Kampung Naga di Neglasari, Kampung Tradisional di Tengah Modernisasi

Sisi buruk modernisasi dan teknologi adalah ingar-bingar dan kompleksitas kehidupan. Yang ingin sejenak meninggalkan kondisi tersebut dan menikmati kehidupan alami tanpa sentuhan modernisasi dan teknologi bisa memilih Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.

ARIP HIDAYAT, Tasikmalaya

Unik. Bisa jadi, itu adalah kata yang pas untuk menggambarkan kehidupan di Kampung Naga. Secara geografis, kampung itu sangat dekat dan bersentuhan langsung dengan kehidupan modern. Namun, masyarakat setempat mampu mempertahankan tradisi dan adat yang nyaris tidak tersentuh dengan modernisasi dan teknologi.

Lokasinya hanya sekitar 30 kilometer dari ibu kota kabupaten Tasikmalaya dan sekitar 90 kilometer dari ibu kota provinsi Jawa Barat, Bandung. Tempat tersebut sangat dekat dengan jalan raya provinsi. Kampung itu berada di antara permukiman-permukiman modern. Namun, persentuhan dengan dunia modern itu tidak membuat perubahan budaya warga Kampung Naga.

Tersedia lahan parkir yang cukup luas di dekat Kampung Naga. Untuk masuk ke Kampung Naga, pengunjung tidak dipungut biaya. Pengunjung cukup membayar tarif parkir di lahan tersebut.

Sebuah tugu berbentuk kujang -senjata tradisional masyarakat Sunda- menandai lokasi Kampung Naga. Tugu kujang itu berdiri di atas landasan batu pualam hitam setinggi 7 meter.

Tinggi kujang tersebut mencapai 5 meter. Uniknya, kujang itu dibuat dari hasil peleburan 900 senjata tradisional yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Pembuatannya melibatkan 40 empu (pembuat keris) dari seluruh pelosok Nusantara. Pembuatan kujang tersebut dikomandani Kanjeng Raden Tumenggung Dedy P. Asmo Dipuro, asal Solo, Jawa Tengah.

Tugu itu diresmikan pada 16 April 2009. Awal tahun lalu, di dekat tugu tersebut dibangun Museum Kujang. Museum itu mengoleksi berbagai senjata tradisional masyarakat Pasundan. Tidak kurang dari 200 keris dan kujang disimpan di museum tersebut.

Untuk memasuki Kampung Naga, pengunjung harus menuruni ribuan anak tangga mulai dari lokasi parkir. Kemudian, pengunjung menyusuri jalan yang terbuat dari hamparan batu. Jalan itu berada persis di pinggir Sungai Ciwulan.

Jarak dari areal parkir menuju Kampung Naga sekitar 500 meter. Bagi pengunjung yang membutuhkan bantuan jasa pemandu wisata (guide), beberapa guide bersiaga di areal parkir. Mereka bisa memandu dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Sepanjang perjalanan menuruni anak tangga, ada sejumlah warung dan tempat istirahat bagi pengunjung yang kelelahan. Selain itu, di sepanjang perjalanan menuruni anak tangga, pengunjung bisa melihat dan mengenal salah satu tanaman rempah-rempah yang ditanam warga Kampung Naga, seperti kapol. Hal itu menjadi bukti bahwa warga Kampung Naga tidak hanya hidup di alam, tapi hidup bersama alam. (jpnn/c12/ruk)

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: