Horor

Suka Hardjana

Sudah kurang-lebih sepuluh tahun kita orang Indonesia tak henti-hentinya dikejutkan oleh berbagai peristiwa mendebarkan yang sepertinya tak terelakkan.

Peristiwa-peristiwa itu sebagian karena olah manusia, sebagian lagi karena ulah alam atau karena keduanya.

Peristiwa lengser keprabonnya Pak Harto yang menyisakan trauma sosial, politik, dan ekonomi hinggga hari ini, hanyalah sebuah misal. Peristiwa tsunami Aceh yang kengeriannya menyita perhatian dunia adalah misal yang lain.

Konflik sosial yang berlatar belakang sentimen rasial, agama, rivalitas etnik yang terselubungi selimut politik dan kecemburuan sosial. Gempa yang memorakporandakan sebagian wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Banjir bandang yang nyaris menenggelamkan Jakarta dan daerah-daerah lain yang tak terbilang. Tanah longsor dan puting beliung yang menyita korban jiwa dan kerugian harta benda yang tak terhitung.

Ledakan bom dan muntahan amunisi mesin senjata pembunuh yang memorakporandakan rasa aman dan damai. Wabah flu burung, demam berdarah, chikungunya, muntaber, busung lapar dan berbagai jenis “bencana kemiskinan” lainnya. Lumpur panas Sidoarjo, kecelakaan beruntun media transportasi umum, darat, laut, dan udara yang menewaskan dan menyita kengerian publik.

Peristiwa kriminal yang tak pantas didengar masyarakat beradab—dari soal korupsi pejabat yang tak masuk akal, muslihat tipu-menipu, perampokan, penodongan, pencurian, penjambretan, penculikan, pemerkosaan, bakar-membakar dan amuk massa, tawuran antarpelajar, mahasiswa, antarwarga dan penduduk kampung atau desa, peristiwa pembunuhan keji, sampai mutilasi yang di luar jangkauan akhlak manusia.

Semua kegetiran hidup yang mengerikan itu terjadi sambung-menyambung tiada henti. Yang paling gres tentu saja kabar tentang kondisi penjara “rumah pemasyarakatan” yang sangat mengenaskan dan pendidikan barbarian yang tak masuk akal di IPDN Sumedang yang mengejutkan dan membuat banyak orang tidak hanya kecewa dan prihatin, tetapi juga marah.

Petaka kemanusiaan terjadi sambung menyambung di berbagai wilayah Nusantara, tetapi anehnya… orang mudah melupakan. Di tengah peristiwa-peristiwa menyedihkan itu, di sana-sini selalu saja muncul berita laku ganjil para pejabat, petinggi negara, politisi, dan anggota parlemen yang aneh-aneh dan menyita energi kesabaran.

Stres dan ketertekanan yang merongrong ketenteraman dan tak mustahil menggerogoti kesehatan jasmani dan rohani menjadi gejala umum yang harus diadopsi masyarakat kebanyakan.

Pertanyaan yang mudah dilontarkan secara akal menghadapi keruwetan kronis ini adalah apakah kita sedang hidup di suatu negara yang pantas dianggap normal?

Silakan Anda berdebat, tetapi dalam ukuran kepantasan kesejahteraan warga suatu negara yang bisa disebut normal, sebagian besar manusia Indonesia yang dirundung ketidakberdayaan memang sedang berada dalam situasi hidup tak normal.

Bukan hanya faktor kemiskinan yang menjadikan orang hidup dalam kondisi tidak normal, tetapi juga berbagai faktor “bencana dan rongrongan rasa nyaman” kiri-kanan, atas-bawah, yang meneror dan mengancam manusia ke dalam ketidakberdayaan.

Manusia seperti tak punya pilihan lain, kecuali hidup tertekan dan sebisa-bisa bertahan untuk menyabung nyawa. Elan penderitaan orang bawah yang berselimut petaka dari berbagai penjuru ruang dan waktu mengisyaratkan sesungguhnya sebagai bangsa (bila Anda masih punya rasa solider!)—dalam berbagai perspektif—kita sedang hidup tak layak.

Sepanjang waktu horor rasa waswas mengancam dari berbagai sudut. Ketimpangan kesejahteraan dalam berbagai bentuk kue sosial, pendidikan, keadilan hukum, dan kemandirian hak-hak menentukan sendiri jalan hidup semakin jauh dari panorama kehidupan warga suatu negara yang bisa dianggap normal.

Ketidakpedulian dalam berbagai dimensi menjadi penyebab utama kekacauan tatanan kehidupan yang semestinya menjadi prioritas utama negara untuk diatasi. Jesus, sang Isa Nabi, bilang, orang tak hanya hidup dengan “nasi”. Artinya, dalam faset hidup multidimensi, masih ada banyak hal yang patut mendapat hikmah dan kepedulian.

Bagi orang atau bangsa beradab, martabat dan harga diri jauh lebih penting daripada sosok kesejahteraan berlebih yang membuat orang lupa diri demi perut buncit kemakmuran tak terkontrol yang menimbulkan ketidakadilan. Jenis manusia penelan segalanya.

Daya kritis orang di tengah kemiskinan mestinya bertanya, bagaimana mungkin di suatu negara melarat yang hidup dengan bantuan luar negeri, ada orang yang dengan gagah dan ceria mampu menyumbang Rp 1 miliar-Rp 2 miliar kontan dan spontan dari kantong pribadi?

Ini adalah aksi kemanusiaan terpuji sekaligus potret nyata ketimpangan sosial yang tak terjembatani di antara sesama. Sementara petaka alam dan kemanusiaan semakin sulit dicegah dan menimbulkan ketegangan laten yang terus mengendap di sanubari banyak orang, agaknya semakin jauh pula cita-cita para pelopor pendiri republik ini untuk diwujudkan.

Pesimistis? Taklah. Inilah horor kemerdekaan suatu bangsa yang mimpi berdaulat dalam keadilan dan kemakmuran yang damai. Absurd, to?

Sumber : Kompas (ASAL USUL). Minggu, 22 April 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: