BISNIS MAUT

Penulis:Novia Syahidah

Nevada, 1972
Menemui manusia yang satu itu memang luar biasa sulitnya. Sebagai wartawan profesional yang telah belasan tahun menggeluti profesi ini aku benar-benar dibuat jungkir balik karena rasa penasaran. Motto ‘pantang menyerah’ yang kusandang akhirnya mengantarkanku pada satu titik terang. Ya, setelah mengubernya selama berbulan-bulan, akhirnya ia bersedia juga membuat janji denganku. Dan hari ini adalah hari yang dijanjikannya untuk wawancara tersebut. Sebuah mobil Pigeot menjemputku di bandara internasional Washington DC. Kemudian aku dibawa menuju Chicago. Pigeot itu berhenti tepat di halaman Sears Tower, sebuah bangunan tertinggi di dunia. 

Tidak. Ternyata aku tidak diajak naik ke puncak bangunan itu seperti dugaanku semula, melainkan ditransfer ke sebuah mobil tua keluaran Ford.. Perjalanan yang aneh dan sepenuhnya dikendalikan oleh si tokoh yang akan kuwawancarai itu. Mobil tua itu membawaku menuju Michigan. Menelusuri pesisir danau yang indah sebelum akhirnya berhenti di sebuah tempat yang cukup asing bagiku. Sebuah lapangan yang mirip bandara pribadi. Agak tertegun kutatap pesawat Boeing 737 yang terparkir manis di hadapanku.

“Silakan, Tuan. Anda sudah ditunggu Tuan Shed!” kata seorang lelaki berpakaian ala militer, seraya menunjuk ke pintu pesawat tersebut. Lalu seorang pelayan berseragam rapi menyambutku di tangga pesawat. Agak berdebar kulangkahkan kaki. Dan apa yang kemudian kusaksikan di bagian dalam pesawat itu kian mendecakkan keherananku.

Sebuah ruang tamu seluas 37 kaki dengan empat buah TV di masing-masing sisi ruangan. Mataku yang telah terlatih langsung menangkap berbagai fasilitas canggih di dalam tubuh Boeing 737 itu. Sebuah pesawat telepon lengkap dengan mesin perekamnya, seperangkat pesawat telex canggih, seperangkat piringan hitam klasik yang siap menghibur, dan juga sebuah mesin fotokopi mini.

“Selamat datang di istana saya, Tuan Morgan.” Sebuah sapaan ramah mengejutkanku. Tertegun kutatap sosok yang baru saja keluar dari salah satu ruangan yang mirip kamar pribadi. Inikah orangnya? Akankah aku jadi orang pertama yang berhasil membuat fotonya? Alangkah beruntungnya!
“Maaf, Anda pasti Tuan Shed,” kataku sambil menyalaminya hangat. Lelaki itu mengangguk sambil mempersilakan aku duduk. Seorang pelayan langsung menghidangkan minuman di atas meja. Untuk beberapa saat aku terpaku menatap sosok yang duduk santai di hadapanku itu.

Memakai kemeja katun hitam lengan pendek dan celana loreng yang juga pendek. Sandal bulu berwarna coklat dan…ah! Seperti inikah tokoh yang kuuber selama berbulan-bulan itu? Tokoh yang meroket namanya sebagai pemilik 75 persen saham di perusahaan raksasa Deadlock? Usia yang belum lewat dari 50 tahun dengan garis wajah penuh karakter, menyempurnakan ketampanannya yang khas Arabian. Ya, dia memang lahir di Lebanon tapi berdarah Afghan.

Sungguh, sangat diluar dugaan. Sosoknya yang familiar dan penuh pesona itu benar-benar meleset dari bayanganku. Sebab yang ada dalam bayanganku adalah seorang lelaki dengan raut dingin dan gaya yang kaku, seperti sosok-sosok penting kebanyakan. Ya, ternyata inilah dia! Aku berani bertaruh, tak kan ada wanita yang sanggup mengedipkan mata saat beradu pandang dengan matanya yang hitam sempurna itu. Atau berpaling saat melihat senyumnya yang lembut memikat. Ah, kurasa dialah contoh lelaki yang patut membuat iri banyak lelaki.

Siapa yang tidak mengenal Shed Brothers, dengan jaringan bisnisnya yang menggurita? Atau siapa yang tidak tahu dengan Deadlock, perusahaan amunisi terbesar di dunia saat ini? Tapi siapa pula yang bisa menduga kalau sosok di balik nama besar itu ternyata sesederhana dan sesantai ini? Tokoh yang penuh misteri karena tidak pernah mau dipublikasikan secara transparan hingga orang-orang hanya mengenalnya sebagai seorang Big Boss atau sebagai simbol jaringan bisnis Deadlock.

“Silakan dimulai,” katanya dengan suara berat. Wajahnya yang penuh senyum itu membuatku cepat menyesuaikan diri.
“Baiklah. Tapi rasanya saya agak menyimpang dulu dari topik wawancara. Saya ingin Anda bercerita sedikit mengenai istana mungil ini,” kataku membuka percakapan.
Ia menarik napas sejenak sambil menebar pandangan ke seluruh ruangan. “Seperti yang Anda lihat, inilah rumah saya, kantor saya, dan kendaraan saya. Segala fasilitas hidup saya sudah tersedia di sini. Pesawat inilah yang mengantar saya ke mana-mana, termasuk mengunjungi perusahaan-perusahaan saya di lima benua,” jelasnya santai.

Aku berdecak tanpa sadar. Tiba-tiba sosok seorang Pangeran dalam cerita dongeng seperti menjelma di hadapanku. “Berarti anda mengendalikan semua perusahaan itu dari atas pesawat ini?” tanyaku takjub.
“Tentu saja,” jawabnya singkat. Terus terang, kini aku lebih tertarik untuk mengetahui dirinya secara pribadi ketimbang mewawancarainya tentang perusahaan Deadlock itu. Tapi profesionalisme menuntutku untuk tidak melenceng dulu dari tugas utama.

“Baiklah. Saya ingin bertanya dulu bagaimana sejarah berdirinya Deadlock hingga bisa menjadi perusahaan raksasa seperti sekarang?” tanyaku sambil memastikan bahwa alat perekamku sudah on. Ia tampak berpikir sejenak.

“Deadlock dulunya adalah sebuah jaringan bisnis gelap, yang dijalankan secara amatiran. Maklum, waktu itu saya baru berusia 18 tahun. Namun kepahitan hidup ditambah kondisi perang yang melanda Lebanon telah membuat saya nekat menjadikannya sebagai bisnis masa depan. Waktu itu senjata M16 adalah andalan saya dalam bisnis gelap tersebut. Saya tahu, rakyat perlu senjata untuk melawan dan mempertahankan diri. Dan saya ingin menjadi perantara mereka untuk mendapatkan senjata sekaligus mengambil keuntungan dari posisi tersebut. Ya, keuntungan yang bisa membayar kemiskinan keluarga saya.” Lelaki itu bercerita dengan raut amat tenang.

“Lalu bagaimana Anda menyulapnya hingga bisa sebesar…” Kalimatku terhenti mendadak ketika kurasakan getaran di tubuh pesawat yang sedang kami naiki.
Lelaki itu tersenyum. “Maaf, mengejutkan Anda. Kita harus segera terbang sebab ada urusan penting yang harus saya selesaikan di London,” katanya sambil menuangkan minuman ke dalam gelas. Aku mencoba menghilangkan keterkejutanku. Dan Boeing 737 itu kini mulai bergerak naik.
“Anda tidak usah khawatir. Dari London, sebuah tiket pesawat sudah tersedia untuk Anda, yang akan mengembalikan Anda langsung ke Nevada. Atau Anda mau menjenguk ibu dan putra Anda dulu ke Montana? Terserah Anda, Tuan Morgan. Anda tinggal mengambil tiketnya. Oya, silakan diminum,” katanya sambil meneguk minumannya. Aku Tersentak. Bagaimana dia tahu tentang ibu dan putraku yang tinggal di Montana?

“Bagaimana Anda tahu tentang saya?” tanyaku heran.
Lelaki itu tertawa kecil, nampak sekali ia menikmati kebingunganku. “Apa sulitnya? Jika Anda bisa berada di sini untuk bertemu dengan saya, kenapa saya tidak bisa melakukan hal yang jauh lebih mudah dari itu? Seharusnya Anda tahu satu hal, bahwa saya tidak akan memberi kesempatan seperti ini pada seseorang yang tidak saya percayai kapabilitas kerjanya dan juga keprofesionalannya. Juga perjalanan hidupnya.” Ia menjawab dengan nada lugas.

Aku terdiam sambil meraih gelasku. Lelaki itu benar-benar membuatku tak berkutik. “Lalu apa lagi yang Anda ketahui tentang saya?” tanyaku penasaran.
“Apakah itu penting? Anda tidak usah cemas, saya tidak mengetahui sesuatu yang buruk tentang Anda, kecuali bahwa Anda jarang sekali mengunjungi ibu dan putra Anda.”
Aku tersedak. Bagaimana lelaki ini tahu sampai sedetail itu?

“Berbulan-bulan Anda mencari saya, dan itu adalah waktu yang cukup panjang bagi anak buah saya untuk melacak siapa diri Anda. Saya hanya ingin menyarankan agar Anda lebih meluangkan waktu lagi untuk putra Anda, tuan Morgan, sebelum semuanya terlambat dan Anda akan menyesal seperti saya.” Kali ini kulihat kilatan aneh di matanya. Apa yang terjadi padanya? Benar-benar manusia aneh yang penuh misteri.

“Tapi sudahlah. Lanjutkan saja wawancara Anda,” katanya kemudian seraya menuangkan kembali minuman ke dalam gelasnya. Aku mengamatinya dengan rasa penasaran yang kian menggunung. Rasanya pengalamanku kali ini akan menjadi sesuatu yang luar biasa dalam sejarah profesiku.
Percakapan kami terus berlangsung. Dia benar-benar manusia yang unik. Perkara-perkara berat yang kutanyakan selalu dijawabnya dengan santai dan ringan. Seolah-olah urusan Deadlock dengan bisnis amunisi internasional itu hanya sebuah permainan kecil baginya. Aku yakin, berita yang akan kutulis nanti pasti akan melipatgandakan oplah media tempat aku bekerja.

“Seharusnya seorang wartawan tidak selalu menanyakan hal-hal yang bersifat formal. Karena semua itu sebenarnya sangat menjemukan. Saya bisa saja menyuruh Anda menemui salah seorang asisten saya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan klise tersebut. Dan Anda akan mendapatkan jawaban yang jauh lebih lengkap sebagai bahan tulisan,” katanya sambil berdiri di dekat jendela pesawat. Matanya menatap ke bawah dengan sedikit menyipit, mengamati lereng-lereng bukit kering di sebelah Utara Hollywood, yang merupakan deretan pegunungan Santa Monica sampai ke dataran luas San Fernando Valley.

“Dan saya mempersilakan Anda menemui saya langsung di sini, agar Anda bisa melihat dunia ini lebih luas lagi. Dunia Shed Brothers yang sesungguhnya dan bentuk perusahaan Deadlock yang sebenarnya.” Ia kembali tersenyum menatapku. Sedikit pun tidak kutangkap nada meremehkan di wajahnya. Ah, mungkin dia memang tidak bermaksud demikian.

“Anda patut bersyukur karena Anda bisa bertemu dengan saya hari ini. Sebab mungkin di masa-masa yang akan datang Anda sudah tidak akan pernah bisa lagi bertemu dengan sosok Shed Brothers yang melegenda itu.” Ia meneguk habis minumannya dan kembali duduk di hadapanku.

Sementara aku masih diam menunggu kalimat-kalimatnya yang penuh kejutan itu. Sungguh, hari ini aku pasti terlihat tolol. Sosok Morgan De Carlo sebagai wartawan profesional sebuah media terkemuka di Amerika itu kini berubah dungu.

“Anda tahu, selama puluhan tahun saya telah menikmati kehidupan ini dengan segala suka cita. Apa yang tidak saya miliki sebagai seorang Shed Brothers? Semuanya saya punya. Belasan Bank yang tersebar di seluruh dunia, kapal-kapal pesiar mewah, hotel-hotel berbintang, villa-villa mewah, dan berbagai kekayaan dunia lainnya. Saya juga bisa memilih wanita-wanita tercantik di setiap negara sebagai teman kencan. Bukankah semua itu adalah sorga yang diimpikan oleh setiap manusia?” Ia menatapku, masih dengan senyumnya yang familiar.

Tanpa sadar aku mengangguk membenarkan.
“Namun semua itu ternyata tak lebih berharga dibandingkan anak saya. Harga yang saya sadari setelah saya kehilangan dia. Apakah Anda pernah mendengar tentang seorang pemuda belia bernama Sayyid Husein?” tanyanya serius. Aku berpikir sejenak sebelum akhirnya menggeleng.
“Sayang sekali. Wartawan profesional seperti Anda tidak peka terhadap hal-hal semacam itu. Padahal dia adalah seorang pemuda yang sangat penting artinya bagi presiden Anda. Dia adalah putra saya satu-satunya, yang saya tinggalkan dalam asuhan ibu saya di Lebanon. Saya beri mereka fasilitas hidup yang melimpah sebab saya hanya bisa bertemu dengan mereka sekali dalam sebulan. Anda tahu apa yang terjadi kemudian?”

Aku menggeleng lagi dengan raut kian bodoh.
“Dia tidak mempergunakan semua fasilitas itu untuk keperluan hidupnya, melainkan menyumbangkannya kepada rakyat Palestina. Ibu saya telah mengubah cucunya itu menjadi seorang super hero di medan perang. Sangat jauh berbeda dengan apa yang saya harapkan. Saya ingin dia menjadi seorang pangeran yang bergelimang kemewahan dan kesenangan. Tidak menderita seperti saya dulu.” Ia tersenyum kecut

“Saya sempat berpikir untuk membawanya ke Eropa, agar terjauh dari pengaruh ibu saya. Tapi sehari sebelum saya datang menjemputnya, ia sudah berangkat ke Afghanistan. Anda tahu berapa usianya? Baru 18 tahun. Dulu, pada usia yang sama, saya memutuskan untuk menekuni bisnis gelap amunisi, sementara putra saya memutuskan untuk menjadi seorang pejuang. Seorang syuhada!” Suara lelaki itu terdengar bergetar. Syuhada? Aku mengerutkan alis. Istilah apa itu?

“Lalu sekarang bagaimana keadaannya? Apakah Anda tidak berusaha mencarinya ke sana?” kejarku penasaran.
Ia tampak menarik napas panjang sambil kembali meneguk minumannya. Kini tak kutemukan lagi seukir senyuman pun di bibirnya. “Saya sudah ke sana dan sudah bertemu dengannya.”
“Lalu?”
“Dia menolak ikut dengan saya. Katanya dia lebih menginginkan sorga yang dijanjikan Allah dari pada sorga yang saya tawarkan. Dia malah menuduh saya sebagai salah seorang tokoh perusak peradaban dunia. Mafia kelas dunia! Bisnis amunisi yang saya geluti dianggapnya sebagai bisnis maut yang merangsang setiap negara untuk berperang.” Ada pendar sedih di mata lelaki itu. Kembali ia meneguk habis minumannya.

“Harus diakui, tanpa peperangan, bisnis ini akan mati. Senjata-senjata tidak akan laku.” Ia tersenyum getir. “Anda tahu bagaimana perasaan saya mendengar tuduhannya saat itu? Saya seperti berhadapan dengan seorang musuh kecil yang siap menghancurkan saya, tanpa saya mampu berbuat apa-apa.” Lelaki itu menelan ludah dengan raut pilu. Terlihat jelas ia hanyut oleh perasaannya.
Aku jadi teringat pada kesaksian Sam Cummings lima tahun yang lalu pada Komisi Hubungan Luar Negeri Senat, “Bisnis amunisi ini hampir menyerupai sebuah mesin yang bergerak terus menerus. Semua orang mengakui bahwa perlombaan senjata merupakan sebuah bencana dan pada akhirnya akan timbul suatu konflik yang akan menghancurkan dunia beradab. Adapun problemnya sekarang adalah; Siapakah yang akan mengambil langkah pertama untuk sungguh-sungguh mundur?”
Galau kutatap sosok di hadapanku.

“Setahun kemudian saya mendapat kabar bahwa Sayyid Husein telah mati tertembak di pinggir kota Kabul. Ia telah mendapatkan apa yang diimpikannya. Yaitu syahid di jalan Allah! Tapi yang sangat memukul perasaan saya…, di tubuhnya bersarang tujuh peluru yang dimuntahkan oleh senjata keluaran Deadlock. Putra saya mati oleh senjata buatan Shed Brothers, ayahnya sendiri!” Suaranya sarat emosi.

Aku menelan ludah yang tiba-tiba menyekat di tenggorokan. Kini mata lelaki itu tampak berkaca-kaca. Dan sesuatu yang sangat luar biasa pun menyergapku. Sebab yang di hadapanku ini bukanlah orang sembarangan. Seorang lelaki keturunan Arab yang namanya sudah jadi trademark senjata berat. Jadi karena kisah itukah ia tadi mengingatkan aku untuk sering-sering mengunjungi putra dan ibuku?
“Maaf, bagaimana dengan istri Anda, Tuan Shed?” Aku jadi teringat pada istrinya yang sejak tadi tak pernah ia singgung-singgung.

Lelaki itu tampak sedikit tersentak, lalu wajah tampannya kembali terlihat muram. “Istri saya… Hm, bicara tentang Najlah hanya membuat saya semakin kecewa pada diri saya. Dialah satu-satunya wanita yang saya cintai di dunia ini setelah ibu saya. Wanita yang memiliki kasih seluas samudra, yang memiliki telaga bening di kedua bola matanya dan memiliki madu di setiap senyumnya. Wanita tercantik di kerajaan hati saya…”

Aku tertegun mendengar kalimatnya yang begitu puitis memuja wanita bernama Najlah itu. Cantik seperti Emilia kah?
“Jangan Anda bayangkan dia seperti Marilyn Monroe!” Tatap matanya berubah tajam. “Sebab Najlah adalah wanita yang terjaga dari pandangan apalagi sentuhan laki-laki manapun. Tapi sayang, saya tidak diberi kesempatan lama untuk hidup bersamanya. Dia telah meninggal saat Sayyid Husein berusia delapan tahun. Seusia putra Anda sekarang.”

Aku menelan ludah. Ingatanku melayang ke Montana, di mana ibu dan putraku yang baru berusia 8 tahun kini berada. Putraku yang malang karena pada usianya yang masih kana-kanak itu ia sudah harus hidup tanpa belaian seorang ibu. Sama seperti Sayyid Husein. Tapi tentu saja ada bedanya. Emilia, istriku yang cantik itu lebih memilih hidup mewah dengan seorang lelaki kaya dari Perancis. Ya, sudah pasti ia tak bisa dibandingkan dengan wanita bernama Najlah itu.


Montana, 2002
Dad, benar seperti kata Daddy dulu. Bahwa pabrik dan perusahaan amunisi sangat berperan dalam menghancurkan peradaban dunia. Peperangan memang sengaja diciptakan oleh manusia-manusia serakah yang haus harta dan kekuasaan. Sementara rakyat yang harus membayarnya dengan tetesan keringat dan darah. Di tengah kecamuk perang ini saya jadi berpikir, andai saja senjata-senjata pembunuh massal itu tak pernah diciptakan…

Aku terpaku di tempat dudukku. Inilah surat pertama putraku, Alejandro De Carlo, sejak ia berangkat ke Afghanistan bulan lalu. Ya, ia telah menjadi reporter sebuah editorial ternama di Amerika. Profesi yang telah puluhan tahun aku geluti, dan telah mengantarkanku pada sebuah pengalaman amat berharga. Yang mempertemukan aku dengan seorang tokoh legendaries, yang sejarah hidupnya terus kusimpan sebagai kenangan terindah. Sebab akulah satu-satunya orang yang sempat berfoto dengannya, dalam suasana santai di dalam Boeing 737 miliknya.

Masih terbayang betapa buncahnya hatiku ketika salah seorang pelayan Tuan Shed mengambil gambar kami berdua. Ya, berdua! Gambar yang membuat nama dan wajahku semakin dikenal di daratan benua ini sebagai wartawan profesional. Dengan bangga editorial tempat aku bekerja memuat foto itu besar-besar pada halaman depan. Dan editorial lainnya tanpa malu-malu membuat reproduksinya, karena memang itulah satu-satunya foto Tuan Shed yang pernah muncul di media. Ah, sebegitu hebatnya tokoh dengan label Shed Brothers itu di mata dunia. Tapi bagiku, ia jauh lebih hebat lagi.

Aku masih ingat, beberapa bulan setelah wawancara itu, Deadlock seperti hilang ditelan bumi. Nama Shed Brothers lenyap tak berbekas. Seiring dengan menghilangnya Deadlock, muncullah sebuah perusahaan baru yang bernama Lockfree. Perusahaan amunisi yang sejak saat itu menguasai seluruh jaringan senjata di dunia. Secara langsung atau tidak ia telah menjadi pengendali peradaban. Perang atau damai, sangat tergantung pada kepentingan Lockfree dan orang-orang di belakangnya. Tak peduli apakah itu akan menghancurkan peradaban atau bahkan memusnahkan bumi ini demi memenuhi ambisi mereka.

Meski demikian, aku yakin Lockfree tidak akan pernah bisa menyamai kebesaran pamor Deadlock. Tak akan ada nama yang bisa melegenda seperti halnya Shed Brothers. Sebab Tuan Shed hadir seperti seorang Pangeran dalam dongeng The Arabian Nights, begitu memukau dengan segala keglamouran dan kharismanya yang mempesona. Pangeran yang telah meninggalkan tahtanya 30 tahun silam demi melanjutkan perjuangan putranya. Demi mempertahankan peradaban yang terlanjur dinodai oleh kehadiran Deadlock, perusahaan yang ia dirikan sendiri. Dan kini, adakah orang-orang di belakang Lockfree akan menyadari juga hal itu? (NoS)

(Terinspirasi oleh sosok bernama Adnan Khashoggi)

4 responses to this post.

  1. sebuah novel yang sangat bagus! saya ingin bisa membuat cerita sebagus anda…

    Reply

  2. Belum sempat baca semua, lain waktu yawh…

    Reply

  3. Posted by walsujajal on April 12, 2009 at 5:26 pm

    penyampaian yang indah dalam bahasa, isi dan komposisi……….. Salut
    …sampai2 masuk kedalam relung rasa indah yang pualing dalem.

    Reply

  4. Posted by syifa on August 30, 2009 at 3:28 pm

    pernah baca, tapi lupa dimana. manusia (esp.pria) tanpa perang? kayaknya ga mungkin.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: