Sukhoi !!

Harry Roesli
HROESLI@BDG.CENTRIN.NET.ID

ADA seorang berinisial “de” menulis di sebuah koran daerah. Pak “de” ini mengajak kita menyimak, jikalau 210 juta penduduk Indonesia dikurangi 36 juta pengangguran dan 60 juta pensiunan, lalu 36 juta anak balita dan anak sekolah, maka sebenarnya tersisa 88 juta penduduk Indonesia yang bisa dikatakan bekerja.

Ambil saja sekitar 70 juta adalah pegawai negeri, maka tinggallah 18 juta yang bekerja. Dari sisa jumlah tadi dikurangi 8 juta WNI yang bekerja di luar negeri sebagai TKI dan TKW, maka kini sisanya tinggal 10 juta yang bekerja.

Dari jumlah 10 juta tadi, ternyata 9.200.000 orang bekerja di sektor nonprofit seperti LSM dan partai- partai, jadilah tersisa 800.000 orang yang bekerja. Anggaplah yang sakit terbaring di rumah sakit (di seluruh Indonesia) sebanyak 165.000 orang sakit tifus, 200.000 orang sakit virus macam-macam, 100.000 orang sakit karena mengungsi, dan 300.000 orang lainnya pura-pura sakit karena korupsinya sedang diperiksa kejaksaan.

Maka tersisalah 15.000 orang saja yang bekerja. Departemen Kehakiman mencatat ada 14.998 orang yang hidup di penjara. Jadi tinggal dua orang saja yang bekerja, yaitu saya dan Anda, dan pekerjaan Anda ternyata hanya duduk-duduk membaca tulisan ini. Jadi angkatan kerja di Indonesia hanya satu orang, yaitu saya!!

DENGAN data kacau di atas, maka tidak bisa disalahkan kalau pemerintah ngotot untuk membeli pesawat Sukhoi sebanyak 4 unit dan helikopter sebanyak 2 unit.

Nah dengan membeli Sukhoi 4 unit dan heli 2 unit, maka yang bekerja di Indonesia tidaklah saya sendirian. Karena minimal 2 unit Sukhoi yang tipe SU30 memerlukan 4 pilot, karena ini adalah pesawat jenis pilot tandem. Lalu yang tipe SU27 memerlukan 2 pilot, sedangkan heli tipe Mil-M35 per unitnya memerlukan 3 orang awak, jadi 2 unit memerlukan 6 orang. Dengan begitu angkatan kerja bertambah 4 pilot SU30, 2 pilot SU27, 6 orang awak Heli Mil-M35, total 12 orang.

Jadi kehadiran Sukhoi dan heli membuat angkatan kerja menjadi 13 orang dengan saya! Bukankah ini sebuah terobosan? Belum lagi dihitung awak darat yang merawat pesawat-pesawat tadi, minimal 2 orang dikali 6 unit, berarti 12 orang. Artinya, Sukhoi dan heli telah berhasil menaikkan angka angkatan kerja di Indonesia, dari satu orang (yaitu saya, seperti pada awal tulisan) menjadi 25 orang.

Soal mahal atau tidaknya, itu relatif. Yang pasti keberadaan Sukhoi dan heli itu untuk niat mulia, yaitu menjaga NKRI. Siapa-siapa yang yang mbalelo terhadap NKRI nanti- nanti tinggal di-“Sukhoi” saja, iya kan!

Mahasiswa demo, tidak usah pentungan, langsung di-“Sukhoi” saja. Buruh demo, tidak perlu ditembaki peluru karet, langsung di-“Sukhoi” saja. Petani demo, tidak perlu dipukuli, langsung di- “Sukhoi” saja. Bahkan jika ada yang tidak setuju dengan mahalnya biaya pendidikan, ya di-“Sukhoi” saja. Kalau ide teman saya supaya sunatan massal lebih cepat dan hemat, suruh saja anak-anak yang mau disunat itu berbaris telanjang, lalu ditembak oleh Sukhoi. Pasti dalam tempo lima menit tersunat lebih dari 1.000 anak. Karena konon memang dana untuk membeli Sukhoi kabarnya juga di-“sunat” dulu oleh si “ehm!”

MENURUT seorang wartawan teman saya, keenam unit pesawat tempur itu harganya 192,9 juta dollar AS. Kalau kita bulatkan angka tadi dengan tambahan komisi dan biaya-biaya siluman lainnya, maka angka tadi menjadi 200 juta dollar AS. Artinya, nyaris satu orang Indonesia menyumbang 1 dollar AS untuk membeli pesawat tempur tadi. Dengan kurs Rp 8.700, maka satu orang Indonesia harus rela menyumbangkan uang makannya untuk satu hari, murah kan?

Maksudnya, umumkan saja bahwa pada hari tertentu seluruh rakyat Indonesia termasuk balita, veteran, orang cacat, orang sakit, narapidana, GAM, polisi, pelacur, presiden, dan tentu saja rakyat yang nantinya malahan mati ditembak Sukhoi, semua harus puasa selama 24 jam penuh! Maka esoknya terkumpullah uang untuk membeli Sukhoi dan heli!

Kenapa harus puasa buat beli Sukhoi? Karena Sukhoi itu banyak untungnya. Selain untuk menambah angkatan kerja, juga buat membasmi saudara-saudara kita yang mbalelo supaya NKRI tetap NKRI, begitu lho! Malahan kalau perlu sebuah lagu anak-anak yang judulnya Di Sini Senang, kita ganti: “Di sini sukhoi, di sana sukhoi, di mana- mana heli dan sukhoi”. Atau sebuah lagu pergaulan orang Batak yang berjudul Lisoi, kita ganti: “Sukhoi sukhoi sukhoi sukhoi oh parmitu !”

Soal mahal, apa sih yang mahal demi NKRI. Toh enam unit pesawat tempur itu bisa kita bayar dengan hanya satu hari saja seluruh rakyat Indonesia berpuasa. Bayangkan kalau seluruh rakyat kita berpuasa selama 365 hari, berapa Sukhoi bisa kita beli? Untuk itu rajin-rajinlah mulai sekarang kita berpuasa, karena sepertinya pemerintah kita masih ingin membeli Sukhoi-Sukhoi lainnya. Buat apa sih? Ya buat NKRI, buat apa lagi? NKRI itu Negara Kesatuan Republik Indonesia? Ya, betul! Tetapi ada juga NKRI singkatan dari: Nyamikan Koruptor Republik Ini! Gitu tuh!

Kalau begitu kirim salam saya buat salah satu penulis rubrik Asal Usul ini, yaitu Pak Sukhoi Harja- noi! Oi…oi…oi.

Sumber

One response to this post.

  1. Posted by Arief Widya Budiman on July 30, 2009 at 2:35 am

    Wah menarik sekali pendapat anda pak…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: