10 Seniman Terima Anugerah Kebudayaan

KOMPAS/YURNALDI
Penerima Anugerah Kebudayaan berfoto bersama dengan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik dan Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film Tjetjep Suparman

JAKARTA, KOMPAS.com – Sepuluh orang seniman dari berbagai daerah, Rabu (23/6/2010) di Jakarta, menerima Anugerah Kebudayaan dari Pemerintah Republik Indonesia. Anugerah Kebudayaan yang diberikan ada empat kategori, yaitu Maestro Seni Tradisi, Hadiah Seni, Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya, dan kategori Anak/Pelajar/Remaja yang Berdedikasi terhadap Kebudayaan.

“Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan salam hormat kepada seniman yang meraih penghargaan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya dan bangsa yang berbudaya tinggi adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa budayawannya,” kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik atas nama Pemerintah Republik Indonesia.

Menurut Jero Wacik, perlu ada gerakan memperhatikan seniman di masing-masing daerah. Dengan segala keterbatasan, mereka terus-menerus tanpa disadari telah melakukan pelestarian dan pengembangan warisan budaya yang hampir men galami kepunahan.

Pemberian Anugerah Kebudayaan berupa penghargaan dan bantuan, lanjut Jero, terutama kepada Maestro Seni Tradisi, tujuannya agar para Maestro Seni Tradisi tetap bersungguh-sungguh melaksanakan pewarisan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. “Kalau perlu ada gerakan bedah rumah seniman, agar di masa tuanya seniman bisa tinggal di rumah yang layak,” tandasnya.

Tradisi pemberian penghargaan kepada seniman ini dimulai tahun 2007. Sampai 2010 sudah ada 45 seniman yang mendapat penghargaan, 10 orang di antaranya tahun 2010.
Seniman penerima

Penerima Anugerah Kebudayaan sebagai Maestro Seni Tradisi adalah Rd Enny Rukmini Sekarningrat (96), maestro pencak silat empat zaman , asal Bandung, Jawa Barat. “Sebagai dewan pakar pencak silat di di PB IPSI, namanya sudah sangat dikenal sampai ke tingkat internasional. Ia pemimpin Silat Panglipur. Silat panglipur , mempunyai cabang di 160 daerah dan di sejumlah negara, seperti Belanda, Perancis, Amerika Serikat, dan Rusia,” katanya.

Kemudian seniman tari Dayak dan Penyair Tradisi Dayak, asal Desa Miau baru, Kalimantan Timur, Pedaan (70). Sejak kecil sudah menguasai tarian Dayak seperti Kanjet Tangen atau Kanjet Dusa Usa, dan tari Datun. Juga sangat mahir menarikan tarian lelaki, tari perang yang disebut Kanjet Pepatai. Selain menari dan mengajarkan tari, Pedaan piawai melagukan syair-syair tradisi Ngendau Kenyah .

Muhamad Yazed (85) dari Bengkalis, Riau, dikenal sebagai maestro tari zapin. Ia menguasai gerak zapin klasik dan halus. Penghayatan yang dalam dan kelembutan tariannya mencerminkan kesantunan Budaya Melayu lama. “Yazed menularkan kehebatannya itu kepada generasi muda. Nilai-nilai adat dan agama Islam yang terkandung dalam syair Zapin bisa menjadi peringatan agar kita bertindak benar,” katanya.

Batman (68) warga Suku Laut Sawang dari Bangka Belitung, maestro seni tradisi Campak Dalung. Campak Dalung adalah seni yang dikembangkan dan dilestarikan secara turun-temurun. Seni ini sudah dilestarikan delapan turunan, ujarnya.

Penerima Anugerah Kebudayaan Kategori Hadiah Seni adalah Ahmad Tohari (62) dan Ali Hanafi (50). Ahmad Tohari, asal Banyumas, Jawa Tengah, adalah salah seorang sastrawan terkemuka yang sudah meraih berbagai prestasi nasional dan internasional. Puluhan ovel, ratusan cerpen, dan berbagai tulisan nonfiksi sudah lahir dari tanggannya.

Ali Hanafi (50), adalah penari dan koreografer yang sudah malang melintang selama 30 tahun di Maluku Utara. Pemimpin Sanggar Seni Sekar Taruna ini, sampai sekarang masih mencipta tari.

Untuk kategori Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya, adalah Thimotius Samin (60), pengembang tradisi budaya Kamoro, Papua, khususnya seni ukir patung khas Komoro. Karya- karyanya sudah dipamerkan di dalam dan luar negeri, antara lain Belanda dan Jerman. Dan (Mangku Widia) I Wayan Widia (62), penggali dan pelestari adat Tenganan, Bali.

Sedangkan Anugerah Kebudayaan kategori anak/pelajar/remaja yang berdedikasi terhadap kebudayaan, diberikan kepada Wiranata Prahara Ilahi (15), asal Palembang, Sumatera Selatan, yang peduli dengan seni teater dan puisi. Dan kepada Naqdzyatun Nur Ivana (8), asal Gorontalo, telah meraih berbagai prestasi di bidang seni sastra dan mendongeng. Ia menjadi tim tetap dalam mengikuti berbagai event budaya local di tingkat daerah dan nasional, serta terpilih menjadi duta pariwisata mewakili Provinsi Gorontalo.

Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi
Rabu, 23 Juni 2010 | 22:08 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: