Penebar Cinta di Benua Biru

Oleh Zeynita Gibbons

Dalam ruang yang tidak terlalu luas di Martinistrasse 22, Hamburg, Jerman, Dyah Sri Ayoe Rachmayani Narang-Huth (34) mengajar Bahasa Indonesia pada murid-muridnya dari berbagai bangsa.

Dyah, demikian ia sehari-hari disapa oleh kolega-koleganya sesama pendidik, memang memiliki hasrat kuat mengembangkan budaya dan bahasa Indonesia.

Keinginannya itu terbetik sejak pertama kali Dyah menginjakkan kaki di Jerman tahun 1992.”Sebagai orang Indonesia yang tinggal di luar negeri, saya merasa harus turut bertanggung jawab terhadap pengembangan budaya Indonesia,” ujar Dyah kepada koresponden ANTARA di London.

Awalnya Dyah hanya mengajar bahasa dan pengembangan budaya dalam lingkungan kecil. Ia mengajar bahasa dan budaya Indonesia pada keluarga, sahabat dan tetangga.

“Ternyata tanggapannya luar biasa. Mereka sangat mendukung, sehingga saya tambah bersemangat melakukan diplomasi budaya di negara ini,” katanya.

Dengan dukungan itu, Dyah memutuskan untuk mengembangkan kegiatannya ke lingkungan yang lebih besar, hingga akhirnya Dyah mengabdikan hampir seluruh waktunya untuk berkecimpung di dunia budaya melalui kegiatan seni budaya dan bahasa.

Pada 2003 ia mengembangkan sekolah bahasa yang dinamai IKAT Sprachenwerkstatt yang berarti Bengkel Belajar Bahasa.

Pengalaman dan pergaulannya membuka matanya bahwa begitu banyak aset seni budaya Indonesia yang tersebar di Eropa. Sebagian pegiat seni Indonesia di Eropa ada yang sudah terorganisir dengan membentuk kelompok, perkumpulan kecil hingga besar, hingga kelompok yang terdaftar. “Itu semua kulihat sebagai jalan diplomasi budaya yang bisa ditempuh,” ujar Dyah.

Dyah yang bersuami pria Jerman, Manfred Huth, juga mendirikan “event organizer”, sebagai wadah lain pengembangan budaya Indonesia.

Dyah juga mengajarkan Kiyati, anak keturunan Indonesia yang diadopsi keluarga Jerman dan sempat kehilangan “akar keindonesiaannya”.

Kiyati sejak balita telah menetap di Jerman dan diasuh oleh orangtua angkat kewarganegaraan Jerman. Hingga dewasa Kiyati tak bisa berbahasa Indonesia.

Oleh karena itu saat ia sangat berhasrat mencari orangtua kandungnya di Tanah Air, Kiyati belajar bahasa Indonesia dari Dyah.

Kisah Kiyati berujung “happy ending”. Kiyati akhirnya dapat dipertemukan dengan orang tua kandungnya di Tanah Air dalam acara “Kick Andy”, sebuah program “talkshow” di salah satu stasiun televisi nasional.

Demi Indonesia
Dyah tidak sendiri, banyak perempuan-perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri mendedikasikan diri untuk pengembangan budaya Indonesia di mancanegara.

Sifa Silvana Feddes, misalnya. Perempuan Indonesia yang tinggal di Legden, Jerman, membuka biro perjalanan di tempat tinggalnya lima tahun lalu. Alasannya, ia ingin menyumbangkan hasilnya untuk anak anak di Indonesia.

Biro perjalanan “Dari Java”, yang dirintis bersama sang suami, kini makin dikenal di Jerman. Semula ia hanya melayani tetangganya yang ingin berlibur ke Indonesia.

Sifa dan sang suami, yang senang berpetualang, sangat antusias dengan usahanya ini. “Kami berjumpa di Cipanas saat calon suaminya ber-’backpaker’ ke Indonesia,” ujar perempuan tamatan Badan Perguruan Indonesia Burangrang Bandung (1997), dan pernah bekerja di sebuah Bank BUMN di Bandung.

Sifa juga berbisnis barang-barang produksi perajin Indonesia, seperti bad cover, funitur, kayu manis untuk di pasarkan di Eropa. Namung sayang bisnisnya di bidang perdagangan itu tidak terlalu  berhasil. Hanya usaha biro perjalanannya yang berkembang.

“Bekerja di bidang travel menyenangkan karena bisa membuat orang senang,” ujar Sifa yang tahun pertama hanya mempunyai lima konsumen dan setelah lima tahun Sifa berhasil menjual lebih dari 100 paket wisata mulai dari Jawa hingga Sumatra.

Menurut Sifa, yang ikut mempromosikan pariwisata Indonesia di Pasar Malam Indonesia, tidak hanya menjual paket wisata, tetapi juga berupaya memperkenalkan berbagai budaya Indonesia.

Sifa berkerjasama dengan Wiwiek Wiratha, yang juga aktif mempromosikan Indonesia di luar negeri.

Wiwiek memiliki biro perjalanan Deva Group, yang mempunyai motto “Indonesia in a different way”. Deva Group menyediakan berbagai pelayanan mulai mengorganisir perkawinan sampai menyediakan properti.

Dalam websitenya, Deva Group yang beralamat di Utrecht, menyediakan informasi pariwisata Indonesia berbahasa Belanda. Deva mempromosikan wisata ke Sumatra sampai Irian Jaya dan bahkan ia juga menjual paket wisata “Tempo Doeloe”.

Perempuan lain yang juga sangat bersemangat menebar citra Indonesia adalah Lenny (44). Setiap menjamu tamunya, Lenny selalu menghidangkan pisang goreng atau kudapan Indonesian lainnya dengan diiringi musik dari Bali atau musik Jawa Barat.

“Dari situ mereka mulai terbiasa dengan budaya Indonesia. Bahkan diantara mereka bertanya hal-hal yang menarik dari budaya Indonesia dan ingin mengetahui cara buat gado-gado, pisang goreng, perkedel jagung, daging balado, serta sambal kentang,” ujarnya.

Ibu empat anak itu juga kerap mendemontrasikan kebolehannya memasak atau membuat makanan ini di dapurnya yang mungil. “Ternyata dari makananpun saya bisa mengenalkan Indonesia ke mereka,” ujar Lenny lagi.

Juli Widjajanti Gusler yang tinggal di Cambridge, memperkenalkan Indonesia melalui tari-tarian. Juli memiliki banyak murid dari berbagai negara. Siswanya juga kerap tampil dalam berbagai acara yang diadakan KBRI London.

Tanpa harus menjadi duta besar, perempuan-perempuan Indonesia di luar negeri bisa berkiprah mempromosikan kekeyaan budaya dan alam Indonesia, negeri yang amat mereka cintai.

Jumat, 30 April 2010 | 04:08 WIB   source : KOMPAS.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: