Abakku Datuk

Penulis:Mairi Nandarson

Siang yang galau. Jakun-jakun Rusman naik turun. Ia harus berada di antara rasa marah dan sabar. Ia baru saja ditinggal Abaknya untuk selama-lamanya. abaknya meninggal dunia. Dan kepergian abaknya itulah membuat ia terpukul. Ia merasa sia-sia datang dengan biaya tinggi agar datang lebih cepat dan bisa menemui Abak sebelum ajal menjemput. Tapi sesampai di rumah, Rusman hanya di hadapkan pada sosok yang sudah tidak lagi bernyawa. Abaknya telah meninggal sebelum ia sampai.

“Abakmu sudah pergi,” sambut Amak, ketika Rusman baru saja sampai di rumah. Amaknya menangis dan Rusman sadar kalau kehadirannya di rumah terlambat.

“Mungkin inilah kehendak Yang Kuasa atas dirimu, Man,” kata Amaknya masih dalam tangisan.

Rusman memeluk Amaknya. Tangis amaknya masih tersisa. Isaknya masih menyisakan sedu yang mengguncang tubuh tuanya.

Tidak hanya Amaknya, adik-adiknya juga tak kuasa menahan haru. Isak dan rengekan terdengar menjadi irama memilukan. Siang hari yang buram, dalam panas yang menyengat.

Selang satu jam. Ketika Rusman selesai membacakan surat Yasiin di sisi mayat abaknya, ia harus berhadapan dengan persoalan lain. Sejumlah orang yang selama ini dikenal sebagai keponakan Abaknya, ingin mengangkat mayat orangtuanya itu dan membawanya ke rumah lain.
“Dia tidak pantas disemayamkan di sini,” kata sejumlah orang.

“Indak, Abak jangan dibawa. Biarkan di sini,” Armina, adik perempuannya menahan kerenda yang segera akan diangkat sejumlah orang yang diutus untuk mengangkat mayat abaknya itu.
Rusman berdiri. Matanya memerah. Ia tidak tega melihat adiknya, dan isak saudara-saudaranya yang tak berhenti ingin mempertahankan mayat Abaknya agar tidak dibawa.

“Biarkanlah mayat Abak di sini, kami adalah anak-anaknya yang sah,” Rusman mencoba untuk bersikap tenang dan ia tidak mau melihat mayat abaknya diperlakukan seperti itu.
Tapi tidak ada yang menggubris ucapan Rusman, ataupun ungkapan histerisnya Armina, adiknya. Sekitar enam orang pemuda tegap dengan sigap tetap mengangkat karenda mayat Abaknya yang saat itu berada di tengah-tengah rumahnya.

Armina tetap tidak merelakan mayat itu dibawa. Ia bersikeras dan menarik satu kaki keranda, sehingga tarikan keranda itu tertahan. Maka terjadilah tarik-tarikan. Orang-orang yang hadir melayat hanya bisa melihat. Tak ada yang mau turut campur, apalagi menyentuh dan membantu apa yang dilakukan oleh Armina. Rusman bangkit dan menyusul Armina, mau menolongnya. Tapi tangannya ditahan. Amaknya memegang tangan Rusman.

“Jangan, Man, biarkanlah. Ia memang abakmu, tapi ia tidak hanya milik kita,” kata Amak yang sama sekali tidak ia mengerti.
“Indak, Mak,” Rusman meronta dan pegangan tangan amaknya terlepas. Ia lari menuju adiknya. Ia ikut bersama adiknya mempertahankan mayat abaknya untuk disemayamkan di rumah itu.
Suasana tegang. Mayat di atas keranda itu berada dalam kondisi saling tarik. Suasana jadi ribut. Tapi tidak banyak orang mau terlibat, kecuali hanya melihat dari jauh. Banyak yang tidak tega, tapi tidak ada yang bisa berbuat. Mereka hanya melihat dari jauh dan hanya bisa saling bisik.
“Man, tahu dirilah, Waang! Abak Ang itu Datuk. Tidak boleh disemayamkan di rumah, ia harus disemayamkan di tanah kaum,” Labai Alun mendekati Rusman dan memarahinya.
“Waang sudah besar, tapi tidak tahu adat. Tidak di tempatnya datuk dimandikan di rumah bininya. Itu tidak beradat!” Bagindo Maran, bakonya ikut memarahinya.

“Tidak beradat? Apa ini beradat? Kenapa mengangkat mayat abakku ini tidak meminta izin kepada kami? Kami anak-anaknya, kami hidup dan bagian dari mayat ini!” lantang suara Rusman.
“Ini yang beradat! Adat siapa? Bako? Tahu apa bako dengan abakku ini? tahu apa bako dengan sakit dan penderitaan orangtuaku ini?” kata Rusman dengan suara yang menarik perhatian banyak orang. Serta merta keranda itu diturunkan dan terhenti di tengah halaman rumah.
***
Sakit abaknya, bagi Rusman sudah tidak lagi dalam hitungan waktu hari atau bulan tapi sudah hitungan tahun. Bagi Rusman penyakit abaknya kambuh karena ‘kenakalan’ abaknya sendiri. Abaknya tidak pernah mau bersahabat dengan pantangan dan kebiasaan buruk yang sebenarnya menjadi cikal penyakit yang diidapnya.

Rusman juga pernah memberitahu abaknya itu, kalau sakit yang diderita abaknya itu adalah penyakit yang bermula dari kebiasaan merokok yang berlebihan.

“Abak tidak perlu bangga hanya karena mampu menghabiskan satu sampai dua bungkus rokok setiap hari,” kata Rusman suatu kali ketika Abaknya ia bawa ke Jakarta, untuk menjalani pengobatan.
Tapi abaknya tetap saja tidak menggubris ketika ia sudah kembali ke kampung halaman tanah kelahirannya, dan abaknya sudah tampak sehat kembali.
“Bak!”
“Kamu tidak mengerti, Man, ini karena kamu tidak boleh merokok saja. Coba kalau kamu merokok, mungkin kamu mengerti kenapa Abak tidak bisa meninggalkan kebiasaan ini,” begitu alasan Abak, yang bagi Rusman sulit untuk membantahnya. Ia sudah yakin, pada akhirnya Abak hanya akan mengatakan, kalau ia tidak perlu diajari.

“Mentang-mentang kamu sudah sarjana, lantas Abak Waang ajari. Apa kata orang, Man!” marah Abak suatu kali yang membuat Rusman tidak berkutik.
Ingin ia pergi dari hadapan Abak yang kala itu tidak mengacuhkannya lagi. Tapi hanya berselang bulan, penyakit sesak napas Abak kambuh lagi. Amak menyampaikan lewat telepon.
“Man, penyakit abakmu kambuh lagi!”

Agak galau hati Rusman menjawab dan memintanya untuk datang ke Jakarta kembali. Kata-kata kasar dalam amarah abaknya yang pernah ia terima bermain-main di benaknya. Bahwa apa yang ia katakan menjadi tidak berarti apa-apa di hadapan Abaknya.
“Mak, kini Abak di mana?”

“Di rumah saja,”
“Mak mau membawa Abak kembali ke Jakarta?” sesaat permintaan Rusman tidak berbuah jawab. Baru agak lama kemudian, setelah Rusman menanyakan lagi.
“Bagaimana, Mak?”

“Abakmu tidak mau, ia ingin obat kampung saja. Katanya lebih baik diobat ke dukun. Biayanya kecil dan tidak terlalu jauh,” jelas amaknya yang agak terpatah-patah.
“Tapi penyakit Abak itu sudah akut, Abak butuh perawatan dan kontrol yang cukup oleh dokter!”
“Entahlah, Man, kamu mungkin sudah tahu kalau abakmu sudah mengatakan tidak, kau bilang apapun pasti tidak akan didengar,” kata amaknya.

Rusman tidak punya keputusan lain, kecuali merestui permintaan abaknya. Karena tawaran yang lain agar abaknya dibawa ke rumah sakit terdekat di Padang, juga ditolak oleh abaknya.
“Abak tidak tahan bau rumah sakit, Man, simpanlah uangmu itu, nanti habis hanya untuk berobat, Abak,” kata Abaknya beralasan. Suaranya sesak, dan batuknya terdengar sangat keras.
“Bak!”

Tapi Abaknya sudah tidak mau lagi mendengar apa yang akan disampaikan oleh anak sulungnya itu. Ia seolah sudah tahu apa yang akan disampaikan anaknya setelah itu dan ia tidak sependapat.
“Mak, apa Rusman salah, Mak? Kenapa tidak berarti apa yang Rusman lakukan terhadap Abak?”
“Ang indak salah, Man, kamu sudah menolong Abak. Kalau bukan karena kamu apa jadinya penyakit Abak. Apa yang kamu hadapi itu hanya kerisauannya terhadap apa yang akan terjadi setelah ia pergi.”
“Apa, Mak?”
“Bako.”
“Ada apa dengan bako, Mak?”
“Nanti kamu tahu sendiri,”
***
Rusman sebenarnya tidak terlalu terkejut menghadapi kematian. Pengajian yang diikutinya di masjid ketika ia masih mahasiswa masih terngiang-ngiang di telinganya.
Ustadz Dullah pernah bercerita tentang kematian. Ia mengingatkan bagaimana sebagai seorang muslim agar selalu ingat dengan kematian.

“Seharusnya kita ingat dan sadar, bahwa sesungguhnya kematian itu akan tiba,” kata Ustadz Dullah.
Ustadz mengingatkan bahwa banyak orang telah terpedaya oleh hawa nafsu, dan orang-orang itu lupa mengingat kematian. Bila diingatkan mereka justru merasa benci dan menjauh.
“Mereka inilah yang disampaikan Allah dalam surat Al Jumu’ah ayat 8 yang maksudnya antara lain agar kita senantiasa mengingat kematian,” kata Ustadz Dullah.

Saat itu ia dan kawan-kawannya sudah diingatkan oleh Ustadz bahwa, meski sudah menyiapkan diri, tetap saja perasaan kehilangan orang terdekat akan mempengaruhi jiwa mereka.
“Nanti kamu akan merasa sendiri,” kata Ustadz Dullah.
Ustadz Dullah juga mengingatkan, kalau dalam prosesi kematian selalu akan berhadapan dengan persoalan kebudayaan yang tidak pernah hilang.

“Ustadz Dullah juga mengingatkan, kalau dalam prosesi kematian selalu akan berhadapan dengan persoalan kebudayaan yang tidak pernah hilang.
“Ustadz sendiri tidak bisa mengelak, karena memang kebudayaan itu di negara ini jauh lebih tua dari agama Islam sendiri,” katanya.

Dan itu, benar-benar ditemukannya ketika ia harus menghadapi kematian Abaknya. Ia betul-betul perang dengan logika budaya yang tidak ia temukan selama menjalani proses pendidikan.
***
Mayat Abaknya masih tertahan. Rusman memerah mukanya. Marah. Ia menjadi sangat benci. Usahanya yang dilakukannya agar peristiwa kematian itu tidak terjadi menjadi sia-sia ketika ia harus menghadapi situasi bahwa ia tidak menjadi bagian dari proses akhir keberangkatan abaknya itu.
“Ini kan keterlaluan, sudahlah tidak mau tahu ketika Abakku sakit, kini semua seenaknya mengatakan abakku itu Datuk! Mamak! Milik kaum! Omong kosong!” Rusman ikut histeris. Ia emosi dan sangat marah. Marah. Tidak ada yang menanggapi. Semua diam. Senyap.

Seseorang mendekati Rusman. Tangannya kemudian merangkul bahu Rusman. Tak ada perlawanan. Ia adalah Darius, tetangganya yang pernah menjadi guru ketika ia sekolah menengah.
“Man, sabarlah. Rusman tentu tidak ingin mayat abakmu ini terlantar. Sabarlah, kita perlakukan mayat abakmu ini selayaknya, nanti kita persoalkan. Kasihan Abakmu, terlalu lama ia teraniaya dalam pertengkaran ini,” suara Pak Darius itu begitu lunak. Sedikit membawa emosi Rusman luruh. Ia tidak meronta ketika tangan Pak Darius menempel di bahunya.

“Tidak, Pak, ini adalah hari terakhir Man dengan Abak. Mestinya ini hari yang membuat Man dan adik-adik puas dan menjalankan kewajiban Man sebagai seorang anak!” Rusman terisak.
“Rusman tidak punya banyak pilihan, biarkanlah semua ini menjadi kewajiban kami anak-anaknya, jangan bawa mayat ini dari kami!”

Pak Darius melepaskan pegangannya di bahu Rusman. Ia menjauh dari Rusman dan mendekati seorang tetua yang berkait mamak-kemenakan dengan abaknya.

Rusman merangkul adik-adiknya. Ia tidak tega melihat adik-adiknya terus terisak menatap mayat abaknya di halaman rumah. Mestinya mayat itu sudah dimandikan dan dikafani.

“Man, jalanilah kewajibanmu. Kau berhak untuk melepas abakmu hingga kepembaringannya yang terakhir. Tapi kami minta jangan di rumah ini. Mandikanlah, dan kafani abakmu di rumah bakomu,” Pak Darius dengan sangat simpatik membisikkannya kepada Rusman.
“Kenapa, Pak?”

“Ia Datuk!”
Rusman tidak mengerti, tapi ia harus mengangguk. Bapak harus dikuburkan, hari sudah pukul dua siang.
Lubuk Alung-Padang-Batam, 1993-2004
(sebelas tahun kepergian Abak)

————–
Keterangan:
Abak: ayah/bapak
Amak: Ibu
Indak: tidak
Waang/Ang: kamu
Bini: istri
Bako: famili/saudara dari pihak bapak

5 responses to this post.

  1. Posted by roadtoruins on December 18, 2008 at 5:49 am

    Menyentuh banget, ternyata ada yang lebih menderita darpada saya….
    Check out blog saya juga ya

    Reply

  2. wahhhh… ternyata nyasar2 itu seru juga, bisa ketemu blog dunsanak awak, seritanya seru…
    taruihkan-lah Da, bacarito dan bakaba…
    wak pasti siap mandanga(makasuiknyo mambaco)

    Reply

  3. Waang punyo Carito, dikomentari malah waang bilang indak mangarti, sambutlah sobat biar semuo kito samo basadaro, salut deh caitonyo

    Reply

    • Saudaraku Saiful Bahri
      Bukan saya mengada ada bahwa saya tidak mengerti bahasa ini, kenyataannya cerita ini bukan karangan saya, ini hanyalah kliping.
      Saya bukanlah orang Padang, tapi itu tak masalah yang penting kita ORANG INDONESIA.

      I LUV INDONESIA

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: