Prolog Kematian

Akmal Nasery Basral  Akmal Nasery Basral 

GADIS itu terperangah melihat tayangan televisi di depannya: siaran langsung dari sebuah ruas jalan protokol yang biasanya selalu padat. Kali ini suasana jalan terlihat mencekam. Bukan karena terlalu lengang. Tidak. Jalan itu tetap ramai, tetapi dalam bentuk lain. Bentuk yang kalau bisa tak ingin ia saksikan meski sepersejuta kerjap mata. Namun terlambat. Ia telanjur melihat kerumunan orang yang sedang menggelepar seperti disembelih tangan-tangan algojo yang tak tampak. Ada yang dahinya koyak, lengan kutung, pinggul rompal.
Anehnya tak terlihat warna merah darah yang membanjir seperti layaknya bila mayat-mayat berserakan. Semua berwarna cokelat kehitaman, seperti wajah-wajah yang diolesi oli mesin pada permainan rakyat saat perayaan tujuh belas Agustus di kampung-kampung. Kamera menangkap ekspresi seorang lelaki yang mencoba keluar dari parit di pinggir jalan. Badannya gemetar, seperti bayi yang baru belajar berdiri dan menyeimbangkan badan. Sedikit lagi ia berhasil keluar dari parit. Sedikit lagi dan, hup, ia kembali terguling seperti batang pisang yang menggelinding. Daun telinganya terlihat hanya tinggal yang sebelah kiri. Bajunya cabik-cabik seperti diterkam selusin anjing gila.

Lalu kamera televisi mengambil gambar long shoot kawasan itu …

Gadis itu terpaku. Ia lupa hendak mengerjakan apa semenit yang lalu, atau hendak menelepon siapa. Gambar yang tersaji di layar kaca seperti membangunkan kembali kenangan masa lalu yang sudah terkubur rapi di pojok ingatannya. Gedung-gedung jangkung yang kini terlihat telanjang akibat semua kaca pembungkusnya hancur berantakan. Begitu halus seperti beras tumbuk di lesung petani. Kendaraan yang berhenti tak beraturan, tak berpola, dan masih menyisakan asap hitam tipis.

Kamera televisi berubah mengambil posisi medium close up.

Gadis itu tercekik. Di hadapannya, di layar televisi, sebuah sepeda motor hangus terpanggang seperti bangkai tikus raksasa. Dan di atas motor itu, ya Tuhan, seseorang tergeletak dengan posisi seperti hendak terjun bebas ke kolam renang. Tak jelas apakah orang (atau mayat?) itu berjenis kelamin lelaki atau perempuan. Tetapi apakah bedanya sekarang? Seperti apakah rasanya ketika maut mendekapmu dengan pelukannya yang mesra? Gadis itu menggigil. Butir-butir keringat sebesar jagung bermunculan di dahinya. Badannya terasa makin panas di ruangan yang begitu sejuk.

Lalu kamera televisi kembali mengambil long shoot dari sebuah mobil yang kini sehitam jelaga.

Gadis itu menghapus setitik air matanya yang mulai terbit. Ia mengambil remote control dan memberanikan diri memperbesar volume suara televisi. Kamera bergerak mengambil close up, lalu extreme close up ke arah mobil sedan itu. Seorang perempuan muda terkulai seperti tertidur. Pipi kanannya bertumpu pada kemudi sehingga ia seperti terlihat menengok ke kiri. Bubuk jelaga di wajahnya tak bisa menutupi kecantikannya yang menonjol. Kamera menangkap gambar sebuah folder tergeletak di jok kiri mobil itu. Sebuah tulisan di bagian kanan atas: Kay Elena.

Lantas kamera bergerak menangkap wajah seorang penyiar yang terbata-bata berujar. “… ledakan besar yang terjadi 25 menit lalu di kawasan ini sudah menewaskan 12 orang tak berdosa yang mati di tempat, termasuk seorang korban wanita di belakang kami. Kami masih belum bisa memastikan apakah korban memang bernama Kay Elena seperti terlihat di foldernya, ataukah itu milik orang lain yang juga masih berada di dalam mobil nahas tersebut…”

Tanggul di pelupuk mata gadis itu jebol seperti banjir besar yang merendam Jakarta hampir setiap lima tahun sekali. Tak tertanggulangi.

DUA tahun lalu. Ya, dua tahun yang lalu gadis itu bertemu mereka, orang-orang yang baru dilihatnya pertama kali selama ia bekerja di kafe tersebut. Tiga pasangan yang datang sendiri-sendiri. Dihitung sejak kedatangan orang pertama –seorang lelaki tegap berkaca mata– yang duduk di kursinya sekarang, orang keenam baru muncul hampir 30 menit kemudian. Setelah itu salah seorang dari mereka, seorang perempuan berwajah oriental, melambaikan tangan kepadanya. Ia mendekat.

“Ada yang bisa saya bantu?”

“Bisa keluarkan menu untuk reservasi atas nama Verena sekarang?” ujar si wajah oriental dengan senyumnya yang ramah.

“Segera. Ada lagi yang lain?”

“Tidak. Cukup itu dulu untuk saat ini. Terima kasih.”

Gadis itu kembali ke dapur, mengambil pesanan mereka. Orang-orang yang aneh. Mereka terlihat akrab, sangat akrab, ketika bercakap-cakap. Tapi sewaktu mereka datang tadi, satu persatu, mereka hanya saling melambaikan tangan, lalu bersalaman sebentar seperti baru pertama kali bertemu.

Gadis itu mulai menata pesanan di atas meja. Sesekali ia mencuri dengar pembicaraan mereka. Tidak. Sebenarnya ia bukan mencuri dengar dalam arti harafiah. Ia sedang mengatur pesanan mereka, sehingga apa boleh buat, banyak juga kata-kata yang tak sengaja terdampar di gendang telinganya.

“Saya kira besok kita bisa mulai survei ke daerah Trunyan dan Toya Bungkah,” ujar seorang lelaki bertubuh kecil yang berambut ikal. “Kalau cocok, kita bisa mulai syuting lusa.”

“Apa tidak sebaiknya kita tunggu dulu Verena selesai dengan seminarnya, Anton?” ujar seorang wanita berkulit pucat yang duduk di seberangnya. “Toh, dia cuma dua hari sebagai pembicara. Nanti di hari ketiga baru kita hunting lokasi bersama-sama.”

“Tidak apa-apa Eva. Kalian jalan saja dulu kemana kalian ingin selama dua hari ini. Setelah itu aku menyusul,” jawab Verena.

“Tetapi rasanya kok kurang komplet kalau kita cuma berlima, dan Ve tidak ikut terlibat,” sambung lelaki pertama yang datang ke kafe. “Aku setuju dengan usul Eva. Bagaimana Malik?”

“Terserah. Aku ikut saja rencana kalian.” ujar lelaki ketiga yang terlihat paling tua dari mereka berenam. “Aku sudah ambil cuti kantor dua minggu, jadi tidak terlalu terburu-buru.”

“Ira?” Si lelaki pertama kali ini mengalihkan pandangannya pada seorang perempuan yang terlihat paling muda di antara mereka. “Bagaimana menurutmu?”

“Aku juga setuju, Beng. Lebih enak kalau kita bisa melakukannya bersama-sama, karena ….”

“Bukan begitu maksudku. Maaf kupotong,” tukas Verena. “Aku senang kalian mau menunggu sampai pekerjaanku selesai di sini, tetapi …”

Gadis itu tak bisa mendengarkan lebih jauh. Ia harus kembali ke dapur, mengambil sisa pesanan yang belum terbawa. Orang-orang di belakangnya terus bercakap-cakap. Begitulah, sambil melayani mereka, gadis itu mulai mendapat gambaran tentang tamu-tamunya. Sebuah gambaran yang mungkin saja berbeda dari kenyataan sesungguhnya.

Keenam orang ini ternyata memang baru pertama kali bertemu. Mereka datang dari beragam profesi. Verena Sucipto adalah doktor pakar gempa lulusan Universitas Kyoto yang akan menjadi pembicara di sebuah simposium internasional di Nusa Dua. Tampangnya lebih mirip seperti aktris Zhang Ziyi ketimbang ilmuwan yang selalu berkutat di laboratorium. Sementara Anton seorang sutradara independen yang beberapa film dokumenternya sudah diputar beberapa festival film kelas dunia. Kalau ia tak salah dengar, mereka akan membuat film tentang kematian. Entah kematian siapa atau apa. Tapi ia tak yakin apakah ingatannya benar untuk hal ini. Sementara Eva, Beng, Ira, dan Malik, ah, ia tak bisa mengingat profesi mereka satu-persatu. Lagi pula apa perlunya? Mereka hanya mampir sekali ini saja di kafe tempatnya bekerja.

Yang membuat gadis itu tertarik kepada mereka adalah karena keenam orang itu sudah lebih dulu berinteraksi secara virtual. Mereka para pengembara dunia maya yang tak kenal lelah. Sudah lebih dari dua tahun, dari yang ia dengar, mereka berdiskusi intens setiap hari. Kadang-kadang bisa beberapa kali dalam sehari. Namun baru kali ini mereka bisa bertemu muka. Keenam orang itu anggota mailing list “Eternal-Life” yang tertarik membahas fenomena kematian dan hidup sesudah mati. Jumlah anggota milis sebenarnya lebih dari 400 orang, tapi hanya mereka yang bisa bertemu sekarang. Dan ternyata tak seorang pun tinggal atau berasal dari pulau ini. Ada yang dari Jakarta, Malang, Medan bahkan Makassar. Mereka berbincang-bincang dengan antusias soal pengalaman Astral, near death experience, dan istilah-istilah lain yang baru pertama kali didengar gadis itu dalam hidupnya.

Mailing list tentang kematian? Ada-ada saja. Apa enaknya hidup bila membicarakan yang mati?

Tapi kemudian sebuah peristiwa tak lazim terjadi. Ketika mereka selesai makan, dan ia sedang membereskan meja, awalnya Verena yang berkata.

“Terima kasih. Anda melayani kami baik sekali.”

“Tidak masalah. Itu sudah tugas saya.”

“Kalau tidak keberatan, boleh tahu nama Anda?”

Nah, ini dia. Biasanya hanya lelaki iseng yang mulai bertanya seperti itu, dengan mata merah mereka yang mulai berpendar seperti hendak menerkam tubuhnya.

Gadis itu melihat cepat ke arah lima tamunya yang lain. Mereka menatapnya dengan sopan. Sebuah tawaran perkenalan yang tulus. Apakah ia akan memberi tahu mereka nama panggilannya? Tidak, itu terlalu akrab. Nama lengkapnya? Jangan, terlalu formal. Atau nama depannya saja? Ya, ini saja. Mereka bukan siapa-siapa selain tamu yang hendak berterima kasih.

“Caitlin.” Ia menyorongkan tangan.

“Verena.”

“Eva.”

“Anton Hermansyah. Bisa kau panggil salah satunya kalau mau.”

“Malik.”

“Beng.”

“Ira”

Ya, ya, aku sudah hafal nama kalian semua.

“Caitlin?” Anton menatap matanya, terpaku. “Kamu Indo?”

Mengangguk.

“Prancis?” sambung Eva. “Garis wajahmu seperti Sophie Marceau.”

Menggeleng. Tertawa lemah.

“Terima kasih. Itu pujian yang berlebihan.”

“Irlandia ya? Matamu hijau?” Beng menyambar separuh menggoda.

“Huuuuuu….” seru teman-temannya serempak. “Dia pakai soft lens Beng. Makanya jangan keterusan jadi paranormal supaya nggak ketinggalan mode. Bergaul dong,” ledek Ira.

“Jadi apa?” tanya Verena.

“Mama dari Nebraska. Dari kota kecil yang sulit dicari di peta.”

Para tamunya seperti anggota kelompok vokal yang berseru kompak: “O!”

“Satu pertanyaan kecil, tak usah kau jawab bila tak ingin: kenapa tak jadi bintang sinetron? Dengan modal wajah dan tubuhmu yang … “ Anton memekik kecil sebelum menuntaskan kalimatnya. Kakinya diinjak Ira. “Anton!”

“Tak apa-apa Eva. Aku hanya menginginkan pekerjaan yang benar-benar aku inginkan. Ada yang salah dengan menjadi pelayan kafe, Anton?”

“Tidak, cuma …” Anton pantang menyerah. “Kami di sini ingin membuat sebuah film kolaborasi, independen. Sebagai dokumentasi persahabatan saja. Tak ada yang mendapat bayaran. Barangkali jika, eh, kau mau ikut? Bagaimana teman-teman?” Ia mencari dukungan.

Film tentang kematian? Tidak, terima kasih.

“Begini Caitlin,” Verena seperti bisa membaca pikirannya. “Ini sebuah film, ah aku tak tahu apakah pantas disebut sebuah film, yang jelas hanya sebuah dokumentasi kecil. Entah apa istilah yang pas, tetapi Anton punya beberapa ide yang menurut kami cukup menarik bila dicoba dalam dokumentasi ini. Masalahnya adalah tak seorang pun dari kami yang benar-benar akrab dengan seluk beluk pulau ini. Maksudku, barangkali kau tahu tempat-tempat yang belum over exposed, tapi memiliki daya magis yang tinggi. Sebentar…” Verena melihat ponselnya yang bergetar. “Ya, saya sendiri. Halo …”

“Bagaimana Caitlin?” Kali ini Eva yang buka suara.

“Aku tak tahu. Aku tak pernah tertarik dengan syuting film. Mungkin kalau sekadar menunjukkan beberapa tempat seperti yang diinginkan Verena, aku tahu beberapa di antaranya. Aku hampir dua tahun di sini.”

“Halo? Aduh, sinyalnya putus-putus. Saya keluar sebentar.” Verena menutup ponsel dengan tangannya, dan melihat ke arah teman-temannya. “Maaf, saya tinggal sebentar. Saya harus menerima telepon ini. Tentang seminar besok.”

Verena melihat ke arahnya, seperti minta pertolongan. Ia mengantar tamunya ke pintu dan membukakannya. Doktor muda itu berjalan menjauh dari kafe. Caitlin melihat sejenak ke lebuh di depannya yang mulai ramai. The night is still young. Aroma laut tercium tipis di cuping hidungnya. Mengambang di jalan-jalan. Dentum musik yang menyelinap dari ratusan tembok resto, bar, dan kafe di sepanjang jalan yang tak terlalu besar itu seperti melukis langit dengan nada-nada mayor yang repetitif. Ia melihat secercah warna merah di langit Oktober. Ia menutup pintu, dan berjalan kembali ke meja teman-teman barunya. Anton langsung menyambutnya dengan pertanyaan.

“Jadi bagaimana, Cait… bersed… ik…”

Pertanyaan itu tak utuh didengarnya. Tiba-tiba ia merasa pening yang luar biasa. Lampu-lampu kafe terlihat bergoyang, tembok bergemuruh seperti sedang dibuldozer, dan lantai tempatnya berdiri seakan sepotong sampan yang diamuk taifun samudera. Seluruh isi perutnya seolah berebut keluar dari lehernya yang jenjang. Matanya nanar. Orang-orang terlihat menjerit. Ia tak tahu apakah tamu-tamu di sekitarnya itu memang menjerit, ataukah hanya penglihatannya saja seperti ketika sedang mabuk berat.

Mereka terlihat membuka mulut lebar-lebar dan berteriak, tapi ia hanya mendengar suara lamat-lamat. Ataukah telinganya yang kini tuli? Lalu gelap. Aneh, kini ia baru mendengar orang-orang berteriak. Sangat keras seperti mendengar nafiri kematian, dengan bunyi berderum-derum dari atas kepalanya. Di dalam gulita ia melihat gulungan asap, dan bau mesiu yang menyilet-nyilet hidungnya sampai ke pangkal penciuman. Ada bau amis yang samar, lalu asin, lalu tawar. Ia sudah tak yakin dengan kemampuan panca inderanya. Lalu semuanya menghitam. Ia seperti terjatuh ke dalam lorong tak berujung, begitu panjang. Dan terus meluncur seperti setitik debu dalam cerobong asap. Hitam sepekat-pekatnya. Ia tak tahu apakah matanya sudah buta atau masih bisa melihat. Tapi apa artinya ‘bisa melihat’ bila yang ada di sekeliling hanya kelam?

SETAHUN setelah peristiwa itu ia menerima sebuah kiriman paket. Sebuah CD kompilasi lagu. Desain sampulnya mosaik foto dari enam orang sahabat barunya di Bali. Di bagian atas sampul tertulis dengan tinta perak yang ditulis tebal, In Loving Memory of Our Beloved Soul-Sister, Verena Sucipto, 1969-2002. Penggalan puisi Henry Austin Dobson, “The Paradox of Time” tertera di sana.

time goes you say, ah no.alas, time stays.we go.

Ledakan itu, ledakan yang terjadi ketika malam belum lagi mencapai puncak terkelamnya, ikut membawa pergi nyawa Verena. Perempuan berwajah Oriental itu berdiri terlalu dekat dengan episentrum ledakan di luar kafe. Tubuhnya hancur. Sementara ia dan kelima teman barunya pingsan dan terluka parah. Delapan orang lain di kafe tempatnya bekerja ikut meninggal.

Tiga bulan pertama dihabiskannya di rumah sakit, karena cedera di bagian kepala dan tulang lengan atasnya retak tertimpa balok. Ia menderita nyeri di sekujur tubuh, tapi kepalanya yang paling serius. Ia sempat mengalami kondisi permanent vegetatif state selama tiga pekan. Memasuki pekan keempat, sebuah mukjizat kecil membuatnya percaya Tuhan itu ada. Kesadarannya berangsur pulih. Cerobong hitam pekat yang mengelilinginya ternyata berakhir. Ia serasa jatuh di sebuah lubang yang dimasuki sejarum tipis cahaya, lalu menjadi segaris, sebidang, dan diikutinya terus sumber cahaya itu yang mengantarkannya ke sebuah taman. Begitu kemilau, begitu wangi semerbak kesturi.

Di bulan keempat ia baru mengetahui bahwa Verena meninggal akibat ledakan itu. Beng diamputasi kaki kirinya, dan Ira kehilangan bola mata kanannya yang membusuk akibat tertusuk serpihan puing. Teman-temannya yang lain meski mengalami berbagai cedera, berangsur-angsur kembali pulih. Tinggal ia sendiri yang harus menjalani terapi pasca-traumatik intensif selama sembilan bulan, bolak-balik antara Jakarta-Singapura. Ia bersikeras tetap tinggal di Jakarta, dan menampik usul kedua orang tuanya yang sudah bercerai agar mau menetap di negara pulau itu untuk memudahkan pengobatan.

Di bulan kesepuluh pengobatan, ibunya terbang dari Nebraska ke Singapura dan sudah menunggu di ruang tunggu therapist. Selesai sesi, ibunya dengan sangat hati-hati meminta putri semata wayangnya yang keras kepala itu untuk mau mengikutinya ke sebuah apartemen di kawasan Bugis Junction. Ia mengalah, sambil terus bertanya-tanya apa yang hendak disampaikan ibunya.

Di apartemen itu ia temukan sebuah kejutan lain: ayahnya sudah menunggu. Tidak mungkin. Ayahnya seorang Atase Perdagangan KBRI di sebuah negeri pecahan Uni Soviet, terlalu sibuk untuk mau menunggu. Sejak ia kecil, ayahnya tak pernah punya waktu untuk menunggunya. Tidak ketika ia pulang sekolah, tidak ketika ia pulang les balet, tidak dalam kondisi apapun. Ia merasa ayah dan ibunya berkomplot untuk menjebaknya sekarang. Tapi ia tetap melihat adanya kekakuan hubungan mereka yang tak pernah cair.

“Aku langsung saja ke pokok permasalahan. Ibumu yang memintaku ke mari. Dia khawatir kau selalu bolak-balik Jakarta-Singapura tanpa pengawalan…”

“Aku bukan pejabat negara yang perlu dikawal.”

“Jangan bantah dulu. Demi Tuhan, tidak bisakah kau untuk sekali saja mendengarkan kami?”

“Dengarlah sayang, mama yang akan menemanimu di sini sampai kau benar-benar sembuh. Setelah itu, terserah apakah kau mau kembali ke Jakarta, ke Bali, atau hidup di manapun. Kau sudah 21 tahun, dan berhak mengatur hidupmu sendiri.”

Gadis itu tahu ia tak punya pilihan lain. Tidak pada saat-saat seperti ini. Tubuhnya sedang tidak sempurna, mentalnya sedang lemah, dan kondisi keuangannya, ah, tak ada yang bisa disebutnya sebagai tabungan saat ini. Ia parasit hidup bagi kedua orang tuanya. Di usia ke-21. Betapa memalukan. Ia tak punya pilihan lain, selain menghabiskan pekan demi pekan di lantai 18 sebuah kota metropolis yang selalu sibuk setiap saat. Belum lagi seorang ibu yang selalu meladeninya seteliti meladeni bayi. Ia sama sekali tak tersentuh. Ia tahu telah mewarisi dua sifat terburuk dari orang tuanya: kekeraskepalaan ayahnya, dan arogansi ibunya. Semua melebur dengan sempurna di wajahnya yang seindah bidadari.

Suara pembawa acara di televisi tiba-tiba mengembalikan kesadarannya, “… kami baru mendapatkan konfirmasi dari pihak kepolisian bahwa korban tewas bernama Kay Elena sebenarnya bernama lengkap Caitlin Elena Adikaryono, putri tunggal Atase Perdagangan Indonesia di Uzbekistan, Bapak Adikaryono Sumo …”

Gadis itu mengusap matanya yang basah. Ia tahu dirinya sudah lama mati, tapi tidak pernah dibayangkannya setragis ini. Ia abaikan ketukan pintu dan suara ibunya yang bertalu-talu di luar kamar. Kematian itu begitu cepat, meski terus saja terjadi pada dirinya berulang kali. Setiap saat.

“Kay, Kay, buka pintunya. Sarapanmu sudah dingin nanti nggak enak lagi, ayo sayang. Kamu harus banyak makan, kalau mau cepat sembuh. Kay, Kay …”***

Bali– Jakarta, 2002-2006 Riau Pos,  Edisi 06/18/2006 

One response to this post.

  1. Ide penulisan sungguh luar biasa. Unik.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: