Selamat Jalan Riswandha Imawan, sang Elang Merapi

Tiga Jam sebelum Wafat Sempat Uji Tesis Mahasiswa
Eagle flies alone (Burung Elang selalu terbang sendiri). Kalimat itu selalu ditulis Riswandha Imawan di setiap akhir artikelnya. Kemarin sang Elang itu benar-benar terbang sendirian untuk menemui Sang Khalik. Dia meninggal pukul 13.45 WIB di Rumah Sakit Panti Rini, Kalasan, Jogja.

ERWAN WIDYARTO, Jogja

Riswandha, yang selalu menulis tempat tinggalnya di Kaki Merapi itu, mengembuskan napas terakhir karena serangan jantung dan penyakit diabetes yang telah lama diidap.

Guru besar ilmu politik Fisipol UGM (Universitas Gadjah Mada) itu sebenarnya berencana pergi ke Kupang, Nusa Tenggara Timur, untuk riset yang tengah dikerjakannya bersama dua rekannya dari Fisipol, Praktikno dan Cornelis Lay.

Tapi, saat berada di Bandara Adisutjipto Jogja, Riswandha pingsan. Menurut Kepala Seksi Administrasi dan Keuangan PT Angkasa Pura Bandara Adisucipto Aryadi Subagyo, sekitar pukul 11.30 ada petugas di terminal keberangkatan yang meneleponnya dan mengabarkan ada calon penumpang yang pingsan.

Ary -panggilan Aryadi- mengaku juga ditelepon teman serombongan Riswandha yang mengatakan agar mengecek temannya sesama dosen UGM yang pingsan di terminal. “Saya langsung lari ke sana, ternyata Pak Riswandha,” kata Aryadi.

Saat itu, Riswandha dalam kondisi tertelungkup di kursi. Keringat mengucur deras dari hampir seluruh tubuhnya dan sudah berjatuhan ke lantai. Wajahnya pucat. Dia langsung dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Panti Rini Kalasan yang dinilai paling dekat dari bandara. Di RS itulah, pria kelahiran Bangkalan, Madura, 17 Januari 1955, itu mengembuskan napas yang terakhir.

Kabar meninggalnya tokoh politik yang tulisan-tulisannya sarat kritik itu langsung menyebar. Ruang jenazah RS Panti Rini pun dipenuhi kolega almarhum dari UGM. Terlihat Rektor UGM Prof Dr Sofian Effendi, Dekan Fisipol Prof Dr Mohtar Mas’oed, beserta sejumlah dosen Fisipol UGM yang mengiring jenazah hingga ke rumah.

Di rumah duka, Jalan Tongkol Raya 5, Minomartani, Sleman, kesibukan juga langsung terlihat. Begitu jenazah tiba pukul 15.15, sejumlah tokoh pun tampak hadir. Di antara mereka Bupati Sleman Ibnu Subiyanto dan Juru Kunci Merapi Mas Panewu Surakso Hargo alias Mbah Marijan.

Begitu turun dari ambulans, Herry Isminedy, istri Riswandha, dan ketiga anaknya -Rafif Pamenang Imawan, Satria Aji Imawan, dan Arga Pribadi Imawan- tak kuasa menahan tangis. Mereka langsung dipapah para kerabatnya ke dalam rumah. Tapi, beberapa saat kemudian, ketiga anaknya tampak tenang dan ikut memandikan jenazah bapaknya.

Anak sulung Riswandha, Rafif Pamenang Imawan, 19, menuturkan bahwa sudah seminggu ayahnya mengeluh dadanya sakit dan sesak napas. Namun, meski dalam kondisi sakit, ayahnya masih terus beraktivitas. Bahkan, hingga pukul 10.00 kemarin, sebelum berangkat ke bandara, Riswandha masih menguji tesis S-2 seorang mahasiswanya.

“Sudah seminggu ayah mengeluh sakit di bagian dada. Kondisi kesehatannya memang terganggu akhir-akhir ini. Tetapi, dia masih sempat menguji mahasiswanya. Beliau tetap energik meski sedang sakit,” tambah mahasiswa semester dua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM itu.

Di RS Panti Rini, peraih doktor bidang comparative politics dari Northern Illinois University DeKalb, Illinois, AS, 1989 itu sempat menenangkan keluarganya. Dia sempat siuman dari pingsannya dan mengatakan akan baik-baik saja. “Namun, beberapa detik kemudian kondisinya menurun drastis dan sekitar pukul 13.45 mengembuskan napas terakhir,” ujar AAGN Ari Dwipayana, seorang asisten dosen Fisipol UGM yang hadir di rumah sakit.

Di mata keluarga dan koleganya, ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM itu adalah sosok ilmuwan dalam bidang politik yang tiada tanding. Bagi istri dan anak-anaknya, almarhum adalah teladan yang baik.

“Dia sosok ayah yang baik. Dia mampu mengubah kepribadian saya dan adik-adik menjadi lebih baik. Dia ayah yang sangat sederhana. Beliau mengajarkan kepada kami hidup sederhana, jangan malu pergi ke kampus memakai sepeda motor. Ayah sering pergi memakai motor meski ada mobil di rumah,” ujar Rafif, menirukan nasihat ayahnya.

Oleh teman-temannya sefakultas, almarhum dijuluki Elang dari Merapi yang selalu terbang sendiri.

Riswandha adalah sosok ilmuwan yang independen. “Siapa pun tidak mampu menggoyahkan pemikirannya yang independen,” tegas Dr Purwo Santoso, koleganya yang kini menjabat wakil dekan I Fisipol UGM.

Purwo juga terkesan dengan sosok Riswandha yang energik, seperti tak kenal lelah. “Yang paling menonjol dari Mas Ris (Riswandha, Red) itu ya dia itu energik dan pintar menarik perhatian. Jika ada kerumunan, lalu dia datang, pasti orang langsung beralih ke dia,” tambah Purwo.

Purwo menambahkan, pemikiran Riswandha tentang demokrasi berbasis masyarakat juga sangat brilian. Dia adalah sosok yang sangat rajin mencatat kejadian di masyarakat dan paling cepat merespons. “Pemikirannya adalah realitas sosial. Pemikiran almarhum harus kita teruskan. Kepribadiannya sebagai seorang pendaki gunung mampu mematahkan feodalisme di UGM,” tambahnya.

Kecepatan respons Riswandha terhadap situasi kekinian itu juga sering disampaikan kepada wartawan koran ini lewat SMS sebelum akhirnya tertuang dalam tulisan-tulisan di media. Terakhir, dia mengirim SMS mengenai imbauan presiden agar masyarakat tidak mengaitkan gempa dengan klenik.

Rasanan itulah yang menjadi tulisan Pemimpin Gempa Gempita yang dimuat di Jawa Pos 2 Agustus 2006, yang intinya mempertanyakan konsistensi antara kata dan perbuatan seorang pemimpin. “Tidak percaya klenik kok mantu anaknya mencari itungan hari baik,” tulis pria yang akrab dengan Mbah Marijan karena kegemarannya mendaki Merapi itu. Dia menyindir Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Ketika Presiden SBY mau berkunjung ke Merapi dan bertemu dengan Mbah Marijan, Riswandha juga berkirim SMS. Sehari sebelum kunjungan, dia cerita kalau dimintai masukan Pak Marijan. Riswandha selalu menyebut juru kunci Merapi itu dengan Pak Marijan.

“Saya sarankan kalau mau bertamu ya tamunya yang harus datang menemui tuan rumah. Bukan Pak Marijan yang turun. Betul kan?” tulis Riswandha waktu itu.

Begitulah, suami Dra Herry Isminedy itu selalu merespons perkembangan dengan cepat. Karena itu, tak mengherankan jika Rektor UGM Sofian Effendi menilai kepergian Riswandha merupakan tantangan tersendiri bagi UGM. Dia mengatakan, setelah kepergian Afan Gaffar dan Riswandha Imawan, UGM harus mencari bibit ilmuwan baru.

“Kami tidak menyangka Riswandha akan pergi dalam usia muda. UGM sangat kehilangan seorang ilmuwan terbaik dan harus segera mencari bibit baru,” ujar Sofian yang kagum dengan kedekatan Riswandha bersama mahasiswa.

Sebagai seorang perancang UU Politik maupun UU Otonomi Daerah, Riswandha selalu gelisah atas jalannya reformasi dan otonomi. “Almarhum melihat ada kesalahan kenapa reformasi dan otonomi daerah tidak berjalan sesuai harapan,” tambah Sofian.

Dekan Fisipol UGM Mohtar Mas’oed berharap, kematian Riswandha pada Jumat itu melapangkan jalannya menghadap Ilahi. Mohtar mengamini penjelasan KH Mufti Abu Yazid bahwa orang yang meninggal Jumat bebas dari siksa kubur.

Jenazah Riswandha Imawan akan dimakamkan hari ini pukul 13.00 di pemakaman keluarga besar UGM, Sawitsari. Sebelumnya, jenazah akan disemayamkan di Balairung untuk mendapatkan penghormatan terakhir dari sivitas akademika dan sejawatnya. Selamat jalan Elang Merapi. Allah pasti akan menghitung kepakan sayap kebaikanmu semasa hidup. Amin.(*)

Jawapos, Sabtu, 05 Agt 2006,

10 responses to this post.

  1. Posted by Nofa on August 11, 2006 at 12:20 pm

    Semoga kita dapat meneladani guru kita
    Saya sangat terkesan dengan petuah2 Pak Ris ketika beliau memberi semangat untuk mahasiswa yang lagi droppp
    “kamu boleh takut, Tapi jangan pernah lari”
    terima kasih Pak Ris, Semoga Pak Ris mendapat tempat terbaik di Sisinya.Amin.

    Reply

  2. Posted by yazid (mahasiswa) on August 16, 2006 at 4:09 am

    selamat jalan “eagle flies alone”
    sang pemikir politik cerdas dan kritis
    mas ris adalah pembangkit semangat
    terima kasih pak ris atas jasa2mu

    tempat terbaik Insya Allah menjadi balasannya.Amien

    Reply

  3. Posted by dedymm on September 16, 2006 at 9:12 pm

    Prof Ris…

    kami mengenalmu…
    sebagai akademisi humanis,rileks,egaliter,
    sebagai pakar ilmu politik independen
    kami mengenangmu…

    40 hari lebih sepeninggalmu…
    kami ingat canda, petuah dan ulasan-ulasan segar
    tertulis rapi dalam teks-teks studi
    dan kini kembali pada SANG KHALIQ

    selamat jalan Prof Riswandha

    Reply

  4. beberapa waktu lalu saya sempat mencontek “eagle flies alone” yang memang bermula dari almarhum. Selamat jalan…akhirnya memang kita akan tetap flies alone!!!

    Reply

  5. Posted by alvian on October 15, 2006 at 9:56 am

    pak ris, belum sempat kami merasakan betul gemblenganmu. tapi semangatmu selalu kami kenang…..
    selamat jalan sang elang…

    Reply

  6. Posted by Ita f. on November 6, 2006 at 3:19 am

    Smoga pak Ris mendapat tempat terbaik di
    sisi-Nya..karena mmg itulah yg pantas dia
    dptkan setelah perjuangannya yg tak pernah
    berhenti.
    Pak ris,Anda akan sll mjd inspirasi bg saya.

    Reply

  7. Posted by Fauzy on December 11, 2007 at 1:02 am

    Aku menunggu elang-elang yang lain, yang kan mencerahkan bangsa dimasa kini dan nanti, sehingga harga diri sebagai bangsa tak tergadaikan oleh kepentingan politik sesaat baik nasional maupun internasional, selamat jalan guru besarku, walaupun kau telah tiada, beratus tulisan mu di berbagai media kan selalu mencerahkan generasi sesudahmu
    dari muridmu yang merindukan dosen-dosen sekaliber “elang”………….

    Reply

  8. Posted by anugra bangsawan on September 11, 2009 at 2:00 pm

    Berguru kepadamu menajdi kebanggaan bagi ku. Kami merindukan mu profesor tampan, kocak, tiada tertandingi

    Reply

  9. Posted by endrat on December 17, 2009 at 7:12 am

    selamat jalan kolonel

    Reply

  10. My professor passed away,
    He’s a good man. Prof. Riswandha Imawan with his nickname Eagle flies alone. His name is similar to my name Rifai RİWANDAna Anjas with nich name East Star . Many college friends and lecturers who thought we had a brother relationship. Prof. Riswandha rest in peace. I hope you take mercy from god and go to heaven.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: