Bebas Merdeka (Dengan Sopan)

Coba tanya ke bokap-nyokap atau eyang kita tentang perbedaan soal kemerdekaan di zaman mereka dengan zaman sekarang. Pasti mereka akan dengan tegas bilang, “Sekarang jauh lebih merdeka!”

Bersyukurlah kita. Karena kita jadi generasi muda di zaman Indonesia sudah jauh lebih merdeka dibandingkan di masa lalu. Yaitu di saat Indonesia masih dijajah Belanda selama 350 tahun. Atau saat kemerdekaan masih berupa sebutan belaka. Sebuah masa yang terjadi sampai akhir tahun 1990-an di kala pembangunan sudah maju dan nama bangsa sudah dikenal di seluruh dunia, tapi kemerdekaan individu masih belum terasa.

Coba bandingkan dengan zaman sekarang. Zaman reformasi membuat semua orang bebas bicara. Kebebasan kembali jadi hak asasi yang dilindungi. Silakan bersuara bila ada yang tak sesuai. Imbas kebebasan semacam ini? Dahsyat banget!

Berbagai organisasi bermunculan di mana-mana. Media massa makin berkembang. Kreativitas generasi muda semakin meruah. Salah satu contohnya dalam soal ekskul. Zaman sekarang ekskul enggak cuma pramuka, KIR, atau basket. Sekarang ada ekskul film, salon, dan otomotif. Daaan… yang paling kerasa adalah interaksi kita juga berubah. Prinsip equality antara tua dan muda mulai mencuat. Kalau merasa benar, kaum muda enggak lagi takut menyuarakan pendapatnya pada generasi lebih tua. Sebuah prinsip yang melahirkan kemajuan. Tapi juga berdampak pada arti kemerdekaan yang sebenarnya.

Perubahan nilai

Apa arti kemerdekaan? Kalau menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun WJS Poerwadarminta, merdeka berarti bebas dari perhambaan, penjajahan, dan lain sebagainya. Betul, bangsa kita sudah 61 tahun merdeka. Betul juga kalau sejak reformasi kita lebih bebas bersuara. Tapi, apa betul kita benar-benar merdeka? Apakah merdeka itu berarti yang penting kita bebas mengutarakan pendapat atau berperilaku tanpa melihat efeknya ke orang lain? Karena inilah yang akhirnya memutarbalikkan arti kemerdekaan itu sendiri.

Contoh tindakan paling gampang adalah ketika kita minta tolong pada seseorang. Sering kali karena menganggap sudah akrab, kita dengan seenaknya ngomong, “Pinjam catatan, dong!” Contoh lain, memotong omongan orang karena kita sudah enggak tahan membicarakan opini kita. Atau berbicara dengan volume keras di situasi yang enggak sesuai. Seperti saat berada di kantor bokap, kita asyik ngegosip dengan volume keras di telepon dengan teman.

Mungkin kita yang melakukan tindakan-tindakan seperti di atas merasa enggak terganggu. Toh, tujuan kita bisa tercapai. Permintaan minta tolong tanpa harus ngomong, “Tolong”, tetap bisa berhasil. Memotong omongan orang bukan masalah karena pendapat kita benar. Enggak ada aturan tertulis di kantor bokap yang melarang kita berbicara dengan volume keras. Cuma masalahnya, pernahkah kita berpikir tindakan-tindakan semacam ini akan mengganggu orang lain?

Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah enggak keberatan ketika ada orang lain memotong pembicaraan? Atau saat menelepon seseorang, orang yang menjawab bukannya bilang, “Halo”, atau “Selamat siang”, tapi langsung dijawab dengan, “Siapa nih?”

Hal-hal kecil semacam inilah yang mendorong jaringan radio Prambors yang tersebar di delapan kota di Indonesia membuat iklan layanan masyarakat dengan tema etika kesopanan. Kalau kita tinggal di Jakarta dan suka mendengarkan Prambors, mungkin masih ingat iklan yang menggambarkan dampak positif dari berkata, “Terima Kasih”, “Tolong”, dan “Maaf”. Atau iklan yang menceritakan bahwa ortu itu sosok yang sebenarnya harus lebih dipentingkan daripada pacar.

Apa, sih, yang bikin jaringan Prambors membuat tema semacam ini? “Perilaku anak muda zaman sekarang itu beda banget dibandingkan zaman dulu. Contohnya, mereka lebih cuek ke orang yang lebih tua,” ujar Roby, koordinator reporter sekaligus salah satu pencetus ide layanan masyarakat ini.

Kira-kira apa yang bikin remaja berubah? Menurut Roby, “Anak muda sekarang lebih individualis. Pengin segala sesuatu serba instan. Ada pengaruh dari media dan juga keluarga. Seperti ortu yang cuek. Atau remaja terbawa perilaku teman-temannya.”

Hmm, kalau dipikir-pikir lagi, tudingan ini memang benar adanya. Pengaruh budaya Barat di negara kita memang cukup kental. Salah satunya dengan kecenderungan kita menjadi individualistis atau elo-elo gue-gue dan mengutamakan kesetaraan antargenerasi.

Menurut Sheila Hodge dalam bukunya, Global Smarts: The Art of Communicating and Deal Making Anywhere in the World, individualisme adalah suatu sistem nilai yang mengutamakan kemampuan individu daripada hubungan baik dengan orang lain. Yang paling penting dalam nilai individualisme adalah tujuan yang tercapai meskipun itu berarti harus berargumen dengan orang lain. Sisi bagusnya, konflik bukan sesuatu yang ditakuti. Kita bisa bebas berdiskusi tentang pendapat masing-masing.

Faktor nilai individualisme yang makin tinggi ini kemudian mulai jadi panutan kita. Dan biasanya, orang-orang yang individualis akan mementingkan kesetaraan. Istilah ilmiahnya, menurut Geert Hoefstede dalam International Management (1990), bernama low power distance. Kadar power distance yang tinggi berarti kecenderungan menghormati yang lebih tua atau posisinya lebih tinggi. Contoh, enggan mengutarakan pendapat karena perasaan enggak enak pada guru. Sebaliknya, low power distance salah satunya ditunjukkan dengan berani berargumen dengan guru kalau enggak setuju pada ajarannya.

Sebenarnya, nih, berdasarkan riset Geert Hoefstede yang dilakukan pada tahun 1995 dan dimasukkan dalam bukunya yang berjudul Motivation, Leadership and Organization: Do American Theories Apply Abroad? nilai budaya individualis masih sangat jarang dianut bangsa Indonesia. Maksudnya, orang Indonesia cenderung mengutamakan keharmonisan dalam hubungan sehingga mengutarakan pendapat pun harus hati-hati. Ditambah lagi, pada masa itu, orang Indonesia punya nilai power distance yang tinggi.

Duh, dari tadi bahasanya ilmiah banget, ya? He-he-he. Ya intinya begini, ada perubahan nilai budaya pada remaja tahun 2000-an (yaitu kita) bila dibandingkan dengan remaja tahun-tahun sebelumnya. Perubahan yang dinilai cool karena seiring dengan perombakan gila-gilaan di negara kita saat reformasi tahun 1998-an. Tapi sayangnya, hal yang cool itu, di mata orang lain enggak se-cool yang kita kira.

Kenapa sopan?

Sebenarnya enggak ada yang melarang kita untuk mengikuti arus perubahan dan modernisasi. Malahan kita harus up to date. Masalahnya, kita harus tetap punya batasan agar jangan sampai kebebasan yang sekarang sedang jadi tren malahan mengganggu kebebasan orang lain. Contoh gampangnya dalam hal kesopanan tadi. Walaupun kesannya sepele, tapi sebenarnya kesopanan mengambil peranan yang sangat penting dalam pergaulan.

Buat setiap manusia yang masih waras, pasti akan sulit sekali untuk menghormati seseorang yang jelas-jelas enggak menghormati kita. Seperti, seorang teman yang suka minta tolong tapi setelah itu sangat jarang bilang terima kasih. Atau saat konsen ngerjain PR di kamar, tetangga sebelah rumah mendengarkan musik dengan volume keras yang bikin kita tuli. Kebayang, kan, betapa nyebelinnya perilaku semacam itu?

Lebih jauh lagi, tanpa kita sadari, perilaku nyebelin ini pada akhirnya bisa berdampak ke keluarga. “Di saat bergaul dengan masyarakat luar, orang akan melihat perilaku kita sebagai cerminan keluarga. Artinya, kalau kita cuek bebek, bisa jadi keluarga dicap jelek karena dianggap enggak ngajarin sopan-santun,” kata Roby. Waduh, gawat, nih!

Menjadi sopan bukan suatu hal yang sulit. Hanya butuh niat untuk menghargai dan menghormati orang lain. Bukankah kita juga senang bila orang lain bersikap manis pada kita? Misal, mengucapkan terima kasih dengan tulus dan minta maaf bila bersalah. Mungkin, nih, salah satu halangan terbesar yang bikin kita malas melakukan hal-hal itu adalah rasa gengsi. Melihat teman-teman sudah enggak lagi mencium tangan ortu sebelum pamit, kita jadi risi melakukan itu lagi. Padahal, ortu senang banget kalau kita bersikap seperti ini.

Pada dasarnya, menjadi sopan juga lebih banyak membawa manfaat daripada kerugian. Orang lain jadi lebih respect dan menghargai kita. Efek lebih jauhnya lagi, mereka jadi lebih senang bergaul serta bersedia bila dimintai tolong.

Kemerdekaan memang berarti kita bebas bersuara. Tapi, kemerdekaan juga berarti kita tidak dijajah orang lain yang semena-mena menyuarakan kebebasannya. Ingat, dong, friends, kita, kan, hidup di suatu negara yang beradab, bukan di hutan. Kita juga hidup bersama miliaran orang lain di seluruh dunia. Jadi kalau mau survive, perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Peace!

Trinzi Mulamawitri
Tim Muda

Sumber: Kompas (MUDA), Senin 4 Agustus 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: