Si Kaya dan Si Miskin

Mohamad Sobary

Kemiskinan makin merajalela, seperti rumput ilalang. Dibabat pagi sore tumbuh lagi, dibabat sore pagi tumbuh lagi. Rezim demi rezim penguasa mencoba melawannya, tetapi kemiskinan tetap di tempat semula.

Bahkan, bila sikap skeptis di dalam masyarakat benar bahwa si kaya bertambah kaya dan si miskin bertambah miskin, maka jelaslah bagi kita, kemiskinan justru sangat agresif, lebih dari strategi dan program-program yang disusun pemerintah.

Sesudah menaklukkan desa, kemiskinan pun bergerak menyerbu kota, dan menduduki banyak bagian kota sehingga di mana-mana lahir kampung kumuh. Tiap jengkal tanah kosong, dihuni kaum gelandangan. Dan muncullah kemudian konsep kaum proletariat kota dari studi-studi antropologi ekonomi yang khusus memperhatikan dinamika kemiskinan kota-kota.

Dan lama-lama orang bertanya, apa gerangan kemiskinan itu sebenarnya? Dari seminar ke seminar, sejak tahun 1970-an, hal itu diperdebatkan di kalangan berbagai ahli.

Semua pihak setuju, kemiskinan bukan hanya perkara tak memiliki harta atau memiliki terlalu sedikit dibanding pihak-pihak lain. Kemiskinan juga bukan suratan nasib. Maka sebutan the unfortunate harus ditolak karena di dunia kita tak hanya menyadongkan tangan ke atas dan yang “diberi” lalu menjadi yang “beruntung” dan sebaliknya yang tak “diberi” menjadi yang “tak beruntung”.

Hidup bukan perkara untung-untungan, melainkan perjuangan. Banyak unsur struktural turut memengaruhi mengapa seseorang, atau segolongan orang, atau mayoritas orang di negeri kita tetap miskin. Maka, di seminar ahli-ahli ilmu pengetahuan di Manado, mungkin tahun 1976, dirumuskanlah pemahaman mengenai kemiskinan struktural.

Dan sesudah masalahnya terumus secara meyakinkan seperti itu kita pun tidur nyenyak dan lupa akan urusan kemiskinan, padahal kemiskinan masih melilit sendal jepit presiden dan menteri-menterinya, gubernur, dan bupati-bupatinya, serta wali kota dan camat-camatnya, meskipun sebenarnya mereka hidup sangat jauh dari kemiskinan.

“Hanya orang miskin yang selalu ingat akan kemiskinan,” kata orang bijak. Jadi kalau pemimpin negara melupakannya, itu biasa. Dan kalau orang kaya di masyarakat kita tak peduli akan orang miskin itu pun sudah “kodrat” kulturalnya memang begitu.

Maka, kalau kau miskin dan di suatu seminar atau pesta kau ditegur orang kaya yang seolah begitu ramah kepadamu, maka bersyukurlah. Tetapi, jangan mencoba ganti bertanya “apa kabar” kepadanya sebab ia sudah lenyap karena keramahannya tadi hanya basa-basi sebab ia takut padamu.

“Apa yang ditakutkan orang kaya?”

“Ia takut ketika ia kepergok seperti itu kau mengajukan proposal untuk minta bantuan ini dan itu.”

>diaL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: