seperti kuda, dipecut untuk terus berjalan. Bahkan berlari mengejar yang tak pasti.&#8221;<br />
Putri Langit terdiam. Supria merasa tak enak hati.<br />
&#8220;Putri, maafkan aku. Aku amat serakah ingin menguasai kebaikan hatimu.&#8221; &#8220;Jangan berkata seperti itu,&#8221; ujar Putri Langit. &#8220;Semua mahluk sepertimu itu serakah. Tapi tidak seharusnya engkau seperti mereka.&#8221; &#8220;Benar, Putri. Tapi, jiwa inilah yang tak bisa tenang. Persoalan demi persoalan bemunculan tanpa peduli persoalan lama belum selesai,&#8221; beber Supria. &#8220;Sudahlah,&#8221; suara Putri Langit melunak. &#8220;Aku cukup kasihan padamu. Kemarilah lelakiku, pegang tanganku. Ayo, ikut pergi denganku,&#8221; bimbing Putri Langit membawa Supria terbang ke atas langit menerobos gumpalan-gumpalan awan.<br />
Di atas langit, tepatnya di Kerajaan Serba Ada, Supria diturunkan. &#8220;Kita sudah sampai, lelakiku,&#8221; suara Putri Langit lembut. &#8220;Jangan sungkan untuk meminta.&#8221; Supria yang telah berada di ruang berdinding cahaya itu tampak terlihat gugup. Mungkin kehidupannya di alam fana begitu sulit untuk meraih sesuatu. Sedangkan di Kerajaan Serba Ada ini semua serba mudah. Misalnya, ketika Supria kehausan, tiba-tiba saja bermacam jenis minuman segar tersedia di hadapannya.<br />
&#8220;Bagaimana?&#8221; Tanya Putri Langit.<br />
&#8220;Sungguh menakjubkan!&#8221; cetus Supria terkagum-kagum.<br />
&#8220;Di dunia kamu telah kehilangan suasana surga?&#8221; Supria tersipu malu. Disingkirkannya gelas minuman dari hadapannya, lalu menatap Putri Langit dalam-dalam. &#8220;Aku ingin bercinta,&#8221; desisnya. Kali ini Putri Langit yang tersipu malu. &#8220;Kenapa? Apa kamu menolak bercinta denganku?&#8221; kejar Supria. &#8220;Tidak,&#8221; sahut Putri Langit. &#8220;Justru aku membawamu ke sini untuk melupakan semua yang membebani pikiranmu.&#8221; Supria begitu senang hatinya mendengar Putri Langit berkata seperti itu. Dan, Supria menerima uluran tangan Putri Langit, terus mereka berpelukan. Di angkasa mereka seperti kapas berguling-guling seakan hendak menguasai alam semesta. Mereka menjelma bintang, berkelap-kelip di angkasa raya. Pada saat yang lain, mereka seperti dua cahaya meteor yang bertubrukan. Tubuh mereka memercikkan beribu cahaya. Begitu indah.<br />
&#8220;Aku bahagia sekali, Putri.&#8221;<br />
&#8220;Aku senang kau bisa bahagia.&#8221;<br />
&#8220;Aku ingin memilikimu selamanya.&#8221; Putri Langit mengendurkan pelukannya, lalu berkata, &#8220;Serakah kemanusiaanmu muncul lagi. Mestinya kau tak perlu mempunyai sifat seperti itu lagi.&#8221; &#8220;Di bumi aku tersiksa sekali. Aku seperti kuda, dipecut untuk selalu terus berjalan. Aku tak mau turun lagi, Putri. Aku mau selalu bersamamu,&#8221; kata Supria memberi alasan. &#8220;Jangan begitu, lelakiku,&#8221; sanggah Putri Langit. &#8220;Aku akan datang dan membawamu ke mana kamu suka, asal kamu tidak mementingkan dirimu sendiri.&#8221;<br />
&#8220;Apa benar begitu?&#8221; Supria jadi penasaran. Putri Langit tak menyahut. Sebaliknya, ia membawa Supria turun ke bumi untuk melihat apa yang dikerjakan oleh orang-orang dekat Supria. Siang atau malam, orang-orang yang berada di bumi tak melihat keberadaan Putri Langit atau Supria yang telah menjelma angin. &#8220;Kamu kenal dengan orang itu, lelakiku?&#8221; tanya Putri Langit sambil menunjuk ke salah seorang perempuan di belakang gerobak rokok. &#8220;Hah, itu Winarti? Istriku! Sedang apa dia?&#8221; ucap Supria heran. &#8220;Lihat saja dulu, ke mana dia setelah ini,&#8221; kata Putri Langit mengenai keberadaan istri Supria di pinggir jalan. Dan, perempuan yang dikenal sebagai istrinya itu kini berjalan menuju halte bus. Sebuah bus kota muncul. Perempuan itu naik ke dalam bus kota bersama beberapa calon penumpang. Di dalam bus perempuan itu mengeluarkan alat musik sebangsa ketimpring dari dalam tasnya. Lalu perempuan itu menyanyi.<br />
&#8220;Astaga, istriku mengamen!?&#8221; &#8220;Nah, ternyata orang yang kamu anggap telah menyiksa dirimu, justru sebaliknya. Dia lebih tabah ketimbang dirimu,&#8221; tukas Putri Langit. Mata Supria tak berkedip. &#8220;Winarti! Winarti!&#8221; teriak Supria dari atas angkasa.<br />
&#8220;Istrimu tidak akan mendengar atau melihat. Sebab kita sedang dalam wujud angin. Mau lihat yang lainnya?&#8221; tawar Putri Langit kemudian. Supria mengangguk. Bahkan ia bernafsu ingin melihat semua kejadian pada saat dirinya berada di tempat lain. &#8220;Ayo Putri, bawa aku ke tempat orang-orang di mana aku tak ada di dekatnya.&#8221; &#8220;Dengan senang hati, lelakiku,&#8221; sambut Putri Langit seraya menuntun tangan Supria. Dan terus, mereka berkesiur ke pohon-pohon di tepi jalan sehingga menyejukkan mereka yang sedang berteduh di bawahnya. &#8220;Kamu lihat anak itu? Coba perhatikan siapa dia?&#8221; tanya Putri Langit sambil menunjuk ke salah seorang anak laki-laki yang sedang menyedot minyak tanah dari mobil tangki dengan menggunakan selang yang dimasukkan ke jirigen. Bocah kecil itu melakukannya di saat mobil tangki minyak itu terjebak lampu merah. &#8220;Ya Tuhan, itu anakku! Itu anakku! Oh, sekecil itu dia sudah berada di jalan raya! Bagaimana ini, Putri?&#8221; keluh Supria semaput. &#8220;Itulah. Ternyata anakmu pun tak mau tinggal diam terhadap kehidupan ini. Meski di mata kita perbuatannya itu salah, tapi itulah yang aku bilang tadi, mereka juga sedang merasakan kesusahanmu. Ikut bersikap bagaimana untuk menata hidup ini secara benar. Bersyukurlah, anak dan istrimu sedang membangun prinsip-prinsip di dalam hidup ini.&#8221; Supria tercenung. Sebagai angin dia memilih bersemayam di dahan pohon. Bersembunyi dari hiruk-pikuk persoalan. Dia ingin berteriak tapi entah seperti apa bunyinya. Tentu anak dan istrinya tak akan tahu kalau yang berkesiur di sekelilingnya itu adalah sang suami, sang ayah yang telah berburuk sangka terhadap dirinya. &#8220;Mau lihat yang lainnya lagi?&#8221; tantang Putri Langit sambil menarik tangan Supria dari rimbun pohon yang tumbuh di tepi jalan raya itu. Supria menurut. Dia tak bisa menolak. Putri sudah berbuat baik, pikirnya. Maka dengan senang hati Supria mengikuti terus ke mana Putri Langit pergi walau harus meninggalkan raganya di tempat lain. &#8220;Apakah engkau ingin melihat orang-orang yang engkau anggap telah berjasa di tempat tinggalmu, Supria?&#8221; tanya Putri Langit kemudian.<br />
Supria merasa senang kalau memang itu bisa. &#8220;Kamu tahu siapa dia?&#8221; tanya Putri Langit melalui lubang angin pada sebuah hotel yang mereka datangi. Ya, aku kenal. Dia adalah seorang lurah di desaku. Tapi kenapa dia bersama perempuan yang bukan istrinya?&#8221; Supria berkata. &#8220;Jangan bingung, lelakiku,&#8221; kata Putri Langit. Lalu Putri Langit membawa Supria yang tengah bingung ke sebuah hotel lainnya. &#8220;Kamu kenal dengan perempuan yang ada di dalam kamar hotel itu?&#8221; tanya Putri Langit untuk yang kesekian kali. &#8220;Oh, itu! Bukankah itu istri temanku? Mengapa dia berdua dengan lelaki yang bukan suaminya di dalam hotel? Ah, dunia apa ini, Putri?&#8221; Tanpa menyahut Putri Langit membawa Supria pergi lagi untuk melihat-lihat sesuatu yang belum diketahui oleh kekasih batinnya itu melewati daerah-daerah yang belum pernah Supria kunjungi. Kedua makhluk yang menjelma angin itu berkesiur ke tenda-tenda kafe, terus naik lagi ke gedung-gedung tinggi, kemudian berhenti sebentar di sudut-sudut ruang. Hampir semua pemandangan yang dilihatnya sangat bertentangan dengan hati nuraninya. &#8220;Dan yang ini,&#8221; kata Putri Langit sambil menunjuk ke sebuah rumah yang terpisah dari perkampungan penduduk. &#8220;Kamu mungkin tak kenal dengan perempuan tua itu, tapi tentunya mengenal sekali dengan perempuan muda yang sedang terbaring itu,&#8221; lanjut Putri Langit setelah mereka masuk ke rumah itu melalui lubang angin di atas jendela. Supria terkejut bukan main. Dia hampir tak percaya.<br />
&#8220;Astaga! Bukankah itu Punasokawati, anak tetanggaku? Oh, mengapa dia dalam keadaan setengah telanjang dengan kedua kaki direntangkan?&#8221;<br />
&#8220;Dia mau aborsi!&#8221; sela Putri Langit.<br />
&#8220;Apa itu aborsi?&#8221;<br />
&#8220;Mengeluarkan jabang bayi dari rahimnya.&#8221;<br />
&#8220;Lho, bukankah Punasokawati itu belum punya suami?&#8221; &#8220;Itulah, karena kecerobohannya mengenal laki-laki tanpa pandang bulu. Siapa saja dia pacari. Sampai-sampai dia hamil. Dia sendiri tidak tahu siapa ayah anak yang ada di dalam kandungannya itu,&#8221; jelas Putri Langit. Supria mundur. Dia mau muntah. Kepalanya berdenyut. Perutnya mual.<br />
&#8220;Kenapa lelakiku, apa kamu terkejut?&#8221;<br />
Supria galau.<br />
&#8220;Apa mau lihat yang lebih gila lagi?&#8221; tawar Putri Langit kemudian. &#8220;Ti.. tidak, tidak! Sudah Putri, jangan kau teruskan lagi membawaku ke dalam kehidupan gila itu. Jangan lagi Putri! Putri!&#8221; Mendengar ocehan Supria, Winarti, istri Supria yang galak dan cerewet itu terjaga dari tidurnya. Siapa Putri? Pikirnya. &#8216;Kurang ajar!&#8217; Kutuknya kemudian. Hati sang istri tiba-tiba terbakar api cemburu di pagi buta. Tanpa basa-basi lagi, sang istri itu mengambil air dari dalam gentong lalu disiramkan ke wajah suaminya. &#8220;Dasar bajingan! Siapa Putri, heh! Siaaappaaa!&#8221; teriak Winarti sambil menjambak rambut Supria dengan kasar sehingga suaminya itu terlempar dari atas tempat tidurnya. Supria yang masih gugup dan bingung itu hanya melongo di lantai kamarnya, tanpa bisa menjelaskan duduk persoalannya. *** </p>
<p>Suara Karya,  Edisi 06/18/2006  Suara Karya,  Edisi 06/18/2006  </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/icanxkecil.wordpress.com/66/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/icanxkecil.wordpress.com/66/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/icanxkecil.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/icanxkecil.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/icanxkecil.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/icanxkecil.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/icanxkecil.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/icanxkecil.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/icanxkecil.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/icanxkecil.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/icanxkecil.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/icanxkecil.wordpress.com/66/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icanxkecil.wordpress.com&blog=315130&post=66&subd=icanxkecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/putri-langit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf920b71b6ec0519a7a950146c1933f3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">icanxkecil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pulang</title>
		<link>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/pulang/</link>
		<comments>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/pulang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Aug 2006 20:09:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icanxkecil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/pulang/</guid>
		<description><![CDATA[Dahta Gautama  
AKHIRNYA aku putuskan untuk pulang. Matahari merah saga. Jalan-jalan mendidih. Ya, kuputuskan untuk pulang, siang itu. Membuka pintu. Ada perempuan tua didalamnya, matanya cekung dan redup.&#8220;Pulang, anakku!&#8221;"Ya, aku pulang, Ibu!&#8221;Orang-orang kampung, kulihat gelagat buruk di mata mereka. Mereka orang-orang biasa. Menilai orang dari sudut penampilannya saja. Sedang aku orang singkat. Tak suka banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icanxkecil.wordpress.com&blog=315130&post=65&subd=icanxkecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dahta Gautama  </p>
<p><b>AKHIRNYA</b> aku putuskan untuk pulang. Matahari merah saga. Jalan-jalan mendidih. Ya, kuputuskan untuk pulang, siang itu. Membuka pintu. Ada perempuan tua didalamnya, matanya cekung dan redup.<span id="more-65"></span>&#8220;Pulang, anakku!&#8221;"Ya, aku pulang, Ibu!&#8221;Orang-orang kampung, kulihat gelagat buruk di mata mereka. Mereka orang-orang biasa. Menilai orang dari sudut penampilannya saja. Sedang aku orang singkat. Tak suka banyak bicara.Bahkan ketika ibu bertanya, &#8220;Pulang, Anakku!&#8221;Aku hanya menjawab, &#8220;Ya, aku pulang!&#8221;Kemudian aku ke sumur, mandi lalu tidur di kamar belakang. Sebab hanya ada dua kamar. Kamar depan yang ditempati ibu dan kamar belakang yang kosong.Ibu orang pendiam. Setelah bertanya, &#8220;Pulang, Anakku!&#8221; Lalu ia menuju kali, <i>nyuci</i> baju-baju tetangga.Malamnya, aku duduk-duduk di beranda rumah. Ada satu kursi kesayanganku. Kursi rotan, yang mungkin umurnya sama dengan umurku. Melihat bintang di langit. Ada bulan sabit, kabut tipis dan ibu di ruang tengah.Sepuluh tahun. Sepuluh tahun lamanya kutinggalkan ibu. Tapi masihkah peristiwa sepuluh tahun lalu, masih diingat orang kampung. Ibu menjadi pendiam sejak peristiwa itu. Sedang aku tak tahan dengan gunjingan-gunjingan yang hampir tiap hari kudengar. Tidak. Mereka tidak memusuhi kami secara fisik. Menggebuk atau melempari rumah dan membakarnya. Mereka sudah puas dengan pembakaran itu.Sepuluh tahun lalu, walau tidak lagi remaja. Namun, aku tergolong masih muda. Meski tak belia benar. Ayahku seorang lurah dan aku anak lurah. Di desa menjadi seorang anak lurah, sudah pasti berbeda dengan anak remaja lainnya. Di kampung tentunya aku lebih disegani.Tetapi pembakaran itu. Ya, peristiwa itu. Telah mengubah kami menjadi manusia-manusia tak terhormat.Ayahku dibakar hidup-hidup oleh segerombolan orang, yang tiba-tiba muncul entah dari mana dan mendobrak pintu. Pintu itu adalah sebuah rumah mewah yang dulu berdiri di atas rumah papan ini. Yang sekarang berandanya kududuki. Tapi masih untung, aku dan ibu tak diapa-apakan. Kami diikat di halaman rumah, dan dibiarkan menonton ayah yang sekarat dilalap api. Orang-orang kampung seperti terbelenggu, mereka bersembunyi di dalam rumah, mengunci pintu rapat-rapat.Dari puing-puing rumah yang telah teronggok menjadi abu itu, aku bangun sendirian saja, sebuah rumah papan beratap seng. Aku tak mau, melihat orang-orang kampung dan tetangga, mencibir. Maka aku berbuat seperti tak pernah terjadi apa-apa.Dari gunjingan-gunjingan orang kampung yang sempat aku dengar dan akhir setiap hari aku dengar. Bahwa sebenarnya ayahku adalah seorang perampok. Mereka bilang ayahku bersekongkol dengan segerombolan pencuri sapi di desa kami dan desa-desa tetangga. Kata mereka ayah adalah gembong maling. Mereka sebenarnya tahu, siapa yang mengganyang ayah malam itu. Mereka tak lain orang-orang desa tetangga, yang telah lama mememdam amarah atas ulah ayah yang pura-pura alim itu.Gunjingan, gunjingan dan gunjingan. Aku tak peduli. Tetapi ibu sempat stres. Inilah yang membuat aku menjadi benar-benar terguncang. Ibu sering menjerit-jerit, berhamburan ke halaman rumah dan meronta-ronta serupa bocah yang minta dibelikan balon.Semua kulakukan sendiri. Sendiri pula aku menanggulangi kelakuan ibu. Karena kuanggap stres ibu semakin parah. Kumasukkan ibu ke rumah sakit jiwa.Pada suatu siang aku pamit pada ibu, waktu itu ibu sudah sembuh. Namun begitu ia menjadi sangat pendiam dan berbicara seperlunya saja.&#8221;Ibu, aku ingin pergi !&#8221;"Pergilah !&#8221; kata ibu.Maka pergilah aku. Aku tak perduli dengan segala tetek bengek peninggalan ayah. Kebun kelapa yang luasnya tak seberapa itu. Aku merantau ke ibu kota. Kebetulan ada seorang teman sewaktu SMA yang mau memberi tumpangan sementara.Tak lama aku mendapat pekerjaan. Tentunya pekerjaan yang pas dengan kapasitasku yang lulus SMA. Aku kerja di pabrik garmen, di Tangerang. Kota industri pinggiran Jakarta.Walau hanya mampu menulis surat dua bulan satu kali, aku aktif memberi kabar pada ibu. Terkadang bersama wesel bila ada uang lebih. Namun tak satu pun surat kuterima dari ibu.Ah, ibu&#8230; ibu. Betapa kelam hidup ini.Tiga tahun di perantauan aku nikah. Gadis ini kujumpai disebuah panti pijat. Seperti kisah-kisah dalam novel Iwan Simatupang. Aku hanya bertanya: Maukah kamu menikah denganku!&#8221;Dan perempuan itu tak kuduga menjawab: Aku mau!&#8221;Maka menikahlah kami. Kujalani hari-hari sebagaimana biasanya dan ia menjalani hidupnya seperti sedia kala, tetap di panti pijat. Aku menemuinya bila aku butuh belaian wanita. Kami bisa bercinta di mana saja. Di bioskop, taman-taman kota, di pinggir jalan, di bawah jembatan. Di mana saja.Pada suatu malam ia memelas, &#8220;Mas bawa aku dari sini!&#8221;"Aku bosan jadi pelacur&#8230; tolong bawa aku!&#8221;Ah, jengkel aku dengan model permintaan serupa itu. Aku telah terbiasa dengan kehidupanku sendiri. Maka dengan tanpa pertimbangan apa-apa, aku bilang: Ayo kita cerai!Maka cerailah kami. Tidak melalui acara di kantor pengadilan agama. Cukup dengan aku tidak mengunjunginya lagi, maka telah resmilah kami bercerai. Hidup terserak di jalan-jalan. Kuhabiskan malam di panti-panti pijat. Di Kali Jodo, Malvinas, dan Bongkaran.Tetapi ibu. Aku tak pernah lupa kepada ibu. Selalu kuberi kabar padanya. Kukatakan dalam surat: Aku bahagia ibu. Namun waktuku sedikit sekali. Karena aku mesti bangun pagi-pagi sekali dan ibu, nikmat hidup di Jakarta, aku kerja di pabrik besar dan hidup teratur. Bersama ini kukirim uang, sekadar saja. Tak henti-hentinya aku berdoa untuk ibu, dan jangan lupa jaga kesehatan ibu.&#8221;Demikian, setiap kali isi surat yang aku kirim untuk ibu.Tapi benar apa kata pepatah. Sepandai-pandainya bajing meloncat pasti akan jatuh juga. Ya, aku jatuh. Aku terkena herpes, penyakit kelamin yang paling mengerikan.Semua serbakulakukan sendiri. Seperti halnya ketika kubangun puing-puing di kampung yang terbakar. Sungguh tidak ada yang tahu hidup yang bagaimana yang sedang aku lakoni. Sahabat setia memang aku ada. Si Wowok ia yang sedikitnya tahu tentang diriku. Ia kenalan saat aku bekerja di pabrik garmen. Dan orang-orang mengenalnya sebagai penyair, selain buruh juga tentunya. Ia serupa tak teratur, seperti halnya diriku. Hanya saja, bagiku ia sahabat yang berubah total, setelah orang-orang mengenalnya sebagai penyair.Ia cuma bilang, &#8220;Pulanglah kau!&#8221;Tak memberi nasehat apa-apa. Cuma mengatakan, &#8220;Ibumu, menantimu !&#8221;Kuputuskan untuk pulang ke desa. Biarlah herpesku kusembuhkan di puskesmas saja. Benar kata Wowok, aku harus pulang.Cukup sudah petualanganku. Bah, aku tak pernah menjadi apa-apa. Sementara ibu, kasihan ia, dalam diamnya ia pasti menangis di dalam hati. Setiap malam.Tiba-tiba ibu yang sedang duduk di ruang tengah menghampiriku. Menepuk pundakku. &#8220;Tidurlah,&#8221; ujarnya lirih.Ya Tuhan betapa berdosanya aku. Betapa kesepiannya ia selama ini. Sedang aku sibuk dengan hidup yang sia-sia.***Bandar Lampung, 29 Mei 2006 (2000-2006) Lampung Online,  Edisi 06/11/2006  </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/icanxkecil.wordpress.com/65/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/icanxkecil.wordpress.com/65/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/icanxkecil.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/icanxkecil.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/icanxkecil.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/icanxkecil.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/icanxkecil.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/icanxkecil.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/icanxkecil.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/icanxkecil.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/icanxkecil.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/icanxkecil.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icanxkecil.wordpress.com&blog=315130&post=65&subd=icanxkecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/pulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf920b71b6ec0519a7a950146c1933f3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">icanxkecil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prolog Kematian</title>
		<link>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/prolog-kematian/</link>
		<comments>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/prolog-kematian/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Aug 2006 20:06:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icanxkecil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/prolog-kematian/</guid>
		<description><![CDATA[Akmal Nasery Basral  Akmal Nasery Basral 
GADIS itu terperangah melihat tayangan televisi di depannya: siaran langsung dari sebuah ruas jalan protokol yang biasanya selalu padat. Kali ini suasana jalan terlihat mencekam. Bukan karena terlalu lengang. Tidak. Jalan itu tetap ramai, tetapi dalam bentuk lain. Bentuk yang kalau bisa tak ingin ia saksikan meski sepersejuta kerjap mata. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icanxkecil.wordpress.com&blog=315130&post=64&subd=icanxkecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Akmal Nasery Basral  Akmal Nasery Basral </p>
<p>GADIS itu terperangah melihat tayangan televisi di depannya: siaran langsung dari sebuah ruas jalan protokol yang biasanya selalu padat. Kali ini suasana jalan terlihat mencekam. Bukan karena terlalu lengang. Tidak. Jalan itu tetap ramai, tetapi dalam bentuk lain. Bentuk yang kalau bisa tak ingin ia saksikan meski sepersejuta kerjap mata. Namun terlambat. Ia telanjur melihat kerumunan orang yang sedang menggelepar seperti disembelih tangan-tangan algojo yang tak tampak. Ada yang dahinya koyak, lengan kutung, pinggul rompal.<span id="more-64"></span><br />
Anehnya tak terlihat warna merah darah yang membanjir seperti layaknya bila mayat-mayat berserakan. Semua berwarna cokelat kehitaman, seperti wajah-wajah yang diolesi oli mesin pada permainan rakyat saat perayaan tujuh belas Agustus di kampung-kampung. Kamera menangkap ekspresi seorang lelaki yang mencoba keluar dari parit di pinggir jalan. Badannya gemetar, seperti bayi yang baru belajar berdiri dan menyeimbangkan badan. Sedikit lagi ia berhasil keluar dari parit. Sedikit lagi dan, hup, ia kembali terguling seperti batang pisang yang menggelinding. Daun telinganya terlihat hanya tinggal yang sebelah kiri. Bajunya cabik-cabik seperti diterkam selusin anjing gila.</p>
<p>Lalu kamera televisi mengambil gambar long shoot kawasan itu …</p>
<p>Gadis itu terpaku. Ia lupa hendak mengerjakan apa semenit yang lalu, atau hendak menelepon siapa. Gambar yang tersaji di layar kaca seperti membangunkan kembali kenangan masa lalu yang sudah terkubur rapi di pojok ingatannya. Gedung-gedung jangkung yang kini terlihat telanjang akibat semua kaca pembungkusnya hancur berantakan. Begitu halus seperti beras tumbuk di lesung petani. Kendaraan yang berhenti tak beraturan, tak berpola, dan masih menyisakan asap hitam tipis.</p>
<p>Kamera televisi berubah mengambil posisi medium close up.</p>
<p>Gadis itu tercekik. Di hadapannya, di layar televisi, sebuah sepeda motor hangus terpanggang seperti bangkai tikus raksasa. Dan di atas motor itu, ya Tuhan, seseorang tergeletak dengan posisi seperti hendak terjun bebas ke kolam renang. Tak jelas apakah orang (atau mayat?) itu berjenis kelamin lelaki atau perempuan. Tetapi apakah bedanya sekarang? Seperti apakah rasanya ketika maut mendekapmu dengan pelukannya yang mesra? Gadis itu menggigil. Butir-butir keringat sebesar jagung bermunculan di dahinya. Badannya terasa makin panas di ruangan yang begitu sejuk.</p>
<p>Lalu kamera televisi kembali mengambil long shoot dari sebuah mobil yang kini sehitam jelaga.</p>
<p>Gadis itu menghapus setitik air matanya yang mulai terbit. Ia mengambil remote control dan memberanikan diri memperbesar volume suara televisi. Kamera bergerak mengambil close up, lalu extreme close up ke arah mobil sedan itu. Seorang perempuan muda terkulai seperti tertidur. Pipi kanannya bertumpu pada kemudi sehingga ia seperti terlihat menengok ke kiri. Bubuk jelaga di wajahnya tak bisa menutupi kecantikannya yang menonjol. Kamera menangkap gambar sebuah folder tergeletak di jok kiri mobil itu. Sebuah tulisan di bagian kanan atas: Kay Elena.</p>
<p>Lantas kamera bergerak menangkap wajah seorang penyiar yang terbata-bata berujar. “… ledakan besar yang terjadi 25 menit lalu di kawasan ini sudah menewaskan 12 orang tak berdosa yang mati di tempat, termasuk seorang korban wanita di belakang kami. Kami masih belum bisa memastikan apakah korban memang bernama Kay Elena seperti terlihat di foldernya, ataukah itu milik orang lain yang juga masih berada di dalam mobil nahas tersebut…”</p>
<p>Tanggul di pelupuk mata gadis itu jebol seperti banjir besar yang merendam Jakarta hampir setiap lima tahun sekali. Tak tertanggulangi.</p>
<p>DUA tahun lalu. Ya, dua tahun yang lalu gadis itu bertemu mereka, orang-orang yang baru dilihatnya pertama kali selama ia bekerja di kafe tersebut. Tiga pasangan yang datang sendiri-sendiri. Dihitung sejak kedatangan orang pertama –seorang lelaki tegap berkaca mata– yang duduk di kursinya sekarang, orang keenam baru muncul hampir 30 menit kemudian. Setelah itu salah seorang dari mereka, seorang perempuan berwajah oriental, melambaikan tangan kepadanya. Ia mendekat.</p>
<p>“Ada yang bisa saya bantu?”</p>
<p>“Bisa keluarkan menu untuk reservasi atas nama Verena sekarang?” ujar si wajah oriental dengan senyumnya yang ramah.</p>
<p>“Segera. Ada lagi yang lain?”</p>
<p>“Tidak. Cukup itu dulu untuk saat ini. Terima kasih.”</p>
<p>Gadis itu kembali ke dapur, mengambil pesanan mereka. Orang-orang yang aneh. Mereka terlihat akrab, sangat akrab, ketika bercakap-cakap. Tapi sewaktu mereka datang tadi, satu persatu, mereka hanya saling melambaikan tangan, lalu bersalaman sebentar seperti baru pertama kali bertemu.</p>
<p>Gadis itu mulai menata pesanan di atas meja. Sesekali ia mencuri dengar pembicaraan mereka. Tidak. Sebenarnya ia bukan mencuri dengar dalam arti harafiah. Ia sedang mengatur pesanan mereka, sehingga apa boleh buat, banyak juga kata-kata yang tak sengaja terdampar di gendang telinganya.</p>
<p>“Saya kira besok kita bisa mulai survei ke daerah Trunyan dan Toya Bungkah,” ujar seorang lelaki bertubuh kecil yang berambut ikal. “Kalau cocok, kita bisa mulai syuting lusa.”</p>
<p>“Apa tidak sebaiknya kita tunggu dulu Verena selesai dengan seminarnya, Anton?” ujar seorang wanita berkulit pucat yang duduk di seberangnya. “Toh, dia cuma dua hari sebagai pembicara. Nanti di hari ketiga baru kita hunting lokasi bersama-sama.”</p>
<p>“Tidak apa-apa Eva. Kalian jalan saja dulu kemana kalian ingin selama dua hari ini. Setelah itu aku menyusul,” jawab Verena.</p>
<p>“Tetapi rasanya kok kurang komplet kalau kita cuma berlima, dan Ve tidak ikut terlibat,” sambung lelaki pertama yang datang ke kafe. “Aku setuju dengan usul Eva. Bagaimana Malik?”</p>
<p>“Terserah. Aku ikut saja rencana kalian.” ujar lelaki ketiga yang terlihat paling tua dari mereka berenam. “Aku sudah ambil cuti kantor dua minggu, jadi tidak terlalu terburu-buru.”</p>
<p>“Ira?” Si lelaki pertama kali ini mengalihkan pandangannya pada seorang perempuan yang terlihat paling muda di antara mereka. “Bagaimana menurutmu?”</p>
<p>“Aku juga setuju, Beng. Lebih enak kalau kita bisa melakukannya bersama-sama, karena ….”</p>
<p>“Bukan begitu maksudku. Maaf kupotong,” tukas Verena. “Aku senang kalian mau menunggu sampai pekerjaanku selesai di sini, tetapi …”</p>
<p>Gadis itu tak bisa mendengarkan lebih jauh. Ia harus kembali ke dapur, mengambil sisa pesanan yang belum terbawa. Orang-orang di belakangnya terus bercakap-cakap. Begitulah, sambil melayani mereka, gadis itu mulai mendapat gambaran tentang tamu-tamunya. Sebuah gambaran yang mungkin saja berbeda dari kenyataan sesungguhnya.</p>
<p>Keenam orang ini ternyata memang baru pertama kali bertemu. Mereka datang dari beragam profesi. Verena Sucipto adalah doktor pakar gempa lulusan Universitas Kyoto yang akan menjadi pembicara di sebuah simposium internasional di Nusa Dua. Tampangnya lebih mirip seperti aktris Zhang Ziyi ketimbang ilmuwan yang selalu berkutat di laboratorium. Sementara Anton seorang sutradara independen yang beberapa film dokumenternya sudah diputar beberapa festival film kelas dunia. Kalau ia tak salah dengar, mereka akan membuat film tentang kematian. Entah kematian siapa atau apa. Tapi ia tak yakin apakah ingatannya benar untuk hal ini. Sementara Eva, Beng, Ira, dan Malik, ah, ia tak bisa mengingat profesi mereka satu-persatu. Lagi pula apa perlunya? Mereka hanya mampir sekali ini saja di kafe tempatnya bekerja.</p>
<p>Yang membuat gadis itu tertarik kepada mereka adalah karena keenam orang itu sudah lebih dulu berinteraksi secara virtual. Mereka para pengembara dunia maya yang tak kenal lelah. Sudah lebih dari dua tahun, dari yang ia dengar, mereka berdiskusi intens setiap hari. Kadang-kadang bisa beberapa kali dalam sehari. Namun baru kali ini mereka bisa bertemu muka. Keenam orang itu anggota mailing list “Eternal-Life” yang tertarik membahas fenomena kematian dan hidup sesudah mati. Jumlah anggota milis sebenarnya lebih dari 400 orang, tapi hanya mereka yang bisa bertemu sekarang. Dan ternyata tak seorang pun tinggal atau berasal dari pulau ini. Ada yang dari Jakarta, Malang, Medan bahkan Makassar. Mereka berbincang-bincang dengan antusias soal pengalaman Astral, near death experience, dan istilah-istilah lain yang baru pertama kali didengar gadis itu dalam hidupnya.</p>
<p>Mailing list tentang kematian? Ada-ada saja. Apa enaknya hidup bila membicarakan yang mati?</p>
<p>Tapi kemudian sebuah peristiwa tak lazim terjadi. Ketika mereka selesai makan, dan ia sedang membereskan meja, awalnya Verena yang berkata.</p>
<p>“Terima kasih. Anda melayani kami baik sekali.”</p>
<p>“Tidak masalah. Itu sudah tugas saya.”</p>
<p>“Kalau tidak keberatan, boleh tahu nama Anda?”</p>
<p>Nah, ini dia. Biasanya hanya lelaki iseng yang mulai bertanya seperti itu, dengan mata merah mereka yang mulai berpendar seperti hendak menerkam tubuhnya.</p>
<p>Gadis itu melihat cepat ke arah lima tamunya yang lain. Mereka menatapnya dengan sopan. Sebuah tawaran perkenalan yang tulus. Apakah ia akan memberi tahu mereka nama panggilannya? Tidak, itu terlalu akrab. Nama lengkapnya? Jangan, terlalu formal. Atau nama depannya saja? Ya, ini saja. Mereka bukan siapa-siapa selain tamu yang hendak berterima kasih.</p>
<p>“Caitlin.” Ia menyorongkan tangan.</p>
<p>“Verena.”</p>
<p>“Eva.”</p>
<p>“Anton Hermansyah. Bisa kau panggil salah satunya kalau mau.”</p>
<p>“Malik.”</p>
<p>“Beng.”</p>
<p>“Ira”</p>
<p>Ya, ya, aku sudah hafal nama kalian semua.</p>
<p>“Caitlin?” Anton menatap matanya, terpaku. “Kamu Indo?”</p>
<p>Mengangguk.</p>
<p>“Prancis?” sambung Eva. “Garis wajahmu seperti Sophie Marceau.”</p>
<p>Menggeleng. Tertawa lemah.</p>
<p>“Terima kasih. Itu pujian yang berlebihan.”</p>
<p>“Irlandia ya? Matamu hijau?” Beng menyambar separuh menggoda.</p>
<p>“Huuuuuu….” seru teman-temannya serempak. “Dia pakai soft lens Beng. Makanya jangan keterusan jadi paranormal supaya nggak ketinggalan mode. Bergaul dong,” ledek Ira.</p>
<p>“Jadi apa?” tanya Verena.</p>
<p>“Mama dari Nebraska. Dari kota kecil yang sulit dicari di peta.”</p>
<p>Para tamunya seperti anggota kelompok vokal yang berseru kompak: “O!”</p>
<p>“Satu pertanyaan kecil, tak usah kau jawab bila tak ingin: kenapa tak jadi bintang sinetron? Dengan modal wajah dan tubuhmu yang … “ Anton memekik kecil sebelum menuntaskan kalimatnya. Kakinya diinjak Ira. “Anton!”</p>
<p>“Tak apa-apa Eva. Aku hanya menginginkan pekerjaan yang benar-benar aku inginkan. Ada yang salah dengan menjadi pelayan kafe, Anton?”</p>
<p>“Tidak, cuma …” Anton pantang menyerah. “Kami di sini ingin membuat sebuah film kolaborasi, independen. Sebagai dokumentasi persahabatan saja. Tak ada yang mendapat bayaran. Barangkali jika, eh, kau mau ikut? Bagaimana teman-teman?” Ia mencari dukungan.</p>
<p>Film tentang kematian? Tidak, terima kasih.</p>
<p>“Begini Caitlin,” Verena seperti bisa membaca pikirannya. “Ini sebuah film, ah aku tak tahu apakah pantas disebut sebuah film, yang jelas hanya sebuah dokumentasi kecil. Entah apa istilah yang pas, tetapi Anton punya beberapa ide yang menurut kami cukup menarik bila dicoba dalam dokumentasi ini. Masalahnya adalah tak seorang pun dari kami yang benar-benar akrab dengan seluk beluk pulau ini. Maksudku, barangkali kau tahu tempat-tempat yang belum over exposed, tapi memiliki daya magis yang tinggi. Sebentar…” Verena melihat ponselnya yang bergetar. “Ya, saya sendiri. Halo …”</p>
<p>“Bagaimana Caitlin?” Kali ini Eva yang buka suara.</p>
<p>“Aku tak tahu. Aku tak pernah tertarik dengan syuting film. Mungkin kalau sekadar menunjukkan beberapa tempat seperti yang diinginkan Verena, aku tahu beberapa di antaranya. Aku hampir dua tahun di sini.”</p>
<p>“Halo? Aduh, sinyalnya putus-putus. Saya keluar sebentar.” Verena menutup ponsel dengan tangannya, dan melihat ke arah teman-temannya. “Maaf, saya tinggal sebentar. Saya harus menerima telepon ini. Tentang seminar besok.”</p>
<p>Verena melihat ke arahnya, seperti minta pertolongan. Ia mengantar tamunya ke pintu dan membukakannya. Doktor muda itu berjalan menjauh dari kafe. Caitlin melihat sejenak ke lebuh di depannya yang mulai ramai. The night is still young. Aroma laut tercium tipis di cuping hidungnya. Mengambang di jalan-jalan. Dentum musik yang menyelinap dari ratusan tembok resto, bar, dan kafe di sepanjang jalan yang tak terlalu besar itu seperti melukis langit dengan nada-nada mayor yang repetitif. Ia melihat secercah warna merah di langit Oktober. Ia menutup pintu, dan berjalan kembali ke meja teman-teman barunya. Anton langsung menyambutnya dengan pertanyaan.</p>
<p>“Jadi bagaimana, Cait… bersed… ik…”</p>
<p>Pertanyaan itu tak utuh didengarnya. Tiba-tiba ia merasa pening yang luar biasa. Lampu-lampu kafe terlihat bergoyang, tembok bergemuruh seperti sedang dibuldozer, dan lantai tempatnya berdiri seakan sepotong sampan yang diamuk taifun samudera. Seluruh isi perutnya seolah berebut keluar dari lehernya yang jenjang. Matanya nanar. Orang-orang terlihat menjerit. Ia tak tahu apakah tamu-tamu di sekitarnya itu memang menjerit, ataukah hanya penglihatannya saja seperti ketika sedang mabuk berat.</p>
<p>Mereka terlihat membuka mulut lebar-lebar dan berteriak, tapi ia hanya mendengar suara lamat-lamat. Ataukah telinganya yang kini tuli? Lalu gelap. Aneh, kini ia baru mendengar orang-orang berteriak. Sangat keras seperti mendengar nafiri kematian, dengan bunyi berderum-derum dari atas kepalanya. Di dalam gulita ia melihat gulungan asap, dan bau mesiu yang menyilet-nyilet hidungnya sampai ke pangkal penciuman. Ada bau amis yang samar, lalu asin, lalu tawar. Ia sudah tak yakin dengan kemampuan panca inderanya. Lalu semuanya menghitam. Ia seperti terjatuh ke dalam lorong tak berujung, begitu panjang. Dan terus meluncur seperti setitik debu dalam cerobong asap. Hitam sepekat-pekatnya. Ia tak tahu apakah matanya sudah buta atau masih bisa melihat. Tapi apa artinya ‘bisa melihat’ bila yang ada di sekeliling hanya kelam?</p>
<p>SETAHUN setelah peristiwa itu ia menerima sebuah kiriman paket. Sebuah CD kompilasi lagu. Desain sampulnya mosaik foto dari enam orang sahabat barunya di Bali. Di bagian atas sampul tertulis dengan tinta perak yang ditulis tebal, In Loving Memory of Our Beloved Soul-Sister, Verena Sucipto, 1969-2002. Penggalan puisi Henry Austin Dobson, “The Paradox of Time” tertera di sana.</p>
<p>time goes you say, ah no.alas, time stays.we go.</p>
<p>Ledakan itu, ledakan yang terjadi ketika malam belum lagi mencapai puncak terkelamnya, ikut membawa pergi nyawa Verena. Perempuan berwajah Oriental itu berdiri terlalu dekat dengan episentrum ledakan di luar kafe. Tubuhnya hancur. Sementara ia dan kelima teman barunya pingsan dan terluka parah. Delapan orang lain di kafe tempatnya bekerja ikut meninggal.</p>
<p>Tiga bulan pertama dihabiskannya di rumah sakit, karena cedera di bagian kepala dan tulang lengan atasnya retak tertimpa balok. Ia menderita nyeri di sekujur tubuh, tapi kepalanya yang paling serius. Ia sempat mengalami kondisi permanent vegetatif state selama tiga pekan. Memasuki pekan keempat, sebuah mukjizat kecil membuatnya percaya Tuhan itu ada. Kesadarannya berangsur pulih. Cerobong hitam pekat yang mengelilinginya ternyata berakhir. Ia serasa jatuh di sebuah lubang yang dimasuki sejarum tipis cahaya, lalu menjadi segaris, sebidang, dan diikutinya terus sumber cahaya itu yang mengantarkannya ke sebuah taman. Begitu kemilau, begitu wangi semerbak kesturi.</p>
<p>Di bulan keempat ia baru mengetahui bahwa Verena meninggal akibat ledakan itu. Beng diamputasi kaki kirinya, dan Ira kehilangan bola mata kanannya yang membusuk akibat tertusuk serpihan puing. Teman-temannya yang lain meski mengalami berbagai cedera, berangsur-angsur kembali pulih. Tinggal ia sendiri yang harus menjalani terapi pasca-traumatik intensif selama sembilan bulan, bolak-balik antara Jakarta-Singapura. Ia bersikeras tetap tinggal di Jakarta, dan menampik usul kedua orang tuanya yang sudah bercerai agar mau menetap di negara pulau itu untuk memudahkan pengobatan.</p>
<p>Di bulan kesepuluh pengobatan, ibunya terbang dari Nebraska ke Singapura dan sudah menunggu di ruang tunggu therapist. Selesai sesi, ibunya dengan sangat hati-hati meminta putri semata wayangnya yang keras kepala itu untuk mau mengikutinya ke sebuah apartemen di kawasan Bugis Junction. Ia mengalah, sambil terus bertanya-tanya apa yang hendak disampaikan ibunya.</p>
<p>Di apartemen itu ia temukan sebuah kejutan lain: ayahnya sudah menunggu. Tidak mungkin. Ayahnya seorang Atase Perdagangan KBRI di sebuah negeri pecahan Uni Soviet, terlalu sibuk untuk mau menunggu. Sejak ia kecil, ayahnya tak pernah punya waktu untuk menunggunya. Tidak ketika ia pulang sekolah, tidak ketika ia pulang les balet, tidak dalam kondisi apapun. Ia merasa ayah dan ibunya berkomplot untuk menjebaknya sekarang. Tapi ia tetap melihat adanya kekakuan hubungan mereka yang tak pernah cair.</p>
<p>“Aku langsung saja ke pokok permasalahan. Ibumu yang memintaku ke mari. Dia khawatir kau selalu bolak-balik Jakarta-Singapura tanpa pengawalan…”</p>
<p>“Aku bukan pejabat negara yang perlu dikawal.”</p>
<p>“Jangan bantah dulu. Demi Tuhan, tidak bisakah kau untuk sekali saja mendengarkan kami?”</p>
<p>“Dengarlah sayang, mama yang akan menemanimu di sini sampai kau benar-benar sembuh. Setelah itu, terserah apakah kau mau kembali ke Jakarta, ke Bali, atau hidup di manapun. Kau sudah 21 tahun, dan berhak mengatur hidupmu sendiri.”</p>
<p>Gadis itu tahu ia tak punya pilihan lain. Tidak pada saat-saat seperti ini. Tubuhnya sedang tidak sempurna, mentalnya sedang lemah, dan kondisi keuangannya, ah, tak ada yang bisa disebutnya sebagai tabungan saat ini. Ia parasit hidup bagi kedua orang tuanya. Di usia ke-21. Betapa memalukan. Ia tak punya pilihan lain, selain menghabiskan pekan demi pekan di lantai 18 sebuah kota metropolis yang selalu sibuk setiap saat. Belum lagi seorang ibu yang selalu meladeninya seteliti meladeni bayi. Ia sama sekali tak tersentuh. Ia tahu telah mewarisi dua sifat terburuk dari orang tuanya: kekeraskepalaan ayahnya, dan arogansi ibunya. Semua melebur dengan sempurna di wajahnya yang seindah bidadari.</p>
<p>Suara pembawa acara di televisi tiba-tiba mengembalikan kesadarannya, “… kami baru mendapatkan konfirmasi dari pihak kepolisian bahwa korban tewas bernama Kay Elena sebenarnya bernama lengkap Caitlin Elena Adikaryono, putri tunggal Atase Perdagangan Indonesia di Uzbekistan, Bapak Adikaryono Sumo …”</p>
<p>Gadis itu mengusap matanya yang basah. Ia tahu dirinya sudah lama mati, tapi tidak pernah dibayangkannya setragis ini. Ia abaikan ketukan pintu dan suara ibunya yang bertalu-talu di luar kamar. Kematian itu begitu cepat, meski terus saja terjadi pada dirinya berulang kali. Setiap saat.</p>
<p>“Kay, Kay, buka pintunya. Sarapanmu sudah dingin nanti nggak enak lagi, ayo sayang. Kamu harus banyak makan, kalau mau cepat sembuh. Kay, Kay …”***</p>
<p><b>Bali– Jakarta, 2002-2006</b> Riau Pos,  Edisi 06/18/2006 </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/icanxkecil.wordpress.com/64/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/icanxkecil.wordpress.com/64/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/icanxkecil.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/icanxkecil.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/icanxkecil.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/icanxkecil.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/icanxkecil.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/icanxkecil.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/icanxkecil.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/icanxkecil.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/icanxkecil.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/icanxkecil.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icanxkecil.wordpress.com&blog=315130&post=64&subd=icanxkecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/prolog-kematian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf920b71b6ec0519a7a950146c1933f3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">icanxkecil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perempuan Senja</title>
		<link>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/perempuan-senja/</link>
		<comments>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/perempuan-senja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Aug 2006 19:57:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icanxkecil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/perempuan-senja/</guid>
		<description><![CDATA[Indrian Koto  
Suara Pembaruan,  Edisi 06/18/2006  
Perempuan itu selalu muncul saat di mana siang merasa kalah. Tepat ketika matahari mulai tenggelam dan segalanya berwarna hitam. Dia hadir begitu saja dari ujung cakrawala. Sesekali dia muncul di antara barisan burung camar dan gumpalan awan. Tak jarang dia hadir ketika sampan-sampan nelayan bersandar di bawah pohon ketapang. Barangkali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icanxkecil.wordpress.com&blog=315130&post=61&subd=icanxkecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Indrian Koto  </p>
<p>Suara Pembaruan,  Edisi 06/18/2006  </p>
<p>Perempuan itu selalu muncul saat di mana siang merasa kalah. Tepat ketika matahari mulai tenggelam dan segalanya berwarna hitam. Dia hadir begitu saja dari ujung cakrawala. Sesekali dia muncul di antara barisan burung camar dan gumpalan awan. Tak jarang dia hadir ketika sampan-sampan nelayan bersandar di bawah pohon ketapang. Barangkali juga dia tercipta dari butiran pasir dan buih-buih.<span id="more-61"></span>Perempuan senja, begitulah aku menyebutnya. Awalnya, dia muncul ketika senja sedikit mendung. Aku kira hanya bagian dari permainan malam yang sering mencelakakan.Tapi tidak. Dia benar-benar tercipta begitu saja dan berdiri di hadapanku dengan wajah penuh harapan. Aku tak sepenuhnya mengerti hingga dia membuka sapa. Aku tidak mau ditipu senja dan terperdaya bayangan-bayangan setan yang berkeliaran di pangkal malam. hingga dengan setengah memaksa dia mengajakku berkenalan.Maka, seperti sepasang kekasih kami menghabiskan waktu malam-malam dengan segala kerinduan yang terasa binal. Aku tidak terlalu peduli apakah dia manusia sungguhan atau roh jahat. Yang pasti, aku telah menyukainya.Itulah awal semua. Dia muncul dari balik kabut saat malam baru membuka diri. Setelahnya kami bergumul bagai sepasang kekasih di musim kawin. Kami telah kehilangan kalimat untuk sebuah percakapan. Ketika subuh menjelang dia akan pergi begitu saja sebagaimana datangnya.Aku memang tak biasa dengan hal aneh dan sedikit ganjil, tapi percayalah, aku bukanlah orang yang suka bertanya. Seperti datang dan perginya, bukankah menjadi haknya untuk tidak diketahui siapa pun juga? Aku tak sungguh-sungguh pernah bertanya dan tak terlalu peduli jawabannya. Bibir itu lebih menggairahkan untuk dikulum ketimbang mendengar sebuah penjelasan.&#8221;Kau boleh menyebutku apa saja, bahkan pelacur jika kau sudi,&#8221; katanya suatu kali ketika kami menikmati kacang rebus di alun-alun kota.&#8221;Tetapi, aku tak memberi serupiah pun padamu setiap kali kita habis bercinta.&#8221;"Paling tidak ini tak membuatmu pusing dan kehilangan selera untuk melanjutkan tidur sehabis bercinta.&#8221;"Satu hal,&#8221; katanya kemudian. &#8220;Kau tak boleh bertanya tentang aku. Apalagi asalku dan bicara leluhurku.&#8221;"Seperti dongeng saja,&#8221; gumamku sambil tertawa. Tetapi aku tetap setuju. Lalu kami menghabiskan sisa malam. Kemudian seperti biasa, ketika aku terjaga, aku kembali kehilangan dia.* * *Senja adalah waktu yang paling nikmat untuk mengutuk apa saja. Aku akan menyumpah sampai mulutku terasa kering dan bergetah. Aku tak begitu mengerti mengapa aku begitu membenci. Setelah puas dengan segala caci maki aku akan meninggalkan pantai dengan penuh rasa bangga. Begitulah kebiasaanku sebelum kemudian bersekutu dengan malam tanpa harus karam di balik selimut. Malam adalah kutukan. Kota tak pernah memberi ruang untuk sebuah basa-basi dan keakraban. Tak ada yang lebih nikmat selain berjalan sepanjang lorong yang temaram, dengan tubuh sempoyongan, atau sekadar duduk di sembarang taman. Jika punya uang berlebih, tentu tak lupa kuhabiskan di tempat pelacuran.Aku tinggal sendiri di kota ini dengan memiliki sebagian malam. Aku tak punya kebiasaan lain selain menikmati rokok di bawah cahaya sambil memperhatikan asapnya mengepul di udara. Atau mengoceh sendirian dengan botol minuman sebelum akhirnya tersungkur di jalanan. Biasanya, sebelum matahari mencipta cahaya, aku sudah lelap di kamar kontrakan.Betapa nikmat hidupku, melewati sepanjang pagi dan siang dengan dengkur sempurna. Terbangun ketika sore menyapa. Sejenak aku memaki mimpi yang kabur entah kemana sebelum kemudian berlabuh di pinggir pantai. Seperti biasa, aku mengutuk senja sepuas-puasnya sebelum lebur dalam bingar kota, sejuta cahaya, taman, lampu jalan, botol minuman, pelacur murahan dan pisau di tangan. Rutinitas diakhiri dengan menyambar mimpi yang sempat tertunda.* * *Aku tak pernah menduga akan mengalami kejadian yang tak sekalipun aku mimpikan. Sore itu, seperti sore-sore sebelumnya, aku tengah bercakap-cakap dengan gemuruh ombak dan buih-buih.Mendung menggantung di langit musim kemarau. Barangkali kabut atau sisa asap apa saja. Tapi tidak! Sebelum matahari benar-benar karam, gerimis tiba-tiba jatuh. Hujan senja di musim kemarau. Matahari masih menyembul dan cahayanya memantul pada bebatuan dan karang-karang. Hujan panas. Ada pelangi yang terbentuk bagai sebuah jembatan dari ujung langit (bukankah hujan panas di sore kemarau hanya membawa bencana saja jika tidak sebentuk makhluk tak berwujud? Segalanya hanya mendatangkan petaka dan melulu bencana). Dan aku terus mengutuk.Ketika kelam menyempurnakan diri, kulihat sebentuk kabut di antara butiran awan. Lamat membentuk wujud berwarna hitam. Melayang di antara sisa cahaya. Makin lama makin nyata. Ketakutan tiba-tiba menghujaniku. Adakah karena aku terlalu banyak mengutuk? Atau mungkinkah pelangi pada sebuah sore bergerimis membuat apa saja menjadi nyata?Aku tak cukup mampu menerjemahkannya ketika bayangan itu benar-benar menjelma sesosok manusia. Melayang di antara gelombang dan air pasang. Di balik ombak dia menjelma sosok perempuan. Sialan, hantu-hantu bisa saja bergentayangan di waktu-waktu begini, tapi kenapa mesti berwujud seorang perempuan -dan cantik pula? Aku menyumpah dalam hati sambil menelan ludah. Terlambat untuk menarik pujian yang terlanjur kulontarkan. Biarlah apa yang akan ditimpakan padaku. Sakit, sekarat lalu mati. Apa yang kutakutkan sesungguhnya. Bukankah hidup dan mati selalu kumainkan di ujung belati?Sialan, dia mendekat. Tubuh ramping itu terbalut gaun kuning panjang menutupi hingga mata kakinya. Tak salah lagi, ini pasti sisa-sisa hantu jaman kolonial. Rambutnya kuning panjang dan sedikit keriting, hidungnya mancung dan tubuhnya begitu semampai. Dari beberapa depa tercium aroma kembang yang menusuk. Kenapa dari wanita cantik melulu kelihatan kesempurnaan?Dia kian dekat dan sialnya, aku tidak bisa bergerak. Mataku terpaku pada sosok yang kini berdiri di hadapanku. Sumpah, aku tak bisa menyebutkan apa-apa tentang dia. Kali ini aku melihat perempuan yang luar biasa dan aku tak cukup mampu menyebutkan kesempurnaannya. Kau pasti mengira aku telah jatuh cinta. Boleh saja! Bukankah ketika cinta kita melihat segalanya begitu sempurna dan tampak indah?Dia tersenyum padaku tetapi tak cukup mampu membuatku bisa membalasnya.&#8221;Jumbalang, jin laut, hantu air, hantu blau sekalipun, kau salah jika mengganggu orang seperti aku,&#8221; gumamku.Tak kusangka dia malah tertawa memperlihatkan barisan giginya yang putih rapi.&#8221;Aku ingin mengenalmu, apakah berlebihan?&#8221; Katanya kemudian. &#8220;Aku sering melihat dan mendengarmu mengutuk malam. sepertinya kau begitu menyukai siang sehingga tak ingin melepaskan. Aku cemburu. Kau begitu benci pada malam?&#8221;"Bedebah. Tapi kau cantik juga,&#8221; desisku.&#8221;Ajarkan aku mengenal siang,&#8221; pintanya. Suaranya, mengingatkan aku pada sebuah negeri yang jauh.* * *&#8221;Aku lahir di sebuah tempat di mana matahari selalu tenggelam.&#8221; Katanya suatu kali. &#8220;Aku ingin melihat pagi saat di mana matahari naik dan kemudian karam.&#8221;Kulihat matanya berbinar.&#8221;Apakah kau ingin mengenal negeri yang punya matahari?&#8221; tanyaku mencoba menebak keinginannya. &#8220;Aku bukanlah manusia yang terjaga ketika matahari menyala.&#8221; Dia tampak kecewa. &#8220;Tidak inginkah kau mengenakan padaku?&#8221;"Tidak! Aku tidak pernah menyukai siang. Ia tidak seperti apa yang kau bayangkan. Aku menghabiskan sepanjang siang dengan tidur panjang,&#8221; aku mencoba menjelaskan. Tangannya mencengkeram bahuku, ketakutan.&#8221;Apakah siang begitu menakutkan?&#8221; &#8220;Amat sangat. Bahkan menjijikkan.&#8221;"Apa bedanya dengan malam?&#8221;Aku menatapnya tajam. &#8220;Bukankah kita sama-sama tercipta dari malam? Malam membuat kita hidup dan berdenyut. Malam membuat kita terus tumbuh. Sedang siang&#8230;&#8221;"Ah sudahlah,&#8221; dia terlihat jengah. &#8220;Aku kira pagi adalah saat di mana keriangan segera dibuka. Tetapi ternyata kengerian yang baru menyala.&#8221;"Segala keburukan baru tercipta.&#8221; Tambahku.Aha, lihatlah wajahnya yang tegang itu. aku tak pernah membiarkan wajah itu larut dalam kesedihan. Sekejap saja dia telah lupa dengan segala kebingungan dan kehilangan selera untuk kembali bertanya. Segera kegalauan ini digantikan adegan yang lain. Dan pagi ini aku temukan sisa aroma dan bau keringatnya saja.Selalu. Sebelum subuh dia berlalu.* * *Harusnya kebingungan ini berakhir jika dia mau menceritakan dari mana dia berasal. Aku selalu lupa untuk bertanya sesuatu tentang dirinya. Tak ada yang kuketahui tentang dia kecuali kebersamaan yang tercipta di malam buta dan dia tercipta dari senja. Aku tak berani untuk sekedar bertanya. Apakah segalanya akan menjadi terbuka ketika aku bisa bertanya kampung halaman dan dari mana dia berasal. Adakah dia sungguh-sungguh tidak berrahasia?&#8221;Aku hanya ingin melihat sinar matahari muncul pertama kali. Tetapi kau selalu bilang siang begitu kejam.&#8221; Katanya dalam kesedihan yang paling dalam sebelum menghilang di balik kelam. Meninggalkan sisa wanginya dan kusut ranjang.Kali ini dia telah membuatku benar-benar marah dengan mengatakan aku sebagai pembohong. Dan lihatlah dia melolong. Aku paling tidak suka lihat air mata. Terlalu cengeng.&#8221;Lonte sialan. Tidak adakah yang lebih indah kau pertanyakan selain siang dan melulu siang? Tahu apa aku tentang itu semua? Aku tak cukup tahu, kataku. Aku tak sungguh-sungguh peduli pada itu semua karena siang dan segala yang membayang juga tampak begitu sombong. Aku tak pernah tahu apa-apa tentang siang seperti aku tidak tahu siapa dan dari mana kamu berasal.&#8221; Aku berteriak penuh emosi. Ia sesenggukan di sudut kamar. &#8220;Kau tak lebih seorang pelacur murahan yang kesepian. Kau perlu uang, bukan siang. Setelah itu kembalilah pulang, jalang&#8230;&#8221;Ia masih terisak di sudut ruang. &#8220;Baiklah, kalau kau tidak mau memberitahuku biarlah aku belajar mencarinya sendiri.&#8221;Aku merasa kian marah saja. Darah naik ke ubun-ubunku. Kepalaku terasa mau pecah. Marah yang luar biasa. Harga diriku seperti sudah tidak ada.&#8221;Pergi saja perempuan senja. Kau telah menyakitiku dengan pertanyaan pahit ini. Kau menyudutkanku dengan pertanyaan itu. kau ingin melihat kelemahanku yang tidak mengetahui sebagian waktu. Kau menghina kelemahanku. Kau mengejek ketidakberdayaanku. Kau tahu, matahari hanya milik sebagian orang. Bukan aku, bukan kamu&#8230;,&#8221; kemarahanku mencapai puncaknya. &#8220;..dan kau, siapa kau sebenarnya penyihir binal?&#8221;Kubanting pintu dengan kemarahan yang luar biasa. Perempuan itu telah membuat aku tak bisa tidur sepanjang siang tiap kali pertanyaannya menghantuiku.Aku menghabiskan sisa malam di jalan lengang. Malam sedikit terang. Seonggok bulan bertengger di langit yang tampak cemas. Tiba-tiba aku teringat akan dongeng perempuan langit yang pulang kampung dengan selendang. Aku berlari pulang, berharap perempuan senja masih bergulung di atas ranjang. Pagi datang seperti sepercik sesal yang terus menggulung. Senyap. Sesenyap petang-petangku yang datang kemudian. Perempuan senja pergi. Ia tak pernah datang lagi. Mungkinkah ia kembali ke langit dengan sekeping selendang atau menyusup ke dasar lautan? Aku tak punya jawaban.Senja mengeras, seperti hatiku yang serupa cadas. Rumahlebah, Yogyakarta 2004-2006</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/icanxkecil.wordpress.com/61/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/icanxkecil.wordpress.com/61/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/icanxkecil.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/icanxkecil.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/icanxkecil.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/icanxkecil.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/icanxkecil.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/icanxkecil.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/icanxkecil.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/icanxkecil.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/icanxkecil.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/icanxkecil.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icanxkecil.wordpress.com&blog=315130&post=61&subd=icanxkecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/perempuan-senja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf920b71b6ec0519a7a950146c1933f3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">icanxkecil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mata Ibu</title>
		<link>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/mata-ibu/</link>
		<comments>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/mata-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Aug 2006 19:14:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icanxkecil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/mata-ibu/</guid>
		<description><![CDATA[Isbedy Stiawan ZS  
Sungguh, aku tak dapat menolak—bahkan secara halus—ketika Linda memintaku agar mengantarnya ke rumah ibuku. Tetapi, aku tetap mengulur-ulur waktu…. Aku hanya mau silaturahmi,&#8221; ujarnya kemudian. Ringan. Aku bimbang. Sulit sekali untuk menyatakan tidak atau ya. Justru yang terbayang adalah wajah ibuku. Meskipun ibuku sudah tak lagi dapat melihat sejak lima tahun karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icanxkecil.wordpress.com&blog=315130&post=57&subd=icanxkecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Isbedy Stiawan ZS  </p>
<p>Sungguh, aku tak dapat menolak—bahkan secara halus—ketika Linda memintaku agar mengantarnya ke rumah ibuku. Tetapi, aku tetap mengulur-ulur waktu…. Aku hanya mau silaturahmi,&#8221; ujarnya kemudian. Ringan. <span id="more-57"></span>Aku bimbang. Sulit sekali untuk menyatakan tidak atau ya. Justru yang terbayang adalah wajah ibuku. Meskipun ibuku sudah tak lagi dapat melihat sejak lima tahun karena diabetes, ibu pasti tahu kalau yang kubawa bukan Mirna, istriku. Kemudian ia akan bertanya macam-macam tentang Linda. Perasaan seorang ibu yang sudah 60 tahun lebih hidup pastilah akan berkata lain. Setidaknya, dia akan berkata dalam hatinya bahwa aku sudah berani bermain api. Atau kebiasaan ibu yang selalu berterus terang akan bertanya: &#8220;Kamu sudah beristri lagi, ya? Jangan lukai hati perempuan. Jangan sekali-kali menipu istri, Rud.&#8221; Kata Linda hanya mau silaturahmi. Benarkah tanpa maksud lain di baliknya? Aku ragu. Soalnya, Linda belum kenal dengan ibuku. Ibu juga tak mengenal perempuan lain bahkan sebagai temanku sekalipun, kecuali Mirna yang sudah menjadi istriku selama 23 tahun. Ibu juga amat tahu dengan pribadiku selama ini yang tak suka bermain-main api, tak pernah berkhianat. Bahkan sewaktu aku berpacaran dengan Mirna, aku tak pernah membawa perempuan lain ke rumah. Selalu Mirna yang kuajak. Senantiasa Mirna yang datang dan menemui ibu. Kalau kini aku membawa Linda? Apa kata ibu? Kepercayaan ibu selama ini padaku pastilah segera tercoreng. Ia tak akan mempercayaiku lagi untuk selama-lamanya. Ibu akau menudingku sudah berkhianat pada Mirna, pada kaum perempuan. Dan, aku yakin, ibu pun akan terluka hatinya. Sebagai sesama perempuan, hati ibu akan sama seperti yang dirasakan Mirna. Apalagi, aku tahu benar, ayah selama hidup perkawinannya dengan ibu tidak kudengar berselingkuh. Secuil pun tak melukai hati ibu. Tidak juga bermain mata dengan perempuan lain. Maka bukan mustahil ibu akan berang kalau tahu yang kubawa ke hadapannya adalah perempuan lain, meski hanya teman biasa. Kalau tidak berbisik, ia akan terang-terangan berujar: &#8220;Jangan bawa perempuan lain ke sini, apa jadinya kalau Mirna tahu? Ibu tak enak, dikiranya ibu menyetujui hubungan kalian!&#8221; Atau dengan cara lain: ibu menunjukkan sikap tak sukanya. Ada hubungan? Benarkah aku memiliki hubungan khusus dengan Linda? Sungguh, sulit aku menjawabnya. Linda adalah perempuan yang kukenal enam bulan lalu pada malam pembacaan puisi di Gedung Kesenian. Ia menemuiku sesudah acara, dan seperti dia katakan bahwa ia kerap membaca tulisanku di berbagai media massa nasional. Terutama cerpen-cerpenku yang dimuat tabloid wanita dan di sebuah harian terbesar di Jakarta. &#8220;Tapi, saya juga menyukai puisi-puisi Mas Rudi. Bahkan saya amat menyukai puisi Mas yang untuk ibu, saya hafal di luar kepala. Puisi itu sungguh-sungguh menggugah saya, membuat saya teringat pada ibu saya yang sudah meninggal. Kapan-kapan boleh saya bertemu dengan ibu Mas Rudi?&#8221; Waktu itu aku hanya mengangguk. Mungkin basa-basi. Karena pikirku, tak mungkin Linda akan datang ke kotaku. Lagi pula pertemuan di suatu tempat seperti di Gedung Kesenian, seperti sebuah perjumpaan yang terjadi di halte, terminal, pelabuhan, ataupun di dalam perjalanan. Hanya saling “&#8221;hello&#8221; untuk kemudian berjalan masing-masing atau dilupakan. Tapi, meleset. Ternyata tidak setiap pertemuan yang tak sengaja dan sekejap lalu tak berkesan. Sebab, bagi Linda, perjumpaan yang sekejap itu amat berkesan. Ia datang ke kotaku. Sepertinya hendak menagih janjiku untuk mempertemukannya dengan ibuku yang terabadi dalam puisiku: &#8220;Kembali Ziarah&#8221;. Ia bahkan memujiku. Aku dinilainya sebagai anak yang berbakti pada ibu, yang memiliki kesejarahan yang sangat dekat dan kuat pada ibu. &#8220;Dari puisi Mas Rudi itu, saya bisa merasakan bahwa pengarangnya memiliki kedekatan amat khusus dengan ibu. Padahal banyak pengarang yang menulis tentang ibu, tapi tak sedalam makna yang ada dalam puisi Mas Rudi. Itulah sebabnya, aku ingin sekali bertemu dengan ibu. Bagaimana sih sesungguhnya perempuan yang ada dalam puisi mas Rudi itu?&#8221; katanya memberi alasan saat kutanya mengapa ia ingin sekali bertemu dengan ibuku, sehingga jauh-jauh datang ke kotaku. Linda kujemput di Bandara Radin Intan dengan pesawat pertama. Ia sempat kaget ketika ia kugiring ke motorku begitu keluar dari pintu bandara. Mungkin dalam benaknya, aku akan menjemputnya dengan mobil pribadi. Namun kekagetan itu hanya sesaat, wajahnya segera berganti ceria. &#8220;Wah, asyik sekali berkendaraan motor. Saya bisa leluasa melihat keindahan kotamu,&#8221; ucapnya segera melompat ke jok motor. &#8220;Kamu benar-benar heroik!&#8221; pujiku. &#8220;Aneh?&#8221; &#8220;Tidak sih. Cuma aku benar-benar tak memperkirakan kalau kau akan datang. Kukira malam itu, kau hanya basa-basi….&#8221; &#8220;Saya tak pernah main-main dengan ucapanku. Aku tak suka kepura-puraan,&#8221; katanya tegas. &#8220;Apa kau melihat wajahku seperti yang orang yang selalu pura-pura?&#8221; &#8220;Tidak juga!&#8221; &#8220;Nah, buang jauh-jauh kalau begitu pikiran negatifmu sejak sekarang tentang diriku….&#8221; &#8220;Oke. Maafkan aku,&#8221; kataku kemudian. &#8220;Sekarang kita mampir dulu ke rumah makan. Aku yakin kau pasti sudah lapar. Iya kan?&#8221; &#8220;Wah, tawaran yang bagus itu.&#8221; Ini sudah hari ketiga Linda berada di kotaku. Ia sudah bertekad akan menetap agak lama, itu sebabnya, siang tadi ia memintaku mencarikan sewaan rumah. Ia tertarik dengan rumah itu, tinggal lagi kesepakatan harga. Sebenarnya aku sudah berulang menasihatinya agar segera pulang ke suaminya, tetap ia bersikukuh. Keputusannya sudah bulat: meninggalkan suaminya. Ia sudah mengajukan mutasi kerja ke bank cabang di kotaku. &#8220;Tak ada yang bisa memengaruhi untuk kembali padanya. Aku sudah bosan dengan janji-janji palsunya!&#8221; tegasnya. Yang jelas, menurut Linda, akhirnya ini sejak suaminya pengangguran memang kerap ringan tangan. Padahal yang menutupi kebutuhan rumah tangganya dari gajinya. Lalu ia meminta masukan perihal tata cara perceraian. Sekadarnya kujelaskan sejauh yang kutahu, tanpa ingin aku masuk ke persoalan rumah tangganya. Aku selalu berada di antara keduanya. Aku katakan padanya, biasanya yang menggugat perceraian bukan dari pihak istri. Oleh sebab itu, sulit jika pihak laki tak mau menceraikan. &#8220;Kalau begitu masalahnya, ya sudah aku tak mau mengurus perceraian kami. Tapi juga aku tak ingin kembali menemuinya! Titik. Beres kan?&#8221; &#8220;Jelas tak semudah itu,&#8221; kataku. &#8220;Kalau, misalnya, nasib menentukan kau mencintai seseorang dan lelaki itu juga ingin menikahimu. Bagaimana kalau suamimu tahu dan karena merasa kalian belum bercerai, ia pun menuntut?&#8221; &#8220;Ah, itu urusan nanti. Sebuah masalah yang belum terbayang dalam benakku!&#8221; Linda menepis kemungkinan itu. Dan, ia memang tipe orang yang selalu realistis. Ia lakoni apa yang ada pada hari ini dan yang di hadapannya. Setelah itu diam. Beberapa lama. Motorku melaju menembus kilapan cahaya lampu sepanjang Jalan Diponegoro—menuju Kota Telukbetung. Ketika melintasi perempatan Jalan Dr Susilo, Linda menunjuk sepasang patung—Muli dan Menganai—yang masih berselimut kain putih. &#8220;Mengapa patung itu diselimuti. Patung apa itu?&#8221; ia bertanya. Deru motor membuat suaranya sayup-sayup sampai ke telingaku. &#8220;Itu patung Muli-Menganai. Bahasa Lampung artinya ’gadis dan bujang’. Karena belum sesuai adat dan kalau tak salah banyak yang protes, akhirnya patung yang baru dibuat oleh Wali Kota yang baru dilantik terpaksa ditunda peresmiannya,&#8221; aku menjelaskan. Linda tak lagi bertanya. Aku memacu motorku menuruni Jalan Diponegoro. Berhenti di sebuah warung khusus penjual pempek. Aku yakin Linda pasti ingin mencicipi pempek Palembang yang banyak disediakan di kawasan ini. Benar, ia bersemangat. Apalagi, setelah tahu harganya pun jauh lebih murah jika dibanding di Jakarta. Entah berapa puluh pempek disantapnya. Aku khawatir akan mengganggu perutnya. &#8220;Kau keberatan mengantarku ke rumah ibu?&#8221; Linda kembali mengajukan pertanyaan, seusai pempek ke 15 dimakannya. Aku menghidupkan sebatang rokok. &#8220;Ya sudah kalau kau tak ingin, aku maklum. Berarti kau menganggapku hanya sebatas teman, tidak lebih dari itu,&#8221; lanjutnya. &#8220;Maksudmu, Linda?&#8221; Aku tak mengerti. &#8220;Bukan karena aku keberatan, cuma belum saatnya.&#8221; Linda tak menyahut. Ia kesampingkan pandangannya. &#8220;Maafkan aku, Linda. Bukan aku tak ingin mengenalkanmu dengan ibu. Hanya tidak sekarang,&#8221; kataku membuka percakapan sambil memasukkan makanan ke mulut. Hening. Kutatap wajah Linda dalam-dalam. Aku menginginkan pengertiannya, sekali lagi, agar ia membatalkan untuk bertemu ibu. Aku hendak menjaga perasaan ibu yang selama hidupnya mendampingi ayah tanpa dikhianati. Aku juga mau menenggang rasa Mirna. Tetapi, bukankah Linda juga perempuan? Ia juga punya perasaan, setidaknya memiliki kerinduan pada figur ibu sejak orangtuanya meninggalkan empat tahun lalu. &#8220;Katamu kemarin, mau mengantarku sekarang?&#8221; &#8220;Tapi, sudah malam, Linda?&#8221; &#8220;Sudahlah, tak usah beralasan. Kau memang tak ingin menemukan aku dengan ibumu. Aku jadi meragukan tentang puisimu itu…&#8221; &#8220;Oke, oke. Ayo, malam ini aku antar kau menemui ibuku,&#8221; kataku sudah kehabisan cara untuk menolak keinginannya. &#8220;Tapi, sepertinya kau terpaksa? Aku tak mau kau merasa dipaksa olehku, lalu mengantarku pun karena terpaksa. Aku tak suka itu…&#8221; &#8220;Tidak, tidak. Aku mau mengantarmu sekarang, ayo…&#8221; &gt;diaC&lt; Ibu ternyata belum tidur. Kulihat mukena belum dilipatnya. Pastilah ibu baru selesai shalat sunah usai Isa menjelang tidur. Aku mengambil tangan ibu dan mencium sedalam-dalamnya. &#8220;Ada apa Rud, malam-malam datang?&#8221; Adikku yang sudah berkeluarga dan menemani ibu mendekati telinga ibu dan berbisik: &#8220;Rudi datang membawa teman perempuan. Katanya ingin bertemu ibu…&#8221; &#8220;Siapa?&#8221; ibu bertanya. Entah lantaran tak mendengar atau pertanyaan yang menyimpan kecurigaan. Adikku mengulang. Ia menuntun ibu ke luar kamar. Linda segera menghampiri dan mengambil tangan ibuku untuk kemudian menciumnya. &#8220;Saya Linda Bu dari Jakarta. Saya tertarik dengan puisi Mas Rudi yang sangat menyanjung dan memuji Ibu. Karena itu, saya ingin sekali bertemu Ibu, hendak bersilaturahmi.&#8221; Ibu hanya diam. Rona wajah ibu tak sedikit pun berubah. Ia mencari kursi di tempat biasa ibu duduk. Linda mendekat. Menyerahkan kue ke tangan ibu. Setelah itu merogoh isi tas dan mengeluarkan sesuatu. &#8220;Siang tadi saya membeli kacamata, saya pikir Ibu tak bisa melihat hanya karena tak punya kacamata. Tapi…&#8221; ujar Linda sambil menyerahkan kacamata yang aku yakin harganya amat mahal. &#8220;Maaf, Nak. Mata Ibu sudah tak butuh kacamata lagi. Sudah tak berfungsi lagi….&#8221; &#8220;Bagaimana kalau dioperasi saja, Bu? Biar saya yang menanggung semua biayanya.&#8221; &#8220;Ah, tak perlu repot-repot, Nak. Biarlah, toh Ibu juga sudah tua. Umur Ibu sudah tak lama lagi.&#8221; &#8220;Jangan berkata begitu, Bu…,&#8221; aku mencegah ucapan ibu yang menjurus pesimistis dan pasrah. &#8220;Ya, Bu. Soal usia manusia, hanya Tuhan yang lebih tahu. Bagaimana, Bu, kalau mau dioperasi segera besok dibawa ke rumah sakit,&#8221; lanjut Linda. &#8220;Tak usah, Nak, tak usah repot-repot,&#8221; kata ibu lembut. &#8220;Mata Ibu juga sudah tak mungkin bisa kembali, sudah lima tahun. Lagi pula, Ibu juga sudah diberi kesempatan oleh Allah melihat dunia cukup lama. Ibu juga tak jalan ke mana-mana lagi, hanya di rumah…&#8221; &#8220;Tapi, Bu…,&#8221; sosor Linda. &#8220;Jangan sampai Ibu merepotkan Anak.&#8221; &#8220;Tidak, Bu…&#8221; &#8220;Jangan. Ibu berterima kasih dengan niat Nak Linda. Ibu juga berterima kasih Anak mau menjenguk Ibu, hanya karena membaca puisi Rudi. Ah, Ibu sendiri tak tahu apa puisinya itu, Rudi tak pernah membacakannya di depan Ibu…&#8221; &#8220;Bacakan….&#8221; Linda berbisik. Aku segera membacakan puisi &#8220;Kembali Ziarah&#8221;, tentu tidak seperti ketika aku membacakannya di panggung kesenian. Namun dengan interpretasi yang dalam, suaraku pelan dan bergetar. Kulihat tetesan yang menjelma anak sungai yang keluar dari sumber mata ibu membasahi kedua pipinya. &#8220;Walau Ibu tak mengerti, puisimu menyentuh…,&#8221; komentar ibu, usai kubacakan seluruh larik puisiku itu. &#8220;Sebagaimana meskipun mata Ibu sudah tak berfungsi, tapi Ibu tetap merasakan melihat dunia. Ibu bisa merasakan getar yang ada di dalam dirimu Rudi, juga yang ada padamu Nak Linda…&#8221; Kuperhatikan Linda serba salah mendengar ucapan ibu. Mata ibu lebih tajam. Perasaan ibu sangatlah dalam. Betapa dalam sehingga mampu menembus segala rahasia. &#8220;Jangan khianati istri dan anakmu. Menantu Ibu masih tetap Mirna…&#8221; bisik ibu sesampai di tempat tidur. Suaranya terbata dan pelan, tapi terdengar amat bergetar. Lampung, April-Mei 2006 Kompas,  Edisi 06/18/2006  </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/icanxkecil.wordpress.com/57/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/icanxkecil.wordpress.com/57/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/icanxkecil.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/icanxkecil.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/icanxkecil.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/icanxkecil.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/icanxkecil.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/icanxkecil.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/icanxkecil.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/icanxkecil.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/icanxkecil.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/icanxkecil.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icanxkecil.wordpress.com&blog=315130&post=57&subd=icanxkecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/mata-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf920b71b6ec0519a7a950146c1933f3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">icanxkecil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lelaki itu Suamiku</title>
		<link>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/lelaki-itu-suamiku/</link>
		<comments>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/lelaki-itu-suamiku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Aug 2006 19:04:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icanxkecil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/lelaki-itu-suamiku/</guid>
		<description><![CDATA[Isbedy Stiawan ZS  
 MALAM kelam selebat hutan. Udara dingin selapis kain tipis. Jalan yang cuma setapak bersisa basah. Lumpur. Rumputan lembab.Tiada pilihan. Harus melangkah mengikuti kemauan kaki. Dan, gerbang kompleks perumahan sudah tertinggal. Mungkin akan kulupakan selamanya. Tak sudi kuingat lagi waktu terkutuk ini. Perempuan tertutup sehelai kain. Telentang di ranjangku. Juga lelaki di sebelahnya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icanxkecil.wordpress.com&blog=315130&post=56&subd=icanxkecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Isbedy Stiawan ZS  </p>
<p> MALAM kelam selebat hutan. Udara dingin selapis kain tipis. Jalan yang cuma setapak bersisa basah. Lumpur. Rumputan lembab.Tiada pilihan. Harus melangkah mengikuti kemauan kaki. Dan, gerbang kompleks perumahan sudah tertinggal. Mungkin akan kulupakan selamanya. Tak sudi kuingat lagi waktu terkutuk ini. Perempuan tertutup sehelai kain. Telentang di ranjangku. Juga lelaki di sebelahnya, terlelap bagai bonggol jagung. Lelaki itu suamiku.<span id="more-56"></span>Keduanya masih bermandi keringat. Meski dengkurnya keras sekali pertanda ia benar-benar lelap. Aku tidak berkeinginan membangunkan Mas Tarman, atau menyeret perempuan itu yang sudah berani tidur di ranjangku. Biarlah keduanya lelap, bahkan kalau mungkin mati di tempat tidur.***Sebelum kuniatkan pergi dari rumahku, memang sudah kukemas pakaianku. Segera kumasukkan ke dalam tas besar, sebelum kedua hewan itu terjaga. Biarlah waktu dan kamar yang menjadi saksi. Biarlah iblis-iblis yang menyaksikannya sembari tertawa-kekeh. Bukan lantaran mereka menjebakku tengah menonton sambil menggigit lidahku lantaran terluka hati ini.Diam-diam kutinggalkan rumah. Aku hanya pamit pada pintu, jendela, dan seluruh isi rumahku yang telah membuatku kerasan menetap hampir 10 tahun bersama Mas Tarman. Di rumah tersebut aku menyulam cinta sambil berharap-harap dari cinta kami akan berbuah momongan. Betapa pun harapan itu sampai saat ini belum terpenuhi. Barangkali belum saatnya. Mungkin&#8230;.Tetapi, tanpa membuahkan anak dapat menyebabkan perkawinan menuju ambang rawan. Walau hingga memasuki tahun ke tujuh perkawinan kami belum tanda. Meski Mas Tarman masih sering menciumku dengan perasaan sayang dan cinta. Ia kerap mengajakku bercumbu hingga jelang subuh. Aku suka. Kusambut dengan keriangan pula. Berkali-kali.Hanya saja, benarkah Mas Tarman sungguh-sungguh mencintaiku? Masihkan ia menyayangiku sepenuh tulus? Tidak tergiur oleh aroma keringat lain perempuan? Setiap kali batinku merintih seperti itu, Mas Tarman selalu menghiburku: &#8220;Kalau harus kulintasi benua demi benua, maka aku akan selalu berpulang ke pelukanmu. Percayalah, Asih.&#8221;Hati siapa yang tak akan berbunga mendengar ucapan itu? Apalagi kata itu keluar dari bibir lelaki yang sangat dicintai. Aku memang sangat mengagumi Mas Tarman. Sejak lajang. Itu sebabnya, membuatku menerima ketika dia dilamar.Lelaki itu kemudian jadi suamiku. Tarman namanya. Posturnya kekar. Selalu tegap jika berjalan. Dadanya melebar. Pandangnya tak pernah ke bawah. Suaranya berat. Sedikit bicara, padat katanya. Bila kami sedang berdekatan, sangatlah menggairahkan. Begitulah lelaki itu, namanya Tarman, sudah tidur bersamaku 10 tahun lamanya. Akan tetapi, tak juga berbuah janin di rahimku. Sebagai calon anak kami. Seorang saja.Meski belum dikaruniai anak, tidak mengurangi percintaan kami. Mas Tarman tetap bergairah bila di ranjang. Aku tak kurang pula menerima dan melawan cumbuannya. Sepuluh tahun bukti cinta kami. Sepuluh tahun cukuplah untuk kukatakan bahwa perjalanan rumah tanggaku tiada aral-rintang. Tiada percikan api yang bakal membakar rumah tanggaku.***AKU telanjur menggantungkan kepercayaanku pada cinta. Hawa yang selalu keluar dari mulut Mas Tarman setiap mendekapku, telah menyihir perasaanku hanya untuk mengingatnya. Betapa aroma peluhnya itulah yang membuatku tersengsem untuk selalu ingin didekapnya. Di mataku ia adalah Arjuna: begitu sulit kulikis ketampanannya. Sedang di hatiku, ia layaknya sang Romeo: lelaki yang memiliki cinta tiada banding di jagat ini.Karena itu, biarpun ibu pernah memintaku berpikir dulu sebelum menjatuhkan keputusan menerima lamaran Mas Tarman, aku menepis dengan satu helaan saja: &#8220;Aku lebih tahu tentang Mas Tarman!&#8221;Ibu tersungut. Tak berani lagi melontarkan nasihat apa pun mengenai hubunganku dengan Tarman. Aku yakin ibu kecewa, tapi lebih kecewa lagi aku kalau ibu menolak lelaki yang kukagumi itu menjadi suamiku.Pernikahan sederhana. Kukira paling sederhana dibanding saat ibu mengawinkan kakak-adikku. Ibu menyelenggarakannya dengan sangat meriah, disambut sukacita. Walaupun sederhana, itu semua terhapus juga tatkala Mas Tarman mengucap: &#8220;Kuterima nikah Asih binti Sugardo dengan emas kawin&#8230;.&#8221;Lalu, selayaknya seorang ratu kunaiki pelaminan. Aku seperti terbang dengan sayap yang terbuat dari cinta yang dianyam oleh tangan Mas Tarman. Sayap itu sangat putih. Tangan yang menyulam pun amatlah penuh oleh kasih sayang.Sayap yang kemudian melindungi rumah tanggaku bersama Tarman. Sayap itu pula selalu kujaga agar tidak menguncup atau rusak termakan waktu. Sayap yang dapat berfungsi ganda. Sebagai selimut kami.***MAKA aku benar-benar tidak percaya menyaksikan sepasang tubuh yang hanya ditutup sehelai kain di ranjangku. Terlelap. Dengkurnya bagai harimau bersuara. Karena lelah mungkin, membuat keduanya bagai bonggol jagung. Telentang.Aku gemas. Amarahku membara. Darahku meluap-luap. Seperti buncahan laut pada saat terempas badai. Gelombangnya tinggi, melebih tepi pantai. Memasuki kota.Ah! Kini aku sudah melewati gerbang perumahan. Malam makin pekat selebat hutan. Udara dingin selapis kain tipis menusuk poriku. Ingin aku bergegas, tapi langkahku terasa lambat sekali kuseret. Tidak seperti ketika aku melepas kenangan selama bersama Mas Tarman. Semisal kubalikan telapak tanganku, sekali hup! Rontoklah seluruhnya bagai daun-daun kering luruh dari ranting.Aku tak percaya kata orang, kenangan-terutama yang manis dan indah-dalam bercinta, sungguh sulit dilupakan. Ternyata aku dapat dengan cepat melupakannya. Buktinya, dengan sekali tebas gugurlah segala kenangan dan masa lalu itu.Bahkan aku pun mampu untuk tidak mengingat lagi perempuan yang lelap di ranjangku. Perempuan terkutuk. Dalam keadaan bugil. Di sebelahnya, yang sedang mendengkur&#8211;juga dalam keadaan tanpa penutup badan&#8211;seorang lelaki yang selama 10 tahun dekat di hatiku, sudah pula kulupakan kini. Lelaki itu, ya lelaki yang tidur bersama perempuan lain, pernah menjadi suamiku. Namun semenjak satu jam yang lalu dan seterusnya sudah kuanggap orang lain. Tak mungkin akan kukenal lagi.Biarlah segalanya lesap dari ingatanku. Biarkan lelaki itu bukan lagi menjadi bagian dari kenanganku. Bukan pula sebagai masa lalu. Sekarang ini aku tengah menuju masa datang. Sebuah waktu yang membuka, yang membentang. Aku, walau tak diizinkan, pastilah kumasiku. Tentulah akan kulampaui.Aku susuri setiap lekuk waktu dan segala kemungkinan. Sebagai perempuan yang sendiri. Selayaknya Mariam yang mencari-cari tempat persinggahan saat mengandung putra Isa. Perempuan Mariam nan suci. Aku ingin sekali seperti dia.Cuma nasibku lain. Persinggahanku berubah-ubah. Aku berganti-ganti di dalam dekapan lelaki. Untuk semua itu&#8211;untuk sekali atau dua kali persinggahan&#8211;aku dibayar. Dekapan yang hambar dan ringan, tentu saja. Lelaki-lelaki itu, bolehlah kuakui suamiku. Suami dalam waktu yang sejenak. Tiada ikatan di dalam buku catatan perkawinan.Ah! Aku sudah tak percaya lagi pada pengikat kesetiaan. Tiada lagi di benakku perlembagaan tersebut. Kiranya aku kini merasa bahagia terbang tanpa perlu membikin sayap lebih dulu. Aku dapat hinggap di mana pun yang kusuka, setelah itu boleh terbang lagi tanpa harus mengucap &#8220;salam&#8221;.Begitulah aku. Perempuan burung yang tak mesti lebih dulu menganyam sayap untuk terbang, tak harus membangun sarang jika lelah dan butuh rebahan. Sebab, aku dapat berbaring di ranjang mana saja. Bahkan, di selembar tikar. Boleh pula di kamar pengap. Jika itu mengharuskan.Aku terbang. Dari satu ranting ke lain ranting. Hinggap sekejap atau beberapa kejap, lalu kembali terbang. Bagai buruh sungguhan, aku tiada pernah lelah meski kukapakkan sayap melintasi berbagai pulau. Walau berpuluh atau beratus lelaki sebagai ranting, kusinggahi sudah.Sekarang aku benar-benar menjelma jadi burung. Perkasa. Kedua sayapku kukuh. Mengepak, mengepak. Terbang menggaris cakrawala. Singgah dari satu ranting ke lain ranting. Dari lelaki satu ke lelaki kedua, ketiga, dan seterusnya.Semua lelaki itu, para lelaki, setiap sedang berkencan denganku mengaku dirinya suamiku. Dan, aku tak pernah lupa menyapa mereka, &#8220;Papa&#8230;.&#8221;****ENTAH pada ke berapa persinggahan, seorang lelaki meneleponku untuk bertemu. Pukul sembilan malam, ia menungguku di sebuah kamar hotel bintang lima. Sebagai burung yang bebas, aku segera terbang menghampirinya. Setelah izin pada resepsionis, aku menuju kamar yang tampaknya sengaja tak dikunci.Aku terperangah. Dan, tampak ia lebih kaget lagi. Seorang lelaki duduk di ranjang bersandar dinding. Kami beradu pandang. Seakan saling menguliti. Mata kami adu cepat menyilet. Seperti hendak mencari tanda. Hanya saja, sulit sekali menandai. Aku seperti belum pernah berjumpa sebelumnya. Lelaki itu juga merasa tak mengenalku.Kusebut namaku. Ia jawab, terlalu banyak nama Asih di kota ini. Ia mengenalkan diri bernama Tarman. Kukatakan, &#8220;Kau adalah kenalan baruku. Karena itu, kucatat lebih dulu dalam barisan nama-nama lelaki.&#8221;Ia bercerita tentang rumah tangganya. Juga seorang perempuan yang telah meninggalkannya ketika ia sedang terlelap. Lelaki itu, yang kini di hadapanku, adalah seorang pejabat di Kota Anu. Ia sedang mengikuti seminar tentang kota bersih di Kota Ini.Tetapi sayangnya, aku tak memiliki gairah menemaninya bermalam. Entah mengapa, walau sebenarnya aku dapat saja menerima bayaran mahal. Aku merasa saat ini lebih suci darinya. Sebab tak mungkin lelaki masa lalu yang sudah kuhapus kenangannya, akan kembali?Lampung, 17-23 Maret 2006; 23.30</p>
<p>Media Indonesia,  Edisi 06/18/2006  </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/icanxkecil.wordpress.com/56/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/icanxkecil.wordpress.com/56/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/icanxkecil.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/icanxkecil.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/icanxkecil.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/icanxkecil.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/icanxkecil.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/icanxkecil.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/icanxkecil.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/icanxkecil.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/icanxkecil.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/icanxkecil.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icanxkecil.wordpress.com&blog=315130&post=56&subd=icanxkecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/lelaki-itu-suamiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf920b71b6ec0519a7a950146c1933f3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">icanxkecil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lalat dalam Gelas Kopi</title>
		<link>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/lalat-dalam-gelas-kopi/</link>
		<comments>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/lalat-dalam-gelas-kopi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Aug 2006 19:01:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icanxkecil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/lalat-dalam-gelas-kopi/</guid>
		<description><![CDATA[Zoya Herawati 
&#8220;Tak ada waktu yang tepat kapan hidup harus dimulai. Jika ada yang mengatakan awal hidup ada pada usia 40-an, itu merupakan kebohongan besar. Hidup bisa dimulai kapan saja kita mau, karena ia bak segelas kopi. Mau ditambah jahe, hingga wangi rimpangnya, wow, bikin hidung menari-nari atau wiped cream yang tekstur lembut krimnya tertinggal di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icanxkecil.wordpress.com&blog=315130&post=55&subd=icanxkecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Zoya Herawati </p>
<p>&#8220;Tak ada waktu yang tepat kapan hidup harus dimulai. Jika ada yang mengatakan awal hidup ada pada usia 40-an, itu merupakan kebohongan besar. Hidup bisa dimulai kapan saja kita mau, karena ia bak segelas kopi. Mau ditambah jahe, hingga wangi rimpangnya, wow, bikin hidung menari-nari atau wiped cream yang tekstur lembut krimnya tertinggal di langit-langit mulut, atau bahkan tanpa gula sekalipun, sepenuhnya tergantung kita. Atau hidup adalah gradasi warna, pelan merambat dari terang ke gelap dan sebaliknya. Mau terus atau surut sekali lagi semua tergantung seberapa besar kanvas keinginan tersedia.&#8221;<span id="more-55"></span></p>
<p>Ada topeng pada wajah Amak, kaku, beku, darah berhenti tepat di ubun-ubun. Kata-katanya menguap atau lebih tepat menabrak langit-langit yang dipenuhi sarang laba-laba. Beberapa lukisan setengah jadi pada dinding menyatu dalam warna kelabu, menyiratkan kegagalan demi kegagalan pada jalan panjang yang membelah sampai pada usianya yang sudah lebih dari tujuh puluh.</p>
<p>Aku terkekeh: &#8220;Seberapa pintar kau menyimpan kelelahan tetapi daki dan keringat yang berlelehan di sela-sela selangkangan telah menghambat gerak motorik kedua kakimu, menjadikan langkahmu terseret-seret disertai nafas tersengal-sengal…&#8221;</p>
<p>Amak tak bereaksi, tetap kaku, beku, dengan darah mulai mengental di ubun-ubun. Sunyi. Seekor lalat terbang berputar-putar di atas gelas berisi separuh kopi, sebentar menempel pada ujung sedotan berwarna merah di gelas sebelahnya, dan sempat mengaduk isi perut oleh warna-warna kontras, warna-warna dalam kepalaku. Menahan rasa mual kuikuti ke mana ia pergi. Dengan nakal kini ia membuat lubang pada sepotong roti dan lalu masuk lebih ke dalam. Dengungnya menyerupai gergaji pada hutan-hutan yang mulai gundul, menciptakan gempa yang saling memantul. Aneh, tidak ada remah yang tumpah meski lubang dalam roti membesar. Rupanya makhluk itu telah memindahkan remah-remah roti ke dalam perutnya yang kecil tanpa kesulitan. Sungguh sebuah gerak manipulatif yang amat sempurna.</p>
<p>Amak terlelap. Kanvas ditinggal kosong. Di atas lantai beberapa kuas dalam berbagai ukuran tergeletak kaku dekat campuran cat dalam berbagai warna yang kelihatannya mulai mengering. Aku tersenyum, memulai hidup dengan tidak melakukan apa-apa memang bisa dilakukan kapan saja. Kupandangi tubuh Amak yang meringkuk berbalut sarung dengan kaus oblong. Dengkur halus mulai mengalir memenuhi ruangan, mengantar Amak menjemput mimpi-mimpi yang telah dirajutnya saat masih terjaga.</p>
<p>&#8220;Ya Tuhan! Mengapa kau ciptakan makhluk yang tidak berguna, cuma mengumbar dengkur saja!&#8221; Di ruang tengah istri Amak menggerutu. Amak tak bereaksi, ia benar-benar terlelap. &#8220;Aku salut oleh caramu mamandang hidup. Memerlukan keberanian luar biasa membiayai istri dan tiga orang anak hanya dengan mencampur warna-warna pada kanvas,&#8221; kataku suatu kali. Ketika itu seperti biasa kami menghabiskan waktu di sanggarnya, sebuah ruangan sederhana di belakang rumah, dindingnya dari anyaman bambu dengan luas tidak lebih dari sembilan meter persegi. Di salah satu sudutnya, beberapa lukisan ditumpuk begitu saja. Kala itu Amak menjawab, &#8220;Terserah.&#8221; Jika itu disebut keberanian, tentu sebuah keberanian konyol. Sebab jika saja engkau sempat melihat, di baliknya menumpuk ketakutan-ketakutan yang aku tidak tahu bagaimana mengatasinya. Dan jika engkau pun bertanya mengapa tak berupaya, maka aku dengan malas akan menjawab, terlalu rumit dan bertele-tele. Aku hanya menggigit-gigit bibir saja, misteri di balik jawaban berkelit-kelit membawaku ke pemahaman lain tentang makna hidup menurut Amak.</p>
<p>Makin sunyi lalat itu kini hinggap di bibir gelas, tubuhnya membengkak, warna hijau pada punggungnya tampak makin berkilat. Remah-remah roti membuatnya sedikit gemuk. Ia diam untuk beberapa lama. Aku berharap lalat itu juga terlelap seperti Amak, hingga aku bisa menyaksikan tubuhnya limbung ke dalam gelas yang dasarnya dipenuhi ampas kopi. Tentu akan menciptakan warna yang amat indah meski bagi makhluk kecil tersebut hal itu merupakan tragedi. Satu, dua, tiga menit yang kuharapkan tidak terjadi. Lalat itu tetap kokoh di bibir gelas, tubuhnya seolah berperekat hingga timbul keinginanku untuk membetotnya dan lalu menyemplungkannya ke dalam gelas hingga gelagapan dalam ampas kopi. Tapi semua tak kulakukan. Aku membiarkannya merajut mimpi-mimpi andai punya.</p>
<p>Kelebat bayangan istri Amak memenuhi ruang pandangku. Sekarang ia merentang tali untuk menjemur cucian di halaman samping. Aku kagum padanya, seorang perempuan pemberani yang mempertaruhkan hidupnya pada sepotong puisi. Kukatakan demikian karena peristiwa itu tetap lekat di ingatan, bagaimana ia mengangguk terharu ketika Amak melamarnya hanya dengan potongan-potongan syair yang ditulis di atas kertas yang dipungut begitu saja dari meja redaksi majalah kampus. Entah sihir apa yang ada di balik kalimat-kalimat gombal, yang jelas ia tampak gagah melangkah di samping Amak yang terus-menerus memasang senyum kadalnya. Puluhan tahun berlalu aku masih saja menyaksikan keberaniannya meski sedikit berubah menjadi agak beringas.</p>
<p>&#8220;Zen, bawa adikmu makan siang, tak usah sekolah dulu. Bapakmu belum lagi menggambar, jadi tak ada uang bayar iuran!&#8221;</p>
<p>Zen, anak sulung Amak mengangguk lalu keluar berteriak-teriak memanggil adik-adiknya. Suaranya cukup keras hingga mampu merobek gendang telinga. Tapi Amak tidak juga terbangun, ia sangat menikmati tidurnya. Barangkali ia tengah melepas beban. Tapi apa benar ia punya beban? Bukankah ia tak pernah meributkan beban dengan hanya berdiri di tempat tanpa pernah mencoba sedikit bergeser dari tempatnya? Mungkin orang lain yang justru sering meributkan keadaannya. Atau jangan-jangan ia sudah terbangun dan sengaja bersembunyi di balik kedua matanya yang tertutup rapat. Ia sedang mencoba menghindari istrinya, anak-anaknya, aku, sahabatnya, dan yang paling penting menghindari dirinya. Seperti tadi, nafasnya tetap teratur namun dengkurnya sudah menghilang.</p>
<p>&#8220;Kalau mau makan, silakan. Tapi hanya ada sambal teri,&#8221; istri Amak menjenguk ke dalam sanggar. &#8220;Terima kasih, saya lebih senang menikmati keadaan di sini,&#8221; aku menahan diri meski lapar mulai menganggu.</p>
<p>Hidup dengan sambal teri sehari-hari, barangkali itulah makna puisi bagi Amak. Ia sengaja memenggal tepat pada bagian yang paling memilukan lantaran ia tak pernah berupaya untuk menyambungnya dengan yang lebih baik.</p>
<p>&#8220;Kau adalah laki-laki paling biadab di seluruh jagad!&#8221; umpatku suatu ketika. Ia hanya tersenyum. Kala itu ia berhasil memacari anak gadis bupati yang masih belasan dan membujuknya untuk bersedia mendampingi penyair kacangan seperti dirinya. Dengan rambut sepinggang ala anggota grup musik cadas Santana, ia memang berhasil menarik perhatian remaja putri.</p>
<p>&#8220;Catat baik-baik, ini bukan tipu muslihat, ini trik, strategi, siapa pun sah-sah saja melakukannya,&#8221; katanya menjawab umpatanku seraya terkekeh-kekeh.</p>
<p>&#8220;Zen, bangunkan bapakmu! Suruh ia makan sebelum semua habis oleh kedua adikmu!&#8221; Istri Amak kembali berteriak-teriak. Tapi Zen tak kunjung membangunkan Amak. Dibiarkannya lelaki tua itu tetap terlelap. Rambut ala Santana itu kini seluruhnya memutih dan banyak yang rontok hingga kepalanya agak botak. Aku mengintip keluar, perempuan pemberani itu kini sibuk mencabuti batang-batang lengkuas di kebun belakang. Dengan parang di tangan tangkas ia mencongkel-congkel rimpang lengkuas, lalu mengumpulkannya di atas tampah besar. Dulu, dengan suara meso-sopran, ia merajai panggung-panggung teater di kotanya. Kini tanpa suara ia telah mengubur habis kenangan remajanya.</p>
<p>&#8220;Zen, jika sudah selesai makan antarkan lengkuas ini ke warung ujung desa, suruh timbang ada berapa kilo, dan minta sekalian uangnya,&#8221; ia kembali memanggil anaknya. Baginya, dialog tersebut mirip naskah panjang yang tak ia ketahui kapan harus berakhir.</p>
<p>Kembali sunyi. Amak mengubah posisi tidurnya. Kini ia membelakangiku. Sarungnya melorot sampai ke lutut sementara punggungnya basah oleh keringat. Lenguh kerbau bersahut-sahutan pertanda petani beranjak pulang dari sawah. Satu dua seretele (sejenis belalang yang hanya keluar pada malam hari) yang mendenging-denging di pucuk-pucuk pepohonan telah menyeret matahari mendekati peraduannya. Ketika kecil, saat seretete mulai berbunyi, ayah selalu memanggil-manggil menyuruhku mandi di pancuran sebelum gelap benar-benar turun. Ketika ayah berpulang, seretete pergi bersama ruh beliau, entah ke mana. Bahkan, biyung pun juga kehilangan ruhnya. Sepanjang hari ia hanya duduk diam di beranda depan. Jika orang bertanya mengapa ia di sana, maka ia akan menjawab, &#8220;Aku menunggu bapak anakku pulang.&#8221; Biyung ternyata melangkah surut dan menyerah total pada suratan. Sebuah hal yang kelak terus-menerus mendera ingatanku. Jasadnya dikerubuti ribuan lalat selama berhari-hari tanpa seorang pun tahu. Berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun, lalat-lalat itu tak mau pergi dari rumah. Mereka hinggap di mana-mana, di kursi, di meja, di ruang tamu, di ruang tengah, di dapur, di kamar tidur, bahkan di kelopak mataku. Dengungnya yang gaduh telah merontokkan isi dadaku.</p>
<p>Seretete bersahut-sahutan. Secara refleks, Amak mengusap liur yang meleleh membasahi wajahnya. Tiba-tiba lalat di bibir gelas bergerak-gerak. Tubuhnya yang tambun berputar pelan-pelan sementara dengungnya mulai menggilas suara seretete. Kini ia hinggap pada tubuh Amak. Dengan pandang berbinar, aku ingin melihat lalat itu memasuki tubuh Amak. Bukan lewat mulut, kuping, atau hidung, sebab itu terlalu mudah. Aku ingin lalat itu membuat lubang pada tubuh Amak sama seperti ketika ia melubangi sepotong roti, lalu menggerogotinya pelan-pelan dan menyimpan potongan daging ke dalam perutnya yang kecil. Tubuh Amak mengejang, mulutnya menganga lebar namun tak ada suara yang keluar. Pelan-pelan bagian demi bagian tubuh Amak membiru dan dari setiap lubang yang dibuat oleh lalat itu meleleh cairan merah kekuningan mengotori lantai, tumpukan kanvas, onggokan kuas, palet-palet, dan pada akhirnya seluruh ruangan tempat kami sering menghabiskan waktu bersama.</p>
<p>Tergesa-gesa perempuan pemberani itu memasuki ruangan sambil membawa pemukul kayu berukuran besar. Kini dengan muka dingin namun sekuat tenaga, ia menggebuk lalat itu beserta potongan daging yang tercecer, memungutinya, dan lalu membuangnya ke dalam bak sampah. ***<br />
Manyar, 21<br />
Akhir Maret ’06 </p>
<p>Jawa Pos,  Edisi 06/18/2006  </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/icanxkecil.wordpress.com/55/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/icanxkecil.wordpress.com/55/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/icanxkecil.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/icanxkecil.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/icanxkecil.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/icanxkecil.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/icanxkecil.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/icanxkecil.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/icanxkecil.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/icanxkecil.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/icanxkecil.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/icanxkecil.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icanxkecil.wordpress.com&blog=315130&post=55&subd=icanxkecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/lalat-dalam-gelas-kopi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf920b71b6ec0519a7a950146c1933f3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">icanxkecil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kutukan</title>
		<link>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/kutukan/</link>
		<comments>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/kutukan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Aug 2006 18:53:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>icanxkecil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/kutukan/</guid>
		<description><![CDATA[Budi Sardjono  
Rasanya sudah setahun aku duduk di pelataran Candi Sewu, satu komplek dengan Candi Prambanan. Lebih dari lima kali pemotret-pemotret instan yang mencari rezeki di pelataran candi merayuku agar mau dipotret. Kalau dulu mereka cukup menggunakan kamera polaroid, kini mengikuti perkembangan zaman menggunakan kamera digital. Hasil fotonya memang jauh lebih bagus, meski harganya juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icanxkecil.wordpress.com&blog=315130&post=54&subd=icanxkecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Budi Sardjono  </p>
<p>Rasanya sudah setahun aku duduk di pelataran Candi Sewu, satu komplek dengan Candi Prambanan. Lebih dari lima kali pemotret-pemotret instan yang mencari rezeki di pelataran candi merayuku agar mau dipotret. Kalau dulu mereka cukup menggunakan kamera polaroid, kini mengikuti perkembangan zaman menggunakan kamera digital. Hasil fotonya memang jauh lebih bagus, meski harganya juga lebih mahal.&#8221;Untuk kenang-kenangan, Om, mumpung ada di sini,&#8221; rayu pemotret itu sambil menunjukkan contoh foto-foto hasil bidikannya.Aku menggeleng sambil tersenyum.&#8221;Apa sedang menunggu seseorang, Om?&#8221; kejar pemotret itu sambil memasukkan album foto ke dalam tas kain.Aku mengangguk. Pemotret itu ganti yang tersenyum. Tapi senyumnya seperti mengejek. Mungkin dia bisa menebak apa yang berkecamuk dalam pikiranku. Aku memang sedang menunggu seseorang. Seorang perempuan. Dan dia pasti menganggap bahwa yang kutunggu itu perempuan selingkuhanku.Hemm. Memang mudah ditebak. Seorang lelaki setengah umur berjam-jam duduk sendiri di pelataran candi. Kadang membuka koran, membaca sebentar, lalu diletakkan kembali. Menoleh ke kanan dan ke kiri, gelisah, dan kecewa manakala matanya tidak menemukan obyek yang dicari. Laki-laki kesepian. Lalu iseng-iseng bikin janji dengan seorang perempuan. Kutunggu di pelataran Candi Sewu. Karena tempatnya relatif lebih sepi dibanding pelataran Candi Prambanan. Para wisatawan jarang yang mau menengok sampai di situ.&#8221;Kalau nanti yang ditunggu sudah datang, saya potret berdua, ya Om?&#8221; rayu pemotret tadi. Kuakui, orang itu benar-benar ulet. Ia seolah tahu bahwa akhirnya aku pasti akan menyerah, dan bersedia mengeluarkan selembar puluhan ribu untuk sekali potret dengan kamera digital.&#8221;Kalau yang kutunggu tidak datang bagaimana?&#8221; tanyaku iseng.Pemotret itu tertawa kecil. &#8220;Pasti datang, Om. Mosok sudah janji tidak mau datang? Bisa bikin kecewa hati orang. Bukankah kalau laki-laki itu dikecewakan sekali saja, dia akan kapok selamanya, ha..ha..&#8221;Aku ikut tertawa dan mengangguk-angguk.&#8221;Di sini tempatnya cocok, Om, untuk bikin janji pertemuan.&#8221;"Kenapa?&#8221;"Ya di samping sepi, konon menurut para orang tua, mereka yang memadu janji di sini biasanya akan langgeng. Beda kalau waktu bikin janji itu dilakukan di sekitar pelataran Candi Prambanan sana. Bisa kena kutuk patung Roro Jonggrang.&#8221;"Ah, yang benar?&#8221;"Iya Om!&#8221; jawab pemotret itu yakin. &#8220;Memang kedengarannya hanya mitos, atau dongeng berbau takhayul. Tetapi sudah banyak yang mengalami. Banyak pasangan laki-perempuan bubar di tengah jalan setelah pacaran di pelataran Candi Prambanan. Mereka konon dikutuk Roro Jonggrang yang gagal kawin dengan Bandung Bondowoso. Om pernah dengar cerita tentang mereka, kan?&#8221;Aku mengangguk. Kisah cinta antara Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang memang sudah jadi legenda. Mirip kisah cinta antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi di daerah Sunda. Yang membedakan, di Sunda tidak ada mitos tentang kutukan Sangkuriang atau Dayang Sumbi kepada sepasang kekasih yang berpacaran di Gunung Tangkuban Perahu. Sedang di Prambanan mitos kutukan Roro Jonggrang itu sangat dipercaya keampuhannya. Karena itu ada semacam tabu bagi mereka yang sedang dimabuk cinta, jangan sekali-kali pacaran di pelataran Candi Prambanan. Tali cinta mereka bisa putus seperti tali cinta antara Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso.Aneh, memang. Di zaman nuklir seperti ini ternyata orang masih percaya dengan mitos.&#8221;Baik, Om, saya pergi dulu. Nanti saya kemari lagi setelah tahu Om sudah duduk berdua, ha..ha..&#8221; ujar pemotret itu sambil tertawa. Ia lalu lari mengejar rombongan keluarga yang sedang istirahat di atas rerumputan. Mungkin di situ ia malah bisa memperoleh rezeki.Matahari sudah semakin tinggi. Udara mulai terasa panas. Tetapi pelataran Candi Sewu tetap seperti tadi ketika aku datang. Hanya satu dua pasang kekasih yang lewat, lalu mereka menghilang entah di mana.Mengapa orang yang kutunggu-tunggu tidak segera datang? Mungkin ada halangan di jalan? Entahlah. Menunggu dengan gelisah ini sudah menjadi risiko kami, karena sama-sama tidak mau memanfaatkan <i>hand-phone.</i> Andaikata kami tidak berpikir secara kolot atau kuno, mau mengikuti perkembangan zaman, maka dengan mudah kami saling kontak. Minimal bisa saling mengirim SMS.Angin pergantian musim membuat tubuh tidak terasa nyaman. Apalagi untuk tubuh yang sudah setengah abad umurnya. Terkadang angin itu terasa panas, namun tiba-tiba berubah jadi dingin. Meski begitu aku bertahan untuk tidak mengenakan jaket. Berlagak sebagai laki-laki <i>macho</i>, tahan banting, dan masih kuat dihajar panas dan angin yang tak menentu arahnya. Baju dan celana dari bahan jeans yang kukenakan memang mendukung penampilanku.&#8221;Hai, sudah lama menunggu,&#8221; sebuah suara lembut muncul dari belakang. Bersamaan dengan itu ada dua tangan yang langsung memelukku, tangan yang halus dan kuning warna kulitnya. Tangan milik seorang perempuan. Aroma parfum yang sudah sangat kukenal segera mengusik hidungku. &#8220;Aku sudah kangen sekali,&#8221; katanya kemudian sambil mendaratkan sebuah ciuman di pipiku.&#8221;Muncul dari mana kamu?&#8221; tanyaku setelah dia melepas pelukannya dan kami lalu duduk berhadapan di atas pelataran candi.&#8221;Aku ingin seperti dulu, duapuluh lima tahun yang lalu, membuat kejutan untukmu, hi..hi..&#8221;"Tapi kamu harus ingat, duapuluh lima tahun yang lalu jantungku masih sehat. Kalau sekarang aku benar-benar kaget dan jantungku berhenti, apa kamu senang jadi janda?&#8221;"Ah, siapa mau jadi janda!&#8221; kilah perempuan itu manja. Ia lalu melingkarkan tangan kanannya ke pinggangku. &#8220;Aku ingin selalu berdua bersamamu. Menimang cucu, membesarkan mereka, dan melihat mereka tumbuh besar. Bukankah begitu cita-cita kita dulu?&#8221;Nova, Tabloid,  Edisi 06/12/2006  </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/icanxkecil.wordpress.com/54/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/icanxkecil.wordpress.com/54/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/icanxkecil.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/icanxkecil.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/icanxkecil.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/icanxkecil.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/icanxkecil.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/icanxkecil.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/icanxkecil.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/icanxkecil.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/icanxkecil.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/icanxkecil.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=icanxkecil.wordpress.com&blog=315130&post=54&subd=icanxkecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icanxkecil.wordpress.com/2006/08/01/kutukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf920b71b6ec0519a7a950146c1933f3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">icanxkecil</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>