45

Suka Hardjana

Sekitar jam empat sore matahari bulan Agustus masih menyengat terik. Kami anak-anak di sebuah kota kecil kawedanan daerah Yogyakarta berdiri di pinggir jalan raya yang menghubungkan kota perjuangan itu dengan Kota Magelang. Bersama beberapa ibu-ibu dan orang-orang tua lainnya kami melambai-lambaikan bendera-bendera kertas kecil merah putih sambil terus-menerus meneriakkan slogan-slogan perjuangan yang sedang membara pada saat itu: Merdeka, merdeka! Merdeka atau mati! Di depan kami tak putus-putusnya para laskar rakyat, pemuda pejuang, pelajar, dan anggota kumpulan pejuang pembebasan lainnya berbaris berkelompok menuju ke utara atau arah sebaliknya. Mereka berparade menyambut hari kemenangan yang pada pagi hari sebelumnya telah dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta di Jalan Pegangsaan Jakarta: Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sambil berbaris rapi para pejuang itu tak henti-hentinya menyanyikan lagu-lagu perjuangan yang belum banyak kami kenal. Mereka masih muda-muda, bersemangat, dan mencoba bertegap-tegap diri.

Mereka kurus-kurus seperti kekurangan gizi, tapi berwajah cerah dan tak lepas senyum. Seragam mereka putih-putih setengah kumal, dengan lipatan baju drill pendek yang digulung setengah tangan dan celana panjang kedodoran yang sobek atau ditambal jahitan di sana-sini. Beberapa di antara mereka memakai sepatu kumuh atau sandal lusuh yang sudah menganga di bagian penutup alasnya, sebagian lainnya berbaris tanpa alas kaki apa pun. Sebagian lagi mengenakan peci atau baret tentara sekenanya tanpa menyandang sepucuk senjata api pun kecuali memanggul geranggang atau bambu runcing dengan keris atau kelewang terselip di pinggang. Hanya pimpinan kelompok mereka yang tampak berpakaian seragam ala tentara dan menyandang senjata api panjang di gantungan pundak atau sepucuk revolver di pinggang.

Meski tampak terlalu sederhana dan sama sekali tak meyakinkan untuk matra tentara modern zaman sekarang, tetapi kehadiran mereka mendapat simpati dan sambutan yang tulus dan menggembirakan dari masyarakat luas. Tak seorang pun yang tak menerima kehadiran mereka. Mereka adalah pahlawan bangsa, pelindung rakyat, pembela negara.

Padahal, mereka tampak kurus, lemah, dan seperti kurang gizi, sebagian dari mereka bahkan tampak benar-benar kurang sehat—tetapi semangat, kerelaan untuk berkorban dan kesediaan mereka untuk berjuang menegakkan kemerdekaan dan kedaulatan bagi sebuah bangsa dan negara yang sedang lahir—diterima dengan penuh rasa syukur dan antusiasme kegembiraan seluruh penduduk negeri.

Kami anak-anak kecil tentu saja belum mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Bila kami meneriakkan slogan-slogan perjuangan “merdeka, merdeka atau mati”, kami hanya ikut-ikutan saja menirukan teriakan orang-orang lain yang lebih dewasa, terutama para pejuang yang sedang berbaris dan dielu-elukan itu. Kami belum tahu apa itu arti merdeka, apalagi merdeka atau mati. Tapi itu tak penting. Apa yang terjadi adalah rasa solidaritas yang menyatukan. Nasib sepenanggungan yang harus diperjuangkan.

Menjadi merdeka dan berdaulat yang membebaskan dan memberi rasa hormat dan harga diri yang harus ditegakkan. Etos itu serta-merta menimbulkan semangat kesadaran patriotisme berbangsa dan bernegara, menumbuhkan rasa persaudaraan dan persatuan yang mengikat nasib bersama yang menyatukan semua lapisan masyarakat yang bergolong-golong dalam latar belakang keyakinan, kepercayaan, kepentingan politik—adat dan budaya yang berbeda-beda.

Maka, bila ditilik ulang, slogan-slogannya pun masih asli mencerminkan representasi dari keinginan bersama untuk menjadi merdeka dalam nasib yang sepenanggungan, seperti sama rata-sama rasa, lukamu-sakitku, berat sama dipikul-ringan sama dijinjing, tak mati-membela yang benar, adil-makmur, adil dulu baru makmur, mangan ra mangan ngumpul (arti sesungguhnya, tetap selalu bersatu dalam keadaan apa dan bagaimanapun, kias yang sama sekali tak ada hubungannya dengan soal makan). Di citra penglihatan dan pendengaran manusia Indonesia masa kini, slogan-slogan itu tentu saja terkesan terlalu sederhana, terbelakang, naif, dan aneh yang akan mengundang rasa geli dan senyum sinisme yang berbau hipokrisi. Tapi begitulah keadaan awal mulanya negeri ini dinyatakan sebagai sebuah NKRI, 61 tahun yang lalu.

Empat hari lagi suasana itu, seperti tiap tahun terjadi, akan coba dikenang kembali. Bendera-bendera dikibarkan, upacara-upacara dan pidato-pidato resmi dihajatkan, siswa- siswa sekolah, para pramuka, tentara, dan polisi dikumpulkan dalam suatu acara apel harian untuk mendengarkan tuah-tuah politik dan komando atasan dan para pembina. Di jalan-jalan akan terlihat iring-iringan pesta kuno karnaval kendaraan atau pakaian adat Nusantara sambil menyelipkan pesan-pesan politik dagang atau kampanye politik kekuasaan dan kepentingan tersembunyi. Lomba-lomba olahraga “4 sehat 5 sempurna” dimeriahkan dengan acara badminton, pingpong, main gaple, sepak bola jalanan berkostum rok dan kebaya perempuan, lomba panjat pinang berpelicin minyak pelumas, atau lomba nyosor kerupuk udang tergantung tali dengan tangan terikat yang murah meriah.

Begitulah rakyat kecil sebisa-bisa mencoba ikut merayakan dan mengenang kembali Hari Proklamasi Kemerdekaan dengan cara yang sederhana. Rakyat gede? Mereka pergi ke hotel-hotel dan restoran berbintang atau berwisata ke tempat-tempat peristirahatan di dalam atau di luar negeri yang tidak murah untuk berlibur dengan orang-orang berdekat hati. Apalagi tuju belasan tahun ini berada tepat di gerbang hari libur nasional, tanggal 17, 20, dan 21 sehingga hari Jumat dan Sabtu tanggal 18 dan 19 Agustus 2006 akan masuk bilangan harpitnas. Sepekan berlibur panjang di hari merdeka suatu bangsa yang belum sepenuhnya “merdeka”. Enak juga menjadi merdeka itu, ya? Cuma itu? Atau cuma segitu merdeka itu? Tentu saja tidak. Sesudah 61 tahun, semuanya kini telah berubah. Siapa peduli?

Sumber: Kompas (ASAL USUL),Minggu, 13 Agustus 2006

One response to this post.

  1. mohon kirimkan slogan kampanye politik

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: