30 Juta Yen

Mohamad Sobary

Gempa memukul jiwa dan memperburuk wajah ekonomi orang-orang kampungku. Di hari pertama hingga keempat, kami menderita ketakutan, merasa cemas akan ketidakpastian, dan menyadari kepapaan yang dalam. Tapi di hari keempat malam, menjelang hari kelima, bantuan berdatangan.

Sembako, terutama beras, bukan main banyaknya. Sepanjang sejarah Republik Indonesia belum pernah desaku memiliki beras sebanyak itu. Tiap bantuan tiba, diterima siapa pun, di bagian desa mana pun, semua ditaruh di gudang darurat, yang dibangun di sebidang tanah di sawah, di luar desa, dengan atap tenda plastik yang bersuit-suit ketika ditiup angin.

Di sana semua bantuan dihimpun. Tiap bantuan menjadi milik bersama. Kami tak mengenal lagi milik pribadi. Kami masak bersama. Tapi, tak dilarang bila ada yang mau masak sendiri sesuai selera.

Hari itu susah-senang, cemas-tenteram silih berganti. Tapi lama-lama rasa tenteram menjadi permanen. Senyum, senda-gurau, saling menertawakan dan ejek-mengejek—untuk menertawakan kegetiran nasib—kembali mewarnai hidup.

“Ora duwe omah ning da sugih wong desa kene (tak punya rumah, tapi warga desa sini kaya),” kata seseorang.

“Lima bulan kita bisa enak-enak makan-tidur, makan-tidur, tapi sesudah itu miskin lagi,” kata yang lain. Ini gambaran rasa senang, tapi juga tanda kecemasan.

“Sesudah itu tak usah dipikir,” jawab yang lain.

Pelan-pelan hidup mulai bergulir kembali. Orang merasa tak cukup hanya berteduh di dalam tenda-tenda seperti pramuka. Maka, satu-dua warga desa mulai membersihkan puing-puing rumahnya.

Gairah kerja, bersih-bersih, menata kayu di tempat yang lebih baik, menumpuk batu bata di bagian yang tak mengganggu pemandangan, perlahan-lahan merambat dari keluarga ke keluarga lain. Lama-lama tiap orang sibuk. Lama-lama tiap orang sadar akan keterbatasannya. Maka berhimpunlah mereka dalam kelompok gotong royong. Satu hari di suatu rumah, hari-hari berikut di rumah lain. Gotong royong, saling membantu, menimbulkan gairah hidup lebih besar dan kebersamaan terpupuk.

Lalu tahap demi tahap keadaan makin tertata. Kerapian mulai lebih jelas. Dan ada saja yang mulai berpikir memanfaatkan sisa-sisa reruntuhan. Daripada tinggal di dalam tenda, mengapa tak membangun rumah kecil, sejenis kandang lembu tapi lebih besar, yang bisa menampung seluruh keluarga dalam suasana rumah tangga, bukan suasana pramuka yang sedang kemping.

Kami tak sepenuhnya beku dalam duka. Bencana sudah dianggap lewat. Semboyan “Badai Pasti Berlalu” yang ditulis dalam spanduk-spanduk dan dipasang di mana-mana, mungkin memperbesar hati kami.

Memang masih sering ada gempa susulan, dan sering agak besar, tapi kami tak terlalu cemas lagi. Soalnya sudah tak ada lagi benda yang dikhawatirkan akan roboh karena semua yang ada sudah roboh. Hidup pun dimulai lagi.

Tenda harus ditinggalkan. Rintisan membangun rumah kecil, dari sisa bangunan yang runtuh, masih dapat digunakan. Kayu-kayu ada, genteng ada, bambu ada. Orang tak harus membeli bahan bila sekadar membangun kembali rumah kecil.

“Kalau gempa lagi, dan runtuh lagi, kita tak terlalu menyesalinya” kata seorang warga.

Ini cermin “relativisme” dalam cara orang Jawa memandang hidup. Sering relativisme lahir dalam humor getir, “black humor”, sering pula menjadi tanda optimisme. Tapi tak jarang pula mewakili ketidakjelasan sikap “ngono yo ngono, ning ojo ngono” (begitu ya boleh tapi jangan begitu) bagi orang yang bukan Jawa mungkin tak ada artinya dalam hidup.

Terhadap janji pemerintah untuk membantu Rp 30 juta bagi mereka yang rumahnya roboh total itu pun kemudian orang melihatnya dengan cara pandang Jawa. Kalau dipenuhi, kita terima, kalau tidak, jangan ditanya mengapa ia berjanji. Dan ketika sebulan lewat, dan mendekati sebulan setengah janji itu tak juga dipenuhi pemerintah, muncullah humor getir yang lain: humor 30 juta yen.

“Kita tunggu yang 30 juta yen itu,” kata seorang warga.

“Janjinya 30 juta rupiah, bukan 30 juta yen,” kata orang yang belum tahu arah gurauan itu.

“Tiga puluh jutanya betul, rupiahnya betul, tapi hanya yen ono, kalau ada.”

“Kalau tak ada, tak memenuhi janji itu bagi pemerintah sudah biasa. Pemerintah bodohlah yang mau memenuhi janji.”

Dilihat dari sudut yag lebih luas, lebih resmi, lebih serius, pandangan pemda Yogya dan segenap rakyatnya, perkara ini tampak lebih serius. Di sana ada MMYB, Mitra Manajemen Yogya Bangkit.

Sesudah gempa terjadi, di daerah-daerah paling kritis, dan menderita paling parah, kekuatan-kekuatan sosial dihimpun. Di banyak tempat kritis di Yogya maupun Jawa Tengah, di Klaten, diadakan rembuk warga. Tokoh-tokoh pemberi inspirasi datang dari kelompok-kelompok tersebut. Rembuk desa membahas bagaimana strategi yang enak agar warga di berbagai tempat kritis tadi segera bias bangkit kembali.

Ahli manajemen risiko bencana, ahli ekonomi, ahli permukiman dan lingkungan, dan belakangan dibutuhkan pula ahli “terapi” untuk menyembuhkan stres, bekerja bahu-membahu untuk mewujudkan gagasan untuk bangkit kembali tadi. Semua gagasan dan hasil-hasil rumusan di sini diserap secara resmi oleh pemda Yogya di dalam “penyusunan rencana tindak pemulihan keadaan pascabencana”. Ini bukan hanya menjadi dokumen resmi, melainkan juga menjadi acuan untuk melangkah ke depan, membikin hidup lebih baik, sekaligus membuktikan bahwa pemerintah memang ada, dan melek, sambil memikirkan rakyatnya.

“Apa arti sebuah takhta bila takhta tak memberi rakyat manfaat hidup yang bisa mereka nikmati?” Ngerso Dalem,Sri Sultan HB X menyatakan ini dalam sebuah pidato, yang direkam dalam acara “Sabda Tama” di Yogya TV.

Rakyat merasakannya. Ini janji nyata, dan bukan janji 30 juta yen (ono), kalau ada tadi. Dan mungkin tidak tidak ada.

Sumber : Kompas (Asal Usul)

One response to this post.

  1. Posted by ANSHAR AMINULLAH on June 25, 2008 at 6:14 am

    saya cari tulisan untuk pembentukan rembuk warga boss

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: