Bherna Astoeti Getol Lestarikan Budaya

[ Rabu, 10 Februari 2010 ]

Bherna Astoeti

PELESTARIAN budaya bangsa tidak harus dilakukan dengan bergabung pada kelompok tari tradisional. Berbusana nasional pada setiap kesempatan juga menjadi upaya melestarikan budaya.

Misalnya yang dilakukan oleh Bherna Astoeti. Wanita 69 tahun itu ikut melestarikan budaya nasional Indonesia melalui Himpunan Ratna Busana. “Himpunan itu berdiri pada 1981, berpusat di Jakarta,” tutur wanita yang kini menjabat ketua Himpunan Ratna Busana Jawa Timur itu.

Menurut Bherna, Himpunan Ratna Busana merupakan organisasi yang menghimpun para pencinta dan pelestari budaya. Khususnya, busana nasional Indonesia. Seluruh anggotanya berkomitmen mengenakan busana nasional bila ada pertemuan. Misalnya, memadukan atasan dan kain dari Tuban. “Boleh berupa batik maupun tenun,” tegas ibu enam anak tersebut.

Selain itu, organisasi tersebut memberikan kursus kepribadian. Tujuannya, peserta kursus dapat tampil menarik, mencintai budaya dan busana nasional, serta memiliki kepribadian yang kuat.

Bherna pun sering berbagi ilmu kepribadian. Cukup banyak materi yang dia sampaikan. Di antaranya, materi mengenal diri sendiri serta berpikir dan berperilaku positif. Selain itu, dia membagikan ilmu tata busana, tata rias wajah dan rambut, serta tata perjamuan.

Nah, ketika memberikan materi kursus maupun menghadiri pertemuan, Bherna tidak pernah mengenakan celana panjang. Sebab, dia dan anggota lain wajib memakai bawahan berupa kain panjang batik atau tenun. “Supaya kesan anggun makin jelas,” ujar nenek 15 cucu itu.

Sering juga Bherna hadir dalam pertemuan dengan mengenakan pakaian yang telah dimodifikasi. Busana tersebut disesuaikan dengan model masa kini. “Seperti baju saya kali ini, motifnya saya modifikasi sendiri. Pinggirnya agak dinaikkan seperti model baju kurung,” ungkapnya sambil menunjukkan pakaian pink yang dikenakan.

Kewajiban mengajar dan berbusana nasional dijalani Bherna dengan senang. Maklum, dia sejak lama menyukai hal yang berkaitan dengan busana tradisional. Dia juga lama berkecimpung di dunia merias. Apalagi, Bherna pernah menjadi guru daerah terpencil di Pacitan. Pengalaman tersebut dia peroleh ketika mengikuti sang suami, Slamet P., bertugas. Teori penyampaian ilmu dia kuasai dengan baik.

Teknik mengajarnya semakin mantap. Sebab, wanita kelahiran Magetan itu pernah memiliki salon. Dia telah menjadi perias selama sepuluh tahun. Dia pun berpengalaman menjadi penguji mahir bidang kecantikan dan tata busana tingkat nasional. “Menyenangkan sekali bisa berbagi ilmu,” tuturnya. (may/nda)

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: