Kutukan

Budi Sardjono 

Rasanya sudah setahun aku duduk di pelataran Candi Sewu, satu komplek dengan Candi Prambanan. Lebih dari lima kali pemotret-pemotret instan yang mencari rezeki di pelataran candi merayuku agar mau dipotret. Kalau dulu mereka cukup menggunakan kamera polaroid, kini mengikuti perkembangan zaman menggunakan kamera digital. Hasil fotonya memang jauh lebih bagus, meski harganya juga lebih mahal.”Untuk kenang-kenangan, Om, mumpung ada di sini,” rayu pemotret itu sambil menunjukkan contoh foto-foto hasil bidikannya.Aku menggeleng sambil tersenyum.”Apa sedang menunggu seseorang, Om?” kejar pemotret itu sambil memasukkan album foto ke dalam tas kain.Aku mengangguk. Pemotret itu ganti yang tersenyum. Tapi senyumnya seperti mengejek. Mungkin dia bisa menebak apa yang berkecamuk dalam pikiranku. Aku memang sedang menunggu seseorang. Seorang perempuan. Dan dia pasti menganggap bahwa yang kutunggu itu perempuan selingkuhanku.Hemm. Memang mudah ditebak. Seorang lelaki setengah umur berjam-jam duduk sendiri di pelataran candi. Kadang membuka koran, membaca sebentar, lalu diletakkan kembali. Menoleh ke kanan dan ke kiri, gelisah, dan kecewa manakala matanya tidak menemukan obyek yang dicari. Laki-laki kesepian. Lalu iseng-iseng bikin janji dengan seorang perempuan. Kutunggu di pelataran Candi Sewu. Karena tempatnya relatif lebih sepi dibanding pelataran Candi Prambanan. Para wisatawan jarang yang mau menengok sampai di situ.”Kalau nanti yang ditunggu sudah datang, saya potret berdua, ya Om?” rayu pemotret tadi. Kuakui, orang itu benar-benar ulet. Ia seolah tahu bahwa akhirnya aku pasti akan menyerah, dan bersedia mengeluarkan selembar puluhan ribu untuk sekali potret dengan kamera digital.”Kalau yang kutunggu tidak datang bagaimana?” tanyaku iseng.Pemotret itu tertawa kecil. “Pasti datang, Om. Mosok sudah janji tidak mau datang? Bisa bikin kecewa hati orang. Bukankah kalau laki-laki itu dikecewakan sekali saja, dia akan kapok selamanya, ha..ha..”Aku ikut tertawa dan mengangguk-angguk.”Di sini tempatnya cocok, Om, untuk bikin janji pertemuan.””Kenapa?””Ya di samping sepi, konon menurut para orang tua, mereka yang memadu janji di sini biasanya akan langgeng. Beda kalau waktu bikin janji itu dilakukan di sekitar pelataran Candi Prambanan sana. Bisa kena kutuk patung Roro Jonggrang.””Ah, yang benar?””Iya Om!” jawab pemotret itu yakin. “Memang kedengarannya hanya mitos, atau dongeng berbau takhayul. Tetapi sudah banyak yang mengalami. Banyak pasangan laki-perempuan bubar di tengah jalan setelah pacaran di pelataran Candi Prambanan. Mereka konon dikutuk Roro Jonggrang yang gagal kawin dengan Bandung Bondowoso. Om pernah dengar cerita tentang mereka, kan?”Aku mengangguk. Kisah cinta antara Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang memang sudah jadi legenda. Mirip kisah cinta antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi di daerah Sunda. Yang membedakan, di Sunda tidak ada mitos tentang kutukan Sangkuriang atau Dayang Sumbi kepada sepasang kekasih yang berpacaran di Gunung Tangkuban Perahu. Sedang di Prambanan mitos kutukan Roro Jonggrang itu sangat dipercaya keampuhannya. Karena itu ada semacam tabu bagi mereka yang sedang dimabuk cinta, jangan sekali-kali pacaran di pelataran Candi Prambanan. Tali cinta mereka bisa putus seperti tali cinta antara Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso.Aneh, memang. Di zaman nuklir seperti ini ternyata orang masih percaya dengan mitos.”Baik, Om, saya pergi dulu. Nanti saya kemari lagi setelah tahu Om sudah duduk berdua, ha..ha..” ujar pemotret itu sambil tertawa. Ia lalu lari mengejar rombongan keluarga yang sedang istirahat di atas rerumputan. Mungkin di situ ia malah bisa memperoleh rezeki.Matahari sudah semakin tinggi. Udara mulai terasa panas. Tetapi pelataran Candi Sewu tetap seperti tadi ketika aku datang. Hanya satu dua pasang kekasih yang lewat, lalu mereka menghilang entah di mana.Mengapa orang yang kutunggu-tunggu tidak segera datang? Mungkin ada halangan di jalan? Entahlah. Menunggu dengan gelisah ini sudah menjadi risiko kami, karena sama-sama tidak mau memanfaatkan hand-phone. Andaikata kami tidak berpikir secara kolot atau kuno, mau mengikuti perkembangan zaman, maka dengan mudah kami saling kontak. Minimal bisa saling mengirim SMS.Angin pergantian musim membuat tubuh tidak terasa nyaman. Apalagi untuk tubuh yang sudah setengah abad umurnya. Terkadang angin itu terasa panas, namun tiba-tiba berubah jadi dingin. Meski begitu aku bertahan untuk tidak mengenakan jaket. Berlagak sebagai laki-laki macho, tahan banting, dan masih kuat dihajar panas dan angin yang tak menentu arahnya. Baju dan celana dari bahan jeans yang kukenakan memang mendukung penampilanku.”Hai, sudah lama menunggu,” sebuah suara lembut muncul dari belakang. Bersamaan dengan itu ada dua tangan yang langsung memelukku, tangan yang halus dan kuning warna kulitnya. Tangan milik seorang perempuan. Aroma parfum yang sudah sangat kukenal segera mengusik hidungku. “Aku sudah kangen sekali,” katanya kemudian sambil mendaratkan sebuah ciuman di pipiku.”Muncul dari mana kamu?” tanyaku setelah dia melepas pelukannya dan kami lalu duduk berhadapan di atas pelataran candi.”Aku ingin seperti dulu, duapuluh lima tahun yang lalu, membuat kejutan untukmu, hi..hi..””Tapi kamu harus ingat, duapuluh lima tahun yang lalu jantungku masih sehat. Kalau sekarang aku benar-benar kaget dan jantungku berhenti, apa kamu senang jadi janda?””Ah, siapa mau jadi janda!” kilah perempuan itu manja. Ia lalu melingkarkan tangan kanannya ke pinggangku. “Aku ingin selalu berdua bersamamu. Menimang cucu, membesarkan mereka, dan melihat mereka tumbuh besar. Bukankah begitu cita-cita kita dulu?”Nova, Tabloid,  Edisi 06/12/2006 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: