Sekolah dan Terus Sekolah

Mereka bersekolah di antara puing-puing gedung. Di bawah tenda-tenda yang tidak mampu melindungi dari terik matahari. Tapi, mereka harus tetap sekolah!Kedatangan tim ini pada 11 Agustus lalu tentu saja bukan sekadar jadi wisatawan gempa, yang cuma melongok keadaan. Ini adalah lanjutan dari perjuangan mereka untuk membuat teman-teman di Yogyakarta dan Klaten tetap sekolah. Mereka datang untuk menyerahkan dana yang berhasil mereka kumpulkan pada acara S4Y! We Do Care tanggal 23 Juli 2006 yang lalu.

Dana yang terkumpul sebanyak Rp 97.180.900 itu disalurkan untuk membantu renovasi dua sekolah, yaitu SMA 1 Gantiwarno Klaten dan SMA 1 Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta. Sebagian dari dana yang terkumpul itu juga dipakai untuk memberi beasiswa teman asuh selama satu tahun untuk sepuluh murid berprestasi di masing-masing sekolah.

Bertemu langsung

Di SMA 1 Gantiwarno, tim S4Y berkenalan langsung dengan 10 penerima beasiswa teman asuh di SMA 1 Gantiwarno. Mereka direkomendasikan pihak sekolah karena punya prestasi, tapi tidak mampu membayar sekolah. “Yang kami berikan ini tidak seberapa besar, tapi kami pengin teman-teman tetap sekolah. Semoga bisa digunakan sebaik-baiknya,” ujar Bintang, si ketua panitia, saat memberikan beasiswa teman asuh kepada teman-teman di SMA Gantiwarno. Sedangkan untuk membangun sekolah, dana yang disumbangkan sebesar Rp 33.521.450. Tentunya tidak mungkin untuk membangun sekolah secara keseluruhan. Tapi paling tidak, bisa menggantikan satu dari sekian banyak kelas darurat yang sekarang digunakan.

Internet sekolah

Selesai serah terima di Klaten, Tim S4Y berangkat ke SMA 1 Bambanglipuro Bantul, Yogyakarta. Kondisi sekolah ini tidak jauh berbeda dengan SMA 1 Gantiwarno, Klaten. Kelas darurat di sekolah ini malah lebih panas karena dibangun dari kain terpal. Sementara bangunan kelas banyak yang mesti direnovasi. Untungnya sekolah ini punya sebuah gedung olahraga yang terhitung masih baru dan masih cukup kokoh. Dengan demikian, GOR itu bisa disekat-sekat menjadi kelas belajar. “Kami tidak melihat dari jumlahnya, tapi kami sangat menghargai niat baik dari teman-teman pelajar di Jakarta. Ternyata di balik segala kekacauan yang ada di Indonesia, kita masih saling memerhatikan,” tutur Bapak Soegito, Kepala sekolah SMA 1 Bambanglipuro.

Di balik keporakporandaan sekolah ini, ada barang penting yang selamat dari gempa, yaitu 30 komputer, dilengkapi dengan internet, yang baru dipasang sebelum gempa terjadi. Wuih, walaupun sekolah ini cukup di pelosok, ternyata mereka sudah menyerap teknologi.

Seperti juga di Klaten, di Bantul Tim S4Y pun berjabat tangan langsung dengan para penerima beasiswa. Dan, tidak hanya berjabat tangan, karena sekolah sudah usai pada pukul 11.30. Mereka punya waktu lebih banyak untuk bertukar cerita sambil bersantap siang bersama.

Suasana persahabatan antarpelajar dari dua daerah itu pun makin akrab dengan kisah seputar gempa yang belum pernah didengar sebelumnya. Ditukar dengan berbagai cerita untuk mengadakan acara di Jakarta.

Pertemuan mungkin berakhir sementara di sini. Tapi bisa dipastikan, sekolah tak akan pernah boleh berhenti!

TEGUH ANDRIANTO Tim Muda

Sumber: Kompas (MUDA), Sabtu, 26 Agustus 2006 – 04:22 wib

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: