Lebanon Berduka, Dunia Berang

Sungguh malang nasib keluarga Shalhoub dan Hashims. Gedung berlantai tiga di Qana itu adalah harapan terakhir mereka untuk menyelamatkan diri dari gempuran Israel.

Kedua keluarga besar itu sebetulnya sudah lama ingin mengungsi keluar Qana. Namun, kondisi keuangan yang minim dan besarnya jumlah keluarga yang harus ditanggung—dari yang berumur 95 tahun, yang berada di kursi roda, dan puluhan anak-anak—membuat opsi itu sulit diwujudkan.

Keluarga Shalhoub dan Hashims tak mampu membayar ongkos taksi ke kota terdekat, Tirus, yang dalam keadaan perang harganya meroket menjadi sekitar 1.000 dollar AS sekali jalan. Dengan bayaran semahal itu pun, keamanan mereka selama di perjalanan tidak terjamin.

Keluarga besar ini kemudian memilih berlindung di sebuah bangunan di dekat punggung bukit di Qana, yang memiliki ruangan bawah tanah. Mereka berpikir tempat ini aman untuk berlindung dari serangan bom.

Setiap pagi, seperti diungkap The New York Times (31/7), para perempuan membuat makanan bagi anak-anak mereka, sementara Nyonya Shalhoub mengajarkan pelajaran sekolah. Anak-anak yang jumlahnya puluhan itu kemudian diizinkan bermain seharian di halaman.

Ketika jet-jet tempur Israel meraung-raung di udara sekitar pukul 01.00 Minggu dini hari, para pengungsi ini masih terlelap.

Para saksi mata mengatakan, dua ledakan dahsyat yang hanya berselang beberapa menit meratakan bangunan tersebut, mengubur semua penghuninya.

Bak sedang tertidur

Jumlah korban tewas untuk sementara diperkirakan 60 orang, 37 di antaranya anak-anak yang kebanyakan masih balita.

Para petugas penyelamat dengan susah payah menarik satu per satu mayat bocah yang umumnya mengenakan piama. Wajah mereka masih sempurna sehingga dari jauh sepertinya sedang tertidur lelap. Namun tubuh-tubuh itu telah tak bernyawa.

Naim Raqa, pemimpin tim penyelamat, tak kuasa menahan tangis ketika ia kembali menarik sebuah tubuh mungil dari balik reruntuhan. “Ketika ditemukan, mereka semua sedang berpelukan di sudut ruangan,” kata Raqa seperti dikutip The Guardian (31/7).

Duka yang dalam menyapu Lebanon. Inilah serangan paling berdarah yang dilakukan Israel di hari ke-19 agresi militernya.

Muhammad Qassim Shalhoub (38), anggota keluarga Shalhoub yang selamat, menatap kosong ke arah reruntuhan bangunan yang telah mengubur keluarganya. Air matanya telah kering. Ia kehilangan istri, lima anak, dan 45 anggota keluarga besarnya.

“Sekitar pukul satu pagi kami mendengar suara ledakan yang sangat dahsyat. Saya tak mengingat apa pun setelah itu. Namun, ketika saya membuka mata, saya terbaring di lantai. Sekeliling saya sunyi,” ujarnya dengan terbata.

“Lalu saya mendengar teriakan minta tolong. Saya katakan, ’Allahu Akbar! Jangan takut, saya akan datang’. Saya berhasil menarik keluar tiga anak, lalu saya berteriak mencari bantuan. Namun, kemudian saya dengar lagi raungan-raungan pesawat di udara. Saya tak mampu lagi untuk kembali ke dalam,” katanya.

Para petugas bekerja keras untuk menyelamatkan mereka yang masih terjebak di reruntuhan. Mayat-mayat yang dapat dievakuasi dijejerkan di tanah.

Di sebuah sudut, mayat satu keluarga disatukan: seorang bayi, dua bocah perempuan, seorang bocah laki-laki, dan dua wanita. Sebuah foto keluarga, bergambar dua anak laki-laki, tercecer di antara puing-puing.

Bagi desa kecil Qana, tragedi yang terjadi hari Minggu bukanlah yang pertama.

Sepuluh tahun lalu pesawat-pesawat tempur dan artileri Israel menggempur sebuah kamp perlindungan pengungsi PBB di situ dan menewaskan lebih dari 100 warga sipil.

Operasi militer dengan sandi “Grapes of Wrath” tersebut, seperti juga sekarang, ditujukan untuk menghancurkan kelompok perlawanan Hezbollah.

Kala itu Israel juga tutup mata dengan jatuhnya korban warga sipil, dan dengan entengnya mengatakan, “Hezbollah menggunakan warga sipil sebagai tameng”.

Kecaman dunia

Wajah Beirut yang carut-marut sejak agresi militer Israel, Senin kemarin, berubah garang. Massa memenuhi jalan-jalan yang sebagian besar sudah hancur diterjang rudal Israel.

Ribuan warga tak peduli apakah pagi itu jet-jet tempur Israel akan kembali memuntahkan bomnya. Tujuan mereka satu. Berunjuk rasa mengutuk pembantaian yang terjadi di Qana.

Dari Arab sampai Eropa, kepedihan terpancar di jalan-jalan. Lebih dari 2.000 warga Palestina berpawai di Ramallah, Tepi Barat. Ribuan orang juga berdemonstrasi di Brussels, Paris, London, dan sejumlah kota lainnya. Mereka kecewa, marah, terhadap sikap para pemimpin mereka maupun badan dunia yang tak berdaya menghadapi agresi tak berperikemanusiaan ini.

Adakah Israel dan rakyatnya mendengar jeritan bocah-bocah tak berdosa itu? Sudah tertutupkah nurani mereka?

Lebanon berkabung. Bendera setengah tiang berkibar perlahan di seluruh penjuru kota. (MYR)

kompas, 01 agustud 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: