“Human Error”

Suka Hardjana

Banjir, gempa, gunung meletus, petir, geledek, angin puyuh, pastilah bukan sesuatu yang disebabkan oleh ulah manusia. Itu semua proses alam yang terjadi karena hukum alam di luar kuasa manusia. Tetapi, akibat dari peristiwa-peristiwa alam yang di luar jangkauan kuasa manusia itu bisa saja menimbulkan akibat tak terelakkan—karena ulah manusia. Banjir yang membuat banjir sangat boleh jadi disebabkan karena ulah manusia. Maka bangsa-bangsa Mesir, Mesopotamia, dan China kuno yang punya banyak sungai besar sudah ratusan tahun yang lalu membuat tanggul-tanggul dan sodetan raksasa untuk mencegah agar banjir tidak membuat banjir. Contoh lain. Bila di zaman yang dibilang super modern ini masih ada juga orang bikin rumah atau bangunan tinggi tanpa penangkal petir, maka bila bangunan itu tiba-tiba kesamber geledek, tentulah bukan salah geledek. Itu salah pembuat bangunan tanpa prosedur pengaman. Begitu juga dengan gempa dan gunung meletus yang tak terelakkan. Bukan salah gunung dan gempa yang bikin petaka. Gunung dan gempa tak pernah bersalah.

Tapi bila yang berwenang membuat penangkal penghindar dan pengelak jatuhnya banyak korban letusan gunung dan guncangan gempa tak menciptakan aturan standar peringatan dan pertolongan dini yang bisa diberlakukan secara umum buat semua orang—terutama bagi warga dan mereka yang bisa diduga sangat mungkin bisa terkena dampak langsung bencana alam—maka kesalahan dampak petaka alam itu bisa dialamatkan langsung kepada mereka yang lalai membuat Peraturan berdasarkan Undang-undang Keselamatan Umum, yang bahasa sononya dikenal sebagai Standard Security Act. Kesalahan mendasar yang disebabkan oleh ulah atau kekhilafan manusia itu disebut human error. Lantas siapa yang disebut mereka “yang berwenang” membuat aturan standar peringatan dan pertolongan dini? Pemerintah! Pemerintah wajib dan berwenang melindungi semua warganya dari banyak korban akibat bencana alam.

George W Bush dihujat habis-habisan dan diusulkan untuk dicopot dari jabatannya sebagai Presiden AS oleh sebagian warganya, karena dianggap lamban dan lalai melakukan peringatan dan pertolongan dini bencana alam di New Orleans, Miami, dan LA. Padahal aturan perlindungan umumnya sudah ada. Nah, bencana alam dan bencana kemanusiaan itu bukan serta-merta menjadikan alam sebagai kambing hitam. Manusia jualah yang pada akhirnya sangat mungkin harus dikambing-hitamkan karena kesalahan dan kekhilafan besarnya. Contohnya banyak.

Sudah lama dan berulang-ulang diperingatkan melalui media bahwa banjir yang membuat banjir itu karena ulah manusia yang habis-habisan menggunduli hutan secara membabi buta. Jangan salahkan maling hutan melulu, tetapi salahkan juga mereka yang tak becus ngurusi maling hutan. Maling itu dasarnya maling, tetapi yang berwajib itu (pemerintah) tugasnya ngurusi (memberantas, jangan salah baca) maling. Lha ketika maling hutan tak bisa diberantas, hutan jadi gundul maka banjir pun menjadi banjir yang mengacaukan ekosistem. Dan ketika ekosistem kehilangan keseimbangan, alam pun jadi rusak. Air meluap sampai jauh seperti lirik lagu Bengawan Solo—menggenang kota dan desa-desa. Laut mbludak jadi tsunami. Gempa menari-nari menggoyang bumi. Ironisnya, di musim kemarau tanah kering menjadikan bumi gersang tak bisa ditanami.

Hutan terbakar-bakar menimbulkan ekspor asap ke negara tetangga, menjadi penyebab sumpah serapah yang tak enak didengar. Setiap tahun hal serupa terus saja terjadi tanpa bisa diatasi. Tetangga bilang, “Hutan banyak, ngurus tak cakap. Macam mana encik?” Itu human error, bukan salah alam mengandung bumi! Tergenangnya tanah-tanah publik berupa sawah, jalan, perumahan dan sebagainya oleh lumpur panas di Sidoarjo jelas bukan kesalahan alam. Menyemburnya lumpur panas adalah reaksi alam atas aksi human error ulah manusia. Pasti ada prakondisi studi kalkulasi teknologis yang kurang presisi. Dalam teknologi industri modern, kelemahan seperti itu disebut sebagai human error bawaan. Kecelakaan-kecelakaan kereta api di Indonesia juga banyak karena faktor human error.

Kalau masinis menjalankan kereta api tanpa simbol-simbol semboyan perintah jalan, atau ada perempuan yang konon dibilang kurang waras bisa melajukan lokomotif yang tak terjaga, itu seratus persen juga human error. Mendaratkan pesawat udara dengan ban gundul berlapistambal (vulkanisir)—dengan atau tanpa kecelakaan—jelas sebuah error mendasar sejak awal. Begitu juga mengemudikan bis, kendaraan umum, maupun kendaraan pribadi lainnya dengan rem blong atau tanpa syarat-syarat standar minimal sekuriti pengendara lalin, adalah human error yang berbahaya.

Melanggar rambu lalu-lintas sehingga menimbulkan kecelakaan pihak lain yang tak bersalah adalah human error fatal. Mengoplos bahan bakar avtur pesawat dengan air? Mutlak, human error! Lantas, apa sesungguhnya human error itu? Tak ada terjemahan-nya. Human error bukan sekadar kesalahan manusia atau kesalahan manusiawi. Terjemahan seperti itu bisa bikin rancu. Human error adalah sebuah terminologi. Ia muncul dan cepat menjadi semboyan publik pada awal abad ke-19 seiring maraknya penemuan-penemuan yang terbarukan di bidang teknologi industri.

Terutama industri permesinan (machinery), kemudian teknologi perlistrikan (electronic). Presisi mesin dan elektronik dipujikan sebagai kecermatan perhitungan teknologis yang tak boleh meleset dalam prosedur operasionalnya. Bila sesuatu meleset dalam pra kalkulasi, atau ada kesalahan prosedur operasional—sesuatu yang harus dihindari dan tak boleh terjadi—maka hal itu akan menyebabkan terjadinya suatu insiden yang disebut panne (damage). Kekeliruan mendasar semacam ini disebut human error. Jadi, antara nasib (yang alam) dan error teknologi (yang human, bukan humane) adalah dua hal yang terpisah dan jauh berbeda dalam alasan-alasannya. Nasib, teknologi, dan hidup modern. Apa kita paham ya?

Sumber : Kompas (Asal Usul)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: