Mimpi Menghubungkan Jawa-Sumatera

[ Senin, 15 Maret 2010 ]

Suramadu Jilid II Butuh Rp 100 T

Sukses membangun Jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Madura membuat pemerintah berencana membangun ”Suramadu” jilid II. Kali ini menghubungkan Jawa-Sumatera. Seberapa serius?

SIKAP serius pemerintah terhadap proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) ditunjukkan dengan keluarnya peraturan presiden (perpres) pada pertengahan Januari lalu. Perpres yang diteken Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu sebagai landasan hukum pembangunan jembatan yang direncanakan sepanjang 31 kilometer itu. Kini sudah ada tiga tim bentukan pemerintah yang mulai bekerja mengkaji kelayakannya.

”Tiga tim sedang bekerja untuk Jembatan Selat Sunda. Pokja pertama tentang teknis di bawah laut, kemudian aspek angin, aspek gempa, dan lain-lain. Pokja kedua adalah tim yang mempelajari pengembangan wilayah dan lingkungan hidup. Pokja ketiga adalah tim yang mengkaji masalah ekonomi bahwa kegiatan itu harus layak,” kata Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak kepada Jawa Pos pekan lalu.

Tim tersebut di bawah koordinasi Menko Perekonomian Hatta Rajasa dengan Ketua Harian Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dan Wakil Ketua Harian Menteri Perhubungan Freddy Numberi. Hermanto mengatakan, perencanaan JSS harus matang. Meski terkesan lambat, saat ini proses studi kelayakan (feasibility study) terus dilakukan. ”Progresnya ya masih seperti ini,” katanya.

Terkait potensi terjadinya gempa di daerah tersebut, Hermanto menyatakan bahwa hal itu bisa diatasi dengan teknologi. Dia menunjuk pristiwa gempa yang mengakibatkan Jembatan Shikoku, Jepang, bergeser hampir 1 meter, namun tetap aman karena memang dimungkinkan secara teknis. Menurut dia, pembangunan jembatan itu tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa. ”Harus menunggu tim studi dulu. Paling lambat 2014 mulai, mungkin lima tahun pembangunan fisiknya selesai. Jadi, total sekitar 10 tahun,” tuturnya.

Namun, Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Deddy Supriadi Priatna mengatakan, pihaknya berharap agar pembangunan JSS bisa dipercepat. Sebab, jembatan itu diperlukan banyak pihak. Pembangunan jembatan tersebut diperkirakan memakan waktu lima tahunan. ”Targetnya, paling tidak pembangunan fisik bisa dimulai pertengahan 2012 dengan melibatkan public private partnership (investor swasta, Red),” ungkapnya.

Ide menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera itu sebenarnya muncul sudah lama, sekitar 1960-an. Serangkaian seminar dan studi-studi awal juga sudah dilakukan Departemen PU, BPPT, JICA, PT Wiratman, Terowongan Nusantara, ITB, termasuk MOU dengan pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada 2002 untuk melakukan kajian key-technology.

Sayang, semangat itu menghilang sejak terjadinya krisis ekonomi pada 1998. Banyak proyek pemerintah yang terpaksa dibatalkan. Namun, sejak ekonomi menggeliat kembali, banyak investor yang tertarik rencana itu. Di antaranya, PT Jembatan Selat Sunda pada 2000, Nils D. Olsson tahun 2006, dan yang terakhir PT Bangungraha Sejahtera Mulia (BSM) yang telah menyerahkan hasil prastudi kelayakan kepada pemerintah.

Direktur Bina Teknik Kementerian PU Danis Sumadilaga mengungkapkan, membangun jembatan dengan bentang antartiang 2,9 kilometer merupakan tantangan berat bagi dunia konstruksi. ”Sebenarnya sudah ada pembangunan bentang jembatan sepanjang 2,5 kilometer yang tengah dilakukan, yaitu Jembatan Messina di Italia. Tapi, jembatan itu belum jadi,” ucapnya.

Jembatan Messina merupakan jembatan gantung (suspension bridge) melintasi Selat Messina yang menghubungkan antara ujung timur Sisilia dan ujung selatan daratan Italia. Menurut Danis, hingga kini teknologi konstruksi bentang jembatan terpanjang di dunia, 2 kilometer, adalah Jembatan Akashi Kaikyo di Kobe, Jepang. Jembatan itu melintasi Selat Akashi yang menghubungkan Kobe dengan Pulau Awaji.

Tantangan lain pembangunan jembatan sepanjang 31 kilometer tersebut, menurut Danis, adalah tinggi permukaan air laut hingga ke dasar laut yang mencapai 100 meter. Hal itu menjadi permasalahan tersendiri karena tinggi dasar laut ke permukaan di Selat Madura hanya 20-30 meter. ”Dengan memperhitungkan pemancangan tiang hingga ke lapisan tanah keras di dasar laut, diperlukan tiang panjang kira-kira 200 meter,” ungkapnya.

Selain itu, karena selat sunda yang merupakan jalur perlintasan yang ramai akan kapal-kapal laut besar, tinggi jembatan harus mencapai 65 meter. Ketinggian tersebut dua kali lipat daripada ketinggian Jembatan Suramadu yang hanya sekitar 30 meter. Meski memiliki tantangan teknologi konstruksi yang cukup tinggi, Danis menilai, pembangunan JSS tetap mungkin dilakukan. ”Persiapannya harus panjang,” ujarnya.

Danis mencontohkan, pembangunan Jembatan Suramadu sepanjang 5,4 kiometer memerlukan persiapan yang panjang. Jembatan Suramadu digagas sejak 1960-an oleh Prof Sedyatmo dan baru selesai dibangun pada Juni 2009. Di luar aspek teknologi konstruksi, pembangunan JSS membutuhkan dana yang sangat besar. ”Berkisar Rp 90 triliun-Rp 100 triliun lah,” jelasnya. (wir/kum)

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: