Membaca Elegi Artistik Nashar

Minggu, 26 April 2009 | 04:37 WIB

Bre Redana

Bahwa hidup pelukis Nashar (1928-1994) terapung dalam khaos dan penderitaan, banyak orang tahu. Hanya saja kenapa telaah terhadap perupa kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, itu selalu menggunakan referensi Romantisisme—satu periode dalam telaah filsafat, di seputar akhir abad ke-18.

Kalau menyimak karya-karya Nashar sambil mengenang kembali kehidupan perupa itu, akan merasa bahwa betapa unik beberapa simpul dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Salah satu simpul sangat menarik tak pelak adalah Nashar.

Melihat puluhan karyanya dipajang di Galeri Nasional, 16-24 April lalu, betapa tetap menyentaknya Nashar. Irama warna dalam konfigurasi bentuk-bentuk abstrak itu telah melampaui riwayat perupanya, memberi jejak yang terus mengusik untuk dibicarakan, mengenai seni rupa modern Indonesia.

Tajuk pameran ini sangat tepat: ”Elegi Artistik Karya Nashar”. Pameran diselenggarakan oleh Asosiasi Pencinta Seni Indonesia (ASPI), dengan pemrakarsa Hendro Tan, kolektor yang menyimpan banyak karya Nashar. Pameran ini, oleh Hendro, selain kepada masyarakat juga didedikasikan kepada istrinya almarhum, Emmy Christina, yang mencintai karya-karya Nashar. Bersamaan dengan pameran itu, diterbitkan buku luks setebal 329 halaman berjudul Elegi Artistik tentang Nashar dan Lukisan-lukisannya, dengan editor Agus Dermawan T. Buku itu menampilkan (kembali) tulisan-tulisan yang pernah terbit di sejumlah media dari para penulis, untuk menyebut beberapa nama saja, Goenawan Mohamad, Putu Wijaya, Maruli Tobing, Ray Rizal, Efix Mulyadi, dan Bambang Bujono.

Tak tergadai

Elegi artistik langsung terasa, begitu masuk gedung, disapa misalnya oleh karya berjudul ”Taman” (1985), dari cat akrilik. Alangkah memikatnya warna dominan hijau berikut nuansanya yang disodorkan di situ. Warna dan alunan bentuk berupa garis, lengkungan, maupun blok terasa begitu liris, serta menyimpan citarasa modern.

Penggambaran atas satu karya itu—untuk tulisan sependek ini—marilah dianggap mewakili karya-karya Nashar yang lain. Semua karya Nashar tidak ada yang ”tidak bunyi”. Dijembreng dalam pameran seperti itu, yang terasa adalah karya-karya tersebut lahir dari jiwa yang terus mengalun, tak pernah henti berada dalam percumbuan dengan krida estetik. Kalau cat adalah sosok perempuan dan Nashar memanglah lelaki, maka kanvas adalah ranjang dari percumbuan estetik tadi.

Sampai di sini, kalau kita meloncat ke buku yang diterbitkan, Elegi Artistik, betapa terasa masih kurang memadainya sebetulnya studi-studi mengenai Nashar. Seperti disebutkan tadi, tulisan-tulisan dalam buku ini adalah tulisan yang pernah dibuat oleh wartawan maupun pengamat seni yang pernah dipublikasikan media massa sebelumnya.

Potongan-potongan kehidupan keseharian Nashar bisa Anda baca di situ. Misalnya mengenai Nashar yang bertubuh ringkih, hidup dalam deraan kemiskinan. Sehari-hari tidur menggelesot di Balai Budaya (Jalan Theresia, Menteng, Jakarta), bangun kesiangan, duduk mencangkung di depan Balai Budaya, barangkali melihat salah satu anaknya jadi tukang parkir di seputar situ.

Lalu latar belakangnya sendiri, yang sebagian ia tuturkan dalam Surat-surat Malam, yang memperlihatkan prinsip-prinsip berkeseniannya yang kokoh, tak tergadai oleh kepentingan-kepentingan di luar prinsip estetik, apalagi pasar. Dari berbagai keping catatan mengenai Nashar akan terbaca mengenai ayahnya yang otoriter, ibu yang di kemudian hari bak penderita kelainan jiwa, dan seterusnya.

Pembacaan dekat

Dengan latar belakang kehidupannya sendiri, rasanya memang paling mudah menghubungkan Nashar dengan referensi-referensi di seputar Romantisisme—sebuah risalah yang merayakan berkuasanya impuls di atas keteraturan alias order. ”Manusia terlahir bebas, tapi di sana-sini terantai” kata Rousseau yang menjadi dasar pembebasan manusia.

Akan tetapi, cukupkah memahami Nashar semata-mata dengan suatu narasi besar, katakanlah Romantisisme? Tidakkah diperlukan close reading, pembacaan amat dekat, bagaimana karya-karya Nashar yang oleh Darga Gallery dulu pernah disandingkan dengan karya pelukis surealis Spanyol, Joan Miro, bisa lahir di bumi sini? Belakangan ini, banyak sudah kekurangpuasan terhadap pembacaan melalui narasi-narasi besar.

Studi mengenai Nashar masih menganga lebar, kalau mengingat, bahkan di buku itu, secara lugu disebutkan, nama ayah dan ibunda Nashar saja tak diketahui. Dengan lebih bekerja keras lagi, studi mengenai Nashar akan memberi makna besar bagi pemahaman atas seni rupa modern Indonesia. Oleh karena itu, kita tunggu buku berikutnya.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: