Aroma Pabrik Kopi

Jalan Banceuy, di tengah kota Bandung, masih gelap dan lenggang. Namun, kepulan asap telah terlihat tipis keluar dari sebuah cerobong bangunan bergaya art deco yang tersembunyi di antara berderetan toko onderdil mobil dan motor yang masih “terlelap” pagi itu.

DI dalamnya sejak pukul 04.00 WIB, Widyapratama (50) pemilik tempat yang merupakan pabrik sekaligus toko tersebut bersama dua karyawannya tampak sibuk menyangrai kopi dengan sebuah mesin pemanggang tua yang berbahan bakar kayu karet.

Berbagai mesin tua, mulai dari mesin pemanggang, mesin pemilah biji kopi dengan sistem sentrifugal, mesin pengiling, toples-toples tua, hingga bungkus kemasan kopi yang teksnya masih menggunakan ejaan lama, seakan membawa suasana kembali ke masa silam. Menyiratkan bahwa Kopi Aroma seakan tak terpengaruh dengan perkembangan teknologi yang berlomba-lomba diterapkan dan diunggulkan oleh berbagai industri.

Biji kopi yang didapatkan dari berbagai perkebunan di tanah air seperti Aceh, Medan, Toraja, Jember, dan Timor-Timur adalah betul-betul biji kopi yang merah dan tua. Kemudian disimpan dalam karung goni di gudang selama 5 sampai 7 tahun. Bila siap digiling, biji-biji tesebut dijemur dahulu di sinar matahari selama 7 jam. Baru ditumbuk, disangrai, lalu digiling.

Seluruh proses produksi ini dipegang teguh sejak 1930, termasuk prinsip bahwa kopi yang dijual harus fresh. “Yang penting caranya, bukan jumlahnya. Buat apa besar, tapi caranya tidak betul,” kata Widya.

Tak heran bila Widya sangat terbuka terhadap siapapun yang ingin tahu lebih jauh tentang kopi atau hendak melihat seluruh proses pembuatan kopi di pabriknya. “Tak semua orang mau mengerjakan proses seperti ini. Harus sabar dan tekun,” kata Widya sambil sesekali mondar-mandir dari pabrik ke toko mungil yang terletak di bagian depan pabrik.

Pagi itu, disaat toko belum dibuka pukul 08.00, pintu tokonya telah diketuk sejumlah pelanggan. Ada seorang pegawai negeri dan seorang tukang becak yang dapat ikut menikmati kopi buatannya dengan harga sangat terjangkau Rp 3.000-Rp 3.800 per 100 gram. (Lasti Kurnia)
sumber :           kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: