Penghargaan

Samuel Mulia

Itulah yang sering kali membuat saya iri hati. Apalagi bila sedang menyaksikan tayangan langsung di televisi saat pemberian anugerah tertinggi di dunia perfilman, seperti ajang Oscar.

Setiap tahun iri hati saya tak pernah kunjung padam. Pertanyaannya sama saja, kapan dalam hidup saya sebuah penghargaan mampir di genggaman tangan? Apalagi yang berkelas dunia. Dan setelah menerimanya, saya membayangkan dihujani lampu kilat karena selama ini saya sudah dihujani air dari atas dan dari mana saja dan nyaris kena sambaran kilat sesungguhnya minggu lalu saat berdiri di lokasi tertinggi hotel berbintang, yaitu di lantai 61, di Bangkok yang berhujan.

Berbicara soal Bangkok, awalnya kota ini tak memikat mata. Kemacetannya cukup membuat saya kesal. Bagaimana tidak? Saya baru saja dengan riang hati keluar dari rimba kemacetan Jakarta, terbang tiga jam di kelas bisnis yang nyaman, sekarang kok justru masuk ke rimba kemacetan Bangkok. Melihat suasana kotanya, saya jadi teringat Jatinegara yang satu bulan sekali saya kunjungi untuk urusan mengecek kesehatan di dokter langganan. Teman saya di Bangkok yang orang Indonesia bilang begini, “Gue sering merasa beberapa bagian dari kota ini seperti daerah Tebet, bo.” Jadi, saya yang katanya ke luar negeri malah seperti sedang mengobok-ngobok Jakarta.

Memberi bukti, bukan janji

Itu kesan awalnya. Setelah beberapa hari, tanpa saya sadari, hati saya mulai berbicara dan saya mencoba mengubah cara memandang kota ini dengan menggunakan ’hati’ daripada sekadar mata telanjang. Berarti mata yang telanjang harus kena RUU APP. Hasilnya cukup berbeda, bahkan saya jatuh hati karenanya. Kalau hanya dengan mata saja, seperti biasa, saya sangat cepat menghakimi. Sekarang, ketika mencoba melihat dengan hati, saya malah disindir habis-habisan oleh kota ini.

Saat menunggu giliran pemeriksaan paspor yang lumayan panjang dan memegalkan kaki karena wisatawannya sebanyak para manusia yang seperti sedang memenuhi butik sedang sale besar-besaran, sebuah kalimat muncul dalam bentuk running text yang tepat di hadapan saya.

Kalimat berjalan itu berbunyi begini, We love our King. Saat saya berakhir pekan itu, masyarakat Thailand baru dan tengah merayakan 60 tahun bertakhtanya Sang Raja yang tercinta. Kalimat itu kemudian menusuk saya—padahal saya sudah berdiri kelelahan, kaki pegal, masih harus ditusuk pula. Pertanyaan yang langsung melintas di kepala saya adalah, “Do I love my King?” Meski NKRI ini tak punya raja, saya tak bisa menjawab. Sesungguhnya, saya tak berani menjawab.

Penghargaan terhadap Raja tak hanya diwujudkan dengan kata-kata. Masyarakatnya melakukan aksi nyata. Mereka benar-benar menganut filosofi kami memberi bukti, bukan janji. Salah satu pembuktian aksi mencintai itu adalah berpenampilan dengan mengenakan atasan berupa kemeja polo atau kemeja T berwarna kuning sepanjang minggu, khususnya pada hari Senin. Aksi ini, menurut teman saya, akan dilakukan selama satu tahun.

Di samping atasan warna kuning, mereka juga mengenakan gelang karet berwarna oranye bertuliskan We Love Our King. Saya ingin membeli dan mengenakan atasan kuning dan gelang karet itu, tetapi bingung, lalu mengurungkan niat untuk membeli. Alasannya? Pertama, saya tak punya raja. Kedua, raja di Thailand bukan raja saya. Ketiga, saya belum bisa menjawab, “Do I love my ’King’?”

“And the Winner is…”

Fakta soal pria-pria kemayu bak wanita telah menjadi buah bibir Bangkok. Hanya the ladyboy dan dunia esek-esek yang kondang di mata dunia dan di mata saya. Itu contoh bila melihat dengan mata saja. Ketika saya mulai melihat dengan “hati”, yang menarik adalah bagaimana masyarakatnya mampu bertoleransi dan sekaligus memberi penghargaan kepada mereka yang dianggap tidak normal itu. Yang tidak normal itu di negeri bersilakan kemanusiaan yang adil dan beradab ini disebut banci.

Soal toleransi ini membuat saya seperti ditempeleng kiri dan kanan karena saya tak pernah punya rasa toleran tinggi. Saya lebih sering mengejek daripada menghargai hak orang.

Ada begitu banyak laki-laki berias wajah bak wanita dengan suaranya yang mengalahkan suara saya saat bangun pagi. Tetapi, mereka bisa mendapat kesempatan bekerja yang sama dengan manusia yang menganggap dirinya normal. Di mal, di rumah makan, di kedai roti, di lapangan terbang, bahkan sebagai pengojek, dan pegawai pembersih gedung. Karenanya, bukan sesuatu yang mengherankan kalau sekali waktu saya pernah melihat petinju pria Thai berdandan layaknya perempuan dan berlaga juga di ring tinju. Lawannya yang lelaki tulen perlu sarung tangan, ia memerlukan sarung tangan, pemerah pipi, dan foundation.

Bila mereka mendapat pekerjaan seperti layaknya manusia lain, itu berarti perusahaan di mana mereka bekerja telah memberi penghargaan kepada mereka, apa pun risikonya. Itu hanya bisa dilakukan bila pemilik perusahaan melihat dengan hati, bila semua orang punya hak sama. Kecuali orang Indonesia seperti saya yang langsung tertawa geli dan terus mulai mengomentari ini dan itu, karena bisanya cuma melihat pakai mata. Mungkin saya terbiasa di negeri ini melihat pria kemayu yang berdandan semacam itu lazim dijadikan bahan tertawaan yang sedap disantap.

Akhir pekan di Bangkok merupakan akhir pekan penuh pencerahan sambil berkeringat karena kepanasan. Buat saya sekarang tak perlu mimpi terlalu jauh untuk mendapat Oscar. Buat saya, meraih penghargaan tertinggi adalah ketika saya mampu menghargai hak orang lain, mengasah kemampuan untuk menghormati apa yang mereka anggap baik, meski itu mungkin saja tidak cocok untuk saya.

Sekarang waktunya telah tiba, tukang kritik dengan mulut yang menghina seperti saya sebaiknya angkat kaki dari dunia ini.

Samuel Mulia Penulis Mode dan Gaya Hidup

Katanya “Gitu Loh”

1. Setelah bisa menghargai diri Anda sendiri, maka sekarang belajar menghargai orang lain. Kalau seseorang sudah mampu menghargai dirinya sendiri, akan jauh lebih mudah menghargai orang lain. Itu katanya, gitu loh.

2. Untuk bisa menghargai orang lain, Anda harus menghapuskan, atau dengan kata lebih halus lagi, menomorduakan diri Anda sendiri. Dengan mengutamakan orang lain, Anda bisa membuat hal-hal lebih besar lagi karena kalau hanya memikirkan diri sendiri terus-menerus Anda akan lupa orang lain dan hanya memupuk keegoisan Anda semakin subur dan tak akan membuat apa-apa untuk orang lain. La wong namanya egois, ya… tak bisa memikirkan orang lain. Itu katanya, gitu loh.

3. Menjadi jujur atau kejujuran merupakan nilai yang saya sukai dalam diri seseorang. Bila jujur, hidup akan jauh lebih enak, menjalankannya juga menjadi lebih ringan dan tanpa beban, meski ada risiko yang harus ditanggung. Dan setiap saat tak jadi main kucing-kucingan atau mengambil jalan belakang. Katanya, gitu loh! Meski, beberapa teman saya yang biseksual dan yang berselingkuh tak berani jujur dan tak siap menanggung risikonya. Jadi, mereka senangnya main belakang sama kucing, eh..salah. Main kucing di belakang.

4. Kalau mau menilai atau menjatuhkan penghakiman kepada seseorang, coba belajar melihat dengan hati dan bukan hanya dengan pandangan kasatmata saja. Bila Anda mendengar orang awak berbahasa Inggris dengan bunyi-bunyian seperti who do you think he are, atau Indonesia is a beautiful city, bisakah Anda menempatkan diri bila Anda seperti mereka? Mungkin saja kita sendiri belum tentu bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, bukan? Katanya, gitu loh.

5. Ingat, bila Anda bekerja di dunia adil mengadili, berhati-hatilah mengadili karena mereka yang Anda adili adalah ciptaan Sang Khalik. Jadi, sebaiknya mengadili dengan kebenaran. Jangan sampai ukuran yang tidak benar yang Anda pakai untuk mengadili. Ukuran itu akan dipakaikan untuk mengadili Anda oleh Sang Khalik. Itu namanya senjata makan tuan. Bayangkan, senjata saja bisa makan, bagaimana tuannya. Katanya, gitu loh! (samuel mulia)

Sumber : Kompas (Urban)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: