Kuliah? Jangan Terlena Kebebasannya

Kuliah itu bebas. Dari satu sisi emang bener. Tapi lebih banyak tanggung jawabnya.Padahal, di balik hilangnya peraturan berseragam tadi, dunia kuliah menuntut kita lebih mandiri karena jadwal perkuliahan suatu waktu bisa kita atur sendiri. Inilah yang menuntut kita bertanggung jawab pada diri sendiri. 

Di kelas pun, ada beberapa dosen yang membebaskan kita untuk keluar kelas kalau udah enggak enjoy mengikuti mata kuliah. Semua itu mendidik kita untuk belajar mengatur suasana kuliah yang enak.

Ujung-ujungnya, nanti kita akan dihadapkan dengan pilihan rumit: Mau cepat lulus atau lama?

Asal tau aja, ada temen-temen kita yang bisa lulus dalam waktu 3,5 tahun (waktu normal 4 atau 5 tahun). Tapi banyak juga yang berkutat sampai 6 atau bahkan lebih dari 7 tahun untuk mendapatkan gelar sarjana. Yaiiks lama banget ya?

Selamat datang di dunia kuliah. Di mana pilihan klasik antara mau lulus cepat atau lambat selalu muncul. Dan pada saat itulah godaan selalu muncul. Mulai dari godaan bergaul seluas-luasnya, berorganisasi, sampai nyari cewek. Semua itu bisa memengaruhi keseriusan kita menamatkan jenjang kuliah. Tapi, enggak sedikit juga dengan kegiatan yang segudang, seorang mahasiswa bisa menyelesaikan semuanya dengan tepat waktu.

Tak ada tinggal kelas

Pertama kali kuliah, pastinya ada semacam paket mata kuliah yang harus diambil di semester awal. Jumlahnya ditentukan oleh Satuan Kredit Semester (SKS) yang jumlah beragam, dari 2 sampai 6, tergantung bobot mata kuliah itu sendiri. Makin banyak SKS setiap mata kuliah, berarti semakin penting mata kuliah itu.

Mata kuliah yang didapat ketika awal semester biasanya juga merupakan mata kuliah dasar. Biasanya pada semester awal, jumlah SKS sudah ditentukan secara mutlak. Kebanyakan, jumlah SKS yang harus diambil di semester awal berkisar 18 sampai 22 SKS.

Udah gitu, yang harus diwaspadai adalah mata-mata kuliah itu merupakan syarat untuk melanjutkan ke mata kuliah berikutnya. Jadi kalau belum lulus mata kuliah dasar, tentunya belum boleh mengikuti mata kuliah lanjutannya.

Serunya, tidak ada istilah tinggal kelas dalam dunia kuliah. Soalnya, yang dinilai adalah ketuntasan setiap mata kuliah. Jadi, setiap mahasiswa pasti naik ke semester berikutnya, tapi belum tentu dengan predikat lulus di tiap mata kuliah. So, walaupun udah ada di semester tinggi, tapi harus mengulang mata kuliah yang belum lulus. Enggak heran kalau ada senior yang sekelas sama para anak baru. Berarti dia enggak lulus mata kuliah semester awal tuh!

Terus, untuk penilaian kelulusannya?

Setiap penilaian digambarkan dengan huruf A, B, C, dan D. Nilai A berpoin 4, B poin 3, C poin 2, dan D poinnya 1. Malah, ada juga nilai E untuk menggambarkan kegagalan seorang mahasiswa dalam sebuah mata kuliah. Tapi, nilai D pun udah bisa membuat mahasiswa harus mengulang. Sehingga, nilai C terasa sangat pas-pasan.

Penghitungan akhirnya adalah seperti ini. Misalnya, mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum bobot SKS-nya 2. Kalau kita dapet nilai B (poin 3), berati skor yang kita dapat adalah 6. Itu baru satu mata kuliah. Untuk hasil akhir semester, muncul yang namanya IP alias Indeks Prestasi. Rumusnya adalah jumlah skor keseluruhan dari tiap mata kuliah dibagi jumlah SKS yang kita ambil.

Nilai tertinggi adalah 4,00, sementara nilai terendah 0,00. Dari sini lahirlah istilah becandaan, Nasakom (Nilai Satu Koma). Biasanya istilah ini digunakan untuk nyela anak-anak yang skornya penuh dengan nilai C atau D. So, untuk mendapatkan skor tinggi adalah jangan dapet C di mata kuliah yang berbobot SKS tinggi. Pasti bisa bikin nilai kita melorot tajam. Pokoknya, jaga terus supaya nilai kita tetep aman, alias B aja gitu!

Berpikir kritis

Begitu menginjak dunia kuliah, kita semua udah harus siap dengan berbagai macam teori-teori dari berbagai bidang ilmu. Teori yang nantinya akan nyambung dengan apa yang terjadi di dalam masyarakat. Sejatinya sih, sebagai mahasiswa kita dituntut untuk menganalisa apa yang terjadi di dunia nyata berdasarkan ilmu yang didapat di kelas. Karena itu juga, dunia kuliah bisa dianggap sebagai kawah candradimuka bagi para pemikir, peneliti, hingga aktivis sosial serta ilmuwan.

Di kelas, misalnya. Sangat terbuka sekali untuk menggelar perdebatan yang berujung pada solusi atau kata sepakat. Kalau tidak sependapat dengan dosen, dengan sangat terbuka dia akan membuka forum diskusi atau sekadar tanya jawab. Bahkan ada beberapa dosen yang membolehkan mahasiswanya meninggalkan kelas kalau udah mulai ngerasa kelasnya tidak sesuai dengan kehendaknya.

Tentunya, dengan kita aktif di kelas, akan diperoleh nilai tambahan untuk nilai akhir nanti. Buat mereka yang enggak mengejar nilai, tapi mengasah mengeluarkan pendapat, saat kuliah merupakan saat yang tepat. Soalnya, ada berbagai badan organisasi kemahasiswaan yang bisa jadi tempat latihan.

Sebut aja kayak Senat Fakultas, Senat Mahasiswa, Badan Permusyawaratan Mahasiswa, dan berbagai jenis UKM (kegiatan ekstra seperti ekskul) alias Unit Kegiatan Mahasiswa. Pilih deh jenis kegiatannya! Dijamin makin banyak daripada di SMA dulu.

Nah, di sini nih kadang kita terlena. Kalau udah keasyikan berorganisasi, kadang kita suka lupa sama tujuan akhir kita kuliah. Yaitu, lulus. Jadi, aktif boleh, tapi soal lulus harus tetep diinget.

Nah, ngomongin soal lulus, lengket banget sama yang namanya skripsi. Skripsi bisa dibilang adalah karya tulis yang didasari oleh penelitian kita sendiri sebagai mahasiswa yang berintektual (cieee!). Selama 4 tahun menggeluti buku dari bidang yang kita ambil, diharapkan ada suatu masalah yang akan kita teliti. Tentunya tema skripsi harus aktual dan nyata terjadi.

Buat yang kuliah di bidang ilmu teknik, biasanya bentuknya bukan skripsi. Tapi membuat sebuah karya berupa benda, desain, maket, atau menerangkan sebuah proses kerja suatu benda. Karya itu sering disebut sebagai Tugas Akhir (TA). TA juga harus diperkuat oleh makalah atau karya tulis yang menjelaskan proyek tadi. Jadi intinya, tetep aja pake tulisan juga.

Nongkrong

Tenang, jangan sampe stres ngadepin dunia kuliah. Cukup nikmatin dengan suka ria. Dan jangan sampe ngelupain hal yang satu ini. Nongkrong di lingkungan kampus! Emang bedanya apa sama waktu SMA?

Bedanya tentu di masalah waktu. Kalau waktu SMA nongkrong adalah hal yang sangat susah—berhubung waktu belajarnya panjang—di masa kuliah dijamin waktu nongkrong akan gampang bermunculan. Udah gitu waktunya juga sering karena maksimal kita hanya dapet 3 mata kuliah dari pagi.

Liat nih. Sebelum masuk, bisa nongkrong dulu. Selesai kuliah, sambil nunggu waktu kuliah berikutnya, bisa nongkrong lagi. Pulang kuliah…pastinya bisa nongkrong lagi. Nah, terus ngapain tuh kalau lagi nongkrong?

Biasanya, fashion jadi hal penting begitu masuk kampus saat ini. Maklum, udah lepas dari seragam! Mau pake polo shirt, kaus, jins, oke-oke aja. Berbagai aliran fashion bisa dipraktikkan di sini. Mulai dari casual, sporty sampai rocker bisa aja asal tetep sopan.

Tapi awas, beberapa kampus menerapkan peraturan kesopanan pas lagi ujian tengah dan akhir semester. Tapi biasanya enggak berat sih. Paling cuma wajib berkemeja dan enggak mengenakan jins sobek doang.

Nah, buat yang baru masuk kuliah, siap-siap ya! jangan sampe “bebas”-nya kuliah bikin kita terlena.

YORGI GUSMAN TIM MUDA  

Sumber: Kompas (MUDA) Jumat, 25 Agustus 2006 – 10:43 wib

One response to this post.

  1. Posted by kaka on April 17, 2010 at 3:55 am

    makasih.. postingannya berguna banget buat saya yang baru mau kuliah🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: