Knalpot

Suka Hardjana

Semua orang paham apa yang dimaksud dengan knalpot. Ia bagian dari suatu mesin atau kendaraan bermotor. Bila kinerja benda ini dianggap oke, maka benda ini akan menjadi salah satu kesenangan, bahkan kebanggaan pemiliknya. Di bawah sadar, benda ini malah bisa jadi dianggap sebagai alat ekshibisi diri. Alat pamer atau alat penyombong identitas diri—sebagaimana suara atau keseluruhan tampilan sosok kendaraan seperti mobil, sepeda motor, truk, bus, sampai bajaj sekalipun. Melalui suara knalpot—bila itu milik tetangga, teman, saudara dekat, atau kenalan yang lain—ciri-ciri khas bunyi dan intensitas suaranya, tak jarang bisa dikenali kelebatan atau sosok kehadiran pemiliknya. Suara knalpot seolah-olah bisa memberi identifikasi sosok kehadiran seseorang—atau secara umum—mewakili identitas “iklani” bunyi produk pabrik pembuatnya.

Di sinilah suara knalpot mesin atau motor itu “kecil-kecilan” bisa jadi masalah. Kata kecil-kecilan sengaja dikurung dalam tanda kutip, karena sesungguhnya—secara kolektif dan akumulatif—hal perknalpotan ini bisa menjadi masalah sosial bersama yang tak kecil. Soal perknalpotan, di satu pihak, oleh pemilik mesin penggunanya, bisa jadi alat pengenalan identitas diri, atribut sosial sampai alat ekshibisi kesombongan individual yang tak jarang bisa berkembang jadi egoisentrisme antitoleran. Sebaliknya, bagi orang lain, suara setan mesin putar elektronik itu bisa menjadi gangguan kenyamanan yang menjengkelkan, tak sehat, dan membahayakan ketenangan bersama.

Saya kurang paham kata knalpot itu disontek dari bahasa Belanda, Jerman, Inggris, atau campuran dari ketiganya. Knall, Knalle (double “l”) dalam bahasa Belanda atau Jerman berarti letusan, letupan, ledakan, atau pukulan. Dengan demikian—dalam hal knalpot—knallen berarti meletuskan atau meletupkan. Pot dalam bahasa Belanda, Jerman, atau Inggris berarti belanga, tempat menampung atau wadah. Dalam hal teknologi permesinan, knalpot lantas diartikan sebagai tempat penampungan atau saluran pembuangan gas. Jadi secara fungsional, knalpot tak ada urusan dengan soal suara, letusan, letupan, ledakan, atau pukulan. Tetapi dalam hal urusan perknalpotan di Indonesia, justru soal kegaduhan letupan, letusan, atau ledakan knalpot inilah yang jadi masalah paling bikin pusing. Bukan soal wadah gas buang polutif knalpot yang sesungguhnya jauh lebih menyengsarakan. Inilah kesalahkaprahan yang tak masuk akal.

Dulu sampai akhir tahun 1950-an—sebelum banjir impor besar-besaran mesin gelinding setan elektronik itu masuk Indonesia—suara mesin motor berkaki dua atau empat itu masih sopan dan ramah. Ada motor-motor gede berkaki dua merek Harley Davidson (HD), BSA, BMW, Northon, Bentley, NSU, DKW, Ducaty, Victoria, Java, dan sebagainya. Begitu juga dengan mobil berkaki empat, seperti Chrysler, Hillman, Mercy, Chevrolet, Dodge, Ford, Isabella, Fiat, dan sebagainya.

Dibilang mesin berkaki, bukan beroda, karena gerak kereta bermesin itu masih santun. Artinya, boleh dibilang merambat pelan bukan menggelinding kencang. Begitu juga dalam hal suara mesin. Semakin bersuara pelan dan halus dut-dut-dut, semakin bergengsilah pemiliknya. Kemewahan kendaraan juga ditentukan oleh kelembutan suara mesinnya. Kelambatan gerak dan suara mesin motor yang bisa mengiringi gerak pejalan kaki dan suara soleh manusia akan dipujikan sebagai kualitas motor yang ohoi dan yahud mesinnya. Mahal harganya dan tinggi gengsi status sosial pemiliknya. Fenomena sosial ini saya sebut sebagai kesombongan lain dari kaum ekshibisionis golongan the have yang masih terkendali, ramah, sopan, dan toleran terhadap sesama. Zaman berubah dengan banjir impor mesin ajaib made in Jepang di tahun 1970-an. Lebih murah, terjangkau massa, luwes, gampang dirawat, pragmatis, dan lebih akomodatif dengan mobilitas dan gerak sosial temperamen budaya dan manusia Indonesia. Made in Jepang pun menyediakan keniscayaan mesin beroda kerakyatan, misalnya bemo hingga motor kecil yang lebih murah meriah, gesit melejit. Dalam hal kepemilikan, rayuan dagangnya: semua bisa, semua mungkin! Apalagi kini ada produk mesin-mesin tuyul dari China, Korea, dan dari segenap penjuru angin.

Semua jadi berubah. Yang tidak berubah cuma gengsi sosial dalam hal knalpot. Bunyi knalpot sebagai ekshibisi diri yang bermuatan kesombongan—bahkan pemuasan pemaksaan kekuasaan dan intimidasi penaklukan jalanan terhadap sesama—merebak liar. Getaran frekuensi bunyi knalpot asli pabrik yang sebenarnya masih bisa ditoleransi akal sehat pendengaran, oleh orang Indonesia diubah menjadi geberan maut mesin knalpot yang mengerikan. Efek polutan kinerja beracun knalpot kendaraan bus umum bisa menimbulkan dampak mematikan bagi semua makhluk bernapas yang berhidung dan berpori-pori. Raungan knalpot kendaraan bajaj yang di ambang batas kepantasan manusia beradab—demi memenangi jalanan dan unjuk kuasa—tak mau kalah dari lalu-lalang kegaduhan kendaraan yang lain.

Sepeda motor? Inilah sosok geberan knalpot yang tak kalah mengerikan sebagai alat ekshibisionis sosial unjuk diri pemilik atau pengendaranya bahwa “akulah raja jalanan” nomor istimewa yang tak terkalahkan dalam hal menuntut perhatian dan prioritas jalanan untuk didahulukan. Di atas sadel dan kemudi motor seolah-olah tak ada yang perlu ditenggang oleh pengendaranya. Kapan, di mana, dan dalam situasi apa pun. Motor dulu, baru yang lain.

Geberan knalpot mesin sepeda motor dan klakson gerobak elektronik apa pun modelnya tak punya toleransi terhadap siapa pun, baik di tengah kampung, permukiman, kompleks perkantoran, pusat perbelanjaan, kawasan rumah sakit, rumah ibadah–apalagi di jalanan. Lampu jalan baru menunjuk sinyal hijau. Kurang dari satu sekon klakson dan geberan knalpot motor mengentak dari belakang merangsek kesabaran, memaksakan kehendak agar semua segera menyingkir demi menyela tujuan diri. Inikah potret sosial manusia Indonesia? Semua telah menjadi klakson dan knalpot mesin jalanan tak terkendali. Manangri, mau menang sendiri!

Sumber :kompas (ASAL USUL) Minggu, 05 November 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: