Pengabdian Parngat sampai Tuntas

Senin, 15 Maret 2010 | 09:16 WIB

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

Petugas memadamkan sisa api dalam kebakaran di Pabrik Sandal Swallow, Kamal Raya, Jakarta Barat, Jumat (12/3/2010). Dari kebakaran yang terjadi sejak Kamis sore, dikabarkan sejumlah pekerja pabrik diduga terjebak dan belum diketahui nasibnya.

KOMPAS.com – Sepanjang Minggu (14/3/2010) pagi hingga siang, petugas pemadam kebakaran mengerumuni dua bongkahan hitam karet yang menyatu dengan sisa tabung pemadam kebakaran, tembok, dan sisa-sisa tubuh manusia yang terbungkus lelehan karet yang kini membeku.

Dia melihat Andriati yang sedang hamil terjebak api. Pak Parngat menerobos api untuk menolong. Mereka berdua justru terjebak.

Mereka menggunakan gergaji listrik, obor las, hingga cakram pemotong baja untuk membongkar bongkahan karet beku yang berisi tubuh senior mereka, Parngat (62). Alat-alat itu tidak banyak membantu. Budi Wibowo, petugas pemadam kebakaran, berulang kali memerintahkan teman-temannya agar menggunakan kapak dan linggis untuk membongkar bongkahan karet yang mulai dikerumuni lalat itu.

Parngat, ayah tiga anak itu, adalah satu dari empat korban tewas dalam kebakaran di pabrik sandal Swallow di RT 06 RW 02, Kelurahan Tegal Alur, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, yang terjadi Kamis lalu pukul 15.30. Ketika itu, Parngat baru saja masuk kerja pada shift II yang dimulai pada pukul 15.00.

Menjelang tengah hari, Budi dan teman-temannya berhasil mencabut tabung pemadam kebakaran yang terbungkus karet. Tabung itu diyakini dibawa Parngat saat menerjang api untuk menolong sesama karyawan pabrik. ”Hati-hati, itu ada sisa-sisa tangan,” ujar Budi menunjuk ke dalam bongkahan karet. Terlihat tulang jemari dan sisa-sisa kulit serta daging berada di dekat rongga yang terisi tabung pemadam kebakaran.

Menolong teman

Parngat, Andriati, Rusli (72), dan Liana (24) terjebak di ruang administrasi kantor yang terkepung api. Zulkarnain, seorang karyawan, mengatakan, jarak pintu darurat dan ruang administrasi yang terkurung api sekitar 20 meter.

”Waktu api membesar, Pak Parngat membantu memadamkan api. Dia pensiunan pemadam kebakaran yang bekerja di sini. Dia melihat Andriati yang sedang hamil terjebak api. Pak Parngat menerobos api untuk menolong. Mereka berdua justru terjebak,” ujar Zulkarnain, karyawan pabrik sandal yang baru saja pulang ketika kebakaran terjadi.

Kebakaran itu sangat parah. Besi rangka pabrik (H beam) ukuran besar pun melengkung karena terpanggang api. Api masih menyala hingga hari keempat kebakaran, Minggu petang.

”Banyak bahan mudah terbakar, seperti tumpukan karet dan zat kimia, yang membuat api tidak kunjung padam. Bahan-bahan ini juga bercampur dengan tubuh para korban kebakaran yang ditemukan sehingga menyulitkan identifikasi korban,” ujar Kepala Seksi Operasi Suku Dinas Kebakaran Jakarta Barat Endang Haerudin.

Giyono (58), keponakan Parngat yang sama-sama pernah menjadi petugas pemadam kebakaran, mengatakan, pamannya adalah sosok orang yang sangat bertanggung jawab.

”Waktu masih dinas, dia mengemudikan truk brandweer. Parngat berdinas di kantor pemadam kebakaran di Perumahan Taman Duta Mas,” ujar Giyono yang mendampingi Dwi Lestari, putri sulung Parngat yang wajahnya terlihat menahan rasa sedih mendalam.

Kasiyanto, petugas pemadam kebakaran senior, mengaku, semasa bertugas, Parngat selalu menjadi teladan yang baik bagi yuniornya. ”Dia selalu memberikan nasihat kepada kami yang muda-muda,” ujar Kasiyanto.

Tak jauh dari kerumunan tersebut, keluarga besar Andriati Wiratningsih (29), ibu hamil tua yang turut menjadi korban, juga resah menunggu pembongkaran bongkahan karet berisi jenazah itu.

Anton, kakak korban, dan Juhri, suami korban, berdiri bersama keluarga besar mereka melihat petugas membongkar bongkahan karet. Sebelumnya, petugas berhasil mengevakuasi jenazah Liana dan Rusli. Liana yang sedianya menikah tahun ini dikebumikan tengah hari di Taman Pemakaman Umum Tegal Alur.

Adapun jenazah Rusli dibawa ke Rumah Duka Dharmais. Rusdi, keponakan Rusli, menerangkan, jenazah pamannya akan dikremasi di Krematorium Oasis di Dadap, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Senin. ”Jangan sampai melewati tanggal ce-it (sebelas) dalam kalender Tionghoa,” ujar Rusdi.

Masih misterius

Petugas masih berusaha memilah jenazah Andriati dan Parngat hingga petang. Menjelang pukul 15.00, petugas pun memasukkan dua bongkahan besar karet yang tersisa untuk diangkut ke RSCM.

Endang Haerudin mengatakan, pihaknya akan meminta uji DNA untuk memastikan sisa-sisa jenazah yang ditemukan itu merupakan bagian tubuh dari Parngat atau Andriati.

”Bapak-Ibu, daripada bongkahan ini harus dihancurkan. Lebih baik kita segera bawa ke RSCM untuk uji DNA. Kita berharap jenazah segera bisa diurus keluarga,” ujar seorang petugas.

Keluarga besar Parngat dan Andriati pun sepakat. Mobil jenazah mengangkut kedua bungkahan karet ke RSCM.

Giyono mengatakan, dirinya menunggu di lokasi kebakaran untuk berkoordinasi dengan polisi dan menanti perkembangan.

”Selalu ada petugas pemadam ataupun mantan pemadam kebakaran yang mengorbankan jiwa saat terjadi kebakaran. Belum lama ada petugas yang masih muda tewas saat memadamkan api di Kecamatan Tambora. Saya sudah berulang kali kehilangan teman kerja. Sekarang kerabat saya sendiri yang menjadi korban,” ujar Giyono dengan wajah terenyuh. (Iwan santosa)

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: