Cita Rasa Baru Keroncong

Selasa, 16 Februari 2010 | 08:30 WIB

TEMPO Interaktif,
Pepaya, mangga, pisang, jambu//
dibawa dari Pasar Minggu//
di desa banyak penjualnya//
di kota banyak pembelinya

Lagu keroncong lawas itu mengantarkan sensasi lain. Sensasi yang bukan ala Mus Muyadi, Sundari Sukoco, atau Anastasia Astutie. “Sensasi keroncong yang lain” itulah yang disajikan oleh sebuah kelompok musik keroncong yang menamakan dirinya Kroncong Tenggara di Salihara pada Jumat dan Sabtu malam pekan lalu. Berbalut baju putih-putih bersetelan kain sarung, mereka memperkenalkan kolaborasi musik khazanah nusantara itu dengan ragam genre musik lainnya.

Mendengar nama Kroncong Tenggara mengingatkan kita pada sebuah grup musik yang muncul dalam film Ruma Maida garapan sineas Teddy Soeriaatmadja. Dalam film dikisahkan bahwa grup keroncong ini dibentuk oleh seorang blasteran Belanda bernama Ishak Pahing. Ia menciptakan lagu Pulau Tenggara, yang kemudian menjadi inspirasi Soekarno dalam berdiplomasi. Namun, jangan keburu merelasikannya. Sebab, antara grup ini dan kisah dalam Ruma Maida tak berkaitan.

Adalah “kerjaan” seorang seniman musik kawakan, Nyak Ina Raseuki, atau yang tenar disapa Ubiet, yang berhasil mengajak musisi lain, seperti Dian H.P. dan pendiri SimakDialog, Riza Arshad. Grup ini pun menjadi menarik kala mampu meleburkan keroncong dengan jazz, reggae, pop, melayu, bahkan tango dan klasik.

Hasilnya, lagu Pepaya, Mangga, Pisang, Jambu yang diciptakan Adi Karso, menjadi aransemen ciamik karena sang pemain flute, Dony Koeswinarno, meraciknya menjadi keroncong reggae bercampur pop yang unik. Intro dalam keroncong, yang biasanya dibuka dengan kocokan ukulele-cak, diambil posisinya oleh tiupan flute dan betotan bas dari Adi Darmawan. Sensasi pop segera merajang, lalu masuk ke badan lagu yang bermuara pada permainan kendang Jalu Pratidina yang mengajak pemain bas meramu reggae.

Tak kalah aduhai saat mendengarkan nomor Kroncong Tenggara yang diadaptasi oleh Dian H.P. Kekuatan lagu ini jelas ada pada kekuasaan Dian yang memijit akordion. Tarian jarinya menjadikan lagu ini kian dinamis. Pada lagu Langgam Merah-Biru yang juga digarap Dian bersama Nirwan Dewanto, suntikan ritme melayu kembali menghasilkan sebuah cita rasa baru dari unsur-unsur masa lalu. Ditambah dengan tatanan panggung yang bersahaja. Layar putih terkembang di belakang menjadi alas tumpahan bidik lampu warna-warni yang berganti kalem. Dan beberapa bingkai lukisan sengaja hadir duduk di kursi-kursi jati.

Sebanyak 13 lagu dimainkan. Lima lagu baru bakal mengisi album anyar mereka yang tengah dipersiapkan, yakni Stambul Jauh di Mata karya Ismail Marzuki, Penghujung Musim Penghujan garapan Dian H.P. dan Sitok Srengenge, Di Bawah Sinar Bulan Purnama karya R. Maladi, Pepaya Mangga Pisang Jambu oleh Adi Karso, serta Langgam Merah-Biru oleh Dian H.P. dan Nirwan Dewanto.

Kemunculan grup musik yang juga dimeriahkan oleh pemain cello Dimawan Krisnowo Adji serta dua pengocok ukulele, Arief Suseno dan Maryono, memang jarang. Meski sudah terbentuk sejak 2007, grup ini baru kembali manggung tahun ini. “Grup ini terpaksa beristirahat sebentar selama dua tahun karena saya mengejar gelar doktor etnomusikologi di Amerika,” ujar Ubiet. Setelah kembali ke Tanah Air, Ubiet langsung membayarnya dengan pertunjukan perdana mereka di Salihara.

Ubiet menyukai musik yang sudah dikenal sejak abad ke-16 itu sejak dulu. Penjelajahan jauhnya terhadap beragam genre musik mengantarnya kembali pulang pada musik khas Indonesia tersebut. Ubiet melihat musik ini sebagai musik popular hybrid, sebuah perpaduan antara selera Eropa dan Nusantara. Celah itulah yang kini hendak disampaikan Ubiet, dengan terus menggali pelbagai kemungkinan akan ramuan musik baru.

Ide semacam ini sebenarnya juga pernah dieksperimenkan oleh grup musik Bondan Prakoso dan Fade 2 Black lewat lagunya berjudul Kroncong Protol. “Inilah bukti bahwa musik keroncong sebenarnya begitu dinamis menerima suntikan dari musik-musik modern, seperti rap, dan R n B,” ujar Dian H.P.

Bukanlah proses instan untuk kembali membangkitkan euforia berkeroncong. Pada mulanya, pada 2007 mereka meluncurkan album perdana berjudul Kroncong Tenggara. “Kami hanya mencetak 1.000 copy untuk album pertama,” kata Ubiet. Ia tak ingin bermuluk-muluk karena memang bukan hal mudah menerobos pasar modern yang kian menjauhkan diri dari musik pop dan enteng. Album kedua pun ditargetkan rampung tahun ini. “Kami ingin sering manggung, tapi belum ada investor yang tertarik,” ujar Dian.

Aguslia Hidayah

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: