Nasionalisme ala Pemuda

BI Purwantari “Lebih baik musna dari pada didjadjah”, “Lebih baik mati tergilas oleh pertempuran dari pada hidup menjerah serta ditahan oleh tentara imperialis djahanam”. Begitulah bunyi ungkapan-ungkapan kemarahan para pemuda saat revolusi kemerdekaan 1945. Ungkapan-ungkapan tersebut terekam di dalam buku berjudul Dokumentasi Pemuda, Sekitar Proklamasi Indonesia Merdeka, yang diterbitkan oleh Badan Penerangan Pusat SBPI pada tahun 1948.

Di sampul buku tidak tercantum nama penulisnya, tetapi di halaman dalam bagian pengantar diperoleh keterangan bahwa buku tersebut merupakan himpunan catatan-catatan ringkas dari DN Aidit, Lagiono, Wikana, dan Mustapha. Keempat orang itu membuat catatan secara sendiri-sendiri, merekam saat-saat penting ketika kolonialis Belanda mulai tersingkir oleh masuknya kekuatan fasis Jepang di Hindia Belanda, saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dideklarasikan, sampai dengan masa ketika tentara sekutu yang dibonceng oleh pasukan kolonial Belanda berusaha menjajah kembali Indonesia.

Keempat orang yang pada 1943-1946 itu masih pemuda menulis upaya keras para pemuda meraih dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari kekuatan kolonial, fasis, maupun imperialis. Disebutkan di awal buku bahwa seluruh lapisan rakyat Indonesia tidak akan menyangkal apabila dikatakan bahwa pemudalah yang menjadi penghela, pendukung, dan pembela revolusi Indonesia. Dalam rangka memperingati jasa-jasa para pemuda itulah disusun buku tipis yang terdiri dari 65 halaman ini.

Gerakan bawah tanah

Meskipun buku ini mencatat kejadian-kejadian pada masa menjelang dan setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, namun empat pemuda penulis buku ini menggambarkan situasi di beberapa daerah yang berbeda. Hingga separuh buku, mereka menceritakan kegiatan para pemuda di wilayah Jakarta, sementara separuh berikutnya menggambarkan sepak terjang para pemuda di wilayah Jawa Tengah selatan dan Jawa Timur, khususnya Surabaya.

Di bawah pendudukan Jepang, diperoleh gambaran para pemuda aktif membangun gerakan bawah tanah dengan cara menyelundup ke dalam organisasi-organisasi bentukan Jepang, seperti Heiho, Peta, Seinendan, Kaigun, Barisan Pelopor, bahkan juga menyusup di Ken Pei Tai (Polisi Rahasia Jepang). Bentuk penyusupan mereka adalah dengan bekerja di lembaga-lembaga Jepang tersebut. Mereka yang bekerja di dalam diwajibkan menanam sel-sel yang akan menjadi tambahan kekuatan para pemuda selain juga untuk mendapatkan informasi tentang siapa yang akan ditangkap Ken Pei Tai. Sementara mereka yang tidak menyusup, aktif merekrut para pemuda dengan mendatangi rumah-rumah atau tempat kerja mereka dan menyebarkan berbagai bacaan untuk menjadi bahan diskusi atau mendirikan organisasi antifasis di bawah tanah.

Di wilayah Jakarta, tercatat beberapa organisasi yang aktif menentang pemerintahan fasis Jepang, yaitu Barisan Pemuda Gerindo—sayap pemuda dari Gerakan Rakjat Indonesia (Gerindo)—Gerakan Indonesia Merdeka (Gerindom), Barisan Angkatan Pemuda Indonesia (API), Barisan Buruh Indonesia, dan Barisan Rakjat (Bara) yang dibentuk setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Selain organisasi-organisasi tersebut, para pemuda juga mendapatkan pendidikan politik di beberapa asrama, yaitu Asrama Angkatan Baru Indonesia di Menteng 31 yang dipimpin oleh Sukarni dan Chaerul Saleh serta Asrama Indonesia Merdeka di bawah pimpinan Wikana dengan dibantu oleh Aidit dan Samsudin. Asrama-asrama itu didirikan oleh Jepang dengan perantaraan beberapa pemimpin Indonesia seperti Soekarno, Hatta, dan Mr Subardjo. Meskipun didirikan oleh Jepang, namun asrama itu juga menjadi tempat memberikan pelajaran politik antifasis sehingga bagaimanapun kerasnya usaha para pembesar Jepang memengaruhi para pemuda, perlawanan berupa debat dan kritik terus-menerus ada.

Organisasi massa yang cukup besar dengan anggota-anggota yang berasal dari beberapa daerah dan didirikan atas inisiatif Soekarno setelah ia dipulangkan ke Jawa oleh Jepang adalah Pusat Tenaga Rakjat (Putera). Tujuan pendirian ini untuk menanamkan jiwa kemerdekaan di kalangan rakyat. Upaya ini mendapat sambutan dari rakyat dan semangat kemerdekaan menggelora. Pemerintah Jepang ketakutan dengan berkembangnya organisasi ini sehingga setelah 10 bulan berdiri lembaga ini dibubarkan dan diganti dengan Djawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Rakjat). Meskipun Soekarno masih memimpin organisasi ini, namun karakternya bukan lagi seperti Putera sehingga tidak banyak yang terlibat di dalamnya.

Setelah Putera dibubarkan, selain membentuk Hokokai, Jepang juga mendirikan Angkatan Muda, Seinendan, dan Keibodan. Kegiatan aktif para pemuda antifasis membentuk sel-sel baru itu bertujuan menghalangi semakin meluasnya semangat perang untuk Jepang di kalangan anggota organisasi-organisasi bentukan Jepang. Pendirian organisasi tidak hanya terjadi di Jakarta. Barisan Rakjat Indonesia (BRI), misalnya, dibentuk di Solo, Yogya, dan Purwodadi. Maksud pendiriannya sebagai kedok membantu Jepang selama masa pendudukan, sedangkan di dalam organisasi ini para pengurusnya berusaha menghimpun para pemuda lain dan menyusun kekuatan massa. Mereka memperbanyak sel-sel dan kader-kader baru, baik di daerah perkotaan maupun di kampung- kampung dan sekolah-sekolah.

Gerakan bawah tanah yang dilaksanakan para pemuda itu bukannya tidak menuai penderitaan atas diri mereka. Beberapa yang akhirnya diketahui aktif sebagai mata-mata ditangkap oleh Ken Pei Tai, disiksa, dan dipenjarakan, bahkan ada yang dihukum mati. Banyak lagi lainnya yang berhasil lolos sebelum sempat ditangkap, segera dikirim menjauh, masuk ke kampung-kampung berbaur dengan rakyat biasa. Penangkapan dan pemenjaraan terjadi di seluruh wilayah, baik Jakarta maupun Jawa Tengah selatan dan Jawa Timur. Di dalam buku ini dicantumkan nama-nama mereka yang ditangkap, disiksa, dipenjarakan, dihukum mati, serta mereka yang berhasil lolos dari kejaran Ken Pei Tai.

Menjelang Proklamasi

Langkah para pemuda memperjuangkan kemerdekaan negerinya sering kali tak sejalan dengan pemikiran para pemimpin nasional. Ketika berita kekalahan demi kekalahan pasukan fasis di Eropa maupun kapitulasi Jepang sampai ke telinga para pemuda, mereka segera menyusun rencana untuk mempercepat tercapainya kemerdekaan. Beberapa pemuda, yaitu Trimurti, Chaerul Saleh, Pandu, A Malik, Wikana, B Diah, Supeno, Sukarni, mendesak para pemimpin nasional yang sedang di Jakarta untuk—dengan atau tanpa seizin Jepang—mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan. Desakan ini disambut dengan senyuman dan peringatan agar tidak percaya kabar angin tentang situasi di Eropa.

Namun, para pemuda tetap bergerak mempersiapkan kemerdekaan. Bagi mereka, kemerdekaan tak dapat ditunda lagi. Oleh karena itu mereka memutuskan para pemimpin yang berpengaruh harus dilepaskan dari cengkeraman Jepang agar tidak ditangkap Jepang karena mengikuti rencana pemuda. Maka terjadilah “penculikan” Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Jepang masih berusaha mencegah dibacakannya proklamasi dengan mengirim utusan untuk mengembalikan kedua pemimpin nasional ke Jakarta agar pertumpahan darah dapat dicegah. Balasan pemuda adalah proklamasi tidak dapat diganggu gugat lagi, kedua pemimpin tidak akan diserahkan ke Jepang, dan pertumpahan darah hanya dapat dicegah jika Jepang tidak merintangi pembacaan proklamasi.

Perundingan dengan Jepang diadakan lagi dan Jepang tetap tidak mau membiarkan proklamasi dilakukan, sementara pihak Indonesia yang diwakili dua pemuda (Sukarni dan Chaerul Saleh) tetap akan melakukannya. Di bawah ancaman Jepang, naskah proklamasi ditulis dan ditandatangani Soekarno-Hatta. Pada saat itu saluran komunikasi, seperti radio, dikuasai sepenuhnya oleh Jepang dan dijaga dengan senapan. Oleh karena itu, naskah proklamasi yang telah diperbanyak disebarkan dari mulut ke mulut dan dari orang ke orang. Proklamasi pun dibacakan.

Setelah proklamasi kemerdekaan, para pemuda masih terus aktif membangun gerakan, terutama untuk mengusir Jepang dan Sekutu.

Nasionalisme populer

Arti penting buku tipis yang hanya tersedia edisi fotokopinya di Perpustakaan Nasional ini adalah bahwa wacana (discourse) tentang nasionalisme populer muncul dari kalangan pemuda dan menjadi pendorong berdirinya negara Indonesia. Wacana itu lahir dari pengalaman konkret para pemuda dari berbagai kelompok maupun kelas sosial yang bersama-sama menghimpun kekuatan untuk mengusir kekuatan fasis dan imperialis dari wilayah yang kemudian mereka namakan bangsa Indonesia.

Dalam bukunya, Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistence, 1944-1946, terbitan Cornell University Press, 1972, maupun dari edisi bahasa Indonesianya, Revolusi Pemuda terbitan Sinar Harapan, 1988, Ben Anderson menguraikan bahwa “organisasi-organisasi pemuda yang terbentuk di masa pendudukan adalah hasil dari situasi krisis. Lembaga itu bukanlah sebuah jejak untuk menapaki karier atau bagian dari proses siklus kehidupan. Organisasi-organisasi itu diciptakan bagi satu momen sejarah ke depan, yaitu sejarah terbentuknya sebuah bangsa”.

Pengalaman mereka di dalam organisasi-organisasi tersebut memungkinkan para pemuda membangun rasa solidaritas, rasa persaudaraan, serta kekuatan massa di antara mereka sendiri yang dalam kenyataannya berasal dari berbagai daerah, kelompok budaya, agama, maupun kelas sosial. Pentingnya kelompok-kelompok ini terletak bukan pada pengaruhnya terhadap pemerintahan pendudukan, melainkan pada identitas-identitas politik yang mereka ciptakan, yang menjadi sangat berarti setelah berakhirnya perang itu.

Bahkan, menurut Ben Anderson, gerakan bawah tanah yang dijalankan para pemuda paling tepat dilihat sebagai kerangka pemikiran ketimbang sebagai organisasi atau bahkan kelompok-kelompok. Ia mencerminkan kemauan yang tumbuh di pihak pemuda metropolitan untuk menganggap diri sebagai pemikir pikiran-pikiran berbahaya. Jika seseorang merasa terhina oleh penderitaan yang dialami sebagian besar penduduk, oleh kelaparan yang merajalela, oleh perilaku menjijikan aparat pemerintah dalam menyusun daftar penduduk yang akan dijadikan romusa dan menjalankan setoran wajib beras bagi Jepang, seseorang itu sudah dapat dianggap berada di dalam gerakan bawah tanah.

Rasa solidaritas dan persatuan terbangun untuk bukan saja menghadapi kekuatan asing di Tanah Air mereka, tetapi juga untuk sebuah cita-cita akan negeri yang baru, yang merdeka dan bebas dari segala bentuk penindasan. Barangkali benar pernyataan Soekarno bahwa “di tangan pemudalah terletak masa depan bangsa Indonesia”.  (BI Purwantari)

Sumber: Kompas (Pustakaloka),Sabtu, 19 Agustus 2006

4 responses to this post.

  1. tingkatkan dan buktikan

    Reply

  2. Posted by tri rusdiyanto on September 23, 2006 at 6:10 am

    Alhamdulillah, mudah-mudahan bermanfaat bagi semesta alam.
    Mohon pemerintah benar benar menjaga
    aset milik bangsa ini.

    Reply

  3. Posted by lukman hakim on October 5, 2006 at 9:25 pm

    keep on struggling for a better indonesia,guys…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: