Kreativitas Siswa SLTP

Ide-ide “Liar” yang Berdaya Guna…

Indira Permanasari dan Mukhamad Kurniawan

Pernahkah Anda terpikir untuk membuat penganan lezat dari tepung pisang klutuk, buah yang sarat biji dan biasanya jadi makanan burung? Juga membuat tempat wudu otomatis demi merawat keran air, atau sekadar membuat mesin pencuci telur?

Satu lagi. Pakar gempa barangkali pernah memeras otak guna menciptakan alat deteksi dini terjadinya gempa dan tsunami. Nah, bagaimana kalau yang terpikirkan untuk membuat alat itu seorang murid sekolah menengah pertama?

Sejumlah siswa sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) memikirkan hal itu. Hasilnya berupa teknologi tepat guna yang sederhana, tetapi bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.

Tempat wudu otomatis, pencuci telur, dan detektor tsunami hanya sebagian dari karya para siswa SMP yang dipresentasikan dalam ajang Lomba Teknologi Tepat Guna Tingkat Nasional bagi SLTP, Senin (28/8).

Ada 10 karya finalis dalam acara yang diselenggarakan Unit Pelaksana Teknis Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), tersebut.

Teknologi tepat guna lainnya yang lolos ke final ialah alat pengering serba guna, mi dari jantung pisang, pemanfaatan limbah kulit singkong sebagai olahan pangan, tambal ban listrik, kue cipir gayam dan kerupuk ikan belo-belo. Mereka berasal dari SLTP dari beberapa daerah, seperti Yogyakarta, Subang, bahkan ada yang dari Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur.

Dengan wajah polos dan suara yang terdengar kemanja-manjaan, belasan siswa SMP atau sederajat itu mempresentasikan hasil pikiran-pikiran “liar” mereka di hadapan lima juri yang sudah siap “menyidang” karya mereka. Kelima juri itu adalah Prof Anung Kusnowo dan Dr Syahrul Aiman dari LIPI, Ir Totok Pudjianto MT (Universitas Padjadjaran), Asep Setiadi MPd (Universitas Pendidikan Indonesia), serta Ir Sri Widowati MAppSc (Balai Penelitian dan Pengembangan Pascapanen, Departemen Pertanian).

Berbagi cerita

Melihat masih terbatasnya penggunaan pisang klutuk dalam pengolahan makanan, tiga murid SMP Negeri 1 Turi Sleman (Tri Kusumastuti, Yunita, dan Muvaridah) meneliti pembuatan tepung pisang klutuk. Pisang lengkap dengan biji-biji yang keras itu ditumbuk dan disarikan airnya. Setelah dikeringkan, yang tersisa ialah tepung pisang klutuk yang siap diolah menjadi berbagai macam penganan, seperti kue kering.

Lain lagi cerita Napsiah, siswa SMP Negeri Moga, Pemalang. Ia membuat mesin pencuci telur. Orang-orang di Desa Mandiraja, tempat tinggal Napsiah, mengandalkan penghasilan antara lain dengan beternak bebek untuk diambil telurnya. Mereka biasanya mempekerjakan pencuci telur dengan upah Rp 20 per butir. Sehari mereka bisa mengeluarkan Rp 10.000 atau sekitar Rp 300.000 per bulan. Gadis kecil itu lalu terpikir membuat mesin pencuci telur otomatis dengan biaya yang sama dengan pengeluaran petani selama satu bulan.

Sikat yang biasa dipakai ibunya untuk menyikat botol ditempelkan di dalam tabung persegi panjang yang disambungkan dengan mesin air kecil. Saat mesin dihidupkan, air mengalir mendorong telur melalui tabung bersikat. Telur bersih pun meluncur ke dalam ember penampung yang pinggirannya sudah dilapisi busa.

Napsiah menjawab setiap pertanyaan juri dengan tegas sekaligus polos. “Apa lebih murah bagi petani kalau memakai mesin buatan kamu?” tanya juri. “Jelas, soalnya alat ini bisa dipakai seterusnya,” ujarnya.

“Bagaimana kalau petani tidak punya uang atau modal awal untuk membuat mesin itu,” tantang juri lainnya. “Yaa, telurnya dijual dulu, dong,” katanya polos, disambut tawa pengunjung.

Kalau Napsiah optimistis mesin buatannya bakal menguntungkan para petani di desanya, Yusmar Purwoko, murid dari SMP Muhammadiyah 4, Yogyakarta, yakin detektor tsunami miliknya mampu membantu warga menyelamatkan diri dari sapuan tsunami.

Idenya “canggih” juga. Alat berupa dua magnet silinder disambungkan dengan elektroda dipasang di tengah laut. Begitu ombak pasang tsunami datang menerjang, magnet ikut bergerak menyentuh elektroda. Sirene di darat yang tersambung dengan benda itu sekejap meraung-raung sambil berkelap-kelip memperingatkan masyarakat.

“Saya memang baru membuat prototipe saja. Tapi, saya yakin alat ini bisa bekerja, deh,” kata Yusmar yang memang hobi mengutak-utik perangkat elektronik di rumahnya.

Arif Nawang Sidi dan Yodan Tunggal—juga dari SMP Muhammadiyah 4—berharap karya mereka, yaitu tempat wudu otomatis, suatu saat dapat dicoba di sekolah mereka. Ide itu hinggap ketika puluhan keran untuk wudu di sekolah mereka mudah sekali rusak lantaran tangan-tangan jahil.

Dengan menggunakan prinsip tuas, dibuatlah tempat wudu otomatis. Air diisikan ke wadah. Begitu alas kaki yang dipersiapkan sebagai tuas diberi beban atau diinjak, air pun mengucur. Rupanya, seutas tali tersambung di antara tuas di lantai dan keran bermodel dispenser.

Semua “temuan” yang berawal dari ide-ide “liar” anak-anak setingkat SMP ini tentu saja mengundang decak kagum. Apresiasi pun sepatutnya diberikan.

Sumber : Kompas (Berita Utama),Rabu, 30 Agustus 2006

One response to this post.

  1. Luar biasa siswa indonesia, kita yakin jika semua pihak mendukung ide2 cerdas para penerus bangsa ini, tidak lama lagi kita akan berjaya

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: