Perubahan

Minggu, 07 Februari 2010 | 00:41 WIBPutu Setia

Saya bergegas menemui Romo Imam di padepokannya. Saya mau minta restu ingin bergabung dengan ormas Nasional Demokrat. Sudah terang-benderang saya jelaskan organisasi yang dideklarasikan Surya Paloh dan Sultan HB X itu, namun Romo masih ragu.

“Tak ada tokoh lain yang lebih segar?” tanya Romo, biasalah, sedikit sinis.

“Belum muncul, Romo. Tokoh muda masih belajar di Taman Kanak-Kanak Senayan, masih ‘genit’. Entah kalau tamat dari sana mereka berubah,” jawab saya.

“Kok namanya pakai demokrat, membingungkan masyarakat. Mestinya Golkar Perjuangan atau Golkar Sejahtera. Kedua tokoh itu kan tersingkir dari Golkar, ini dampak sistemik dari kongres partai.”

“Romo jangan sinis, dong,” saya menyela. “Siapa tahu niat Pak Surya kali ini bagus, memperbaiki negeri dan bukan orientasi kekuasaan.” Romo melunak: “Apa yang kau suka dari ormas itu?”

“Slogan yang diusungnya: gerakan perubahan. Ini penting sekali, Romo. Negeri ini membutuhkan perubahan yang mendasar, perubahan yang fundamental sebelum telanjur amburadul. Boleh saya sedikit memerinci?”

Dasar negara sudah diselewengkan. Sila pertama Pancasila itu berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sekarang yang dijalankan “kekuasaan yang maha esa” kemudian “keuangan yang maha kuasa”. Orientasi tokoh hanya satu, merebut kekuasaan. Untuk melanggengkan kekuasaan, uang digunakan. Apa pun bisa dibeli. Mau demonstran dua puluh ribu, bisa didatangkan. Mau membawa kerbau, bisa juga. Mereka tak sabar mengikuti konstitusi, karena jika pakai aturan konstitusi, tokoh-tokoh itu sudah nyata kalah. Mereka mengembangkan opini lewat “klim-mengklim”, seolah gerakan yang sepuluh-dua puluh ribu itu mewakili ratusan juta masyarakat. Padahal harga kursi untuk wakil rakyat yang paling rendah saja di kabupaten dan kota sampai tiga puluh ribu. Harus ada “gerakan perubahan” untuk mengubah jalan pikiran orang-orang ini.

Sila kedua Pancasila diselewengkan menjadi “Kemanusiaan yang batil dan biadab”. Kekerasan yang terorganisasi menjadi mode di berbagai kota. Mahasiswa membakar dan merusak fasilitas umum hanya atas nama menyalurkan ide. Kalau mahasiswa sudah begini, bagaimana mau menyalahkan bonek yang merampas pedagang kecil? Murid sekolah dasar di Makassar tawuran di jalan, mereka meniru kakaknya yang mahasiswa.

Sila ketiga Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia, dijadikan “perseteruan Indonesia”. Di mana-mana diajarkan perseteruan. Anggota DPR saling mencaci-maki dengan kata-kata kotor–tapi ruang kerjanya semakin sejuk dan ditambah komputer baru yang harganya perlu diaudit. Caci-maki ini ditonton jutaan orang, bagaimana orang desa mau menghormati politikusnya?

Tak ada yang mengingatkan hal ini. Padahal semua ini harus dihentikan. Sekarang yang ada “gerakan pembiaran”, padahal ini sudah nyata-nyata merusak akhlak bangsa. Itu pentingnya gerakan perubahan yang menyeluruh dari elemen bangsa. “Bagaimana Romo, apa saya direstui? Waktu saya habis kalau memberi contoh yang panjang,” kata saya.

Romo berpikir sejenak: “Saya belum yakin. Ada yang sudah membuat Pondok Perubahan dan banyak sekali slogan perubahan lainnya. Tapi yang dimaksudkan perubahan adalah mengganti pemerintahan, siapa pun yang sedang berkuasa. Hanya sesempit itu yang dia maksudkan, bukan perubahan sikap, mental, perilaku, budaya ….”

“Jadi, bagaimana, Romo?” saya tak sabar. Romo menjawab sambil berjalan: “Tunggu beberapa saat, apa Pak Surya dan Kanjeng Sultan betul-betul berubah. Jangan-jangan keduanya mengulang lagu lama tokoh lain. Maklum, mereka dalam satu generasi.”

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: