Komunitas Diplomatik di Jenewa Puji Tenun Indonesia

KOMPAS/LASTI KURNIA

Kain tenun dan songket dari berbagai daerah dipromosikan dengan harga khusus di Galeri Smesco, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (19/2). Promosi tenun dan songket tersebut berlangsung selama sepekan, hingga 28 Februari 2010.

LONDON – Komunitas diplomatik di Jenewa terpukau dengan kain tenun Indonesia dalam acara “Asian Women’s Circle Luncheon” yang digelar di kediaman wakil tetap pemerintah RI Jenewa/Dubes dan Ny Lista Damayanti Djani di Jenewa.

“Kain tenun yang diperagakan berasal dari berbagai provinsi di Indonesia seperti Tenun Alor, Tenun Bugis, Tenun Makassar, Tenun Nusa Tenggara Timur, Sarung Samarinda, Songket Palembang, dan Tapis Lampung,” ujar Sekretaris Tiga PTRI Jenewa, Joannes Tandjung, Jumat (26/2/2010).

Joannes Tandjung mengatakan berbagai pujian dilontaskan oleh pada undangan yang terdiri atas wakil tetap/duta besar perempuan dan istri negara-negara kawasan Asia untuk PBB, WTO dan organisasi internasional.

Lista Damayanti Djani dalam sambutannya sebagai tuan rumah acara tersebut mengatakan selama ini, Indonesia sangat identik dengan batik. Masyarakat internasional belum banyak yang mengetahui masih banyak kain tradisional Indonesia selain batik. “Untuk itu, kami berusaha memperkenalkan tenun sebagai kain tradisional Indonesia yang tidak kalah cantik dan menawan dibanding batik yang sudah lebih dulu mendunia,” ujarnya.

Menurut Lista, sejumlah kain tradisional Indonesia yang diperagakan berasal kain Tenun Alor, Tenun Bugis, Tenun Makassar, Tenun Nusa Tenggara Timur, Sarung Samarinda, Songket Palembang, dan Tapis Lampung.

Berbagai jenis kain tenun yang diperagakan itu melambangkan Indonesia “as a living example of unity in diversity”.

“Meskipun berbeda dari segi motif, namun pembuatan dan pewarnaan alami dari kain-kain tenun tersebut mengikuti pola yang sama dan telah turun temurun dipraktikkan oleh masyarakat tradisional wilayah tertentu,” ujarnya.

Usai acara peragaan para undangan dijamu dengan jamuan makan siang dengan menu khas Indonesia seperti sate ayam, ikan bumbu kuning, pepes tahu jamur dan terong balado yang disajikan dalam periuk dan wajan yang terbuat dari gerabah.

Sebagian besar dubes/wakil tetap perempuan maupun istri para watap/dubes dari negara-negara kawasan Asia berasal dari Bahrain, Brunei Darussalam, China, Filipina, Hong Kong SAR, India, Iran, Jepang, Korea Selatan, Laos, Myanmar, Pakistan, Singapura, Thailand, dan Turki.

Selain itu wakil dari organisasi internasional  di Jenewa yang menghadiri Asian Women’s Circle Luncheon diantaranya Fondation Pour Geneve dan media seperti Geneva Prestige Magazine.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: