Lelaki itu Suamiku

Isbedy Stiawan ZS 

 MALAM kelam selebat hutan. Udara dingin selapis kain tipis. Jalan yang cuma setapak bersisa basah. Lumpur. Rumputan lembab.Tiada pilihan. Harus melangkah mengikuti kemauan kaki. Dan, gerbang kompleks perumahan sudah tertinggal. Mungkin akan kulupakan selamanya. Tak sudi kuingat lagi waktu terkutuk ini. Perempuan tertutup sehelai kain. Telentang di ranjangku. Juga lelaki di sebelahnya, terlelap bagai bonggol jagung. Lelaki itu suamiku.Keduanya masih bermandi keringat. Meski dengkurnya keras sekali pertanda ia benar-benar lelap. Aku tidak berkeinginan membangunkan Mas Tarman, atau menyeret perempuan itu yang sudah berani tidur di ranjangku. Biarlah keduanya lelap, bahkan kalau mungkin mati di tempat tidur.***Sebelum kuniatkan pergi dari rumahku, memang sudah kukemas pakaianku. Segera kumasukkan ke dalam tas besar, sebelum kedua hewan itu terjaga. Biarlah waktu dan kamar yang menjadi saksi. Biarlah iblis-iblis yang menyaksikannya sembari tertawa-kekeh. Bukan lantaran mereka menjebakku tengah menonton sambil menggigit lidahku lantaran terluka hati ini.Diam-diam kutinggalkan rumah. Aku hanya pamit pada pintu, jendela, dan seluruh isi rumahku yang telah membuatku kerasan menetap hampir 10 tahun bersama Mas Tarman. Di rumah tersebut aku menyulam cinta sambil berharap-harap dari cinta kami akan berbuah momongan. Betapa pun harapan itu sampai saat ini belum terpenuhi. Barangkali belum saatnya. Mungkin….Tetapi, tanpa membuahkan anak dapat menyebabkan perkawinan menuju ambang rawan. Walau hingga memasuki tahun ke tujuh perkawinan kami belum tanda. Meski Mas Tarman masih sering menciumku dengan perasaan sayang dan cinta. Ia kerap mengajakku bercumbu hingga jelang subuh. Aku suka. Kusambut dengan keriangan pula. Berkali-kali.Hanya saja, benarkah Mas Tarman sungguh-sungguh mencintaiku? Masihkan ia menyayangiku sepenuh tulus? Tidak tergiur oleh aroma keringat lain perempuan? Setiap kali batinku merintih seperti itu, Mas Tarman selalu menghiburku: “Kalau harus kulintasi benua demi benua, maka aku akan selalu berpulang ke pelukanmu. Percayalah, Asih.”Hati siapa yang tak akan berbunga mendengar ucapan itu? Apalagi kata itu keluar dari bibir lelaki yang sangat dicintai. Aku memang sangat mengagumi Mas Tarman. Sejak lajang. Itu sebabnya, membuatku menerima ketika dia dilamar.Lelaki itu kemudian jadi suamiku. Tarman namanya. Posturnya kekar. Selalu tegap jika berjalan. Dadanya melebar. Pandangnya tak pernah ke bawah. Suaranya berat. Sedikit bicara, padat katanya. Bila kami sedang berdekatan, sangatlah menggairahkan. Begitulah lelaki itu, namanya Tarman, sudah tidur bersamaku 10 tahun lamanya. Akan tetapi, tak juga berbuah janin di rahimku. Sebagai calon anak kami. Seorang saja.Meski belum dikaruniai anak, tidak mengurangi percintaan kami. Mas Tarman tetap bergairah bila di ranjang. Aku tak kurang pula menerima dan melawan cumbuannya. Sepuluh tahun bukti cinta kami. Sepuluh tahun cukuplah untuk kukatakan bahwa perjalanan rumah tanggaku tiada aral-rintang. Tiada percikan api yang bakal membakar rumah tanggaku.***AKU telanjur menggantungkan kepercayaanku pada cinta. Hawa yang selalu keluar dari mulut Mas Tarman setiap mendekapku, telah menyihir perasaanku hanya untuk mengingatnya. Betapa aroma peluhnya itulah yang membuatku tersengsem untuk selalu ingin didekapnya. Di mataku ia adalah Arjuna: begitu sulit kulikis ketampanannya. Sedang di hatiku, ia layaknya sang Romeo: lelaki yang memiliki cinta tiada banding di jagat ini.Karena itu, biarpun ibu pernah memintaku berpikir dulu sebelum menjatuhkan keputusan menerima lamaran Mas Tarman, aku menepis dengan satu helaan saja: “Aku lebih tahu tentang Mas Tarman!”Ibu tersungut. Tak berani lagi melontarkan nasihat apa pun mengenai hubunganku dengan Tarman. Aku yakin ibu kecewa, tapi lebih kecewa lagi aku kalau ibu menolak lelaki yang kukagumi itu menjadi suamiku.Pernikahan sederhana. Kukira paling sederhana dibanding saat ibu mengawinkan kakak-adikku. Ibu menyelenggarakannya dengan sangat meriah, disambut sukacita. Walaupun sederhana, itu semua terhapus juga tatkala Mas Tarman mengucap: “Kuterima nikah Asih binti Sugardo dengan emas kawin….”Lalu, selayaknya seorang ratu kunaiki pelaminan. Aku seperti terbang dengan sayap yang terbuat dari cinta yang dianyam oleh tangan Mas Tarman. Sayap itu sangat putih. Tangan yang menyulam pun amatlah penuh oleh kasih sayang.Sayap yang kemudian melindungi rumah tanggaku bersama Tarman. Sayap itu pula selalu kujaga agar tidak menguncup atau rusak termakan waktu. Sayap yang dapat berfungsi ganda. Sebagai selimut kami.***MAKA aku benar-benar tidak percaya menyaksikan sepasang tubuh yang hanya ditutup sehelai kain di ranjangku. Terlelap. Dengkurnya bagai harimau bersuara. Karena lelah mungkin, membuat keduanya bagai bonggol jagung. Telentang.Aku gemas. Amarahku membara. Darahku meluap-luap. Seperti buncahan laut pada saat terempas badai. Gelombangnya tinggi, melebih tepi pantai. Memasuki kota.Ah! Kini aku sudah melewati gerbang perumahan. Malam makin pekat selebat hutan. Udara dingin selapis kain tipis menusuk poriku. Ingin aku bergegas, tapi langkahku terasa lambat sekali kuseret. Tidak seperti ketika aku melepas kenangan selama bersama Mas Tarman. Semisal kubalikan telapak tanganku, sekali hup! Rontoklah seluruhnya bagai daun-daun kering luruh dari ranting.Aku tak percaya kata orang, kenangan-terutama yang manis dan indah-dalam bercinta, sungguh sulit dilupakan. Ternyata aku dapat dengan cepat melupakannya. Buktinya, dengan sekali tebas gugurlah segala kenangan dan masa lalu itu.Bahkan aku pun mampu untuk tidak mengingat lagi perempuan yang lelap di ranjangku. Perempuan terkutuk. Dalam keadaan bugil. Di sebelahnya, yang sedang mendengkur–juga dalam keadaan tanpa penutup badan–seorang lelaki yang selama 10 tahun dekat di hatiku, sudah pula kulupakan kini. Lelaki itu, ya lelaki yang tidur bersama perempuan lain, pernah menjadi suamiku. Namun semenjak satu jam yang lalu dan seterusnya sudah kuanggap orang lain. Tak mungkin akan kukenal lagi.Biarlah segalanya lesap dari ingatanku. Biarkan lelaki itu bukan lagi menjadi bagian dari kenanganku. Bukan pula sebagai masa lalu. Sekarang ini aku tengah menuju masa datang. Sebuah waktu yang membuka, yang membentang. Aku, walau tak diizinkan, pastilah kumasiku. Tentulah akan kulampaui.Aku susuri setiap lekuk waktu dan segala kemungkinan. Sebagai perempuan yang sendiri. Selayaknya Mariam yang mencari-cari tempat persinggahan saat mengandung putra Isa. Perempuan Mariam nan suci. Aku ingin sekali seperti dia.Cuma nasibku lain. Persinggahanku berubah-ubah. Aku berganti-ganti di dalam dekapan lelaki. Untuk semua itu–untuk sekali atau dua kali persinggahan–aku dibayar. Dekapan yang hambar dan ringan, tentu saja. Lelaki-lelaki itu, bolehlah kuakui suamiku. Suami dalam waktu yang sejenak. Tiada ikatan di dalam buku catatan perkawinan.Ah! Aku sudah tak percaya lagi pada pengikat kesetiaan. Tiada lagi di benakku perlembagaan tersebut. Kiranya aku kini merasa bahagia terbang tanpa perlu membikin sayap lebih dulu. Aku dapat hinggap di mana pun yang kusuka, setelah itu boleh terbang lagi tanpa harus mengucap “salam”.Begitulah aku. Perempuan burung yang tak mesti lebih dulu menganyam sayap untuk terbang, tak harus membangun sarang jika lelah dan butuh rebahan. Sebab, aku dapat berbaring di ranjang mana saja. Bahkan, di selembar tikar. Boleh pula di kamar pengap. Jika itu mengharuskan.Aku terbang. Dari satu ranting ke lain ranting. Hinggap sekejap atau beberapa kejap, lalu kembali terbang. Bagai buruh sungguhan, aku tiada pernah lelah meski kukapakkan sayap melintasi berbagai pulau. Walau berpuluh atau beratus lelaki sebagai ranting, kusinggahi sudah.Sekarang aku benar-benar menjelma jadi burung. Perkasa. Kedua sayapku kukuh. Mengepak, mengepak. Terbang menggaris cakrawala. Singgah dari satu ranting ke lain ranting. Dari lelaki satu ke lelaki kedua, ketiga, dan seterusnya.Semua lelaki itu, para lelaki, setiap sedang berkencan denganku mengaku dirinya suamiku. Dan, aku tak pernah lupa menyapa mereka, “Papa….”****ENTAH pada ke berapa persinggahan, seorang lelaki meneleponku untuk bertemu. Pukul sembilan malam, ia menungguku di sebuah kamar hotel bintang lima. Sebagai burung yang bebas, aku segera terbang menghampirinya. Setelah izin pada resepsionis, aku menuju kamar yang tampaknya sengaja tak dikunci.Aku terperangah. Dan, tampak ia lebih kaget lagi. Seorang lelaki duduk di ranjang bersandar dinding. Kami beradu pandang. Seakan saling menguliti. Mata kami adu cepat menyilet. Seperti hendak mencari tanda. Hanya saja, sulit sekali menandai. Aku seperti belum pernah berjumpa sebelumnya. Lelaki itu juga merasa tak mengenalku.Kusebut namaku. Ia jawab, terlalu banyak nama Asih di kota ini. Ia mengenalkan diri bernama Tarman. Kukatakan, “Kau adalah kenalan baruku. Karena itu, kucatat lebih dulu dalam barisan nama-nama lelaki.”Ia bercerita tentang rumah tangganya. Juga seorang perempuan yang telah meninggalkannya ketika ia sedang terlelap. Lelaki itu, yang kini di hadapanku, adalah seorang pejabat di Kota Anu. Ia sedang mengikuti seminar tentang kota bersih di Kota Ini.Tetapi sayangnya, aku tak memiliki gairah menemaninya bermalam. Entah mengapa, walau sebenarnya aku dapat saja menerima bayaran mahal. Aku merasa saat ini lebih suci darinya. Sebab tak mungkin lelaki masa lalu yang sudah kuhapus kenangannya, akan kembali?Lampung, 17-23 Maret 2006; 23.30

Media Indonesia,  Edisi 06/18/2006 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: