Ajakan Putri Lebanon

Bagaimana saya harus menanggapi ajakan Putri Lebanon, Gabrielle Bou
Rached? Putri jelita dari negeri Cedar itu, kini mengikuti kontes
ratu sejagat di Amerika. Sebenarnya dia tak hanya mengajak saya,
tapi juga kita, untuk menikmati keindahan negerinya, Lebanon.

Dalam wawancara yang dilansir situs http://www.missuniverse.com, dia tak
sanggup melukiskan negerinya. “Sungguh, Anda harus datang sendiri!”
ajaknya. Keindahan negerinya bak taman surgawi. Magda Roumi, diva
Lebanon yang terkenal itu, memuja Beirut, ibu kota Lebanon, dengan
julukan Sittud Dunya (Dewinya Dunia).

Saat ini, saya kira, tak hanya kita yang bingung menanggapi ajakan
Putri
Lebanon itu; dia sendiri merasa pilu akan nasib buruk yang menimpa
negerinya dalam beberapa pekan terakhir.

Nanti, sepulang dari kontes ratu sejagat, dia mungkin akan meratapi
kehilangan. Dia mungkin tidak akan menjumpai keindahan negerinya
lagi. Saat ini Lebanon bukan lagi wajah jelita putri dunia, namun
dipenuhi bopeng di mana-mana, porak-poranda, dan luluh lantak akibat
senjata.

Sejak Rabu (12/7) lalu, lebih dari 1.000 titik di Lebanon telah
dihantam senjata-senjata berat Israel. Serangan para serdadu Yahudi
yang membabi-buta itu telah mengubah surga menjadi neraka. Pohon-
pohon cedar hangus terbakar, gedung-gedung tinggi jatuh terkapar,
anak-anak manusia berhamburan mencari jalan keluar.

Kecantikan tak selalu mendatangkan keberuntungan, tapi bisa juga
mengundang kemalangan. Inilah garis nasib yang dialami Lebanon sejak
dulu. Kecantikannya selalu tercabik. Kedamaiannya selalu terusik.
Kekerasan senjata senantiasa merusak segala-galanya.

Nasib tragis itulah yang pernah dikisahkan oleh bait-bait syair
Nizar Kabbani, penyair termasyhur Lebanon, kelahiran Syiria. Dia
menyebut Lebanon “vas bunga yang dipenuhi senjata”. Inilah sebait
sajaknya: Kami bersaksi di hadapan Tuhan Yang Satu/kami selalu
menyakitimu, Lebanon/kecantikanmu membawa petaka/sebab kami tak
mampu memahamimu/kau adalah vas indah/tidak kami isi bunga, tapi
senjata.

Sajak ini ditulisnya sebagai respons terhadap perang saudara yang
pernah terjadi puluhan tahun di Lebanon.

Nizar seolah merekam ratapan rakyat Lebanon yang tak mampu
memelihara kecantikan dan kedamaian negerinya. Setelah dibangun, ia
kembali dihancurkan, baik oleh perang saudara maupun gempuran negeri
jirannya.

Setelah bebas dari penjajahan Prancis (1943), Lebanon kembali
membangun dan mempercantik diri. Namun, perang saudara (1975-1990)
kembali mengubur semuanya. Di jalan-jalan Beirut, sesama muslim
saling tikam, sesama Syiah saling bunuh, sesama Kristen saling
hantam, sesama Arab saling serang, sesama manusia saling
membinasakan.

Terlepas dari perang saudara, Lebanon kembali menjadi sandera.
Lebanon memang bukan gadis molek yang punya kebebasan, kemandirian,
dan kekuatan. Ia selalu menjadi sarang preman-preman pemanggul
senjata. Banyak pihak yang iri dengan kecantikan dan kedamaiannya.
Namun begitu, mereka selalu berhasrat menjerumuskannya ke jurang
kehancuran.

Menghadapi serangan Israel kini, kita jelas-jelas mengutuknya sampai
mati. Namun, pihak yang memancing peperangan dari dalam negeri
Lebanon sendiri, pantas juga menuai kecaman. Hizbulah sebagai agen
Iran dan Syiria, jelas-jelas telah menjerumuskan Lebanon ke dalam
kancah kekerasan.

Lebanon perlu dibebaskan dari kekerasan dan peperangan. Ia perlu
dibela dari tikaman dari luar dan dalam. (mohamad guntur romli)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: