Badai

Evi Idawati   

MALAM merambat begitu pelan, rintik hujan menjadi irama yang meninabobokan. Sesekali suara guntur membelah malam. Aku masih membaca buku. Asyik dengan kata-kata yang kulalui dengan mataku. Rasa dingin menggigilkan hati. Meski ngantuk menyerangku, aku belum ingin menutup buku.

Mi…” suara anak kecil memanggilku. Di depanku berdiri Bee, anakku yang ketiga. Tangannya memeluk guling kecil, yang dia dekapkan di dadanya. Matanya memandangku. Takut mengganggu. Selama ini memang ada kesepakatan di antara kami, keluargaku, kesepakatan yang tidak tertulis, jika kami sedang membaca buku, jarang ada yang berani mengganggu. Meski hanya sekadar bertanya.

”Ada apa sayang?”

”Mami, masih lama membaca?” dia balik bertanya.

”Mami sudah selesai kok. Sini…” aku memintanya agar mendekatiku. Dia berjalan mendekati. Duduk di pangkuanku. Aku memeluknya.

”Tidak bisa tidur? Takut?” dia mengangguk. Aku menggendongnya. Jam menunjukkan pukul 22.00 WIB.

”Boleh aku bertanya?” matanya menatapku dengan polos.

”Bertanya apa?” tanyaku padanya.

”Tentang kematian,” katanya masih dengan menatapku. Aku terkejut. Bee baru berumur tujuh tahun. Dibanding dengan kakak-kakaknya Bee memang dekat denganku. Tapi aku tak menduga pertanyaan itu keluar dari mulutnya.

”Kenapa orang harus mati?” kembali dia bertanya. Aku menghembuskan nafas. Berdiri, menggendong dia menuju ke kamar. Aku tidurkan Bee. Lalu aku berbaring di sampingnya. Aku mencoba mengingat-ingat pada saat aku seusianya. Apakah aku juga pernah bertanya hal itu pada ayah dan ibuku. Meski berusaha mengingat dengan keras, aku tetap tidak bisa mengingatnya.

”Mi, aku takut mati. Aku tidak takut mati sekarang,” suaranya pelan mengguncangkan aku. Aku tersenyum padanya. Mengusap-usap kepalanya. Dan mencium keningnya.

”Jika ada badai dan tsunami, aku harus bagaimana? Aku masih kecil, apakah aku juga akan mati seperti anak-anak Aceh, yang tidak bisa menyelamatkan diri? Lalu siapa yang menyelamatkan Mami, Papi, Mbak Dina dan Jade?” mata Bee menerawang ke langit-langit kamar. Tangannya memegang tanganku dengan kuat. Aku merasakan kecemasannya.

”Apakah tsunami juga datang di saat hujan deras seperti ini?” aku baru menyadari, seharusnya tidak aku biarkan anak-anakku menonton televisi. Bencana di Aceh ternyata tidak hanya meninggalkan luka bagi orang-orang Aceh saja. Juga merambatkan kecemasan dan kegelisahan bagi anak-anak yang lain. Ekspos media yang luar biasa menyorot anak-anak yang lain. Ekspos media yang luar biasa menyorot anak-anak yang menjadi korban, membuat mereka yang merasa seusia berempati. Dan Bee merasakannya. Aku memeluk dia dengan hangat. Berusaha menghilangkan kecemasannya. Sambil mengusap-usap punggungnya, aku bertanya padanya.

”Itu yang membuatmu tidak bisa tidur?” dia mengangguk.

”Aku ingin berjaga-jaga sehingga aku tahu kalau tsunami, gempa bumi dan badai datang. Aku akan memberitahu Mami, Papi, Mbak Dina dan Jade agar secepatnya lari menyelamatkan diri,” katanya lebih lanjut. ”Jika aku sudah besar, aku pasti akan menyelamatkan banyak orang. Makanya aku tidak mau mati sekarang. Besok saja, kalau aku sudah tua. Bagaimana ya caranya minta pada Allah, agar aku tidak mati…” aku tersenyum mendengar celotehnya.

”Sekarang sudah jam sebelas malam, tidur dulu, ngobrolnya dilanjutkan besok,” aku mengingatkan Bee agar tidur.

”Tapi aku belum ngantuk…,” katanya.

”Sudah berdoa belum?”

”Belum,” jawabnya sambil menggelengkan kepala. Tiba-tiba dia memejamkan mata sambil mulutnya komat-kamit. Lalu dengan suara pelan Bee berucap, ”Aaamiiin.” Akupun menyambung dengan perkataan yang sama.

”Sekarang tidur dulu,” aku mencium Bee sekali lagi.

”Tapi aku masih punya satu pertanyaan, kalau Allah penyayang, kenapa Dia mematikan anak-anak? Seharusnya Allah tidak membiarkan anak-anak mati kena tsunami. Padahal anak-anak tidak jahat. Apa Allah tidak sayang dengan anak-anak? Kenapa Mi?” aku mencoba tersenyum padanya. Melihat mata anakku sekali lagi. Kematian selalu menjadi rahasia terbesar kehidupan. Kita tidak tahu kapan dia menghampiri. Kapan dia datang. Tapi yang aku herankan, kenapa anakku menanyakan hal itu. Lalu bagaimana aku menjawabnya. Jika aku berbicara dengan teman-teman yang seusia, akan lebih mudah membicarakannya. Tapi dengan anak umur tujuh tahun? Aku masih mencari kata-kata agar dia gampang memahami, ketika dia berbicara sekali lagi.

”Aku tadi berdoa, agar Allah menyayangi semua anak di dunia. Menyayangi Mami, Papi, Mbak Dina dan Jade. Aku juga berdoa, agar Allah tidak mendatangkan tsunami dan badai lagi. Aku takut sekali.”

”Iya. Mami juga berdoa begitu. Biar kamu nggak takut lagi. Sekarang tidur. Mami yang jagain kamu.”

”Benar ya… Mami jangan pergi, nungguin aku tidur.”

”Iya…”

Bee memejamkan matanya. Dia berbalik memunggungiku sambil memeluk gulingnya dengan erat. Sesekali dia menoleh untuk memastikan aku tidak pergi meninggalkannya. Aku meletakkan tanganku di punggungnya sambil menepuk-nepuk pelan. Tiba-tiba Bee berbalik.

”Aku juga tidak mau Mami menjadi tua dan mati,” katanya sambil memeluk dan menciumku. Dia lalu berbalik lagi dan tidur.

Aku tidak menyangka jika malam ini, banyak sekali aku mendapat sesuatu dari pembicaraan anakku. Aku hanya menjadi pendengar tanpa bisa memberi komentar dan jawaban dari pertanyaan dan pernyataannya. Barangkali juga Bee tidak menginginkan aku menjawab pertanyaannya. Dia hanya ingin bercerita dan mengungkapkan apa yang ada di hatinya. Kecemasan dan kegelisahannya. Kekhawatiran bahwa dia bisa juga kehilangan orang-orang yang dia cintai mengusikku. Selama ini aku jarang punya pikiran tentang hal itu. Kematian selalu menjadi wajar bagiku. Orang yang sakit, orang yang sudah tua, kecelakaan dan lainnya. Setiap saat kita bisa membaca berita tentang kematian dari sahabat, teman, juga orang yang tidak kita kenal. Begitu akrabnya kematian di sekeliling sehingga membuatku jarang berpikir, akan tiba waktu yang sama bagiku. Meninggalkan orang-orang yang aku sayangi. Anak dan suamiku. Jika waktu itu tiba, apakah aku juga siap menerimanya? Apakah aku juga akan punya perasaan takut seperti anakku sekarang ini? Jangan-jangan ketakutanku hanya karena enggan meninggalkan kenikmatan dunia yang aku rasakan. Aku berusaha mengaburkan beberapa pertanyaan tadi dari otakku. Berjalan ke luar kamar mengambil buku, lalu kembali ke kamar Bee, meneruskan membaca di sana.

Dua halaman sudah terlewati. Hujan masih mengguyur malam. Tidak terdengar guntur menyelingi. Suara nafas Bee yang teratur tidak terdengar karena bunyi tik-tak hujan di genteng mendominasi irama malam. Aku melihat Bee dari tempat dudukku. Dadanya naik turun. Wajahnya tenang. Pantas beberapa hari ini, Bee selalu cemas jika mendung dan hujan. Apalagi jika mendengar bunyi guntur yang menggelegar. Kadang dia bertanya benarkah guntur hanya tepukan tangan Tuhan? Kenapa Tuhan bertepuk tangan? Kadang Bee juga bertanya tentang hal-hal lain yang sangat sulit aku jawab. Tapi aku berusaha menjadi pendengar yang baik. Menetralisir pertanyaannya dengan guyonan-guyonan agar Bee tidak terlalu serius.

Aku kembali memfokuskan mataku pada bacaan di buku. Sesekali rasa kantuk menyerang. Aku masih mencoba bertahan untuk menyelesaikan satu bab. Tapi malam yang bergerak lamban semakin membuatku bosan. Hujan yang belum juga berhenti, pertanyaan-pertanyaan Bee yang masih mengganggu di otakku semakin membuatku ingin cepat mengakhiri bacaan dan menutup buku. Dengan menghembuskan nafas. Aku meletakkan buku kembali ke maja. Aku menggeliat sebentar lalu menutup mulutku yang menguap. Aku melihat jam, sudah pukul 01.00 pagi. Aku harus tidur atau besok tidak bisa bangun pagi. Aku hendak turun ke lantai bawah namun aku urungkan. Aku masuk ke kamar Bee lagi, hendak menyelimuti dia. Aku terkejut melihat Bee sudah duduk di tepi tempat tidur. Secepatnya aku memeluknya.

”Ada apa?” tanyaku sambil menggendongnya. Dia hanya menggeleng.

”Bagaimana acaranya bisa bertemu Tuhan?” katanya sambil mengalungkan tangannya di leherku. Aku terkejut bukan main. Kenapa Bee terbangun jam satu pagi dan menanyakan hal itu?

”Kenapa ingin bertemu dengan Tuhan?” kataku berbisik di telinganya.

”Aku hanya ingin bertanya….” Bee tidak meneruskan kata-katanya.

”Tentang apa?” aku berbicara sambil berjalan keluar kamar. Bee masih berada di gendonganku.

”Tentang badai?” aku berusaha memancingnya. Dia menggeleng.

”Tsunami?” dia juga menggeleng.

”Lalu tentang apa?”

”Tentang hidup atau mati,” pelan Bee menjawabnya tapi membuatku terpana.***

Yogyakarta, 2005 

Kedaulatan Rakyat,  Edisi 06/11/2006 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: