Guru Terima Kasih

Oleh: Justin L Wejak
Dengan nada kecewa sekaligus pasrah, seorang ibu guru berpengalaman dan berkualifikasi di sebuah kampung di Lembata, Nusa Tenggara Timur, baru-baru ini berkata,Saya guru bantu di sekolah dasar. Gaji saya adalah terima kasih.

Dengan nada setengah bercanda tetapi prihatin, saya menjawab, Syukurlah Bu bahwa ada terima kasih, jika tidak Ibu terima apa? Dalam hati kecil, saya berbisik barangkali si ibu ini adalah guru terima kasih, a thank you teacher.

Saya tidak begitu kaget mendengar keluh kesah si ibu guru itu. Berkarya tanpa upah memadai sebagai seorang pengajar, apalagi guru SD di kampung- kampung di kawasan itu, bukan hal baru. Belakangan ini, di NTT ada kebijakan dinas pendidikan provinsi mempekerjakan guru-guru kontrak di sekolah-sekolah dengan patokan tingkat gaji lebih kurang sama dengan guru lokal ber-NIP. Entahlah berapa, dan pasti tidak seberapa. Yang memprihatinkan adalah upah tidak seberapa itu sering tertunda pembayarannya oleh instansi pendidikan daerah untuk alasan-alasan yang tampak sengaja diperkabur. Guru-guru kontrak ini adalah mereka yang terpaksa menonaktifkan diri karena berbagai alasan di luar kontrol mereka sendiri, termasuk rendahnya upah yang sering mandek pembayarannya.

Ini gambaran realitas nasib pengajar di NTT pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Mereka bekerja keras seperti para pekerja dalam bidang industri lain, tetapi tidak mendapat imbalan setimpal.

Sering terdengar ucapan bangga para pejabat di dinas- dinas pemerintahan yang menerima bonus alias uang jalan ketika menghadiri pertemuan atau sidang di tempat-tempat lain. Sementara para guru merasa tidak mendapat sesen pun ketika harus menghadiri rapat-rapat serupa. Di sini kesetaraan (equality) memang patut dan harus dipertanyakan ketika privilese masih dibiarkan merajalela.

The Age, salah satu koran harian ternama di Australia, baru-baru ini menerbitkan sebuah artikel opini yang menarik berjudul: ”Teaching for profit will attract and keep more talented teachers” (8/9, hal 15). Artikel itu ditulis Ross Farrelly, seorang pendidik dan penulis kawakan.

Ia, Farrelly, berkeyakinan bahwa para pengajar seharusnya digaji menurut merit atau kualitas mereka untuk memberikan yang terbaik bagi para pelajar supaya berprestasi. Bukan hanya itu, dari judul tulisannya jelas Farrelly percaya bahwa mengajar untuk profit finansial akan memikat dan mengikat para pengajar berbakat, yang notabene mampu menyiapkan dan menyajikan materi pengajaran secara efektif, efisien berdialog dan memiliki keterampilan-keterampilan lain yang relevan dengan tugas mengajar itu.

Dalam konteks Indonesia, hipotesis Farrelly itu diharapkan dapat menyentil pemikiran tuntas pihak-pihak berkepentingan, termasuk para pembuat kebijakan dan peraturan dari lembaga-lembaga atau departemen pendidikan. Bukankah sudah saatnya kini slogan ”guru, pahlawan tanpa nama”, diubah menjadi ”guru, pahlawan dengan nama?” Dalam masyarakat kapitalis, guru bernama kalau beruang.

Gaji para pengajar yang dikeluhkan merayap di tanah barangkali perlu ditinjau kembali dalam terang hipotesis Farrelly. Pikatlah dan ikatlah para pengajar berbobot dengan gaji memadai untuk mendidik anak-anak didik supaya berprestasi. Prestasi pengajar dan anak didik adalah saham berharga untuk masa depan negeri ini, yang terkadang tampak linglung dan kikuk dihempas berbagai persoalan ekonomi dan politik.

Pengajar altruistik

Menarik, Farrelly memulai tulisannya dengan ilustrasi film Perancis, Etre et Avoir (To Be and To Have). Film itu tentang seorang pengajar yang tanpa pamrih mengabdikan dirinya bagi sekelompok kecil anak-anak didik di sebuah sekolah desa terpencil. Film itu tidak memiliki alur cerita yang rapi, sedikit pewatakan, dan berpusat pada bagaimana sang guru yang dengan ramah, penuh pengabdian, dan kasih memenuhi kebutuhan anak-anak hiperaktif. Anak hiperaktif dalam film itu digambarkan sebagai anak yang haus akan kasih dan perhatian.

Menurut Farrelly, film itu membersitkan konsep ideal masyarakat tentang seorang pengajar: sabar, penuh pengertian, dan memusatkan anak didik. Betul, anak didik adalah pusat, bukan pengajar, sekurang-kurangnya menurut filosofi pendidikan. Indahnya filosofi itu ternyata meminggirkan kebutuhan material para pengajar. Pendapatan tidak seimbang dengan jasa mereka. Secara ekonomis, para pengajar adalah juga pusat dalam proses pendidikan itu. Yang dididik dan yang mendidik adalah pihak-pihak yang sama-sama berkepentingan, walau kepentingan mereka tidak sama.

Tambahan pula, menurut Farrelly, gagasan kuat tentang pengajar yang altruistik, yakni mengabdi hanya demi kebaikan orang lain, demi kasih kepada anak-anak didik dan demi kesejahteraan masyarakat, membuat orang hampir tidak rela paham tentang gagasan pendidikan sebagai profit. Tidak perlu tidak etis dan tidak sah, pendapatan finansial menjadi motivasi mengajar seorang pengajar. Dambaan dan keinginan masyarakat akan seorang pengajar yang altruistik kurang realistis dalam konteks kehidupan zaman mutakhir kini, yang segalanya dan semuanya dikapitalkan.

Bukan saja konsepsi pengajar altruistik itu tidak realistis, tetapi pengajar altruistik itu tidak ada dan tidak boleh ada. Siapa yang memberi makan kepada para pengajar jikalau mereka sekadar guru, pahlawan tanpa nama (tanpa uang), kalau mereka sekadar menerima ucapan terima kasih?’ Para pengajar bukan para pastor Katolik di paroki-paroki di kawasan NTT, misalnya, yang mungkin berkarya tanpa upah, tetapi masih paling kurang diberi makan oleh umat parokinya.

Dalam terang hipotesis Farrelly, adalah etis dan sah meninjau kembali sistem penggajian para pengajar di Indonesia. Jumlah gaji tidak hanya dinaikkan tetapi juga agar gaji dibayar pada waktunya. Ini bukan hanya untuk memikat dan mengikat para pengajar yang berbakat, seperti dalam hipotesis Farrelly, tetapi juga untuk meningkatkan rasa keadilan dan kesetaraan dalam masyarakat.

Farrelly tegas mengimbau agar mitos pengajar altruistik dihilangkan untuk menjaring tenaga pengajar berbobot. Selagi mitos ini dibiarkan hidup, menurutnya, isu fundamental tentang pendidikan, yaitu mutu pengajar dan pengajaran, dibiarkan tidak tersentuh. Tentu saja imbauan Farrelly ini harus dibaca dalam konteks Australia, tetapi relevansi imbauannya masih bergema dalam konteks Indonesia.

Singkat kata, patokan gaji para pengajar sebaiknya disesuaikan dengan patokan gaji dalam bidang-bidang industri lain, seperti teknologi informasi dan sektor-sektor keuangan. Ini jawaban krusial terhadap persaingan tanpa akhir dalam dan antara semua bidang industri yang berlomba-lomba merekrut tenaga-tenaga terampil. Jika kalah bersaing, bidang industri pendidikan akan dininabobokkan dan menjadi sebuah ruang yang hampa pengajar bermutu.

Memang, kecemasan Farrelly bukan tanpa dasar. Ia merujuk pada data Biro Statistik Australia yang memberikan sinyal bahwa Negeri Kanguru ini akan mengalami kekurangan tenaga pengajar berpengalaman dan berkualifikasi dalam beberapa tahun mendatang. Mengapa? Ada beberapa faktor penyebab.

Pertama, jumlah penduduk Australia yang kini kurang lebih 20 juta jiwa ternyata tidak mengindikasikan pertambahan yang berarti setelah lima tahun mendatang.

Kedua, dalam perbandingan dengan bidang-bidang industri lain di Australia, bidang pendidikan mempekerjakan paling banyak guru yang berusia relatif “tua” selama tahun 2003-2004. Menurut data statistik, 47 persen guru-guru sekolah saat ini di Australia berusia 45-64 tahun.

Ketiga, adanya persepsi negatif di kalangan publik Australia bahwa bidang pendidikan kurang canggih (unglamorous) karena gaji rendah, dan bahwa para calon guru tidak harus berbakat tinggi atau pandai secara intelektual dan/atau akademis.

Menanggapi faktor penyebab kedua dan ketiga, Farrelly mengusulkan satu pemecahan tunggal, yakni menjadikan pendidikan sebagai bidang yang berorientasi dan dimotori profit. Menurutnya, ini akan menciptakan peluang kompetisi yang sehat antara semua bidang industri. Persepsi negatif tentang industri pendidikan sekolah sebagai kumpulan “orang-orang terbuang” atau “tidak laku” dalam industri lain pun dapat berangsur-angsur ditinggalkan. Penghasilan memadai dapat berdaya pikat dan mengikat bagi siapa pun yang ingin dan tengah bergelut dalam bidang pendidikan.

Hipotesis Farrelly mengumpan wacana dan tanggapan. Sebagaimana lumrah dalam sebuah perdebatan gagasan, ada yang setuju dan ada yang meragukan, ada pula yang kurang pasti.

Dalam konteks Indonesia, mudah-mudahan imbalan jasa para pengajar ditinjau kembali, dengan harapan menjaring tenaga-tenaga didik baru yang berbobot dan mempertahankan para pengajar yang sedang mengabdi, demi masa depan anak-anak didik di negeri ini.

Mengucapkan terima kasih kepada para pendidik tentu sangat dihargai, tetapi tidak cukup. Sayang, terima kasih tidak dapat melepaskan rasa lapar dan haus. “Terima kasih, guru,” tidak sama dengan “guru terima kasih”. Semoga tulisan ini menyentil wacana.

Justin L Wejak, Pengajar Bahasa dan Kebudayaan Indonesia di Asia Institute, The University of Melbourne, Victoria, Australia.

Kompas,Didaktika

One response to this post.

  1. assalmualikum
    salam sjhtera
    meliahat web yg anda tulis saya tertaik seorng guru yg jauh disana
    hanya untk mengabdi kepada bangsanya..
    tidak melihat gaji nya semata

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: