Bocah 4 Tahun Hidup Tanpa Anus

Sumenep, 27 November 2008 09:58
Windi Apriliyah, bocah berusia empat tahun, warga Dusun Jasaan, Desa Aengbaja Kenek, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Madura, sejak lahir hingga saat ini hidup dengan tanpa anus.

Ditemui di rumahnya, Rabu (26/11), putri kedua dari pasangan suami-istri Badri Asmoni, 44 tahun, dan Kudma, 40 tahun, harus menanggung penderitaannya itu tanpa batas waktu.

Badri mengatakan, putrinya yang lahir pada 24 April 2004 itu, kini sudah tidak lagi mendapatkan pelayanan medis gratis melalui program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) seperti yang pernah diterimanya sebelumnya.

Menurut lelaki yang bekerja sebagai buruh tani itu, keluarganya ternyata tidak masuk dalam data pemutakhiran Jamkesmas.

Padahal, katanya, sebelumnya sempat menikmati program layanan kesehatan gratis tersebut, yakni selama tahap pembuatan saluran kotoran pada bagian perut kanan. “Saluran kotoran itu dibuat saat Windi baru berumur 40 hari,” ungkap Badri.

Badri menuturkan, Windi selalu ditolak dari kehidupan teman sebayanya karena sering mengalami bau yang tidak wajar. Windi sempat dioperasi di RSU dr Soetomo Surabaya melalui program Jamkesmas saat masih berumur 1 tahun.

Operasi tersebut dilakukan untuk pembuatan anus yaitu saluran untuk buang kotoran.

Ternyata, lanjut Badri, anus buatan pihak dokter RSU dr Soetomo tersebut belum berfungsi dan kontrol terakhir dilakukannya pada akhir 2007 lalu. Pada saat itu, Windi dikatakan dokter mengalami gagal ginjal sehingga butuh terapi tiga kali dalam sepekan.

Untuk melaksanakan terapi bagi Windi, Badri mengaku tidak lagi mempunyai kemampuan. “Selain tidak mendapatkan program Jamkesmas, biaya transportasi Sumenep-Surabaya sangat memberatkan,” katanya.

Badri menambahkan, sejak anaknya tidak masuk dalam program Jamkesmas, keluarga sudah berusaha menanyakan pada pihak terkait, baik pada Badan Pusat Statistik Catatan Sipil, PT Askes, dan Dinas Kesehatan Sumenep, namun tetap tidak ada solusi. “Alasannya tidak masuk dalam pemutakhiran data Jamkesmas. Sehingga tidak lagi mendapatkan pelayanan kesehatan gratis,” keluhnya.

Badri jelas mengaku kecewa dengan kebijakan pemerintah kabupaten, yang tidak lagi memasukkan Windi dalam data Jamkesmas. Padahal, keinginan Windi untuk hidup normal selalu diucapkan. Bahkan, selalu mengajak untuk ke rumah sakit agar anus buatannya cepat berfungsi kembali. [EL, Ant]

Source Gatra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: