Pulang

Dahta Gautama 

AKHIRNYA aku putuskan untuk pulang. Matahari merah saga. Jalan-jalan mendidih. Ya, kuputuskan untuk pulang, siang itu. Membuka pintu. Ada perempuan tua didalamnya, matanya cekung dan redup.“Pulang, anakku!””Ya, aku pulang, Ibu!”Orang-orang kampung, kulihat gelagat buruk di mata mereka. Mereka orang-orang biasa. Menilai orang dari sudut penampilannya saja. Sedang aku orang singkat. Tak suka banyak bicara.Bahkan ketika ibu bertanya, “Pulang, Anakku!”Aku hanya menjawab, “Ya, aku pulang!”Kemudian aku ke sumur, mandi lalu tidur di kamar belakang. Sebab hanya ada dua kamar. Kamar depan yang ditempati ibu dan kamar belakang yang kosong.Ibu orang pendiam. Setelah bertanya, “Pulang, Anakku!” Lalu ia menuju kali, nyuci baju-baju tetangga.Malamnya, aku duduk-duduk di beranda rumah. Ada satu kursi kesayanganku. Kursi rotan, yang mungkin umurnya sama dengan umurku. Melihat bintang di langit. Ada bulan sabit, kabut tipis dan ibu di ruang tengah.Sepuluh tahun. Sepuluh tahun lamanya kutinggalkan ibu. Tapi masihkah peristiwa sepuluh tahun lalu, masih diingat orang kampung. Ibu menjadi pendiam sejak peristiwa itu. Sedang aku tak tahan dengan gunjingan-gunjingan yang hampir tiap hari kudengar. Tidak. Mereka tidak memusuhi kami secara fisik. Menggebuk atau melempari rumah dan membakarnya. Mereka sudah puas dengan pembakaran itu.Sepuluh tahun lalu, walau tidak lagi remaja. Namun, aku tergolong masih muda. Meski tak belia benar. Ayahku seorang lurah dan aku anak lurah. Di desa menjadi seorang anak lurah, sudah pasti berbeda dengan anak remaja lainnya. Di kampung tentunya aku lebih disegani.Tetapi pembakaran itu. Ya, peristiwa itu. Telah mengubah kami menjadi manusia-manusia tak terhormat.Ayahku dibakar hidup-hidup oleh segerombolan orang, yang tiba-tiba muncul entah dari mana dan mendobrak pintu. Pintu itu adalah sebuah rumah mewah yang dulu berdiri di atas rumah papan ini. Yang sekarang berandanya kududuki. Tapi masih untung, aku dan ibu tak diapa-apakan. Kami diikat di halaman rumah, dan dibiarkan menonton ayah yang sekarat dilalap api. Orang-orang kampung seperti terbelenggu, mereka bersembunyi di dalam rumah, mengunci pintu rapat-rapat.Dari puing-puing rumah yang telah teronggok menjadi abu itu, aku bangun sendirian saja, sebuah rumah papan beratap seng. Aku tak mau, melihat orang-orang kampung dan tetangga, mencibir. Maka aku berbuat seperti tak pernah terjadi apa-apa.Dari gunjingan-gunjingan orang kampung yang sempat aku dengar dan akhir setiap hari aku dengar. Bahwa sebenarnya ayahku adalah seorang perampok. Mereka bilang ayahku bersekongkol dengan segerombolan pencuri sapi di desa kami dan desa-desa tetangga. Kata mereka ayah adalah gembong maling. Mereka sebenarnya tahu, siapa yang mengganyang ayah malam itu. Mereka tak lain orang-orang desa tetangga, yang telah lama mememdam amarah atas ulah ayah yang pura-pura alim itu.Gunjingan, gunjingan dan gunjingan. Aku tak peduli. Tetapi ibu sempat stres. Inilah yang membuat aku menjadi benar-benar terguncang. Ibu sering menjerit-jerit, berhamburan ke halaman rumah dan meronta-ronta serupa bocah yang minta dibelikan balon.Semua kulakukan sendiri. Sendiri pula aku menanggulangi kelakuan ibu. Karena kuanggap stres ibu semakin parah. Kumasukkan ibu ke rumah sakit jiwa.Pada suatu siang aku pamit pada ibu, waktu itu ibu sudah sembuh. Namun begitu ia menjadi sangat pendiam dan berbicara seperlunya saja.”Ibu, aku ingin pergi !””Pergilah !” kata ibu.Maka pergilah aku. Aku tak perduli dengan segala tetek bengek peninggalan ayah. Kebun kelapa yang luasnya tak seberapa itu. Aku merantau ke ibu kota. Kebetulan ada seorang teman sewaktu SMA yang mau memberi tumpangan sementara.Tak lama aku mendapat pekerjaan. Tentunya pekerjaan yang pas dengan kapasitasku yang lulus SMA. Aku kerja di pabrik garmen, di Tangerang. Kota industri pinggiran Jakarta.Walau hanya mampu menulis surat dua bulan satu kali, aku aktif memberi kabar pada ibu. Terkadang bersama wesel bila ada uang lebih. Namun tak satu pun surat kuterima dari ibu.Ah, ibu… ibu. Betapa kelam hidup ini.Tiga tahun di perantauan aku nikah. Gadis ini kujumpai disebuah panti pijat. Seperti kisah-kisah dalam novel Iwan Simatupang. Aku hanya bertanya: Maukah kamu menikah denganku!”Dan perempuan itu tak kuduga menjawab: Aku mau!”Maka menikahlah kami. Kujalani hari-hari sebagaimana biasanya dan ia menjalani hidupnya seperti sedia kala, tetap di panti pijat. Aku menemuinya bila aku butuh belaian wanita. Kami bisa bercinta di mana saja. Di bioskop, taman-taman kota, di pinggir jalan, di bawah jembatan. Di mana saja.Pada suatu malam ia memelas, “Mas bawa aku dari sini!””Aku bosan jadi pelacur… tolong bawa aku!”Ah, jengkel aku dengan model permintaan serupa itu. Aku telah terbiasa dengan kehidupanku sendiri. Maka dengan tanpa pertimbangan apa-apa, aku bilang: Ayo kita cerai!Maka cerailah kami. Tidak melalui acara di kantor pengadilan agama. Cukup dengan aku tidak mengunjunginya lagi, maka telah resmilah kami bercerai. Hidup terserak di jalan-jalan. Kuhabiskan malam di panti-panti pijat. Di Kali Jodo, Malvinas, dan Bongkaran.Tetapi ibu. Aku tak pernah lupa kepada ibu. Selalu kuberi kabar padanya. Kukatakan dalam surat: Aku bahagia ibu. Namun waktuku sedikit sekali. Karena aku mesti bangun pagi-pagi sekali dan ibu, nikmat hidup di Jakarta, aku kerja di pabrik besar dan hidup teratur. Bersama ini kukirim uang, sekadar saja. Tak henti-hentinya aku berdoa untuk ibu, dan jangan lupa jaga kesehatan ibu.”Demikian, setiap kali isi surat yang aku kirim untuk ibu.Tapi benar apa kata pepatah. Sepandai-pandainya bajing meloncat pasti akan jatuh juga. Ya, aku jatuh. Aku terkena herpes, penyakit kelamin yang paling mengerikan.Semua serbakulakukan sendiri. Seperti halnya ketika kubangun puing-puing di kampung yang terbakar. Sungguh tidak ada yang tahu hidup yang bagaimana yang sedang aku lakoni. Sahabat setia memang aku ada. Si Wowok ia yang sedikitnya tahu tentang diriku. Ia kenalan saat aku bekerja di pabrik garmen. Dan orang-orang mengenalnya sebagai penyair, selain buruh juga tentunya. Ia serupa tak teratur, seperti halnya diriku. Hanya saja, bagiku ia sahabat yang berubah total, setelah orang-orang mengenalnya sebagai penyair.Ia cuma bilang, “Pulanglah kau!”Tak memberi nasehat apa-apa. Cuma mengatakan, “Ibumu, menantimu !”Kuputuskan untuk pulang ke desa. Biarlah herpesku kusembuhkan di puskesmas saja. Benar kata Wowok, aku harus pulang.Cukup sudah petualanganku. Bah, aku tak pernah menjadi apa-apa. Sementara ibu, kasihan ia, dalam diamnya ia pasti menangis di dalam hati. Setiap malam.Tiba-tiba ibu yang sedang duduk di ruang tengah menghampiriku. Menepuk pundakku. “Tidurlah,” ujarnya lirih.Ya Tuhan betapa berdosanya aku. Betapa kesepiannya ia selama ini. Sedang aku sibuk dengan hidup yang sia-sia.***Bandar Lampung, 29 Mei 2006 (2000-2006) Lampung Online,  Edisi 06/11/2006 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: