Ketegaran Thio Hok Seng, Mantan Juara Dunia Angkat Berat Kebanggaan Indonesia

Simpan Medali 14 Tahun Berkarir di Kaleng Biskuit
Pada 20 tahun lalu Thio Hok Seng melambungkan nama Indonesia dengan menjadi juara dunia angkat berat dua kali berturut-turut. Kini, dalam kesendirian, dia bertahan hidup dengan uang receh hasil menjadi wasit pertandingan bulu tangkis.


HENDRI PARJIGA-RIJAL I., Padang

PARA atlet angkat berat Indonesia hanya bisa bermimpi untuk menjadi seorang Hiroyuki Isagawa. Dia atlet Jepang yang fenomenal, sehingga sampai usia 53 tahun pada 2006 lalu, untuk kali kesekian masih mampu menjadi juara dunia. Ini berbeda dengan nasib para lifter di tanah air yang masa kejayaannya pendek. Minimnya dana yang mengucur ke olahraga tak populer itu, termasuk kesejahteraan atlet, menjadi salah satu penyebab.

“Maaf, saya tidak punya handphone. Telepon rumah juga tidak ada. Kalau mencari rumah saya, tanyakan saja Hong Seng kepada warga di sekitar Jalan Pasar Baru II Padang. Mereka pasti kenal,” kata Thio Hok Seng kepada Padang Ekspres (Grup Jawa Pos) di sela-sela menyaksikan Pelatda PON atlet angkat berat Sumbar.

Ternyata benar, ketika Padang Ekspres mencari rumahnya, seorang warga yang ditanya langsung berujar. “Oh, rumah Hok Seng mantan atlet angkat besi? Itu rumahnya. Yang pagarnya rendah, bercat biru muda,” kata seorang ibu yang bersiap berbelanja ke pasar. Rumah Hok Seng yang bertinggi badan sedang tapi tegap itu hanya berjarak sekitar 500 meter dari Pasar Raya Padang.

Warga sekitar memang lebih mengenal angkat besi dibanding angkat berat, cabang yang melambungkan nama Hok Seng. Dari sisi usia, Hok Seng, kini 45 tahun, sebetulnya dulu lebih hebat dibanding Hiroyuki Isagawa. Dia menjadi juara dunia kali pertama dalam usia 24 tahun. Lebih muda dibanding lifter Jepang itu yang baru jadi juara dunia pada usia 28 tahun.

Rumah kontrakan yang ditempati Hok Seng sangat sederhana. Tinggi pagar hanya sekitar setengah meter terbuat dari kawat. Ini sangat kontras dibanding pagar rumah tetangga yang tinggi dari bahan besi dan beton. Di rumah petak berukuran sedang itu, Hok Seng hidup bersama istri tercinta, Monica Nova, serta dua buah hati mereka, Christofer, 9, dan Pretty Meri, 2,5. “Ya, beginilah rumah kami, kecil dan dihuni empat anggota keluarga,” ujarnya membuka kata.

Hok Seng adalah atlet berprestasi pada 1980-an. Dia mengharumkan nama Sumbar, bahkan Indonesia, ke tingkat dunia pada cabang olahraga angkat berat. Prestasi terbaik dicapai saat dia mengantongi medali emas kejuaraan dunia pada 1987 di Lima, Peru. Tahun berikutnya (1988) dia mempertahankan predikat juara dunia di Luksemburg.

Pria tamatan sekolah menengah pertama (SMP) itu juga memecahkan rekor dalam angkatan deadlift 226 kilogram di Jerman pada 1988, sekaligus meraih medali emas.

Hok Seng yang memiliki tinggi badan 158 sentimeter dan berat 57 kilogram itu menggeluti olahraga angkat berat sejak 1983. Hanya dalam setahun, dia mengikuti pra Pekan Olahraga Nasional (PON) yang diadakan pada 1984.

Pada 1985, dalam ajang PON XI di Jakarta, Hok Seng berhasil menyumbangkan satu medali emas bagi Sumbar. Setelah meraih juara dunia angkat berat dua tahun berturut-turut pada 1987-1988, dia kembali ikut PON XII di Jakarta dan mempersembahkan dua mendali emas.

Seiring perjalanan usia, prestasinya menurun. Pada PON XIV 1996, Hok Seng hanya mengantongi medali perak. Lalu, pada 2000 dia masih mencoba ikut PON XV. Namun, niatnya batal karena cedera bahu kiri.

Hok Seng mengakui, selama 14 tahun menggeluti olahraga angkat berat dia mengumpulkan banyak medali emas dan perak di berbagai turnamen. Medali-medali itu disimpan sebagai bukti prestasi ikut mengharumkan nama Sumbar dan Indonesia di tingkat dunia. “Saya simpan dalam satu kaleng biskuit besar,” ujarnya.

Atas prestasi itu, tahun lalu negara -melalui Menpora- memberikan penghargaan berupa sebuah rumah di Kompleks BCA, kawasan Andalas Makmur, Padang. Hanya, rumah hadiah pembelian tersebut kini dihuni orang lain. “Saya kepepet duit. Terpaksa rumah dari Pak Menteri itu saya kontrakkan. Sementara biarlah kami tinggal di rumah ini. Walau sempit, harga kontraknya tidak terlalu mahal,” urainya.

Sejak pensiun menjadi atlet pada 2000, Hok Seng tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk mengasapi dapur keluarga, dia bekerja apa saja. Termasuk menjadi menjadi wasit di Hall Bulutangkis Victory Padang. Selain itu, dia dipercaya membantu tim pelatda angkat berat PON Sumbar. Namun, penghasilan dari “nyambi” di mana-mana itu tetap saja jauh dari mencukupi. “Terkadang untuk ke tempat kerja saya menumpang ke kawan,” katanya.

Indonesia sebetulnya punya banyak atlet angkat berat yang hebat. Misalnya, Nanda Telabanua, juga asal Padang seperti Hok Seng, yang juara dunia angkat berat junior pada 1984 di Perth, Australia.

Saat ini atlet muda yang sedang berkibar dan pernah menjadi juara dunia adalah Sutrisno dari Padepokan Pringsewu, Lampung.

Hok Seng berharap, di masa depan ada perhatian terhadap nasib mantan atlet angkat berat. Dia sendiri mengaku masih cinta dengan olahraga angkat berat. Karena itu, dia berharap ada daerah yang mau menampungnya sebagai pelatih. Sebab, di tim PON Sumbar sendiri pelatih angkat berat sudah berlebih. Di sana ada Nanda, Thomas Gomes, dan Edwarsyah.

“Biar saya bisa menularkan ilmu yang saya peroleh selama ini kepada orang lain,” harapnya. (el)

Sumber JAWAPOS.Kamis, 28 Feb 2008

One response to this post.

  1. Posted by powerlifter on October 3, 2010 at 12:25 am

    Beliau adalah atlet angkat besi (olympic weightlifting) BUKAN atlet angkat berat (powerlifting). Angkat besi dan angkat berat adalah 2 cabang olahraga yang BERBEDA. Angkat besi terdiri dari DUA angkatan yaitu snatch serta clean and jerk sedangkan angkat berat terdiri dari TIGA angkatan yaitu squat, bench dan deadlift. Angkat berat setau saya belum dipertandingkan di olimpiade.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: