Mengajar Dengan Hati

Desmiasih (kanan) bersama Kepala Sekolah SDN 15, Maridan, Sepakat, PPU, Nur Asih, memperlihatkan alat peraga sistem tata surya karya muridnya.

Senin, 21 April 2008 | 14:38 WIB

Di Kalimantan guru umumnya pendatang dari luar pulau. Karena itu, guru dituntut untuk memahami budaya lokal dan mengajar dengan hati sehingga bisa meraih hati murid-muridnya.

ALAM adalah laboratorium! Kesadaran itu yang digenggam kuat Wiwiek Budiarti, guru biologi di SMP Muhammadiyah I, Bukit Raya Sepaku I, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, usai mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Tanoto Foundation pertengahan tahun lalu di Balikpapan.

Saat kembali ke sekolahnya di daerah transmigran di pedalaman Kalimantan itu, Wiwiek yang masih berstatus guru tidak tetap memanfaatkan apa saja yang ada di lingkungan sekitar ruang kelasnya guna mendukung proses pengajaran. Ketika bicara soal ekosistem misalnya, ia mengajak muridnya ke sawah dan menunjukkan kepada mereka komunitas organik yang ada di situ.

Saat bahas taksonomi dalam biologi seperti aneka spesies tanaman atau hewan, ia menyuruh murid-muridnya menanam tanaman di kebun sekolah dalam koloni berdasarkan spesies. Ia juga meminta murid-muridnya berdiskusi dan membuat alat peraga sesuai dengan topik pelajaran yang sedang diajarkan.

“Saya rasa, tugas saya sebagai guru jadi lebih ringan. Saya tidak lagi bicara sendiri selama pelajaran berlangsung tetapi saya memang dituntut harus kreatif,” kata Wiwiek pekan lalu saat bertemu tim pemantau dari Tanoto Foundation.

Ia abaikan protes rekan-rekan gurunya yang mengeluh terganggu oleh suara berisik dari kelas Wiwik. “Anak-anak kan berdiskusi, jadi kedengarannya berisik,” katanya.

Murid-muridnya mengaku lebih mudah memahami pelajaran ketika menggunakan alat peraga atau langsung diterjunkan ke alam. Vivit Kurniawan misalnya, mengaku jadi paham soal kandungan gula dalam makanan dan gula yang berubah warna kalau kena panas berkat metode pengajaran yang menggunakan alat peraga.

Masih di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Desmiasih, guru SDN 15, Desa Maridan, Sepaku sangat bersemangat ketika memperlihatkan alat peraga sistem tata surya hasil karya murid-muridnya. Desmiasih juga peserta pelatihan Tanoto Foundation.

Dengan menggunakan sebuah bola kecil, plastisin, kerangka payung yang sudah rusak, murid-murid Desmiasih merancang sebuah alat peraga yang memperlihatkan letak planet-planet dalam sistem tata surya. Semua ‘planet’ bisa berputar pada tempatnya maupun mengelilingi ‘matahari’ namun perputaran itu harus dilakukan secara manual.

“Saya lagi mikir bagaimana caranya agar mereka bisa putar otomatis, sampai sekarang belum tahu caranya,”kata Desmisih yang berasal dari Lampung. Bagi dia, itu merupakan pencapaian yang membanggakan.

Libatkan Hati

DI PPU, sebagaimana Kalimantan pada umumnya, kebanyakan guru adalah pendatang. Dalam pelatihan yang diselenggarakan Tanoto Foundation tahun lalu misalnya, dari 50 peserta yang berasal dari 25 sekolah di sekitar daerah konsesi PT ITCI Hutani Manunggal di PPU hanya satu orang guru asli Kalimantan.

Keberadaan guru-guru pendatang yang dominan itu, menurut DR Anita Lee, pakar pendidikan yang menjadi salah satu fasilitator pelatihan, menyebabkan kondisi pendidikan di Kalimantan berbeda dengan kebanyakan wilayah lain di Indonesia. Idealnya, kata Anita, guru terutama guru SD sesuku atau paling tidak satu bahasa ibu dengan anak-anak yang hendak dididik. Kondisi itu akan memudahkan proses pengajaran, terutama pada tahap-tahap awal.

“Sebetulnya tidak jadi masalah kalau guru-guru pendatang itu paham budaya lokal,” kata Anita.

Namun yang sering terjadi, pendatang punya stereotype yang cenderung negatif tentang penduduk asli. Jika stereotype negatif itu terbawa ke dalam kelas, hal itu akan menghambat proses pengajaran.

Pelatihan yang diberikan Anita dan teman-teman memperhitungkan kondisi unik Kalimantan tersebut. Pelatihan yang diberikan mencakup hal-hal teknis dan non-teknis. Hal-hal teknis mencakup tindakan kelas dan metode cooperatif learning, sementara hal non-teknis berkaitan dengan pengajaran dengan hati yang menanggalkan berbagai prasangka negatif kesukuan sehingga guru bisa meraih hati anak-anak didik.

Dalam pelatihan, para guru misalnya diajak untuk membuat kesepakatan dengan murid-murid tentang alternatif jenis hukuman atau sanksi yang diberikan jika murid melakukan kesalahan atau melanggar anturan yang telah ditetapkan. Sasarannya antara lain agar kegiatan belajar-mengajar tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan dan menjadi beban tetapi sesuatu yang disukai dan menyenangkan.
EGP

sumber : Kompas.com

One response to this post.

  1. terima kasih infonya mas. ini guru di kampung saya.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: