Kisah Kampung Preman

Para mantan preman dan napi mengubah kampung seram menjadi artistik dan ramah.

SETIAP hari Minggu, nomor telepon genggam 022-925382xx kerap dihujani pesn pendek. Pesan pendek yang masuk ke nomor ini macam-macam. Namun yang paling bikin pemegang nomor tunggang-langgang adalah sebuah isi pesan,”kok sampah di rumah saya belum diambil, kan saya sudah bayar”.

Nomor itu sering dipegang Ipan dan Iwan. Keduanya anak muda berusia 27 tahun. Sehari-hari, Ipan menjabat koordinator dan Iwan menjadi anak buahnya. Keduanya memegang kendali kebersihan sampah rumah tangga di RT 04/01 Kelurahan Babakan Asih, Kecamatan Bojongloa Kaler, Bandung, Jawa Barat.

Keduanya memiliki seorang anak buah yang bertugas mengambil sampah ke rumah-rumah warga. ”Langsung samperin yang kirim SMS,” ujar Ipan.
Dulu, katanya, orang membuang sampah bisa langsung ke kali. Kali Citepus sudah biasa menampung segalam macam sampah rumah tangga, dari plastik sampai kasur bekas. Bahkan, lemari bekas pun dilempar ke kali yang lebarnya hanya dua meter itu.

Kini para pemuda tersebut yang mengangkuti sampah empat kali dalam seminggu. Sampah yang akan diambil adalah sampah yang diletakkan dalam tas plastik di teras rumah. Setiap rumah akan diminta iuran Rp 2.000 per pekan. Setelah sampah tiap rumah dikumpulkan, Ipan dan timnya akan membuang ke tempat pembuangan sementara (TPS) di sekitar Pasar Astana Anyar.

“Beneran, coba aja kalo pas hujan-hujan begini, mikirnya air lagi besar orang bisa buang sampah dengan harapan kebawa air kali,” kata Ipan.
Memberi pengertian dan mengajak warga membuang sampah memang agak ribet kalau tidak dirasa manfaat langsungnya. Mereka pun berpikir ulang desain pendidikan kampung yang pro-lingkungan. “Akhirnya lewat program lingkungan bisa didesain,” ujar Sandy Sapuandy, Wakil Ketua RT.

Selain memeriksa sampah, secara giliran mereka juga mendapat tugas mengawasi sumur resapan. Pada April 2009 kampung ini menggali 18 titik tanah sebagai sumur resapan. Selama sebulan lebih warga menggali tanah dan memodali sendiri lahan yang akan dijadikan sumur resapan itu.
“Tadinya biasa banjir di sekitar sini. Air hujan biasanya bisa menggenang selama seminggu. Awalnya bisa selutut,” kata Regi Kayong, warga di Babakan Asih.

Sumur resapan buatan warga di Babakan Asih itu dibuat dengan beton dan disebar di titik-titik rawan banjir. Setelah pembuatan sumur resapan, banjir di perumahan padat itu bisa diatasi. Hujan besar yang terjadi awal tahun ini tidak menyebabkan banjir lagi. “Setelah ada sumur, dalam 20 menit air hujan bisa hilang,” ujar Sandy.

Semua kerja itu dilakukan anak muda dan remaja tanggung di permukiman yang disebut Blok Tempe itu. Mereka melakukan secara mandiri, tanpa bantuan pemerintah atau partai politik. Bahkan, dalam pemilu yang lalu mereka tergolong pemilih putih.

”Dilarang minta dari pemerintah. Nanti mereka klaim ini sebagai keberhasilan mereka,” ujar Sandy.

Korban Pembangunan

Siapakah Sandy, Ipong, dan Ipan? Mengapa mereka begitu ”galak” jika menyangkut kebersihan kampung? Jawabnya: mereka semua bekas narapidana.

Sandy dan Ipong langganan masuk bui karena kasus perkelahian. Ipan masuk bui karena kasus pelecehan seksual. “Semua memang pernah masuk bui. Tapi itu jadi pengalaman berharga. Sok tanya ada yang mau masuk lagi?” kata Sandy pada teman-temannya. Disambut tawa teman-temannya.
Dulu di kampung itu banyak sawah dan ngarai. Sandy dan kawan-kawan menghabiskan waktu hingga sore di sawah atau ngarai.

Kini Kampung Babakan Asih punya ciri-ciri yang sama dengan daerah lain di tengah Kota Bandung.
“Mulai 1990-an tanah bapak dan penduduk asli mulai dijual,” kata Sandy. “Ada yang butuh uang karena lumayan mahal harganya.”

Rata-rata penduduk kampung ini pekerja sektor industri rumah tangga dan informal. Banyak juga penganggur. Jumlah penganggur di kampung ini diperkirakan lebih dari 84.000 orang. “Kalau tidak jadi tukang sablon, kerja di pasar, atau nongkrong di jalan, terus rusuh,” ujar Ipan sembari terbahak.
Warga kampung seperti Babakan Asih dengan cepat menawarkan tanah mereka untuk dijadikan rumah kontrakan atau kos-kosan. Para pemilik tanah pun berpikir bahwa pertanian tidaklah cepat menguntungkan dibandingkan menyewakan rumah.

”Semuanya pembangunan rumah itu harus berhenti. Karena hilang sawah, yang terjadi malah anak-anak tidak punya tempat bermain. Hasilnya pada main di jalan, eh bikin rusuh,” ujar Regi.

Berawal dari Mural

Dua belas tahun lalu Regi mulai mengajak Sandy dan kawan-kawan bertobat dan kembali ke kampung mereka. Membangun kampung dan menjadikannya layak huni. Ajakan itu tidak mudah. Teman-teman masih ingin di jalan.

”Saya katakan pada mereka. Kembali ke kampung dan jadi orang bener. Bikin kampung enak atau silakan masuk bui,” tegas Regi. ”Dan, kayaknya mereka mau mikir.”

Perbaikan itu pun terjadi tahun 2009. Mereka membuat mural di rumah-rumah. Melalui mural, warga menumpahkan ekspresi dan imajinasi mereka. Mural itu menghiasi tembok rumah warga, dari rumah kontrakan sampai rumah pribadi. Dari kantor RT sampai saung warga, semua bermural. Mural telah menggantikan cat rumah konvensional. Salah satu tembok ditulis “Kartun Ervat”, kependekan dari Karang Taruna RT 4.

Kegiatan membuat mural kampung ini dimulai 17 Mei 2009. Bersama kelompok Urban Planner Bandung dan kelompok desainer, warga berjibaku menggambari rumah mereka dengan aneka gambar dan warna. ”Puluhan kaleng cat besar dihabiskan, dan ratusan bungkus rokok,” ujar Regi.
Regi menuturkan, program mural merupakan cara mengubah wajah kampung yang seram dan beringas menjadi lebih artistik dan ramah. Gambar-gambar itu memberi aroma kegendesan dan jenaka, sehingga secara psikologis berdampak positif bagi jiwa penghuni yang mencapai 104 keluarga.

“Asa jadi tambah ceria dan tidak menyeramkan lagi lalu-lalang di tengah malam atau siang hari,” kata Miki, pemuda lainnya.
Lalu mereka membeli sepetak tanah berukuran satu kali lapangan badminton di kampung tersebut. Nilainya, sekitar Rp 11 juta. “Uang pembeliannya dari udunan (gotong royong) warga,” ujar Sandy.

Tanah yang sempit itu ditanami pohon dan tumbuhan bunga. Jadilah secuil taman. Di situ sekarang anak-anak dan remaja bisa bermain bola, tenis meja, dan menggelar lomba 17 Agustusan. Mereka tidak perlu lagi ke jalan seperti layaknya anak-anak di permukiman padat lain yang kekurangan lahan bermain.

Regi mengatakan, hilangnya tempat bermain membuat banyak anak muda bergerombol di jalan. Pengalaman menunjukkan, kriminalitas di wilayah itu meningkat karena remaja dan pemuda kehilangan ruang aktualisasi.
Setiap malam Rabu di taman itu anak-anak belia, remaja, pemuda 20-an tahun berkumpul. Mereka menggelar rapat. Di antaranya membahas masalah perawatan sumur resapan, masalah sampah warga, dan kegiatan liburan.

”Sengaja yang diajak anak-anak dan remaja agar ada ruang pembelajaran. Orang tua boleh ikut. Tapi intinya adalah anak-anak sebagai generasi penerus,” kata Regi. ”Agar remaja tidak lagi jadi kriminal.”

Saat ini pekerjaan rumah yang tertinggal adalah membangun basis ekonomi untuk penganggur dan anak-anak putus sekolah. Regi dan kawan-kawan masih memikirkan model bisnis dan manajemen bisnis mereka. Pekerjaan ini masih wacana kampung.

Tanggal : 15 Jan 2010
Sumber : vhrmedia

Prakarsa Rakyat,
14 Januari 2010 – 12:45 WIB
Agus Rakasiwi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: