Jejak Wayan Suklu di Bandung

Rabu, 03 Februari 2010 | 10:27 WIB

wayan sukluTEMPO Interaktif, Instalasi bambu besar itu seperti sebuah gerbang. Diletakkan di halaman kantor pusat kebudayaan Prancis (CCF) Bandung, Jalan Purnawarman 40. Instalasi yang tingginya sekitar 5 meter itu berdiri sejajar dengan atap bangunan. Beberapa sulur bambu yang melengkung di sisi kiri atasnya bolehlah dianggap sebagai ekor, walau tak jelas betul bentuk kepala dan badannya. Toh, penonton dibebaskan mengartikan bentuk lain dari rangkaian bambu tali tak simetris itu yang berjudul Cenderawasih.

Karya seniman asal Bali, I Wayan Sujana Suklu, itu tak berdiri sendiri. Lima instalasi bambu dengan ukuran lebih kecil ikut menemani di sekelilingnya. Dua di antaranya dinamai Kursi-Meja, sedangkan tiga lainnya berjudul Tempat Duduk Durga. Sementara Cenderawasih cukup kukuh untuk dipanjati hingga ke bagian puncaknya, Kursi-Meja lebih pas diduduki oleh dua orang. Bentuk kursi dan meja di bagian tengahnya itu menyatu. Fungsi yang sama berlaku di Tempat Duduk Durga, walaupun tanpa meja. Di karya ini, Suklu menafsirkan sifat tokoh wayang Batari Durga yang berlawanan. Kecantikan dan angkara murka itu disalurkan lewat persilangan bambu menjulang di bagian tengah yang ujung-ujungnya melengkung.

Pameran instalasi bambu bertajuk Jejak itu dibuka Senin malam lalu hingga 31 Maret mendatang. “Atau sampai bambunya roboh,” Suklu berseloroh. Semula karya yang dibawanya dari Klungkung, Bali, itu direncanakan dipasang di tempat-tempat terbuka di Bandung agar lebih leluasa dinikmati publik. Suklu ingin karyanya bisa dipanjati dan diduduki oleh anak-anak sampai orang dewasa. Awalnya ia mengincar lokasi sebuah taman dekat simpang Jalan Dago-Cikapayang. “Tapi harus izin ke dinas pertamanan, susah,” katanya. Alhasil, dosen Institut Seni Indonesia di Denpasar, Bali, itu hanya bisa memboyong karyanya ke CCF Bandung.

Di tempat ini, Suklu mengaku agak kecewa. Soalnya, tak semua karya instalasi bambunya, yang sempat tampil di Bamboo Festival Bentara Budaya Bali dan “Apa Ini Apa Itu” di Klungkung tahun lalu, bisa dibawa karena terbatasnya ruangan. Sebanyak 200 batang bambu yang sudah disiapkan untuk menjadi bagian dari tugas akhir program pascasarjananya di Seni Rupa Institut Teknologi Bandung itu pun tak terpakai. Selain itu, keliaran karyanya teredam oleh beberapa larangan.
Lelaki berusia 43 tahun itu berencana agar instalasi bambunya bisa menyentuh bangunan di sekitarnya. Seperti di tempatnya di Klungkung, sulur bambu instalasinya ia rangkai agar bisa dimasukkan ke dalam tanah. Di CCF Bandung, rangkaian bambunya tak kesampaian menjamah tembok bangunan, menyatu dengan ranting-ranting pepohonan, dan menjangkau bangunan pusat barang elektronik di seberangnya–melewati jalan raya. “Wah, seru banget kalau begitu,” ujar seorang pengunjung.

Suklu, singkatan dari Sujana dari Klungkung, hanya tersenyum. Akronim itu dipakainya sejak kuliah di ISI Denpasar untuk membedakan dirinya dengan dua mahasiswa lain yang juga bernama Sujana. Sejak 2006, ia mulai membuat instalasi bambu. Ketika mulai membangun, instalasi bambunya tak jarang roboh, sehingga ia perlu berkonsultasi dengan insinyur teknik sipil agar bangunannya kukuh. Proses belajar sendiri itu masih dilakoninya sampai sekarang.

Suklu banyak memakai patahan miring untuk menopang karyanya. Konstruksi itu terinspirasi oleh bangunan atap kubu atau dangau tempat rehat petani di tengah sawah. Patahan di bagian atap itu, meski strukturnya sederhana, bisa dibongkar pasang. Selain itu, bentuk instalasi bambu menjulang didapatnya dari pengalaman ritual keagamaan yang diikutinya sejak kecil. “Itu (bangunan bambu) penjor suka keluar kalau hari raya Galungan,” dia menjelaskan. Sebagai penyambung antarbatang, bukan paku yang dipakai, melainkan bilah bambu. Bambu yang dipakainya adalah bambu tali, karena terbukti lentur dan kuat.
Sebelum menggelar pameran di Bandung, Suklu harus memantapkan konsep karyanya. Menurut dia, publik di Bandung terkenal kuat mengapresiasi karya seni dari konsep dan keindahan bentuknya secara berimbang.
Di Bali, ujarnya, konsep sebuah karya tidak terlalu dipentingkan dibandingkan dengan keindahan. “Pokoknya jangan banyak bicara, langsung bekerja,” kata dia. ANWAR SISWADI

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: