Mahasiswa UMY Kembangkan Orok-Orok sebagai Pupuk Buatan

Jum’at, 12 Februari 2010 – 11:09 wib

YOGYAKARTA – Tanaman orok-orok seringkali dibuang oleh para petani karena dianggap sebagai tanaman pengganggu atau gulma. Padahal, pada tanaman orok-orok mempunyai bintil-bintil yang di dalamnya terdapat bakteri endofilik yang mampu mengikat nitrogen (N2) di udara. Nitrogen tersebut mampu menyuburkan tanah sehingga dapat mengurangi penggunaan pupuk buatan.

Hal inilah yang kemudian mendasari lima mahasiswa Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yakni Liana, Muhammad Ilham, Permana Endivia Tiara Putri, Sapto Nugroho serta Rini Kusumaastuti untuk meneliti ‘Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Endofilik Penambat N2 pada Kompos Orok-Orok untuk Meningkatkan Produktivitas Padi’.

“Penggunaan pupuk buatan dalam jangka panjang dapat menyebabkan hilangnya unsur-unsur hara dalam tanah. Berkurangnya unsur-unsur hara dapat menyebabkan tanah hilang kesuburannya. Selain itu penggunaan pupuk buatan dalam jangka panjang dapat menyebabkan tanah menjadi keras,” kata Liana, di kampus UMY.

Sementara Ilham menambahkan, penelitian mereka untuk menentukan bakteri endofilik jenis apa yang paling baik dalam menyuburkan tanah. Penelitian tersebut dimulai dengan pembuatan kompos. Pembuatan kompos dilakukan dengan cara mengambil daun, batang yang masih muda, bunga serta akar pada tanaman orok-orok. Bahan-bahan tersebut kemudian dicacah.

“Ada berbagai jenis bakteri endofilik dan kami ingin mengetahui jenis bakterinya,” tutur Ilham.

Penggunaan kompos orok-orok dapat dimanfaatkan sebagai alternatif penggunaan pupuk. Nantinya penggunaan pupuk buatan dapat dikurangi atau bahkan dapat digantikan pupuk kompos orok-orok.

“Penggunaan orok-orok tersebut juga dilakukan sebagai bentuk memaksimalkan pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) yang ada. Terlebih orok-orok merupakan tanaman yang mudah didapat,” paparnya

Sementara itu terkait dengan pemanfaatan orok-orok yang bisa dilakukan para petani, Liana dan Ilham menuturkan bahwa para petani dapat membuat kompos untuk mempraktekkannya. Tanpa harus melakukan serangkaian cara yang mereka lakukan. (Satria Nugraha/Trijaya/mbs)

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: