DAPUR

Cerpen Sunlie Thomas Alexander

SELALU ada gairah yang sama setiap pagi, meletup-letup serupa minyak panas di kuali. Sehabis membasuh muka di sumur, waktu Tie akan berputar di dapur. Di sana Ibu sudah menunggu, di antara asap tungku yang berjelaga, denting panci-sendok-piring, suara air mengucur ke bak dan minyak yang mendesis dalam kuali. Dapur mereka kecil dan dekil, tetapi Tie selalu betah berlama-lama, bahkan kerap berharap waktu akan berjalan lebih lambat di sana. Namun segera, selesai membantu Ibu, mandi dan memandikan adik lalu sarapan, ia harus bergegas berganti pakaian berangkat ke sekolah, yang berarti gairahnya mesti dipadamkan untuk sementara seperti api di tungku usai memasak.

Diperhatikannya wajah Ibu yang sedang menambah kayu bakar lalu mengangkat panci berisi air ke atas tungku. Di matanya, wajah Ibu begitu cantik, tampak merona merah oleh pantulan kobaran api. Entah kenapa, ia merasa Ibu semakin cantik setiap kali berada di depan tungku. Ia suka wajah Ibu yang merah terpanggang api tungku. Kata Bapak, Tie mirip Ibu. Tapi Tie tahu ia tidak secantik Ibu, terutama bila sedang berada di dapur.

“Tie, tolong ambil dan kupas bawang merah, ambil telur juga, kita sarapan telur dadar. Ibu cuci beras dulu,” kata Ibu menoleh sekilas.

“Iya, Bu,” ia semakin bersemangat. Dibukanya pintu lemari kecil di sudut dapur, dan pintu yang sudah reyot itu mengeluarkan derit keras. Aroma bumbu dapur dan ikan asin segera menyerbu hidungnya. Ia menarik nafas dalam-dalam menikmati aroma campur-baur itu. Dirogohnya piring besar di rak paling bawah di mana bawang merah disimpan bersama cabe, merica, pala, bawang putih, kunyit, dan bumbu lainnya. Kemudian meraih lima butir telur dari dalam kantong plastik yang tergantung di samping lemari.

Sementara Ibu mencuci beras, ia mulai mengupas bawang merah satu per satu di meja makan, dengan hati-hati sebab tangannya pernah tergores pisau dapur yang tajam. Sebentar lagi Bapak dan adik akan bangun. Ia ingin pekerjaannya sudah rampung setelah Bapak mandi. Benar, tak lama kemudian terdengar suara batuk Bapak disusul langkah-langkah berat keluar dari kamar. Tie menoleh dan tersenyum ketika Bapak masuk ke dapur. Bapak mengelus kepalanya dengan lembut ketika melewatinya ke sumur.

“Kim, handukku di mana?” Ia mendengar Bapak berseru dari sumur.

“Sudah kugantung di pintu kamar mandi!” Sambil mengaduk beras dalam kuali, Ibu balas berteriak dari depan tungku. Beberapa saat kemudian terdengar suara air mengguyur.

Selesai mengupas bawang, Tie meraih mangkok dari rak piring dan mulai memecah telur. Sebenarnya ia ingin sekali menggoreng telur, tapi Ibu tak mengizinkan lagi. Kata Ibu, telur gorengannya tidak enak. Ia hanya meringis waktu itu. Malu. Tapi dalam hati, ia bertekad suatu hari ia harus bisa membuat telur dadar seenak buatan Ibu. Tentunya Ibu, Bapak, adik, juga Panjul akan senang dan memujinya. Wajahnya bersemu merah membayangkan hal itu.

“Ibu yang masak,” jawabnya setiap kali Panjul bertanya dan memuji lauk yang dibawanya ke sekolah. Ia memang selalu membawa nasi ke sekolah, karena Ibu tak pernah memberi uang jajan. Dan, dengan senang hati, ia selalu membagikan nasi dan lauknya kepada Panjul (Ah, di matanya Panjul mirip dengan Bapak, penyabar, tak pernah garang, walau ia tahu dari Ibu kalau Bapak berwatak keras). Panjul yang kerap memasang badan bila ia diganggu anak-anak bengal, membantunya mengerjakan soal matematika yang sulit. Demikianlah mereka berkarib akrab, tak peduli dengan olokan sinis yang kerap mampir saat mereka berdua: “Hei, Amoi betunang kek Melayu!”1. Ibu Panjul seorang janda yang berjualan cabe di pasar, bapaknya mati tertimbun tanah di pertambangan (sering Tie cemas membayangkan Bapak yang sedang bekerja di tambang bila hujan turun deras), dan tak pernah bawa makanan, apalagi berjajan.

“Sudah selesai aduk telurmu, Nak?” tanya Ibu, “Buatlah kopi untuk Bapak.” Terdengar suara air mendidih dari panci di atas tungku. Tie mengangguk, segera ia meraih cangkir dan sendok lalu membuka lemari mengambil gula dan kopi. Tiga sendok kopi dan cukup satu sendok gula, ia hafal benar takaran Bapak. Bapak tidak suka kopi yang manis. Dicedoknya air dari dalam panci yang mendidih dengan gayung dan menuangkannya ke dalam cangkir. Entahlah, ia membayangkan sedang menyeduh kopi untuk Panjul. Tanpa sadar gayung bergeser dari mulut cangkir, dan air mendidih itu menyiram tangan kanannya yang sedang mengaduk kopi. Ia menjerit. Cangkir kopi terhempas. Pecah berhamburan di lantai dapur. Ibu berteriak kaget. Dari dalam kamar, terdengar suara adik menangis.

***

YA, Tie menyukai dapur. Lantai becek, aroma bumbu masak, dan panas api tungku. Ketika anak-anak perempuan sebayanya lebih suka bermain gelang karet, lompat tali, cak lingking, atau petak umpet, ia ingin sekali seperti Ibu yang cekatan mengupas bawang, membolak-balik telur dadar di kuali, atau meramu bumbu asam pedas. Karenanya ia tak pernah telat bangun subuh demi membantu Ibu, atau ingin berlakon seperti Ibu? Walau matanya sering terpercik bara tungku kala meniup api atau minyak panas di kuali yang meletup-letup sehingga membuat Ibu mengomel. Dan pagi itu, kopi untuk Bapak tumpah dengan cangkir pecah pula! Duh, kesedihan diam-diam merayap dalam hatinya.

Padahal betapa ia ingin bisa membuatkan sarapan seperti Ibu, membungkusnya untuk bekal Bapak di tempat kerja, atau bekalnya sendiri ke sekolah yang tentunya akan dibaginya dengan Panjul.

“Kau cukup membantu Ibu. Anak perempuan memang harus belajar pekerjaan dapur. Tapi bersabarlah, Nak. Kau masih kecil,” sering Ibu berujar. Ya, usianya memang baru sebelas tahun, meski orang akan menyangka lebih bila melihat badannya yang bongsor telah menunjukkan keperempuanan.

Ada keriangan yang selalu ia temukan di wajah cantik Ibu yang kemerahan terpanggang api tungku. Meski Bu Annisa, guru sejarahnya di sekolah mengatakan kalau perempuan tak harus di dapur, bukan lagi zamannya perempuan harus mengerjakan segala pekerjaan rumah. Tentu, Bu Annisa sering bercerita tentang Kartini dengan berapi-api di muka kelas, tak hanya di bulan April saja.

“Itu kan karena dia tak laku-laku!” sinis kata-kata yang terlontar dari mulut para ibu, apalagi ketika anak gadis mereka malas membantu di dapur. Demikian Tie sering menyimak percakapan di warung tatkala ia mampir sekadar membeli permen dan kerupuk, atau disuruh Ibu membeli gula-kopi dan rokok Bapak. Terkadang kawan-kawannyalah yang menyampaikan omelan ibu mereka saat istirahat di sekolah. Hanya Ibu yang tak pernah mengata-ngatai Bu Annisa. Ibu hanya mengulum senyum ketika ia mengulang cerita Bu Annisa sesampai di rumah. Ia tahu, akan perih benar kata-kata cibiran itu tatkala sampai ke telinga gurunya (dan pasti bakal mengendap meski ketika masuk ke telinga kiri segera diupayakan keluar dari telinga kanan).

Tapi Tie tahu pula, kalau kawan-kawannya lebih mengagumi Bu Annisa (daripada ibu mereka sendiri) yang selalu rapi dalam balutan seragam kuning pegawai negeri. Dengan kacamata mungil yang manis dan rambut tergerai sebahu, Bu Annisa senantiasa tampak anggun dan berwibawa di muka kelas meski kadang galak, tidak seperti ibu mereka yang bercelemek kotor dengan dunia yang cuma berputar di sekitar dapur, paling jauh warung dan pasar. Tentu pula beraroma asap tungku dan bumbu yang menusuk hidung, berbeda dengan aroma parfum Bu Annisa yang wangi melati. Bila topik pembicaraan ibu mereka hanya berkisar soal suami (dengan sesekali cekikikan) atau soal anak (mereka), atau paling seru hanya gosip tentang anak gadis si anu yang tahu-tahu bunting di luar nikah dan kisah-kisah sinetron, Bu Annisa dapat mengisahkan dengan seru cerita Perang Aceh dan Cut Nyak Dien, kadang-kadang juga bercerita masa kuliahnya di Jogja.

Tie juga suka pada Bu Annisa, tapi ia lebih mengagumi Ibu. Entahlah. Mungkin karena Tie selalu melihat bagaimana cerianya wajah Ibu setiap kali memasak, walau ia mengetahui kesedihan yang disimpan Ibu diam-diam lantaran uang belanja dari Bapak sering tak cukup –sehingga Ibu harus pandai berhemat, terkadang terpaksa berhutang pada tetangga.

Maklumlah, Bapak cuma kerja ngelimbang2 timah, bukan buruh tambang harian yang akan mendapat gaji mingguan dan mendapatkan pie3 dari setiap kilo timah seperti bapaknya A Kwet, Rudi, Ahmad, dan Siti, apalagi bapaknya A Liong yang pemilik tambang. Bapak hanya mencari sisa-sisa timah yang dihanyutkan di tailing4 di lokasi tambang, atau kadang mendapatkan imbalan sekilo-dua kilo timah bila tenaga Bapak dibutuhkan membantu pertambangan, leman istilahnya. Namun akhir-akhir ini, semakin keruh wajah Bapak meski masih suka mengajak berkelakar.

“Sulit cari lokasi ngelimbang kini, Dik. Kawan-kawan yang kerja tetap saja pada mengeluh karena timah makin berkurang. Sekarang yang punya modal pun belum tentu bisa peroleh lokasi pertambangan.” Demikian suatu malam Tie diam-diam menyimak keluh-kesah Bapak pada Ibu dari balik dinding kamar.

Tapi wajah Ibu tetap saja tampak ceria setiap menyiapkan sarapan atau makan malam. Tetap saja cantik terpanggang api tungku.

“Tak baik menunjukkan kesusahan. Itu tandanya kita tak mensyukuri rezeki,” kata Ibu sambil membakar hio. Setiap pagi pukul tujuh dan sore pukul lima, Ibu selalu membakar tiga batang hio dan berdoa dengan khusyuk di depan altar kecil Dewa Co Lu Kong di sudut dapur. Dewa Co Lu Kong, kata Ibu, bertugas mengawasi dapur dan mengatur rezeki setiap keluarga. Setiap tahun menjelang Tahun Baru Imlek, dia akan naik ke khayangan untuk melaporkan tingkah laku kita di dapur selama setahun kepada Kaisar Langit. Maka kalau kita bertingkah baik, tidak banyak mengeluh, dan rajin membakar hio, niscaya rezeki kita akan berlimpah, tukas Ibu.

Tapi dapur mereka tetap saja kecil, dekil, dan becek dengan lantai semen pecah-pecah. Tidak seperti dapur Bibi Lian di rumah sebelah yang besar, bersih dengan lantai keramik dan tak lagi memasak menggunakan tungku melainkan gas elpiji, meski dari rumah tetangga itu kerap terdengar suara piring-piring pecah. Sekarang atap genteng dapur mereka banyak yang bocor pula dan Bapak belum sempat memperbaikinya, sehingga kalau hujan Ibu sering kelabakan karena air hujan menetes di samping tungku.

Alangkah tabah Ibu! Kebanggaan itu bermekaran dalam pikiran Tie, membuatnya semakin kagum pada Ibu, dan tentu, cinta pada dapur sebagaimana ia mengartikan rona kemerahan di wajah Ibu yang terpanggang api tungku.

Maka selalu kegairahan yang sama ia rasakan setiapkali masuk ke dapur, subuh maupun sore. Tak pernah surut, justru kian terasah seperti tajam pisau dapur.

“Lihat si Tie, rajin membantu ibunya, tak seperti kau pemalas! Tahunya makan!” pernah ia mendengar Bibi Hung memarahi Maylin teman sekelasnya. Dan ibunya yang ikut mendengar hanya mengulum senyum tipis sembari mengusap-usap rambutnya.

Ia, juga Ibu tak pernah tahu, tentu saja, kalau pagi itu adalah pagi terakhir mereka menyiapkan sarapan bersama. Pagi terakhir ia melihat rona memerah di wajah Ibu. Sebab menjelang petang, sebuah kabar buruk bertandang tak terduga, membuat Ibu terhuyung dan niscaya jatuh bila tak berpegang pada pintu dapur. Mang Udin datang membawa berita dengan wajah pucat dan menyampaikannya tersendat-sendat pada Ibu: Bapak terbenam pasir yang longsor di lubang camuy5! Ikan yang sedang digoreng Ibu gosong di kuali dan Tie langsung teringat pada cangkir kopi Bapak yang dipecahkannya, berkeping-keping di lantai dapur…

***

TIE yakin, Ibu memang perempuan yang tabah, mungkin setabah batu tungku. Meski semenjak sore kabar buruk itu bertandang, ia tak pernah lagi melihat rona memerah di wajah Ibu, juga merasakan gairahnya sendiri yang sepanas api tungku setiapkali masuk dapur. Ah, dapur itu kini terasa senyap dan dingin tanpa Ibu, walaupun setiap subuh dan sore ia selalu menghidupkan api di tungku. Sebentar-sebentar menambahkan kayu bakar dan meniupnya agar tak padam.

Tujuh hari setelah Bapak meninggal, Ibu –sambil mengusap linang air mata yang bukan tersebab pedas bawang atau terpercik bara api tungku–memutuskan bekerja sebagai penjaga warung di Pantai Bubus, di mana orang-orang ramai membuka tambang apung (Ai, setelah lokasi pertambangan di darat kian sempit!).

“Ibu percaya kau bisa mengurus dirimu sendiri dan menjaga adikmu. Ibu harus cari duit agar asap dapur kita tetap mengepul dan kalian bisa sekolah,” kata Ibu lirih sehabis menerima tawaran Ce6 Ayun, pemilik warung di Pantai Bubus yang masih saudara jauh.

Tie ikut menangis memikirkan akan jarang bertemu Ibu, karena hanya sesekali saja Ibu bisa pulang. Tapi ia mengerti Ibu pun sebenarnya tak ingin meninggalkan ia dan adik. Ia ingin mencegah Ibu, tapi ia tahu kalau hal itu tak mungkin, seperti juga Ibu tak mungkin membawa adik dan dirinya ke warung di tepi pantai itu. Ah, untung adik tak sering rewel ditinggal Ibu, juga bila ia pergi sekolah dan terpaksa menitipkan adik pada Bibi Lian. Tie ingin setabah Ibu.

Tapi adakah ia punya ketabahan sekeras batu tungku, bila kemudian gunjing yang beredar kadang lebih tajam dari pisau dapur, kerap mengiris-iris telinga atau menghunjam ke ulu hati.

Ya, sejak Ibu bekerja jauh di tepi Pantai Bubus sebagai penjaga warung, selentingan gunjing mulai beredar tak sedap seperti aroma telur busuk di lemari dapur. Selalu saja ada yang berbisik, tak di warung, tak di jalan, atau bahkan di sekolah: “Lihatlah itu si anak malang, setelah ditinggal pergi bapak, ibunya kini menjelma bekicot pula…” Dan Tie sudah paham apa maknanya kiasan itu. Bukankah bekicot yang dulu sering ia tangkap di sumur memang telah lama menjadi semacam ujar-ujar di kampung? Lendirnya lengket dan menjijikkan, ketika suatu hari tanpa sengaja Tie memecahkan kulit lunak binatang itu.

Ah, memang sudah rahasia umum kalau perempuan yang bekerja di warung-warung di sepanjang Pantai Bubus, tidaklah sekedar menjaga warung. Tetapi mesti kenes merayu lelaki –ai, para penambang yang perkasa– untuk selalu mampir ke warung yang buka sampai subuh dan genit menemani minum, syahdan, hingga ke atas ranjang yang tersedia di belakang warung, dekat dapur (“Perkara lendir!”, seloroh orang-orang kampung lalu tertawa terbahak-bahak).

Jelas Tie tak sanggup membayangkan Ibu bermulut kenes dan bermata genit. Tak mungkin Ibu akan berlaku seperti dalam jahat gunjing. Ibu perempuan dapur yang hanya menjadi tukang masak dan penjaga warung. Panjullah yang kemudian selalu menghibur, juga Bu Annisa. Ah, sejak Bapak meninggal dan Ibu mesti menepi ke tepi pantai yang rawan, ia dan Panjul memang semakin akrab dan kian sering bersama, bermain atau belajar.

Tapi, tentu itu tak cukup jadi penghibur. Tie jadi sering melamun. Selalu saja dibayangkannya hangat dapur dengan asap tungku yang berjelaga, denting panci-sendok-piring, derit timba di sumur, dan suara minyak panas mendesis di kuali dengan wajah Ibu yang merona cantik di depan tungku (O, dengan segenap rindu!). Dan bila sudah begitu, air matanya kembali tumpah tak terbendung. Terkadang, sempoyongan ia akan berlari ke dapur…***

Mei 2006

Kosa Kata Bangka:

1 Hei, gadis Tiongkok pacaran dengan Melayu!

2 Mendulang timah dengan tangan.

3 Sistem pembagian hasil dengan perjanjian.

4 Aliran pembuangan air dan pasir dari sakan (pedulangan).

5 Lubang tempat pasir timah dihanyutkan sebelum dialirkan ke sakan (pedulangan).

6 Panggilan untuk kakak perempuan atau perempuan yang lebih tua (Cina-Hakka).

Sumber : Jawapos, Minggu, 23 Juli 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: