“Borju”

Ariel Heryanto

Siapa paling berkuasa di negeri ini: presiden atau wakilnya? Jawab: bukan keduanya, tetapi masyarakat madani.

Ini satu dari lima pelajaran yang dapat dipetik dari ketegangan antara presiden dengan wakilnya minggu ini. Tidak terlalu penting apa konkretnya isu ketegangan itu: soal pembentukan sebuah unit kerja reformasi kek, unit masak-memasak kek, atau sepak bola. Tidak terlalu penting siapa presiden itu, partainya, apalagi wakilnya.

Yang penting, bangsa kita ternyata tidak linglung politik walau dibelit kesulitan ekonomi. Gajah boleh bertarung melawan gajah, tetapi dua ratus juta pelanduk Indonesia tidak diam bengong. Sikap tegas bangsa ini terbukti membantu mengatasi ketegangan dua tokoh puncak pemerintahan eksekutif, sedikitnya untuk jangka pendek.

Presiden RI mempertahankan keputusan yang diambilnya walau digugat Wakil Presiden dan Partai Golkar dengan ancaman segala. Keputusan Presiden itu dikukuhkan setelah bangkitnya seruan masyarakat agar Presiden tidak tunduk. Ternyata, yang penting bukankah apakah Presiden sudah berkonsultasi pada wakilnya tentang kebijakan yang diambil. Yang terpenting, apakah publik sudah diajak berembuk. Yang penting bukan dukungan sebuah partai mayoritas, tetapi masyarakat madani.

Pemenang selisih politik minggu ini adalah masyarakat madani. Pada minggu yang sama terjadi peristiwa mirip di Amerika Serikat. Melalui pemilihan umum, rakyat Amerika menolak tegas keangkuhan pemerintahan militeristik Presiden Bush.

Pelajaran kedua, pemimpin yang dibutuhkan Indonesia bukan sosok yang semata-mata bersikap tegas, keras kepala, berani tabrak sana-sini. Ini menyanggah praduga umum. Selama ini Presiden RI diolok-olok karena dianggap lemah, peragu, takut mengambil keputusan penting bahkan pada saat gawat. Tuduhan itu tak sepenuhnya salah. Sebagian terbukti ada benarnya.

Namun, apa yang terjadi bila Presiden ini diserang terbuka oleh Wakilnya yang tampak kuat, tegas, dan agresif? Dukungan masyarakat tercurah bagi Presiden. Bukan bagi Wakilnya yang tampak kuat dan tegas. Mengapa?

Jawabnya bisa banyak. Salah satunya bisa menjadi pelajaran ketiga untuk kita. Bangsa Indonesia pada hakikatnya berjiwa lembut, peka perasaan, malahan sentimental. Sebagian lelaki kita suka tampil perkasa seperti pendekar perang. Mereka bisa baku bunuh dengan saudara-sebangsa bila sedang murka.

Namun, inilah bangsa yang gemar lagu sentimental, sinetron banjir air mata, dan mudah jatuh iba melihat orang sengsara. Para penyanyi lagu pop cengeng paling masyhur di negeri ini datang dari kelompok masyarakat yang dikenal bertampang angker, berdarah panas atau terjerat konflik berdarah-darah.

Megawati Soekarnoputri pernah kebanjiran simpati ketika dilecehkan dan partainya diobrak-abrik rezim Orde Baru dan bosnya Partai Golkar. Megawati tidak mencoba menggalang dukungan masyarakat. Masyarakatlah yang berprakarsa merubungnya. Bukannya mereka tergila-gila kepada Megawati. Mereka cuma tidak tahan menyaksikan kelaliman dan ketidakadilan yang berlarut-larut di depan mata. Setelah Megawati berkuasa dan tampak angkuh, masyarakat meninggalkannya.

Pelajaran keempat, jangan-jangan Presiden RI bukan orang lemah, tetapi cerdas. Karena mengerti kejiwaan bangsa Indonesia, dia berpura-pura lemah dan tampil sebagai korban kesewenangan. Jangan-jangan sang Wakil Presiden masuk perangkap. Ibarat cerita silat, dengan mengumbar kekuatannya, ia memukul angin dan terjungkal karena tenaganya sendiri.

Akhirnya, pelajaran kelima, peristiwa kecil dalam negeri minggu ini sebaiknya dipahami secara global. Tampilnya seorang saudagar menjadi pejabat tinggi negara, seperti Wakil Presiden RI, bukan kebetulan sejarah. Begitu juga tampilnya mantan perwira militer sebagai kepala negara, seperti Presiden RI saat ini.

Kebangkitan militer di pertengahan abad ke-20 berlangsung serentak di sebagian wilayah Amerika Latin, Afrika, dan Asia. Masa itu berakhir secara berangsur. Tampilnya pengusaha Thaksin Shinawatra sebagai kepala negara Thailand menandai sejarah yang baru di Asia akibat kemenangan kapitalisme global dan kelas borjuis dalam Perang Dingin.

Tidak mustahil Thaksin-Thaksin lain akan mengungguli pemilihan umum di Thailand, Indonesia, dan sejumlah negara lain di Asia. Sejauh mana masyarakat Indonesia siap menunda, menolak, atau menyambut dan mengendalikan kepala negara ala saudagar semacam Thaksin?

Dalam soal ini Indonesia layak berguru kepada Thailand. Jika tidak, kita mengulangi kegagapan setelah jatuhnya pemerintahan otoriter Soeharto karena tak belajar dari pengalaman Filipina mengelola masa pasca-otoriter Marcos. ***

Sumber Kompas (ASAL USUL),Minggu, 12 November 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: