Pahlawan Super Asal Indonesia Masuk Komik Marvel


Direktur Utama Telkomsel Kiskenda Suriahardja (kanan) bersama Direktur Niaga Telkomsel Richard Tan (kiri) dan sesepuh komik Indonesia R.A. Kosasih (tengah) meresmikan peluncuran layanan m-Komik, menandai hadirnya inovasi layanan komik di ponsel pertama kali di Indonesia di Planet Hollywood, Jakarta (4/2). Saat ini Telkomsel telah menghadirkan 60 ragam cerita m-Komik yang didukung oleh komunitas komik terkemuka di Indonesia seperti komikindonesia.com, Akademi Samali, dan Splash, serta InTouch sebagai penyedia aplikasi.

Senin, 12/5/2008 | 00:19 WIB

JAKARTA, MINGGU – Marvel Entertainment dikenal sebagai perusahaan kreatif dan penerbit komik-komik populer dunia. Banyak komik terkenal yang diterbitkan perusahaan itu, antara lain, Spiderman; Superman; Fantastic 4; The Hulk; atau X-Men.

Kini sejarah baru kreasi komik dunia lahir dengan hadirnya pahlawan super asal Indonesia, tepatnya Padang, Sumatera Barat, Indonesia, bernama Toro Ridwan alias Fatah (20 tahun). Kisah pahlawan super asal Indonesia itu juga digarap oleh Marvel.

Fatah atau Sang Pembuka memiliki kekuatan membuat dan memanipulasi celah antara dua tempat yang membuatnya bisa muncul dan menghilang di mana pun. Ia bisa menembus waktu dan berpindah tempat kapan pun dia mau untuk melawan musuh-musuhnya.

Kisah fiktif tentang Fatah bisa ditemui dalam komik The 99 edisi keenam yang diluncurkan baru-baru ini.

Dikisahkan, Toro Ridwan hampir sepanjang hidupnya bekerja di restoran di Padang. Kehidupannya sangat membosankan sampai suatu hari seorang wanita pengunjung restoran meninggalkan segepok kunci di meja.Toro bergegas menuju ke pintu restoran untuk mengembalikan kunci itu kepada pemiliknya. Saat itu pecahan Permata Nur yang menghiasi gantungan kunci berpendar bagai hidup.

Toro melangkah melewati pintu dan tiba-tiba saja dia berada di tengah badai salju Antartika. Toro panik dan berharap pergi ke tempat lain yang lebih hangat. Tanpa sadar ia mengaktifkan Permata Nur untuk kedua kalinya. Portal lain terbuka dan memindahkannya ke mulut gunung berapi aktif.

Setelah sedikit berlatih dan mengalami beberapa petualangan, Toro berhasil memahami cara mengontrol portal dimensi dan pulang ke rumah. Toro kemudian menyadari bahwa dirinya mampu menggunakan kekuatan barunya untuk pergi ke mana pun.

Penggunaan Permata Nur oleh Toro menarik perhatian seorang cenayang penyelidik asal Kanada yakni Blair Davis – yang juga dikenal sebagai Raqib Sang Pengawas, seorang pemilik permata yang secara rahasia bekerja untuk The 99.

Toro bersedia menolong Raqib. Setelah mengganti Permata Nur pada gantungan kunci dengan permata biasa, mereka mengembalikan kunci tersebut kepada sang pemilik. Dengan Permata Nur, Fatah menolong Raqib dan anggota baru lainnya untuk menyelamatkan anggota lama The 99 yang diculik para penjahat yang tergabung dalam “Nahomtech Corporation”.

Fatah belum mengaku kepada orangtuanya bahwa dirinya bisa berpindah ke tempat yang jauh dengan seketika atau tentang keanggotaannya di The 99. Mereka hanya tahu bahwa Fatah sering terlambat pulang untuk makan malam. Fatah digambarkan sebagai figur yang bergaya “slang” dan amat percaya diri.

Dalam komik edisi keenam itu, Fatah menyelamatkan rekan-rekannya sesama anggota “The 99” yang ditangkap oleh musuh mereka.

Komik The 99 yang dijual seharga Rp 17 ribu pereksemplar ini berkisah tentang pahlawan-pahlawan super yang mendapat kekuatan dari Permata Nur yang diciptakan di Baghdad, Irak pada tahun 1258 Masehi. Pahlawan-pahlawan super itu bersatu untuk menciptakan dunia yang damai dan sejahtera melawan tokoh antagonis Rughal dan antek-anteknya di “Nahomtech Corporation”.

Kelompok Media Teshkeel pertama kali menerbitkan The 99 pada Juni 2006. Sejumlah tokoh pahlawan fiktif dari berbagai negara dalam komik itu antara lain bernama Raqib (Kanada), Widad (Filipina), Jami (Hongaria), Soora (AS), Darr (AS), Hadya (Inggris), Noora (Emirat Arab), Fatah (Indonesia), Bari (Afrika Selatan), Sami (Prancis), Jabbar (asal Arab Saudi yang kemudian bermukim di Prancis), dan Mumita (Portugal).

Perusahaan penerbitan Teshkeel Media Group asal Kuwait yang berkantor pusat di Uni Emirat Arab telah menerbitkan puluhan serial komik The 99 dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris sedangkan PT Kreasi Imaji Sakti dari Femina Group merupakan perusahaan pemegang lisensi Teshkeel untuk menerbitkan The 99 dalam bahasa Indonesia sejak edisi perdana 5 September 2007.

“Dari corak ilustrasinya, masyarakat sudah tidak asing dengan komik ini karena dikerjakan oleh perusahaan Marvel yang mendunia,” kata Pemimpin Redaksi Kreasi Imaji Sakti Sigit Widodo.

Konsep penerbitan komik The 99 tumbuh dari kesadaran adanya kekosongan pada media anak dan remaja Dunia Islam terhadap karakter pahlawan super fiktif dan seolah tak berdaya mengimbangi invasi karakter sejenis dari Barat semisal “Superman”, “Spiderman”, atau “Batman”.

Pemilik perusahaan multinasional Teshkeel Naif Al-Mutawa merupakan pencipta karakter The 99.

Kompromi
Dalam pengantar Naif Al-Mutawa mengatakan, tokoh-tokoh pahlawan super The 99 tidak dibentuk mengikuti gaya Barat yang individualis seperti Superman; Spiderman; dan Batman dan sejenisnya. Tidak pula mengikuti pola Asia Timur ala Pokemon yang menjadikan kerjasama dan nilai-nilai kebersamaan di atas segalanya.

The 99 merupakan pertemuan antara Timur dan Barat. “Kompromi berlandaskan Islam dan kondisi geografis Timur Tengah,” kata doktor di bidang Psikogi Klinis dari Universitas Columbia, AS itu.

Naif berharap The 99 mampu melayani seperempat lebih penduduk dunia yang beragama Islam. Isi komik itu diilhami ajaran Islam dan mengambil inspirasi dari 99 asma Allah SWT.

Dengan karakter-karakter yang sengaja diciptakan melampaui batas-batas bahasa dan budaya, mereka menyampaikan pesan moral berdasarkan nilai-nilai yang diajarkan oleh Islam pada pembacanya, kata Naif.

Buku-buku lain tentang seri anak-anak karya Naif saat ini dipakai pada setiap sekolah di dunia Arab dan menjadi bahan referensi pada kelas pendidikan dosen tingkat magister di berbagai universitas, termasuk American University di Beirut.

Karir menulis cerita fiksi Naif Al-Mutawa dimulai dari seri buku anak yang mengenalkan konsep toleransi. Disebutkan, lantaran ceritanya yang unik dan keberhasilannya menggabungkan format pahlawan super Barat dengan budaya Arab, komik itu telah mendapatkan sambutan hangat dan peliputan penuh dari media internasional seperti Time, CNN, International Herald Tribune, maupun media-media terkemuka di Jazirah Arab seperti Emirates Today, ArabAd, dan Kuwait Times.

“Indonesia merupakan negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan berpenduduk Muslim terbesar di dunia sehingga logis bagi pengembangan kami dari Timur Tengah dan Afrika Utara,” kata Naif Al-Mutawa.

Sedangkan pesan yang ditonjolkan Naif adalah anggota “The 99” harus memiliki 99 cara memecahkan masalah dan tak seorang pun dapat memecahkan masalah sendirian.
Kerjasama sangat penting, seperti juga masalah sederhana yang kadang-kadang membutuhkan solusi kompleks.

Pada saat-saat tertentu kekuatan adalah bagian dari pertahanan diri untuk berjuang demi kedamaian di dunia tetapi hanya bisa efektif saat digunakan sebagai bagian dari beraneka segi respon dalam suatu masalah.

Dalam komik edisi perdana yang diberi judul Legenda The 99 Dimulai dikisahkan fakta sejarah ketika bala tentara Kerajaan Mongolia Hulagu Khan menghancurkan pusat pengetahuan dan kemajuan peradaban Islam di Baghdad pada tahun 1258.

Dari fakta sejarah itu kemudian disisipi legenda yang mendasari komik ini bahwa terdapat sejumlah kaum terpelajar Huras Al-Hikma menyembunyikan informasi ilmu pengetahuan ke dalam 99 permata ajaib.

Mereka pun mendirikan benteng agung pengetahuan, Husn Al-Ma`rifa dengan memasang 99 permata itu pada kubah benteng. Benteng itu bertahan hingga 1491 dan kemudian runtuh setelah Rughal yang menjaga benteng itu ingin mendapatkan keajaiban dari permata yang memancarkan sinar (Permata Nur) itu.

Namun Rughal tak dapat ditemukan dan tak ada yang tahu apa yang terjadi padanya. Kaum Huras tercerai-berai ke seluruh penjuru dunia, permata-permatanya pun berserakan entah di mana hingga zaman modern di era milenium ketiga.

Adalah Doktor Ramzi Razeem yang masih keturunan kaum Huras terus mencari permata-permata itu, hingga ia menemukan Jabbar, pemuda berperawakan raksasa yang memiliki kekuatan fisik luar biasa. Ternyata di dalam tubuhnya terkandung serpihan-serpihan permata tersebut. “Kita akan mengubah dunia,” kata Ramzi kepada Jabbar yang menjadi The 99 yang pertama.

Dan Toro alias Fatah telah menjadi bagian dari itu. “Oke deh, baiklah,” kata-kata yang kerap diucapkan oleh Fatah saat menjalankan tugas membasmi kejahatan. “Go Fatah Go!” (ANT/BUDI SETIAWANTO)

WIP

Sumber KOMPAS.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: