Nadine

Ariel Heryanto

Bagi publik Indonesia, Nadine Chandrawinata menjadi tokoh pembuat berita paling top pasca-Piala Dunia 2006, mengungguli Zinédine Zidane. Ia penting walau telah kalah dalam pemilihan Miss Universe 2006.

Nadine membantu kita memahami siapa kita. Salah seorang yang paling awal memahami persoalan ini dengan jernih adalah Endy M Bayuni, pucuk pimpinan redaksi The Jakarta Post. Banyak orang mempertanyakan kelayakan Nadine mewakili Indonesia karena tampangnya separuh Eropa. Lebih banyak yang menertawakan bahasa Inggrisnya. Endy malahan menunjukkan betapa Indonesianya Nadine justru karena hal-hal ini.

Justru karena bahasa Inggrisnya tidak fasih, Nadine mewakili bangsa Indonesia. Terlebih lagi bila Nadine tetap nekat main tabrak berbahasa asing itu padahal (bukan walau pun) beberapa kali terbata-bata. Betapa Indonesianya dia! Kira-kira begitu penjelasan Endy.

Kalau orang Indonesia memang betul berciri seperti itu, mengapa baru sekarang pada kasus Nadine diributkan? Mengapa tidak dulu-dulu ketika ada pejabat negara, perwira militer, atau seniman berbahasa Inggris terpatah-patah di hadapan wartawan asing?

Mungkin ada yang menjawab: zaman itu belum ada internet. Kasus Nadine kan “mati ketawa cara internet”. Ada alasan-alasan lain. Salah satunya: semakin banyak orang Indonesia yang fasih berbahasa Inggris. Orang-orang seperti itu tertawa paling awal dan paling keras ketika menyaksikan rekan sebangsa kurang fasih, tetapi nekat berbahasa Inggris di forum resmi internasional.

Dua generasi terdahulu, ketika bahasa Indonesia baru mulai memasyarakat, banyak pertunjukan lawak yang menertawakan orang Indonesia yang serba keliru berbahasa Indonesia. Waktu itu bahasa Inggris hanya hadir sebagai pelajaran sekolah di kelas. Sekarang kaum muda belajar, bergaul, bermain, bekerja, dan menonton MTV dan DVD, mendengar Ipod yang berlepotan bahasa Inggris.

Bertambahnya orang Indonesia yang fasih berbahasa Inggris tidak berkait dengan kecerdasan bangsa. Amerikanisasi kawasan Asia Tenggara telah berlangsung setengah abad. Kemenangan Amerika dan sekutunya dalam Perang Dunia II, dan kemudian Perang Dingin, menggenapi terbentuknya sebuah tata dunia baru. Dalam bahasa iklan sebuah rokok, inilah tata dunia dengan “selera khas Amerika”.

Bahasa Indonesia memang senantiasa terbuka menerima serapan dari aneka bahasa. Tetapi, ada serapan yang di-Indonesia-kan perlahan-lahan dan kini sudah tidak asing bagi khalayak ramai. Istilah itu diserap karena diperlukan dan tidak ada padanannya dalam bahasa sendiri. Tetapi, di setiap zaman ada istilah asing yang diserap justru karena tidak dipahami banyak orang.

Sudah puluhan tahun istilah dari bahasa Inggris bertaburan di media Indonesia. Juga sebagai nama tempat atau judul filem atau dalam percakapan sehari-hari. Tetapi, ada beda yang penting di antara 30 tahun lalu dan sekarang. Dulu istilah-istilah asing itu sering dipakai pada saat tidak diperlukan. Istilah itu sengaja dipilih pemakainya justru karena banyak yang tidak paham, supaya tampak keren atau hebat. Mirip istilah-istilah Arab yang sekarang mulai bertebaran dan naik pamornya di Indonesia. Atau istilah Sansekerta di zaman Orde Baru.

Sekarang ungkapan bahasa Inggris bertaburan sehari-hari tanpa disengaja penuturnya. Tanpa memberi kesan hebat atau keren. Istilah-istilah itu hadir dalam tulisan dan percakapan orang berbahasa Indonesia, Jawa atau Bali, karena pemakainya tidak tahu cara lain untuk merumuskan pikirannya.

Banyak yang mengkritik gejala ini tanpa memahami perbedaan dan perubahan sejarah itu. Para pengkritik ini menganggap penggunaan istilah asing itu sebagai siasat sok Barat atau sikap tidak nasional seperti pada generasi sebelumnya. Padahal, kini persoalannya ketidak-tahuan dan kemalasan.

Di masa ini kaum muda akan mati kutu bila diminta berpikir dan mencari padanan dalam bahasa Indonesia untuk istilah-istilah Inggris yang dipakainya. Bukan karena padanan itu tidak ada, tetapi mereka tidak tahu dan malas mencari tahu. Mereka tidak berusaha meng-Inggris-Inggris-kan diri seperti generasi terdahulu. Mereka bengong saja di-Inggris-kan oleh lingkungannya.

Indonesia semakin mirip bangsa-bangsa bekas jajahan Inggris. Semakin banyak orang Indonesia yang tidak mampu menulis satu halaman atau bicara lima menit dalam bahasa Indonesia yang mulus, tanpa istilah-istilah bahasa Inggris mutakhir yang sedang pop. Mereka juga tidak mampu menulis satu halaman atau bicara lima menit dalam bahasa Inggris yang mulus, tanpa berlepotan logat dan pengaruh tata-bahasa bahasa Indonesia. Ada banyak Nadine di antara yang menertawakan Nadine.

Kompas, (asal usul) sabtu, 05 Agust 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: