Gus Dur, Demokrasi & Pribumisasi Islam

INILAH.COM, Jakarta – Sosok almarhum Abdurrahman Wahid dikenal luas di dunia internasional. Banyak catatan positif tentang kiprahnya memperjuangkan demokrasi dan ke-Islaman di Tanah Air.

Menarik menyimak pendapat Profesor Kaplan saat berpidato dalam pengukuhan Doktor Honoris Causa kepada KH Abdurrahman Wahid dari Universitas Paris. Gelar itu diberikan di 2001 itu ketika Gus Dur masih menjabat sebagai presiden.

“Comme vous savez monsieur le President, L’Universite Paris I s’honore d’occuper une place eminente dans les trois domaines: des Sciences Juridiques et Politiques, des Sciences Economiques et de Gestion, et des Sciences Humaines. C’est a ces trois titres qu’elle vous decerne aujourd’hui le grade de Docteur Honoris Causa.”

(Seperti anda ketahui, bapak Presiden, Universitas Paris memiliki posisi luar biasa dalam tiga bidang, masing-masing ilmu hukum dan politik, ilmu ekonomi dan menejemen dan ilmu humaniora. Dalam tiga bidang inilah Anda hari ini mendapat gelar Doktor Honoris Causa).

Kaplan, Guru besar Kajian Timur Tengah ini dalam pidatonya mengatakan penghargaan kepada Gus Dur ini tepat waktunya, yaitu menyusul penghargaan yang sama, Doktor Honoris Causa kepada Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela dan kepada Sekjen PBB Kofi Annan.

Jadi Abdurrahman Wahid adalah tokoh ketiga yang memperoleh kehormatan dari Universitas Paris I yang dulu termasyur dengan nama Universitas Sorbonne ini.

Tiga lapangan, kata Profesor Kaplan, yang menunjukkan jasa-jasa Abdurrahman Wahid dalam membangun demokrasi dan HAM yaitu memperkuat hukum dan politik, ekonomi dan menajemen dan humaniora.

Antara lain disebutnya jasa-jasa Abdurrahman Wahid membangun informasi yang bebas, membebaskan para tahanan politik dan perjuangan persamaan hak-hak bagi berbagai suku agama para minoritas dan hak perempuan.

Gus Dur pada gilirannya harus berterima kasih pertama-tama kepada isteri dan anak-anaknya karena keluarganyalah yang menderita dalam perjuangan membangun demokrasi sejak dia memimpin Nahdlatul Ulama dan Forum Demokrasi atau Fordem.

Di luar itu, Gus Dur amat dikenal dengan gagasan pribumisasi Islam dalam konteks lokal yang telah lama dikumandangkan oleh sejumlah sarjana Muslim Indonesia. Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur, adalah salah seorang pemikir dan ulama yang pertama mengemukakan gagasan tersebut.

Gagasan pentingya pribumisasi Islam dalam konteks lokal ini sangat penting dilakukan. Dengan demikian Muslim Indonesia dapat tetap mempertahankan identitas ke-Indonesia-annya yang khas. Tetapi pada saat yang sama dapat mengejawantahkan nilai-nilai Islam dalam praktik kehidupannya.

Menjadi seorang Muslim Indonesia tidak harus menjadi Arab. Lebih dari itu, kekhasan potret Islam Indonesia juga bukan mustahil dapat memberikan inspirasi bagi wilayah lain. Juga mengubah imej tentang Islam yang di kalangan Barat sering diasosiasikan dengan keras atau radikalnya Islam di Timur Tengah.

Kultur Islam Indonesia jelas memiliki keunikan tersendiri. Di Indonesia beragam tipe penafsiran atau aliran Islam ada, mulai dari yang disebut sebagai moderat, liberal, sampai pada corak Islam yang puritan dan radikal, semuanya tumbuh subur dan saling mengkampanyekan idenya masing-masing.

Tak pelak, dari percaturan berbagai corak ke- Islaman itu, Indonesia bak lahan subur bagi timbulnya dinamisasi pemikiran. Sebagaimana dulu Geertz melihat dinamisasi tersebut dan berkesimpulan bahwa Indonesia adalah Islam yang tumbuh dari proses ketekunan (Geertz: 1968).

Meskipun ketekunan yang dimaksud Geertz tersebut adalah derivasi dari kultur agraria, pertanian masa lalu. Tapi tentunya sebagai watak atau karakter, hal tersebut bisa pula mengejawantah pada era industri sekarang ini.

Hal itu berbeda dengan Maroko sebagaimana ia bandingkan. Kalau Indonesia adalah Islam yang tumbuh dari ketekunan, maka Maroko adalah Islam yang tumbuh dari keberanian. Faktor kultur dan geografislah yang membedakan. Bagaimana pun, kultur Islam Timur Tengah tidak memiliki pengalaman keragaman sosi-kultural-antropologis sebanyak Indonesia.

Seyogyanya semangat pribumisasi, kontekstualisasi atau apapun namanya di Indonesia, hendaklah tidak berhenti disuarakan. Para cendikiawan Muslim Indonesia hendaknya terus menggali semangat dan nilai-nilai Islam yang sering dikesampingkan penerapannya di Negeri ini.

Jujur harus diakui, sekarang ini kalaupun ada semangat menerapkan syariat Islam, yang menonjol adalah masih dalam level ‘cangkang’ luarnya, dan belum mengutamakan implementasi syariat yang langsung bersentuhan dengan kepentingan serta kesejahteraan masyarakat luas, baik muslim maupun non-Muslim.

Ada keyakinan, ke depan, agenda pribumisasi atau kontektualisasi Islam Indonesia yang Gus Dur ‘canangkan’ bisa benar-benar mewakili ruh dan esensinya. Yang dibutuhkan saat ini adalah aksi riil umat Islam bagi kepedulian sosial dan pendalaman demokrasi, bukan sekedar simbol, ucapan dan bahasan yang melelahkan. [mdr]

Ahluwalia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: